Archive for November, 2010

IN BED WITH AYU UTAMI

Posted: 21/11/2010 in Esei

oleh Saut Situmorang

Ada 10 + 1 cara untuk membawa Ayu Utami, Si Parasit Lajang, ke tempat tidur: (1) jangan janjikan perkawinan, karena (2) itu tidak dirasakan perlu, karena (3) dia memang tidak peduli soal itu, walau (4) sebenarnya sih dia juga amat peduli, cuma soalnya perkawinan itu kan sebuah konstruk sosial, sebuah idealisasi, sebuah mitos yang disejajarkan dengan kelahiran dan kematian, yang melanggengkan dominasi laki-laki atas perempuan, terutama perkawinan antara satu laki-laki dengan beberapa perempuan atau poligami. Idealisasi perkawinan masyarakat patriarki yang kebanyakan merugikan kepentingan perempuan itu (poligami dan kekerasan domestik) telah membuatnya (5) trauma, bukan terhadap laki-laki (seperti yang dikira banyak orang, misalnya seorang ibu pendakwah di televisi) tapi justru terhadap sesama perempuan! Para sesama perempuan ini, yaitu “perempuan-perempuan pemuja perkawinan”, tidak sadar bahwa mereka telah tunduk dan melanggengkan nilai-nilai patriarki dengan sikap mereka yang mengagungkan arti perkawinan antara laki-laki dan perempuan [tentu akan sangat menarik, bagi kita, untuk mengetahui apa yang terjadi pada perkawinan pasangan lesbian dan gay, kaum queer itu, dalam masyarakat patriarki, menurut Ayu Utami!] dan sikap mereka itulah yang membuatnya trauma. Para perempuan tersebut telah jadi pencemburu, pendengki pada perempuan lain karena mereka tidak mendapat suami, tidak laku, perawan tua. Sindrom perawan tua inilah yang jadi trauma, jadi luka itu, dan untuk menunjukkan bahwa sindrom perawan tua itu juga cuma sebuah konstruk sosial, maka perkawinan antara laki-laki dan perempuan mesti ditolak. Tapi walaupun perkawinan adalah sebuah konstruk sosial, tidak begitu saja orang bisa memasukinya. Diperlukan juga (6) bakat untuk merealisasikannya dan faktor ini pula yang tidak dimiliki Ayu Utami. Tidak adanya bakat untuk segala yang formal dan institusional telah juga membuatnya menolak perkawinan antara laki-laki dan perempuan. (7) Demografi juga sebuah faktor menentukan, menurutnya. Perkawinan antara laki-laki dan perempuan tidak menarik baginya karena adanya tuntutan untuk menghasilkan keturunan, untuk beranak-pinak. Dia tidak mau menambah angka pertumbuhan penduduk dengan membelah diri dalam sebuah proses reproduksi. Tapi, walau anti reproduksi genetik, Ayu Utami, ternyata, tidaklah anti (8) seks! Syukurlah. Siapa bilang seks itu tidak enak dan perlu, tidak menyebabkan ketagihan! Tidak ada itu free sex bahkan yang one-night-stand sekalipun, dan justru karena tidak gratis itulah maka kita kecanduan, bukan! Dan kalau (9) sudah terlanjur asyik melajang begini, untuk apa lagi sebuah perkawinan, yang nota bene cuma sebuah formalitas perizinan untuk berhubungan seks doang! Kalau ada yang terkagum-kagum terpesona pada kelajangan yang parasit macam begini dan pengen tahu apa sih penyebabnya, maka ternyata semuanya ini bisa jadi begini hanyalah karena alasan psikologis, bukan ideologis ―(10) Ayu Utami cuma tidak mudah percaya kok! Kritis, bisa jadi. Bukankah merupakan sebuah bukti sikap kritis pertanyaan atas konsep perkawinan antara laki-laki dan perempuan dan reproduksi genetik berikut ini: “Tapi, siapa yang bisa jamin bahwa pasangan tak akan bosan dan anak tidak akan pergi?”!

Kesepuluh hal di atas merupakan (+1) “sikap politik seks”, “ideologi tempat tidur” yang mesti dipahami oleh setiap laki-laki yang ingin mengajak Ayu Utami tidur, walau cuma sekedar sebuah one-night-stand doang.

Tapi tentu saja ada detil-detil lain yang juga mesti diperhitungkan oleh setiap laki-laki pemuja Si Parasit Lajang penulis novel sensasional Saman ini. Bukankah, kata orang, sesuatu yang terlalu mudah didapat biasanya tidak meninggalkan kesan yang cukup menawan untuk dikenang? Cuma separuh ilusi, sesuatu yang cepat retak dan gagal menjadi abadi, menjadi fantasi. Easy-come-easy-go-ism.

Tubuh yang indah adalah sebuah foreplay yang mesti ada dalam ars sexuālis à la Ayu Utami. Jangan nyatakan birahimu dengan sekuntum mawar merah, itu mah udah kuno hah! Say it with your body, your hard and beautiful body! Ingat kan pepatah itu: Good man is hard to find, but hard man is good to find! Sebagai laki-laki Dunia Ketiga, kau tentu suka nonton film action Hollywood atau mini-series di televisi, bukan? Nah, tipe laki-laki bertubuh ideal Utamian itu adalah si jago karate asal Belgia Jean-Claude van Damme (terutama waktu dia masih memakai gaya rambut cepak Magelangan itu) atau si dewa laut David “Baywatch” Haseldoff. Sexual politics posmo, atau post-Kate Millett feminism, telah mengharuskan laki-laki untuk juga memiliki tubuh yang indah dan menggairahkan perempuan. Militer dan olahragawan adalah sexual symbols abad 21 ini, bagi Sang Ayu. Kekuasaan para senator-orator Athena sudah berlalu, sekarang adalah zaman para gladiator Sparta. Untuk produk lokal, mungkin semacam blasteran antara Taufik Hidayat dan… Wiranto! Jangan lagi jadi anggota Taman Bacaan dan tenggelam dalam komik (yang underground sekalipun), apalagi Kho Ping Hoo. Mulailah ikut aerobics atau Tae-Bo. Karena good man is hard to find, but hard man is (van damme) good to find!

Dulu perempuan adalah korban pasif dari ideologi wham bam, thanks mam perkawinan patriarki, tapi sekarang politik kesetaraan jender telah menciptakan para Parasit Lajang yang tahu dan memburu apa-apa yang mereka mau, khususnya soal anatomi tubuh. Revolusi selera ini juga bisa dilihat pada para selebriti pornografi terutama para artis film XXX, para bintang laki-laki BF, para superstar para Ayu Utami dunia.

Hal lain yang mesti diingat setiap laki-laki pemuja Parasit Lajang kontemporer adalah – nikmatilah seks! The pleasure of sex, kalau mau kebarthes-barthesian. Lakukanlah seks demi kenikmatan seks itu sendiri, sex for sex’s sake, bukan demi yang lain, apalagi demi mendapatkan keturunan. Kalau kau mampu nge-seks minimum 25 menit, dengan basa-basi awal tak lebih dari cuma 5 menit, maka kau sudah sangat dekat dengan fantasi Samanismemu! Kau sudah lulus ujian Kamasutra Jahudi yang berat itu! Kau sudah mengerti Sigmund Freudmu! Eureka!!!

Pernah nonton Sex and Zen, film alegori Buddhis yang berdasarkan novel paling lama yang pernah dicekal dalam sejarah peradaban manusia itu, yaitu sejak zaman Dinasti Ming Cina? Minimalisme koan Zen yang khas budaya samurai, dalam film tersebut, telah dikembalikan ke selera baroque fiksi wuxia daratan Tionggoan. Alegori menggantikan haiku, kungfu ketimbang kendo. Verbalisme ketimbang kematangan konsep. Feminisme radikal posmo yang dipretensikan oleh judul buku Si Parasit Lajang ternyata cuma mengingatkan saya pada slapstick pseudo-cersil Sex and Zen – yang dalam film tersebut dengan apik dibawakan oleh aktor eksil orang awak dari Petisah, Medan sono, Lo Lieh-locianpwe – tapi minus imajinasi film dimaksud.

