BAH!

Posted: 14/08/2010 in Cerpen

cerpen Saut Situmorang

Malam itu aku datang lagi ke situ. Aku sudah sangat rindu pada perempuanku. Perempuanku yang manis, perempuanku yang pandai menghibur. Aku mempercepat langkahku, membelok ke gang terakhir menuju gerbang masuk perkampungan kecil dimana perempuanku itu tinggal.

Perkampungan itu sangat sunyi. Hanya beberapa anak kecil nampak sedang main kejar-kejaran dan dua-tiga perempuan berpapasan denganku. Mereka menyapaku dan kubalas dengan anggukan kepala.

Rumah perempuanku terletak agak di tepi perkampungan kecil itu. Rumah itu juga kecil. Hanya punya sebuah kamar tidur dan kamar mandi saja. Tak ada dapur dan perempuanku membeli makanannya di rumah makan di luar perkampungan atau pada para penjual bakso atau sate yang sering masuk ke situ. Mengingat perempuanku yang manis itu tanpa sadar aku mempercepat langkahku.

Tinggal seratusan meter dari rumah perempuanku, tiba-tiba kuhentikan langkahku. Aku lihat seorang laki-laki muncul dari dalam rumah itu. Laki-laki itu berdiri sebentar di ambang pintu, sepertinya sedang mengawasi sesuatu, lalu kembali menutup pintu rumah perempuanku. Aku jadi heran. Bukankah perempuanku sudah berjanji akan memberikan malam ini sepenuhnya untukku? Bukankah dia bilang tak akan ada orang yang akan mengganggu? Aku masih termangu-mangu di tempatku itu sambil mencoba mengingat-ingat perkataan perempuanku seminggu lalu waktu pintu  rumahnya terbuka lagi dan laki-laki tadi muncul kembali di ambang pintu. Kembali dia bersikap seperti sedang mengawasi sesuatu di luar rumah sebelum menutup pintu.

Rasa penasaranku makin menjadi-jadi hingga kuputuskan untuk mendatangi saja rumah perempuanku itu. Mulanya aku hendak masuk lewat pintu depan dimana laki-laki tadi berdiri, tapi segera kubatalkan. Aku ingin menyelidiki dulu siapa laki-laki itu dan kenapa tingkahnya aneh begitu. Untuk itu aku harus mengintip apa yang dilakukannya di dalam rumah perempuanku. Aku juga heran kenapa perempuanku sedari tadi tak pernah muncul-muncul. Apa dia tak ada di rumah hingga laki-laki tadi harus menunggunya? Mungkin laki-laki itu tak sabar menunggu begitu lama…

Baru saja tanganku meraba dinding rumah perempuanku, tiba-tiba aku dengar suara laki-laki dari dalamnya. Aku yakin suara itu pasti punya si laki-laki yang kulihat di pintu tadi. Suara itu agak berat dan kasar. Kayaknya dia sedang marah. Tapi, marah pada siapa?

Akhirnya aku berhasil memergoki sebuah lobang kecil dekat jendela. Kudekatkan mataku ke lobang itu dan coba melihat apa yang sedang terjadi di dalam rumah.

Mataku langsung melihat laki-laki tadi. Dia sedang duduk di atas ranjang perempuanku dan wajahnya menghadap ke arahku. Rasa-rasanya aku seperti mengenali laki-laki setengah baya yang sedang marah itu. Kucoba mengingat-ingat, tapi aku lupa. Kuamati lagi wajahnya yang bulat dan gempal itu, aku yakin aku mengenalnya. Tapi aku tetap lupa siapa namanya.

Sekarang kucoba cari perempuanku. Aku lihat kursi dekat cermin yang tergantung di dinding, kosong. Biasanya dia suka duduk di kursi itu sambil menyisir rambutnya. Aku jadi tambah heran. Aku lalu kembali ke tempat tidur. Laki-laki itu masih duduk di situ. Tiba-tiba dia bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu. Pada waktu itulah perempuanku nampak padaku.

Dia telungkup di atas ranjang. Wajahnya terbenam di bantal. Kulihat punggungnya bergerak-gerak tak teratur. Dia sedang menangis. Tapi, kenapa? Kenapa dia menangis dan kenapa laki-laki tadi kelihatan marah dan resah? Siapa laki-laki itu dan apa yang sedang terjadi di sini?

Laki-laki itu kembali menutup pintu dan berjalan ke arah tempat tidur dimana perempuanku sedang menelungkup menangis. Wajah laki-laki itu mengerikan sekali. Kemarahan yang sangat dahsyat memancar di matanya. Begitu sampai di tepi ranjang, tangan kanannya langsung bergerak ke kepala perempuanku. Dengan kasar dijambaknya rambut perempuanku yang panjang itu.

Perempuanku menjerit kesakitan tapi berusaha menahannya agar tak terdengar ke luar. Wajahnya basah airmata. Tiba-tiba kurasakan api kemarahan muncul dalam diriku. Aku mulai panas. Aku ingin mendobrak masuk dan menghajar laki-laki yang menyakiti perempuanku itu. Kurasakan badanku mulai gemetar.

Sambil melepaskan jambakannya, laki-laki itu mulai memaki-maki perempuanku yang sekarang duduk di atas ranjang dan menangis terisak-isak. Dia memakinya “lonte tak tahu diri”, “pelacur jorok”, “perempuan tukang serong” dan kata-kata kasar lainnya yang tak pantas diucapkan pada seorang perempuan, apalagi perempuan seperti perempuanku itu yang begitu manis dan pandai menghibur hati. Perempuanku tak menjawab sepatah kata pun dan hanya menangis  di atas ranjang sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.