Sangat sulit membayangkan betapa seorang novelis kontemporer, yang bahkan diklaim telah melakukan sebuah “revolusi estetika” dalam fiksi kontemporer Indonesia, ternyata begitu membosankan “coretan-coretan biografis pendeknya”, yang nota bene cuma ditulis untuk media cetak yang gaul, ngepop. Bahasa yang sama sekali nggak kita banget, terlalu prosais mirip tulisan-tulisan di majalah dinding sekolah menengah kota-kota besar Indonesia, plus isu-isu yang dalam perspektif “cultural studies koran” pun terasa begitu tidak newsgenic, cuma menambah kesan betapa permainan font, warna, dan ilustrasi Si Parasit Lajang terasa sangat superfisial, dibuat-buat, sekedar biar dianggap beda belaka. Arty-farty. Eufemisme pretensi kerendahhatian ambisi dalam disclaimer Pra-Gagas buku – bahwa Ayu Utami bercerita dengan “ringan” tentang “hal remeh yang merupakan jerawat di muka raksasa persoalan”, yaitu “berbagai peristiwa di sekitar” yang kita anggap “biasa” dan “cenderung” lewatkan, padahal “berasal dari persoalan besar yang sering tak [kita] sadari” – gagal untuk menyembunyikan klaim terselubung betapa besar sebenarnya misi yang dibayangkan diemban buku “Seks, Sketsa, & Cerita” Ayu Utami ini.

Sebuah contoh berikut ini saya harap bisa menunjukkan apa yang saya anggap sebagai salah satu kontra-diksi antara teks dan konteks yang merupakan persoalan besar yang tak disadari, mungkin karena dianggap “hal remeh” seperti yang dikesankan, tanpa ironi sedikitpun, oleh Pra-Gagas buku di atas.

Kalau kita hubungkan judul buku Si Parasit Lajang dengan kenyataan diri penulisnya yang hidup “kumpul kebo” dengan seorang laki-laki, maka di manakah “kelajangan” yang diklaim begitu heroik sebagai sexual liberation yang dibedakannya secara hierarki nilai dari perkawinan konvensional itu? Istilah “lajang” dalam bahasa Indonesia mempunyai arti seperti istilah “single” dalam bahasa Inggris, yaitu seseorang yang jangankan menikah, pacar pun gak punya. Jomblo 100%. Seseorang yang hidup sendiri tanpa pasangan, baik yang berbeda jenis kelamin (kalau heteroseksual, seperti Ayu Utami) ataupun yang berjeniskelamin sama (kalau homoseksual), atau “not involved in an established romantic or sexual relationship” menurut Oxford English Dictionary (OED). Bagaimana mungkin Ayu Utami bisa mengklaim dirinya sebagai seorang “lajang”, yang “parasit” lagi, padahal dia hidup kumpul kebo dengan seorang laki-laki! Kerancuan pemakaian istilah seperti ini cukup dominan dalam bukunya itu hingga menimbulkan kecurigaan atas pengetahuannya tentang topik-topik yang dituliskannya. Apa mungkin justru karena kekurangpahaman itulah yang membuatnya cuma bisa menghasilkan tulisan-tulisan “ringan” atas konsep-konsep yang dianggap sangat serius saat ini, terutama di kalangan feminis, di budaya Barat sana! Sebuah parasitisme konseptual!

During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act. -George Orwell

Menanggapi beredarnya Long-list Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2008 yang memasukkan buku saya otobiografi ([sic] Yogyakarta, November 2007) sebagai salah satu 10 besar kategori Puisi, dengan ini saya nyatakan menolak pengikutsertaan buku saya tersebut. Adapun alasan saya adalah sebagai berikut :

1. Sejak awal saya menganggap keberadaan KLA tidak layak dan tidak representatif bagi kesusasteraan Indonesia karena dasar dan sistem penilaian karya tidak pernah jelas, inkonsisten, improvisasi,  dan tidak profesional.

Beberapa cacat fatal dapat disebutkan:

a. Panitia maupun juri melanggar aturan yang mereka buat sendiri. Contoh: Menangnya buku puisi Goenawan Mohamad, Sajak-sajak Lengkap, pada KLA perdana, merupakan pelanggaran terang-terangan atas aturan yang sudah diumumkan panitia sebelumnya bahwa karya kompilasi (yang sudah pernah diterbitkan terdahulu) tidak bisa diikutkan dalam penilaian, dan buku yang diterbitkan oleh Metafor Publishing (milik bos KLA, Richard Oh) juga tidak akan diikutkan dalam penilaian. Kenyataannya, Sajak-sajak Lengkap Goenawan Mohamad yang merupakan gabungan puisi lama dan baru dan diterbitkan Metafor Publishing pula, terpilih sebagai pemenang!

Hal ini terulang pada KLA 2005 dimana buku puisi Iman Budhi Santoso, Matahari-matahari Kecil, yang berisi 100 puisi pilihan yang merupakan trademark karya kompilasi penerbit Grasindo, masuk dalam 5 besar penilaian!

Dan hal ini terjadi lagi pada buku puisi saya, otobiografi ([sic] Yogyakarta, November 2007). Buku ini jelas-jelas berisi puisi lengkap saya yang sebagian pernah terbit dalam saut kecil bicara dengan tuhan (Bentang Budaya, 2003) dan catatan subversif (BukuBaik, 2004)!

b. Panitia dan juri tidak profesional, bekerja asal-asalan dan ngawur. Contoh: Dalam KLA 2005, buku puisi penyair cilik, Abdurahman Faiz (saya lupa judulnya) semula muncul dalam daftar 10 besar, tapi setelah adanya sejumlah protes dan kritik, tiba-tiba nama Abdurahman Faiz dihapus begitu saja, dan segera diganti nama dan buku lain. Terlepas dari protes atau kritik yang ada, layakkah sebuah karya yang sudah dinilai juri kemudian diumumkan kepada publik, lantas ditarik begitu saja tanpa pertanggungjawaban juri dan penjelasan panitia secara publik?!

c. Kriteria buku yang dinilai tidak jelas: apakah buku yang ditulis secara perorangan atau antologi-bersama? KLA 2008 ini, misalnya, memasukkan sebuah antologi-puisi-bersama di posisi 10 besar!

d. Konsep KLA rancu dan amburadul: apakah berupa anugrah (award) atau lomba? Jika penghargaan, mengapa panitia dan juri tidak proaktif mencari buku untuk dinilai, tapi malah secara pasif menunggu penerbit/penulis mengirimkan bukunya kepada panitia, lengkap dengan batas waktu sebagaimana lazimnya syarat sebuah lomba? Padahal, sejauhmana pengumuman KLA dapat diakses para penulis/penerbit yang bertebaran di seluruh Indonesia? Alhasil, hanya mereka yang mengirim yang akan dinilai, yang tidak mengirim akan luput.

Nah, anehnya, buku otobiografi TIDAK pernah dikirimkan oleh Penerbit maupun oleh saya sebagai penulisnya kepada Panitia KLA (sebagaimana yang mereka syaratkan) tapi kok bisa muncul di 10 besar?!

e. Kerja penjurian hanyalah upaya untuk membuat legitimasi bahwa Panitia KLA sudah melakukan mekanisme penilaian yang benar, padahal dasar penilaian dan proses penjurian lebih tepat disebut sebagai sebuah skandal! Contoh: Tidak ada pertemuan antar-juri, bahkan di antara mereka tidak saling tahu, serta tidak ada pertanggungjawaban apapun dari juri bagi karya yang terpilih/pemenang!

Contoh lain, seorang calon juri di Yogyakarta mengundurkan diri karena sistem penilaian yang diterapkan Panitia KLA sangat tidak masuk akal. Ia  dihubungi sekitar tanggal 25 Agustus 2008 oleh Panitia KLA di Jakarta, yang memintanya menjadi Juri Tahap I dengan honorarium 1 juta rupiah. Anehnya, daftar buku yang akan dinilai sudah ditentukan oleh panitia (mungkin berdasarkan buku yang dikirim penulis/penerbit?), padahal posisi yang ditawarkan adalah Juri Tahap I yang dalam konteks penilaian lebih tinggi posisinya ketimbang panitia. Lha, kok panitia yang menentukan lebih dulu? Gawatnya, hasil penilaian harus sudah sampai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Logikanya, seorang juri tentu mesti baca buku yang dinilainya. Namun dengan waktu yang mepet dan honor 1 juta rupiah, mungkinkah seorang juri dapat membaca atau membeli buku-buku yang hendak dinilainya? Jikapun diasumsikan ada juri yang menyempal, misal mengusulkan buku yang tidak ada dalam daftar, bukankah suara usulannya itu akan bersifat ”minoritas” belaka, sebab juri lain bisa saja tak mengetahui buku tersebut? Apalagi penilaian berupa tabulasi, penjumlahan angka dari dewan juri, sebagaimana sistem ”Idol” di televisi. Pada akhirnya, itu semua hanyalah semacam fait accompli sebab skenario sebenarnya sudah disiapkan dan juri hanyalah alat legitimasi!

Tak sampai sebulan sejak tanggal 25 Agustus 2008 kita semua tahu Long-list KLA 2008 dikeluarkan, berarti para juri telah sanggup merampungkan tugas membaca dan menilai buku-buku sastra di Indonesia yang terbit kurun waktu satu tahun! Hebat!

2. Di tengah dekadensi kondisi Sastra Kontemporer Indonesia lantaran merajalelanya para petualang/dilettante sastra dengan politik uangnya, perkoncoan, manipulasi isu-isu kesusasteraan Indonesia atau isu bangsa secara umum di luar negeri atau kepada sponsor baik asing maupun domestik, yang kemudian dilegitimasi dengan ”niat suci demi Sastra” padahal tidak sama sekali – sebagaimana dengan jelas diperlihatkan pada cara kerja Panitia KLA seperti yang saya elaborasikan di atas – atas bobroknya sistem, moral dan pertanggungjawaban Panitia KLA, sponsor dan juri-jurinya itu, maka dengan ini saya MELARANG KERAS KARYA SAYA otobiografi ([sic] Yogyakarta, November 2007) DIIKUTSERTAKAN DALAM KHATULISTIWA LITERARY AWARD!

3. Kepada kawan-kawan sastrawan Indonesia, marilah kita pikirkan bersama kondisi Sastra kita yang sudah rusak oleh hadiah-hadiah sastra yang tidak jelas maksud-tujuannya seperti KLA dan oleh peristiwa-peristiwa sastra semacam Teater Utan Kayu International Literary Biennale dan Ubud Writers and Readers Festival. Apakah absennya sebuah tradisi Kritik Sastra yang baik dan benar lantas harus membuat Sastrawan Indonesia menjadi tidak kritis! Jangan cuma karena uang dan ambisi untuk ”go international” kita jadi lupa daratan!

Yogyakarta, 20 September 2008

Tertanda,

SAUT SITUMORANG

Ikut mendukung:

Penerbit [sic] Yogyakarta

WAWANCARA DENGAN SAUT SITUMORANG: PERANG SASTRA boemipoetra vs TEATER UTAN KAYU (TUK)

Universitas Indonesia, khususnya Fakultas Ilmu Budaya sebagai ranah sastra mahasiswa, yang sebagian kecil masyarakatnya adalah penikmat sastra akademis, mungkin belum membaur ke dalam fase politik sastra (bukan kekuasaan) atau pun pembacaan jarak dekat.

Sebagian kecil darinya pula tentu ada yang merasa kritis terhadap desas-desus yang terjadi di luar sana. Untuk itu kami terus menangkap kejadian-kejadian sastra yang terjadi di Indonesia sebab ternyata permasalahan sastra bukan hanya pertunjukan dan karya tapi idealisme dan polemik. Majalah kami, Recup Budaya edisi pertama 2007, mungkin berangkat dari tugas mata kuliah, namun kekuatan berpikir dan  hasrat mengaromakan sastra dan sendinya kepada mahasiswa lain adalah semacam batu asah untuk meningkatkan kepekaan kami

Anda menyebut diri sebagai politisi sastra. Kami baru dengar istilah itu. Apa tugas sentral profesi tersebut, tentunya dalam eksternal sastra dan internal sastra?

SS: Hahaha… Istilah sebenarnya adalah “politikus sastra” dan aku pakai sebagai keterangan-diri di eseiku yang berjudul “Politik Kanonisasi Sastra” – yang merupakan makalahku untuk Kongres Cerpen Indonesia V di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 26-28 Oktober 2007 lalu – yang kusebar di Internet sebagai salah satu dari rangkaian seranganku terhadap Teater Utan Kayu (TUK). Istilah itu sebenarnya sebuah istilah ironis yang tongue-in-cheek, dimaksudkan untuk memberi nuansa kepada isi eseiku itu. Tapi reaksi pembaca macam-macam. Hudan Hidayat yang konon seorang novelis itu, misalnya, menyebutku “politisi sastra” di Internet. Aku lebih suka istilah “politikus sastra”. “Politisi” itu istilah apa?! Apa ada “kritisi” sastra?! Hudan Hidayat memang seorang penulis bakat alam par excellence! Hahaha…

Jurnal Boemipoetra yang terbit beberapa bulan lalu, semacam aksi propaganda demonstratif sastrawan Ode Kampung terhadap perlawanan terhadap Komunitas Utan Kayu (KUK). Namun sebagian masyarakat menyatakan itu bukan jurnal yang semestinya ilmiah sebab kata-kata yang “kasar”?

SS: Coba perhatikan, kalimat macam apa yang kau tuliskan ini! Membingungkan! Hehehe… Jurnal sastra boemipoetra (pake huruf kecil semua!) adalah jurnal sastra paling keren dan cool sepanjang sejarah sastra Indonesia karena fungsinya cuma satu: menghancurkan Teater Utan Kayu (TUK)! Dan sudah terbit (tanpa mengemis dana ke Amerika Serikat dan sekutu neo-kolonialnya) sampai empat edisi. Hahaha… Satu-satunya “little magazine” sastra kita yang berani memakai apa yang kau sebut sebagai “kata-kata yang ‘kasar’” itu! Mengutip Clark Gable dalam Gone with the Wind, aku katakan kepada mereka-mereka yang tiba-tiba (menjadi) moralis linguistik itu padahal konon sudah beyond morality dalam kasus Sastra Porno Sastrawangi, seperti Manneke Budiman dosen Universitas Indonesia itu: Frankly, my dear, I don’t give a damn! Hahaha… Benar, jurnal boemipoetra memang bukan jurnal ilmiah kayak Oxford Literary Review, Critical Inquiry, New German Review, New Left Review, Social Text, atau Representations dan tidak punya pretensi untuk menjadi jurnal ilmiah. Tapi apa memang (pernah) ada jurnal “ilmiah” seperti yang aku sebutkan barusan di Indonesia? Nenek moyang boemipoetra adalah majalah-majalah kecil yang diterbitkan kaum Dada dan Surrealis di Eropa di awal abad 20 lalu, yang berisi baik manifesto-manifesto gerakan-gerakan tersebut maupun serangan-serangan keras mereka terhadap apa-apa yang pada saat itu mereka anggap menjajah pemikiran budaya orang-orang Eropa. Dan bahasa yang mereka gunakan bahkan jauh lebih “vulgar” dibanding “kata-kata kasar” boemipoetra! Ada catatan penting: boemipoetra bukan sastrawan Ode Kampung! Ode Kampung itu adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh komunitas sastra Rumah Dunia di Serang, Banten. Secara ideologis dan praktis boemipoetra justru sangat radikal dibanding Rumah Dunia dan Ode Kampungnya itu. Juga kalau kalian pelajari komposisi redaksi boemipoetra maka akan terlihat jelas keberagaman ideologi di dalamnya. Kerancuan informasi ini memang sudah universal di dunia kangouw sastra Indonesia dan ini cuma menunjukkan betapa parahnya orang kita membaca persoalan, betapa tidak canggihnya imajinasi orang-orang sastra kita dalam menafsirkan silsilah sebuah persoalan seperti Perang Sastra antara boemipoetra vs TUK. Manneke Budiman adalah lagi-lagi contohnya. Yang harus disadari lagi adalah bahwa Teater Utan Kayu (TUK) yang dikuasai orang-orang sastra itu yang menjadi fokus dari serangan-serangan kami, bukan Komunitas Utan Kayu (KUK) secara umum dan yang macam-macam isinya itu. Makanya perang kami ini adalah Perang Sastra! Musuh kami adalah Goenawan Mohamad dan segelintir penulis muda yang berlindung di balik bayangannya yang tua. Segelintir penulis-sekedar yang merasa sudah mencapai satori atau pencerahan sastra padahal rata-rata masih medioker kemampuannya, baik kreatif maupun kritis! Segelintir megalomaniak!

Letak keburukan TUK sehingga Anda begitu gencar untuk mengutuk mereka?