Setelah puas memaki-maki, laki-laki itu lalu membentak perempuanku supaya berhenti menangis, melihat padanya, dan menjawab pertanyaannya. Perempuanku menurut. Dihentikannya tangisnya dan mengangkat wajahnya memandang ke arah laki-laki itu. Wajah itu basah dan nampak bengkak.

Dia bertanya tentang “siapa lelaki itu” dan minta perempuanku menjawabnya dengan jujur. Perempuanku cuma diam. Tak ada satu bunyi pun keluar dari mulutnya. Laki-laki itu mengulang pertanyaannya. Perempuanku tetap tak menjawab. Lalu diulanginya lagi pertanyaannya tadi. Karena tetap tak mendapat jawaban, tangan kanannya yang besar dan kasar melayang ke pipi kiri perempuanku. Plak! Perempuanku terjungkal ke belakang dan jeritan kecil keluar dari mulutnya.

Laki-laki itu lalu menarik rambutnya hingga dia kembali ke posisinya semula duduk di atas ranjang. Kemudian kembali tangannya melayang berkali-kali ke wajah perempuanku yang mulai berdarah itu. Kulihat bibirnya pecah dan darah ada di wajahnya, baju tidurnya, seprei, dan di tangan kanan laki-laki itu. Laki-laki itu lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebuah pistol kecil!

Kaget sekali aku melihatnya. Pistol kecil itu ditodongkannya ke dada perempuanku yang kini memandangnya dengan mata terbelalak ketakutan. Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa. Keinginanku untuk melabrak masuk terpaksa aku tunda.

Dari lobang dekat jendela itu kulihat laki-laki itu mulai tersenyum! Bangsat, apa orang ini sudah gila! Dia bisa tersenyum dengan pistol di tangannya ditodongkan ke dada seorang perempuan yang memandangnya ketakutan! Laki-laki ini benar-benar bajingan! Seekor binatang gila! Dia malah mengancam akan menembak perempuanku kalau tetap tak mau menjawab pertanyaannya itu. Katanya perempuanku lebih baik mampus daripada jabatannya sebagai walikota hancur.

Walikota! Aku ingat sekarang! Ya, aku ingat laki-laki ini adalah walikota kotaku yang sering kubaca beritanya di koran lokal dan sering muncul di tv lokal. Dia juga sering hadir di seminar-seminar yang diadakan di kampusku. Aku ingat siapa dia sekarang.

Laki-laki bajingan yang sekarang kupanggil si Walikota itu mengulurkan tangan kirinya ke arah dada perempuanku dan mulai meremas-remas kedua buah dadanya sambil tersenyum. Dia meremas-remasnya dengan kuat hingga perempuanku meringis kesakitan dan menggeliat-geliatkankan badannya. Kembali Walikota itu mengulangi pertanyaannya. Tapi tetap saja perempuanku tidak menjawabnya. Merasa kalau perempuanku tidak akan pernah menjawab pertanyaannya itu walau disakiti sekalipun, Walikota itu mulai hilang kesabarannya.

Dengan kasar dirobeknya baju perempuanku. Dirobek dan dirobeknya terus hingga perempuanku hampir telanjang bulat duduk di atas ranjang di depannya. Hanya kutang dan celana dalamnya saja yang tinggal. Lalu dipaksanya perempuanku membuka keduanya. Karena sangat ketakutan, perempuanku menuruti perintah Walikota yang sekarang juga mulai membukai pakaiannya sendiri itu. Lalu Walikota itu memperkosa perempuanku sementara pistol kecilnya ditodongkannya ke kepalanya.

Aku memejamkan mataku. Tangis perempuanku dan kemarahanku memukul-mukul kepalaku. Aku berusaha tenang. Aku berusaha mengendalikan amarahku karena kalau aku mendobrak pintu dan membuat Walikota bangsat itu gugup, terancamlah nyawa perempuanku. Aku tak mau perempuanku mati terbunuh setelah disiksa dan diperkosa. Walikota itu mesti mempertanggung jawabkan perbuatan biadabnya itu. Aku juga ingin tahu siapa laki-laki yang membuat Walikota itu begitu marah hingga membuatnya melakukan perbuatan gilanya terhadap perempuanku. Aku tak boleh kalap, aku tak boleh membuat keselamatan perempuanku terancam…

Aku tak tahu entah berapa lama berlalu ketika tiba-tiba kudengar suara “tep”, “tep” yang sangat halus dari dalam rumah. Lalu suara orang melangkah tergesa-gesa,  pintu dibuka, dan suara langkah di halaman. Lalu sunyi. Aku tak mendengar apa-apa lagi. Aku coba melihat ke dalam rumah lewat lobang kecil tadi. Perempuanku ada di atas ranjang, telanjang bulat. Walikota itu tak ada di dekatnya. Juga tidak di kursi dekat cermin. Walikota itu sudah tak ada di dalam rumah.

Aku segera berjalan ke pintu, kucoba dan terbuka. Sekarang dengan jelas kulihat darah di mana-mana dalam rumah perempuanku itu! Di atas ranjang kudapati perempuanku sudah tak bernyawa lagi, matanya terbelalak lebar, dan di dekat kepalanya yang penuh darah tergeletak sebuah pistol kecil yang juga berlumuran darah. Aku meraung keras. Baru saja aku membalikkan badanku hendak mengejar Walikota itu, kulihat di ambang pintu sudah berdiri kepala kampung, seorang polisi, dan Walikota itu sendiri. Lalu kudengar suara ribut-ribut di luar rumah dan…

“Tok! Tok! Tok!!!

Dengan ini Majelis Hakim menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara kepada terdakwa yang didakwa membunuh seorang wanita dengan cara menembaknya dua kali di bagian kepala dengan…”

Di antara para pengunjung sidang pengadilan, kulihat Walikota itu tersenyum mengejek padaku!

Wellington 1993

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s