SS: Harus diakui bahwa pada awalnya mereka itu oke, kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan termasuk penerbitan majalah ikon mereka itu, Kalam, merupakan angin segar dalam kondisi jenuh sastra kita yang diakibatkan hegemoni majalah Horison dan Taman Ismail Marzuki (TIM). Tapi itu hanya sebentar! Mereka kemudian merasa sudah menjadi mainstream baru, sang dominan baru dalam sastra kita. Mereka sampai merasa begini tentu saja tak dapat dilepaskan dari “pesona” yang memang telah mereka timbulkan dalam kepala para sastrawan kita, terutama di kota-kota besar kita. Mereka telah menjadi mitos baru yang menggantikan mitos-mitos lama Horison dan TIM bagi para sastrawan yang mulai dikenal publik sastra kita di periode 1990an, apa yang saya sebut sebagai Sastrawan 90an itu, dan yang sedang merajai penerbitan buku sastra saat ini. Mitos baru tentang TUK ini dimanfaatkan dengan sangat canggih oleh Goenawan Mohamad dan segelintir penulis-sekedar yang aku sebutkan di atas. Dominasi-tunggal atas dunia sastra kita adalah ambisi ekstra-literer mereka. Ini dimulai dengan skandal menangnya novel jelek berjudul Saman di Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Memakai istilah salah seorang penulis-sekedar TUK bernama Eko Endarmoko yang berpretensi keras mencari kelemahan esei saya “Politik Kanonisasi Sastra” tapi gagal dengan mengenaskan itu (karena kurang imajinasi tekstual dan miskinnya pengetahuan sejarah sastra), menurut “kabar angin” naskah Saman itu sebenarnya sudah lewat deadline pengiriman naskah tapi salah seorang juri menerimanya juga. “Kabar angin” lain adalah bahwa salah seorang juri Sayembara Roman DKJ 1998 itu menerima naskah Saman dari seorang tukang sapu gedung dimana para juri sedang memeriksa naskah-naskah yang masuk dan naskah tersebut didapatkan tukang sapu itu di dalam tong sampah! Siapa saja tentu saja bebas menafsirkan legenda yang diciptakan seputar Saman ini sama seperti para penilai Prince Claus Award yang memenangkan Ayu Utami pada tahun 2000 untuk novel satu-satunya itu dengan alasan bahwa “karyanya dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya”! Bagaimana para juri Prince Claus Award bisa menilai kedahsyatan novel tersebut padahal tak satupun terjemahan bahasa asingnya sudah ada pada waktu itu hanya Goenawan Mohamad yang tahu. Coba baca prosa-pendek Ayu Utami (yang diklaim sebagai “kolom” itu) di media massa cetak seperti koran Seputar Indonesia Minggu. Masuk akalkah seseorang yang diklaim oleh sebuah institusi internasional sejenis Prince Claus Award sebagai “meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya” cuma mampu menghasilkan cakar-ayam yang bahkan lebih jelek dari medioker seperti itu! Aku kasih sebuah “kabar angin” lagi. Kalau Saman itu sebuah fragmen dari karya panjang (yang sekarang kita tahu adalah Saman dan Larung) lantas kenapa Saman bisa begitu sensasional legendanya sementara Larung sunyi senyap?! Karya Pramoedya Ananta Toer yang jauh lebih panjang aja, yaitu Tetralogi Buru, tidak begitu jauh jarak “mutu”nya antara satu fragmen dengan fragmen lainnya. Bicara tentang Pram, bukankah komentar Pram di sampul belakang Saman itu adalah sebuah manipulasi tekstual paling brengsek dalam sejarah promosi sebuah karya sastra di negeri ini! Kalau memang benar Saman yang memenangkan Sayembara Roman DKJ 1998 dan Prince Claus Award 2000 itu begitu “dahsyat” seperti yang diklaim Sapardi Djoko Damono, Faruk dkk, untuk apa lagi dia mesti memelintir komentar Pram yang pada dasarnya menganggap novel itu jelek!

Kejahatan TUK semacam ini, yaitu manipulasi informasi, berkali-kali mereka lakukan. Yang langsung bersentuhan dengan aku adalah “laporan” di majalah-berita Tempo yang konon ditulis oleh Ags Dwipayana (aku tak ingat nama lengkapnya tapi orang ini orang teater, menurut “kabar angin”) tentang Temu Sastra Internasional 2003 yang diselenggarakan TUK di Solo. “Laporan” yang pada dasarnya mengelu-elukan program sastra TUK itu dan mengejek aku dan kawan-kawan Solo yang memprotesnya dengan keras karena tidak melibatkan seorangpun sastrawan Solo kecuali sebagai pembawa acara, hahaha…, ternyata tidak ditulis berdasarkan pandangan mata langsung “pelapor”nya! Si penulisnya tidak pernah hadir di Solo sama sekali selama dua-hari acara TUK itu dan menurut “kabar angin” semua infonya diberikan oleh Yang Mulia Goenawan Mohamad! Kasus Solo ini menjadi penting dalam “arkeologi dusta TUK”, hahaha…, kalau kita kaitkan dengan Kasus Chavchay Syaifullah, wartawan budaya Media Indonesia yang dipecat bosnya sebagai wartawan budaya karena pengaduan langsung Goenawan Mohamad. Chavchay menulis di korannya tentang acara Utan Kayu International Literary Biennale yang diadakan di TIM bulan Agustus lalu dan Goenawan Mohamad tersinggung atas laporan pandangan mata langsung Chavchay itu. Alasan Goenawan Mohamad, Chavchay dalam laporannya itu telah melakukan “fitnah” karena tidak menjalankan asas “cover both sides”, yaitu “tak mencoba mendapatkan dan memuat versi panitia dan TIM” paling tidak tentang diusirnya penyair Geger dari tempat acara. Padahal Chavchay punya rekaman pernyataan Geger bahwa dia diusir! Sontoloyo, itulah komentarku! Kekuasaan sipil yang sudah mulai menjadi diktatorial!

Masih mau lagi? Hahaha… Coba perhatikan jaringan kekuasaan yang sudah dibentuk TUK saat ini untuk menguasai dunia sastra kita: Hasif Amini di koran Kompas Minggu, keikutsertaan TUK dalam menyeleksi sastrawan lokal untuk Ubud Writers and Readers Festival, Ayu Utami di DKJ, dan “kabar angin” lagi Sitok Srengenge bakal menjadi redaktur sastra koran Media Indonesia Minggu! Sitok ini juga yang menurut “kabar angin” lain pernah sesumbar bahwa “Sastrawan Indonesia” itu adalah cuma mereka yang pernah diundang ikut acara sastra TUK! Megalomaniak gak, hahaha… Dulu waktu dia dan Medy Loekito dari komunitas kami Cybersastra ada di Iowa mengikuti program menulisnya, si penyair rima-dalam ini, hahaha…, pernah berkata bahwa dalam berbahasa Inggris, dia kalah dengan Medy, tapi dalam menulis puisi, dia lebih unggul! Uh, hebatnya, hahaha… Kalau dia tak bisa berbahasa Inggris, kok bisa dia mewakili Sastra(wan) Indonesia ke Iowa? Saat ini yang mewakili Sastra(wan) Indonesia ke Iowa adalah, you guess it!… monsieur  Nirwan Dewanto, hahaha… Sejak kapan redaktur koran ini jadi sastrawan dan mana karya sastranya? Mestinya kan penyair dan politikus sastra Saut Situmorang dong yang mewakili TUK, dan sastra Indonesia, ke Iowa, iya kan, hahaha…

O iya, sebelum aku lupa dan ada juga kaitannya sedikit dengan soal majalah “ilmiah” yang kita singgung di atas. Pernah baca buku kumpulan esei Goenawan Mohamad berjudul Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (AlvaBet, 2001)? Coba baca kata pengantar buku itu berjudul “Ke-Lain-an Goenawan Mohamad” yang ditulis oleh Hamid Basyaib! Atau baca ringkasannya di blurb sampul belakang buku! Dengan tidak ada rasa malu sama sekali dia mengklaim Goenawan Mohamad sebagai “esais terbaik Indonesia”, “orang Barat yang lahir di Batang” dan dalam kumpulan eseinya itu “ia membahas Brecht, Derrida, Adorno, Habermas, Nietcszhe [sic], Camus, Benjamin dan banyak nama penting lain dalam jagat pemikiran Barat bagai berbincang akrab dengan teman dekat”, “semuanya disorotinya dengan perangkat kritik sastra, yang digunakannya dengan kemahiran tak tertara”! Nah pertanyaan sederhanaku ini aja: Kalau Goenawan Mohamad itu memang begitu hebat, kok dia gak nulis di jurnal-jurnal ilmiah seperti yang kusebutkan di atas tadi aja? Kita kan bisa jadi sangat bangga kalau ada seorang penulis hebat kita yang tulisan kritiknya bisa muncul di jurnal ilmiah standar internasional ketimbang sekedar di media lokal doang! Inilah contoh megalomania narsisistik Teater Utan Kayu par excellence, hahaha…

Sudah tentu TUK, menganggapnya sebagai angin lalu. Bahkan fitnah?

SS: Jelas dong. Mana ada yang suka kebusukannya diekspos, apalagi sekelompok megalomaniak.

Manifesto Boemipoetra telah kami pelajari. Rasa sosial dan solidaritas tinggi serta anti-Liberalisme, rupanya tertanam kuat di diri sastrawan Ode Kampung. Berangkat dari kemanusian, apakah Anda tidak takut pengecaman Anda dkk. justru menjadi bumerang?

SS: Sekali lagi, jangan samakan boemipoetra dengan Ode Kampung. Tahu kan apa itu bumerang? Bumerang itu adalah senjata tradisional bangsa Aborijin Australia yang dipakai dengan melemparkannya ke objek yang ingin dilumpuhkan. Karena bentuknya melengkung dan cara melemparkannya khas, bumerang bisa kembali ke pemiliknya kalau tidak mengenai sasarannya. Kalau seseorang tidak sigap atau pandai menangkap bumerang yang terbang kembali itu, maka bocorlah kepalanya, hahaha… Maka ketahuan pula kalau dia bukan pemilik sebenarnya! Nah apa yang terjadi sekarang adalah bumerang itu tak bisa ditangkap kembali oleh Goenawan Mohamad dan para penulis-sekedarnya maka bocorlah kepala mereka, hahaha…

Menurut Anda mengapa setelah terbitnya Jurnal Boemipoetra, TUK tidak membalas sama sekali serangan Anda?

SS: Karena mereka itu cuma mitos belaka, tak ada esensinya. Karena isi boemipoetra tak bisa mereka bantah. Karena mereka takut kalau merespons maka semua kebusukan mereka akan jadi terbuka. Lebih baik didiamkan saja kan. Atau seperti “kabar angin” tentang apa yang dikatakan Goenawan Mohamad: apa Saut itu masih tahan menyerang sampai enam bulan lagi? Kalau tak salah, aku sudah menyerang TUK sejak tahun 2003 dan sekarang makin asyik aja, hahaha…

Seorang millist bernama Radityo yang disinyalir sebagai tangan kanan TUK,    menyerang Anda habis-habisan. Anda bisa jelaskan ini?

SS: Hahaha… Radityo Djadjoeri itu adalah keponakan Goenawan Mohamad. Dia sendiri yang ngaku begitu di Internet dan aku pun pernah mempostingkan data yang kudapat di Internet tentang keluarga besar mereka yang keturunan Arab-Kurdi itu. Radityo yang konon tamatan FE-UII Jogja ini memang seorang cyberpsikopat! Dulu dia juga pernah punya problem besar dengan Farid Gaban dari Republika dan melakukan teknik pencemaran nama yang sama, yaitu dengan menciptakan tokoh-tokoh cyber fiktif yang menyerang dengan alamat email buatan. Untuk menghadapi aku yang memang jauh di atas kelas intelektualnya ini, hahaha…, dia bahkan menciptakan milis-milis baru seperti yang bernama “sautisme@yahoogroups.com” itu. Tapi manalah pulak awak bisa dikerjainnya! Buktinya, justru dia sekarang yang dicekal dari begitu banyak milis Indonesia di Internet, hahaha…

TUK diperkirakan sebagai benih-benih sastra imperialis, yang secara general pernah disembulkan Taufik Ismail. Apakah kelahiran Jurnal Boemipoetra berangkat dari pernyataan Taufik?

SS: Harus disadari lagi bahwa boemipoetra tak ada hubungan apa-apa dengan Taufiq Ismail atau jelasnya dengan Kasus Taufiq Ismail vs Hudan Hidayat. Dan boemipoetra lahir bukan karena Taufiq Ismail ataupun pernyataan publiknya!!! Kami bertujuan membabat utan kayu, titik. Aku sendiri secara pribadi bertentangan dengan Taufiq Ismail soal Marxisme dan Lekra. Aku ini Marxist tapi Marxisme seperti yang diejek-ejek Taufiq Ismail tak pernah ada dalam Marxisme! Dia tak bisa membedakan antara politik partai dan sebuah isme pemikiran. Dalam sejarah peradaban manusia, isme yang paling kritis dan paling membela harkat orang banyak hanyalah Marxisme! Dan lawan utama Marxisme bukan Agama Monotheis seperti yang dirancukan Taufiq Ismail dkk, tapi Liberalisme-Kapitalisme yang justru telah menyebabkan matinya agama Kristen di Barat dan timbulnya kolonialisme di Asia, Afrika, Australia, Pasifik dan benua Amerika! Bagi boemipoetra, TUK adalah agen imperialisme Liberalisme-Kapitalisme terutama Amerika Serikat di sastra Indonesia, lewat program-program sastranya. Mudahnya akses bagi orang-orang TUK dan sekutunya ke program-program di Amerika Serikat, seperti program menulis Iowa itu misalnya, sementara orang-orang yang non-TUK ditolak visa mereka oleh Kedutaan Amerika Serikat, adalah bukti nyata.

Seks dan agama adalah keberlainan bahkan kebertentangan, Ayu Utami, yang selanjutnya diikuti Nukila Amal, dan Dewi Lestari sebagaimana Taufik yang menyatakan mereka bagian dari Fiksi Alat Kelamin (FAK) dan (GSM). Apakah Anda menyerang lini ini dengan berpusar pada pijak agama?

SS: Gawat! Siapa yang bilang bahwa “seks dan agama” itu bertentangan! Apa ada “agama” yang melarang seks! Gereja Katolik yang melarang pastor untuk kawin itu aja tidak melarang seks bagi yang non-pastor!!! Ketidakhati-hatian orang kita dalam berbahasa memang sudah fenomenal. boemipoetra tidak anti-seks malah sangat suka seks! Yang dilawan boemipoetra adalah eksploitasi seks (seksploitasi) sebagai standar estetika sastra (paling) bermutu, yang mengorbankan estetika sastra non-seks seperti nilai-nilai Islami pada Forum Lingkar Pena misalnya. Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu dan Dinar Rahayu adalah para penulis perempuan Indonesia yang mengeksploitasi seks dalam tulisan mereka dan menjadi terkenal karenanya. Menjadi dibaca tulisannya karenanya. Itu saja alasannya kenapa mereka dibaca. Lucu ya bahwa ketiga perempuan tukang eksploitasi seks perempuan ini punya nama sama, yaitu “Ayu”. Mungkin nama Sastrawangi musti diganti jadi “Sastrayu”, hahaha…

Sastra TUK jelas berbeda, mereka mengakomodir tulisan dengan kualitas tinggi. Bahkan mereka tidak akan menerbitkan karya yang dianggap “tidak layak” di jurnal Kalam. Berarti Sastra TUK punya pagar untuk menyempitkan dunianya(red). Eksklusivitas ini rupanya yang tidak diterima oleh Anda dkk. Mengapa?

SS: Hahaha… Itulah mitos yang berhasil dibangun TUK tentang dirinya dan dikunyah bulat-bulat oleh banyak sastrawan muda termasuk fakultas sastra yang seharusnya lebih kritis daripada sastrawan sendiri!

Kalam itu kan cuma majalah budaya umum dan “kekuatan”nya terletak lebih pada esei-esei budaya yang dimuatnya, bukan pada puisi atau cerpennya. Kolom puisi Kompas Minggu sewaktu ditangani Sutardji Calzoum Bachri jauh lebih tinggi reputasinya bagi para penyair Indonesia ketimbang Kalam. Bukankah cerpen yang dimuat di koran Kompas yang dianggap cerpen nyastra yang bermutu? Sastra TUK itu apa? Yang “sastrawan” di TUK itu kan cuma Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge dan Ayu Utami. Ini kan sastra TUK itu.

Soal “kualitas tinggi” TUK. Apa tinggi kualitasnya puisi Sitok, bahkan Goenawan Mohamad sekalipun? Apa tinggi kualitasnya esei-esei Nirwan Dewanto atau Hasif Amini? Terjemahan Hasif atas cerpen-cerpen Jorge Luis Borges (dari terjemahan bahasa Inggris) aja jelek tapi dipuji-puji setinggi langit oleh sesama orang TUK! Apa tinggi kualitasnya program biennale sastra TUK yang mengklaim Avi Basuki dan Laksmi Pamuntjak sebagai “sastrawan internasional Indonesia” itu? Apa yang pernah ditulis Laksmi Pamuntjak dalam “sastra Indonesia”? Yang benar adalah bahwa manipulasi informasi TUK memang berkualitas tinggi, hahaha…

Apa perjuangan Anda dkk. sudah selesai?

SS: Apa TUK sudah hancur? Hahaha…

Dengan duduknya Hasif Amini di Kompas dan Nirwan Dewanto di Tempo, sudah tentu makin melambungkan sastra TUK yang Anda sinyalir sebagai kelompok yang berambisi menoreh sejarah sastra. Benarkah?

SS: Sudah aku jawab di atas.

Mahasiswa, sebagai akademisi sastra yang belum terbaluri pengaruh ini, sebaiknya ada di posisi mana?

SS: Masak mahasiswa sastra belum terkena pengaruh mitos TUK! Yang benar aja ah.

Pertanyaan No.10 di atas kan jelas menunjukkan betapa kalian sudah sangat dalam dipengaruhi oleh “pesona” mitos TUK itu! Sadarlah dan kembalilah ke jalan yang benar! Hahaha…

Anda tidak meluaskan propaganda ke kalangan mahasiswa. Mengapa?

SS: Lha wawancara ini apa namanya kalau bukan propaganda demitologisasi TUK, hahaha…

Kanonisasi Sastra dapatkah Anda jelaskan secara singkat?

SS: Kanon adalah sekelompok karya yang, minimal, selalu ada dalam kurikulum pengajaran sastra di sekolah dan perguruan tinggi. Sebuah karya yang bisa masuk jadi anggota kanon sastra tentu saja akan terangkat reputasi sastranya, dan pengarangnya, dalam hierarki kelas “kedahsyatan” artistik dalam sejarah sastra. Dan bisa dipastikan akan terus menerus dicetak-ulang sekaligus dibahas-ulang dalam skripsi, tesis dan disertasi.

Tentu saja semua pengarang ingin semua karyanya bisa masuk dalam kanon sastra, paling tidak sebuah bukunya. Tapi kenyataannya cuma segelintir saja pengarang yang bernasib mujur begini. Ketidakmujuran nasib banyak pengarang dalam peristiwa kanonisasi sastra inilah yang menimbulkan pertanyaan: Kok karya S Takdir Alisjahbana bisa masuk kanon sementara cerita silat Kho Ping Hoo nggak? Kenapa puisi Goenawan Mohamad, bukan Saut Situmorang? Masak cerpen Seno Gumira Ajidarma masuk tapi cerpen Hudan Hidayat kagak? Apakah karena cerpen Seno punya “substansi” sementara cerpen Hudan cuma begitu-begitu aja? Puisi Goenawan Mohamad “sublim” tapi Saut Situmorang cuma bermain-main dengan intertekstualitas dan tidak tertarik pada “kedalaman” simbolisme pasemon puitis? Apa sebenarnya yang menjadi “kriteria” dalam seleksi kanon (canon formation)? Apakah “substansi” sastra atau “sublimitas” sastra seperti yang diyakini Hudan Hidayat dan para pengarang bakat alam lainnya itu? Apakah estetika satu-satunya standar dalam menilai mutu karya? Kalau benar, lantas apakah “estetika” itu? Adakah karya sastra yang an sich benar-benar “dahsyat” dan “universal”? Apakah karya sastra itu memang otonom, bebas nilai, tidak tergantung pada hal-hal di luar dirinya untuk menentukan baik-buruk mutunya? Atau ada hal-hal lain di luar teks karya – mulai dari komentar para “pengamat” sampai ekspose di media massa atas sosok sang pengarang – yang menjadi faktor dominan dalam terpilih-tidaknya sebuah karya sastra menjadi anggota kanon sastra?

Sastra kontemporer kita rusak karena dilettante sastra, petualang sastra seperti TUK, Kompas dan Richard Oh dengan sensasi duit Katulistiwa Literary Award-nya itu merajalela membuat kanon-kanon sastra baru tanpa kriteria yang bisa dipertanggungjawabkan dan para sastrawan pada cuek aja. Inilah efek apolitisasi sastra Orde Baru!

Bang Saut setiap jawaban Abang akan kami publikasikan. Silahkan menambahkan sesuatu yang perlu Abang uraikan.  Tapi kami  tetap menjaga etika jurnalisme.

Terima kasih banyak. Salam untuk Wowok dkk.

SS: Terimakasih juga. Wawancara kalian ini adalah wawancara pertama yang dilakukan dengan boemipoetra untuk mendengarkan perspektif boemipoetra tentang Perang Sastra boemipoetra vs TUK. Selama ini cuma Goenawan Mohamad dan anggota TUK lainnya aja yang diberikan kesempatan bicara secara formal dalam sebuah wawancara. Kalian sudah bertindak adil! Bravo! Aku juga mengharapkan kalian berani memuat semua yang aku nyatakan di sini. Berani seperti boemipoetra! Kalau mahasiswa aja sudah gak berani mengeluarkan pendapatnya dalam media kampusnya sendiri, apalagi dengan alasan mitos “etika jurnalisme” yang cuma menguntungkan kekuasaan status quo itu, untuk apa kita punya universitas di negeri ini! Mitomania harus dilawan oleh semua mahasiswa yang menganggap dirinya berbudaya dan kritis, terutama oleh mahasiswa sastra. Ingat apa yang dikatakan George Orwell: During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act! HIDUP MAHASISWA!

Serang, Banten,  20-22 Juli 2007

Kondisi Sastra Indonesia saat ini memperlihatkan gejala berlangsungnya dominasi sebuah komunitas dan azas yang dianutnya terhadap komunitas-komunitas sastra lainnya. Dominasi itu bahkan tampil dalam bentuknya yang paling arogan, yaitu merasa berhak merumuskan dan memetakan perkembangan sastra menurut standar estetika dan ideologi yang dianutnya. Kondisi ini jelas meresahkan komunitas-komunitas sastra yang ada di Indonesia karena kontraproduktif dan destruktif bagi perkembangan sastra Indonesia yang sehat, setara, dan bermartabat.

Dalam menyikapi kondisi ini, kami sastrawan dan penggiat komunitas-komunitas sastra memaklumatkan Pernyataan Sikap sebagai berikut:

  1. Menolak arogansi dan dominasi sebuah komunitas atas komunitas lainnya.
  2. Menolak eksploitasi seksual sebagai standar estetika.
  3. Menolak bantuan asing yang memperalat keindonesiaan kebudayaan kita.

Bagi kami sastra adalah ekspresi seni yang merefleksikan keindonesiaan kebudayaan kita dimana moralitas merupakan salah satu pilar utamanya. Terkait dengan itu sudah tentu sastrawan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat (pembaca). Oleh karena itu kami menentang sikap ketidakpedulian pemerintah terhadap musibah-musibah yang disebabkan baik oleh perusahaan, individu, maupun kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, misalnya tragedi lumpur gas Lapindo di Sidoarjo. Kami juga mengecam keras sastrawan yang nyata-nyata tidak mempedulikan musibah-musibah tersebut, bahkan berafiliasi dengan pengusaha yang mengakibatkan musibah tersebut.

Demikianlah Pernyataan Sikap ini kami buat sebagai pendirian kami terhadap kondisi sastra Indonesia saat ini, sekaligus solidaritas terhadap korban-korban musibah kejahatan kapitalisme di seluruh Indonesia.

Kami yang menyuarakan dan mendukung pernyataan ini:

01.  Wowok Hesti Prabowo (Tangerang)

02.  Saut Situmorang (Yogyakarta)

03.  Kusprihyanto Namma (Ngawi)

04.  Wan Anwar (Serang)

05.  Hasan Bisri BFC (Bekasi)

06.  Ahmadun Y. Herfanda (Jakarta)

07.  Helvy Tiana Rosa (Jakarta)

08.  Viddy AD Daeri (Lamongan)

09.  Yanusa Nugroho (Ciputat)

10.  Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta)

11.  Gola Gong (Serang)

12.  Maman S. Mahayana (Jakarta)

13.  Diah Hadaning (Bogor)

14.  Jumari Hs (Kudus)

15.  Chavcay Saefullah (Lebak)

16.  Toto St. Radik (Serang)

17.  Ruby Ach. Baedhawy (Serang)

18.  Firman Venayaksa (Serang)

19.  Slamet Raharjo Rais (Jakarta)

20.  Arie MP.Tamba (Jakarta)

21.  Ahmad Nurullah (Jakarta)

22.  Bonnie Triyana (Jakarta) MENCABUT TANDA TANGANNYA

23.  Dwi Fitria (Jakarta)

24.  Doddi Ahmad Fauzi (Jakarta)

25.  Mat Don (Bandung)

26.  Ahmad Sumpena (Pandeglang)

27.  Mahdi Duri (Tangerang)

28.  Bonari Nabonenar (Malang)

29.  Asma Nadia (Depok)

30.  Nur Wahida Idris (Yogyakarta)

31.  Y. Thendra BP (Yogyakarta)

32.  Damhuri Muhammad (Jakarta)

33.  Katrin Bandel (Yogyakarta)

34.  Din Sadja (Banda Aceh)

35.  Fahmi Faqih (Surabaya)

36.  Idris Pasaribu (Medan)

37.  Indrian Koto (Yogyakarta)

38.  Muda Wijaya (Bali)

39.  Pranita Dewi (Bali)

40.  Sindu Putra (Lombok)

41.  Suharyoto Sastrosuwignyo (Riau)

42.  Asep Sambodja (Depok)

43.  M. Arman AZ (Lampung)

44.  Bilven Ultimus (Bandung)

45.  Sarabunis Mubarok (Tasikmalaya)

46.  Ayuni Hasna (Bandung)

47.  Sri Alhidayati (Bandung)

48.  Suci Zwastydikaningtyas (Bandung)

49.  Riksariote M. Padl (Bandung)

50.  Solmah (Bekasi)

51.  Hasta Indriyana (Yogyakarta)

52.  Manaek Sinaga (Jakarta)

53.  Endah Hamasah (Thullabi)

54.  Martin Aleida (Jakarta)

55.  Manik Susanti

56.  Nurfahmi Taufik el-Sha’b

57.  Benny Rhamdani (Mizan)

58.  Selvy (Bandung)

59.  Azura Dayana (Palembang)

60.  Dani Ardiansyah (Bogor)

61.  Uryati Zulkifli (DKI)

62.  Ervan (FLP DKI)

63.  Andi Tenri Dala (DKI)

64.  Azimah Rahayu

65.  Habiburrahman el-Shirazy

66.  Elili al-Maliky

67.  Wahyu Heriyadi

68.  Lusiana Monohevita

69.  Asma Sembiring (Bogor)

70.  Yeli Sarvina (Bogor)

71.  Dwi Ferriyati (Bekasi)

72.  Hayyu Alynda (Bekasi)

73.  Herti Windya (Bekasi)

74.  Nadiah Abidin (Bekasi)

75.  Ima Akip (Bekasi)

76.  Lina M (Ciputat)

77.  Murni (Ciputat)

78.  Giyanto Subagio (Jakarta)

79.  Santo (Cilegon)

80.  Meiliana (DKI)

81.  Ambhita Dhyaningrum (Solo)

82.  Lia Oktavia (DKI)

83.  Endah (Bandung)

84.  Ahmad Lamuna (DKI)

85.  Billy Antoro (DKI)

86.  Wildan Nugraha (DKI)

87.  M. Rhadyal Wilson (Bukit Tinggi)

88.  Asril Novian Alifi (Surabaya)

89.  Jairi Irawan (Surabaya)

90.  Putu Oka Sukanta (Jakarta)

91.  Langlang Randhawa (Rumah Dunia)

92.  Muhzen Den (Rumah Dunia)

93.  Renhard Renn (Rumah Dunia)

94.  Fikar W. Eda (Aceh)

95.  Acep Iwan Saidi (Bandung) MENCABUT TANDA TANGANNYA

96.  Usman Didi Hamdani (Brebes)

97.  Diah S. (Tegal)

98.  Cunong Suraja (Bogor)

99.  Muhamad Husen (Jambi)

100. Leonowen (Jakarta)

MANIFESTO boemipoetra

Posted: 21/11/2010 in Manifesto

Beberapa tahun terakhir ini rakyat Indonesia banyak mengalami musibah besar yang merubah kehidupan mereka seperti terjadinya tsunami dan gempa bumi. Tapi tsunami dan gempa bumi adalah musibah yang memang tidak bisa dicegah terjadinya oleh kekuatan manusia karena merupakan bencana buatan alam. Bencana alam hanya bisa diterima dan menjadi tanggung jawab bersama korban dan bukan-korban untuk menanggulangi akibatnya.

Ini berbeda dengan bencana lain yang disebabkan oleh kelalaian manusia. Kelalaian manusia karena keserakahan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi sebesar-besarnya dan tidak adanya tanggung jawab atas akibat yang mungkin diakibatkan sebuah perbuatan merupakan penyebab utama terjadinya bencana seperti yang terjadi di Porong Sidoarjo, Jawa Timur. Sudah lebih satu tahun ribuan rakyat Porong Sidoarjo telah menjadi korban lumpur beracun yang disebabkan oleh perusahaan Lapindo. Puluhan kampung musnah selamanya dan ratusan hektar tanah berubah menjadi danau lumpur beracun yang tidak mungkin untuk dimanfaatkan lagi oleh manusia. Semua ini terjadi karena kelalaian perusahaan Lapindo yang pemiliknya adalah Keluarga Bakrie.

Dalam konteks inilah penganugerahan Bakrie Award setiap tahun kepada tokoh-tokoh yang dianggap berprestasi besar dalam kebudayaan Indonesia adalah sebuah penghargaan yang sangat melecehkan kemanusian. Karena sementara ribuan rakyat Porong Sidoarjo korban lumpur Lapindo makin sengsara kehidupan sehari-harinya, Bakrie malah menghambur-hamburkan uang hanya untuk mencari nama semata. Disamping Kasus Lapindo, Bakrie dengan lembaga Freedom Institute-nya juga telah menyengsarakan rakyat Indonesia dengan cara memasang iklan raksasa di media massa nasional yang mendukung kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu.

Kami mengecam keras politik pemberian penghargaan Bakrie Award karena bagi kami hanya sebuah usaha manipulatif untuk mempengaruhi pendapat-publik atas reputasi Bakrie dan Freedom Institute sehubungan dengan Kasus Lapindo dan iklan mendukung kenaikan harga BBM di media massa. Kami mengecam keras para “budayawan” penerima Bakrie Award yang tidak memiliki solidaritas nasional dengan ribuan korban lumpur Lapindo dan jutaan rakyat korban kenaikan harga BBM. Kami menuntut Keluarga Bakrie dan perusahaan Lapindo-nya untuk segera melaksanakan tanggung jawabnya memberikan semua ganti rugi seperti yang diminta para korban lumpur Lapindo secepatnya. Kami menuntut para penerima Bakrie Award untuk memberikan hadiah uang sebesar Rp 100 juta yang mereka terima sebagai bagian dari penghargaan Bakrie Award kepada para korban lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo secepatnya. Karena merekalah yang paling berhak untuk menerima uang tersebut sebagai kompensasi atas musibah besar yang ditimpakan atas kehidupan normal mereka. Sebagai solidaritas nasional kami meminta kepada para budayawan Indonesia untuk menolak dipilih sebagai penerima Bakrie Award di tahun-tahun yang akan datang kalau Kasus Lapindo belum diselesaikan Keluarga Bakrie sebagaimana mestinya.

Tangerang, 17 Agustus 2007

Ngobrol Bareng Ayu Utami

Posted: 21/11/2010 in Reportase

oleh Ian Ahong Guruh*

Minggu (1/8) malam kemaren, aku mendapat sms dari teman, “Ayu Utami ke Yogyakarta besok, senin jam 19.00..”. Waduh, senin malam. Pasti sudah lelah karena seharian harus mengurus penjualan majalah, mengambil majalah di agen, mengantar ke pelanggan2. Setelah itu, mengajar di sebuah bimbel, lalu melanjutkan mengantar. Baru malam sekitar jam tujuh selesai. Apakah sempat dan kuat? Tapi karena penasaran atas nama yang membuat kontroversial ini, dan terlebih sudah kucicipi rasanya Saman dan Larung, kedua novel pertama Ayu Utami. Kayaknya nama Ayu Utami sebegitu menjadikanku penasaran hingga aku mengusahakan untuk datang.

Untungnya waktu mengijinkan dan fisikpun dapat diajak kompromi. Banyak hal yang ada di kepala perihal nama Ayu Utami sebelumnya. Memang awalnya penuh praduga dan penasaran. Pertama kali mendengar nama dia dari beberapa teman yang mengkritik karya-karyanya, terutama Saman dan Larung. (Perihal kontroversi ini teman2 bisa coba buka google dan ketik kata “sastrawangi” dan “Perang Sastra boemipoetra vs TUK”. Lalu, untuk tercetak ada Politik Sastra karya Saut Situmorang dan Jurnal boemipoetra). Seorang teman kampus sebelah bilang dia itu feminis tapi malah mengobyekkan perempuan. Karya-karya dia bukanlah karya feminis, kata dia. Lalu, teman satu kampus bilang kalau karya dia sungguh dibesar-besarkan. Namun, menurut media arus utama, dia dicitrakan sebagai penulis besar dan terkenal. Wah-wah, ada2 aja orang kontroversial begini, yang kalau kita menyangkut dia, kita berada di pihak pro atau kontra, hampir tak bisa netral.

Akhirnya aku sempatkan baca novel Saman dan Larung, walau dua2nya pinjem..wk…wk.wk..(gaul bro). Saat membacannya, biasa-biasa saja. Datar, memang agak asik di bagian-bagian bercinta itu. Wah, imajinasi pornoku disenangkan nih. Gamblang dan menyenangkan. Bikin birahi.he..he.he…(ttiitt). Tapi, ada kata2 yang menyakitkan mataku, kata2 yang diucapkan seorang pastur lelaki, wisanggeni, terhadap perempuan gila haus seks. Bunyinya kurang lebih mengatakan andai dia perempuan dan perempuan gila itu laki-laki, dia pasti akan lebih gampang memuaskan hasrat birahi perempuan gila itu. Wah, udah mulai ndak beres ni, batinku. Ini seperti menyetujui perempuan lebih sebagai pemuas seks melulu. Tapi, secara umum biasa saja. Ide2nya juga biasa, cara penyajiannya biasa. Ada orang yang bilang plot-nya bagus dan pembaharu. Tapi aku pikir plot-nya lebih canggih Atheis karya K.Mihardja yang ditulis tahun 1943. Di Atheis, penutup cerita sudah ada di bab pertama, lalu plot berbalik dari masa lalu menuju awal, kembali pada bab pertama. Tapi, kata-kata terakhir dirancang untuk menjawab misteri di bab awal. (novelnya ada di perpus USD). Singkatnya, aku pikir Ayu Utami biasa-biasa saja.

Demikian prolognya sebelum diskusi ma Ayu Utami di Yayasan Umar Kayam, Senin (02/08).

Aku datang terlambat, entah berapa menit. Waktu datang sudah ramai, juga dia bicara apa tak jelas. setelah berusaha nyambung, baru aku tahu dia bicara tentang khasanah nusantara, juga tentang penulisan-penulisan sastra, terutama perihal sejarah yang terlupakan. Dia sebut-sebut FPI dan krisis pasca-reformasi adalah kekerasan terhadap umat beragama.. juga dia sebut religiositas kritis. Religiositas kritis itu istilah yang dia pakai untuk menekankan bahwa kita bsa beriman sambil tetap kritis, bahwa berpikir, kritis tidak harus meninggalkan iman. Ayu Utami ambil contoh para pemikir yang “Eropa, Kiri, rasional” yang mengatakan meninggalkan iman itu merupakan suatu tahap selanjutnya (ini kayaknya tahap2nya August Comte dech..bukan semua bilang gitu, Nietzsche aja yang Atheis ndak mempermasalahkan politheisme (baca Anti-christ dan The Gay Science)).. Hmmm……bahasanya aneh dan tak aku mengerti…..

Setelah ada kesempata bertanya, kok ndak ada yang tanya ya? Ya udah, iseng aja sambil makan gorengan dan kacang aku tanya. “apa yang Anda maksud dengan khasanah nusantara? Terus, tentang FPI, apakah Anda memuat hingga aliran dana dari mana, lalu pendukung politiknya dari mana. Terus, kata “religiositias kritis” serta stereotip2 dia tentang agama yang timur dan barat yang rasional, gak beda jauh ma jaman penjajahan yang slogan rasisnya si Kipling terus didengung-dengungkan bahwa barat adalah barat, timur adalah timur, keduannya tak mungkin bersatu. Gak ada bedannya ma zaman penjajahan dong dia?

Ayu menghindari menjawab pertanyaan2ku atau lupa ya? Dari tiga itu, cuman satu yang dijawaba…waduh2..tobat…ya udah, biar temen2 dapet jatah kan nanti ada dinamika lagi. Setelah itu, ada sepasang pria dan perempuan paruh baya yang bertanya, tapi menurtku mereka seperti inferior dan termakan mitosnya Ayu Utami yang ada di media masa. Merek tampak kagum sama Ayu. Bahkan ada yang mengatakan, aku sudah membaca semua karya Ayu Utami.

Setelah itu, ada seorang temanku menanyakan rentetan pertanyaan, ada lebih dari sepuluh kalau gak salah. Dari reaksi Ayu ma temanku itu, baru aku sadar, kayaknya si Ayu ini memang suka ndak njawab pertanyaan nih. Bahasa gaulnya, ngeles gitu bro..kecuali, dia memang gak paham pertanyaannya. (Hanya Ayu tahu mana yang benar, tapi kayaknya kedua tuduhanku kok gak enak semua ya? ha..ha.h.a.)

Contohnya, membantah klaim Ayu bahwa bilangan berbasis 10 merupakan bilangan berbasis tubuh dan bilangan berbasis 12 adalah bilangan berbasis alam, temanku berkata bahwa matematika berbasis bilangan sepuluh, yang menurut Ayu berbasis tubuh, sebenarnya bukanlah berbasis tubuh. Di esai karangan Alan Bishop berjudul “Western Mathematics: A Secret Weapon of Cultural Imperialism” dijelaskan ada 600 bahasa di Papua New Guinea dan ratusan sistem berhitung. Dan yang banyak yang berbasis tubuh, bukan cuman bilangan sepuluh. Tubuh yang bilangannya sepuluh tu cuman jari. Kenapa dikaitkan dengan tubuh bilangan sepuluh? Bilangan-bilangan lain juga ada yang menggunakan tubuh untuk berhitung. Lalu, pertanyaan menarik, temanku ini membantah pernyataan Ayu bahwa sastra memang mainnya halus, tidak terang-terangan. Dia mengambil contoh puisi2 Wiji Thukul yang blak-blakan. Apakah itu dianggap bukan sastra? Temanku ini mengingatkan pertanyaanku tentang FPI yang belum dijawab tadi. Terus, temanku juga membantah bahwa sastra itu tidak berbahaya bagi kekuasaan, lalu dia menanyakan kenapa sastra, dari sastra kanan hingga kiri, tidak diajarkan di sekolah menengah?

Jawaban2 Ayu kurang lebih seperti ini, jika aku ingin mengangkat bilangan berbasis 12 bukan berarti tidak ada bilangan lain. Dan Ayu menuduh temanku berpikir dikotomi ( berpikir seperti hitam putih dan tidak ada warna lain). Jadi, Ayu mengambil perumpamaan, jika aku mengatakan Romo Mangun bagus, bukan berarti aku mengatakan Pramoedya jelek. Kok bisa dikotomi? Anda harus meninggalkan pemikiran dikotomi. Ha? Padahal kan temanku itu bilang dia ingin menanyakan perihal bilangan yang berbasi tubuh kok bisa hanya bilangan sepuluh? Bukankah ini sama sekali ndak nyambung? Tanya A jawabnya B. Aku jadi berpikir tentang dua kemungkinan tadi, dia ngeles atau memang gak nangkep ya.

Ini terjadi lagi saat dia jawab pertanyaan tetnang FPI. Dia bilang tadinya masalah tu di toleransi dan kekerasan pada kebebasan beragama, seperti yang dilakukan FPI. Dan novelnya Bilangan Fu dia tulis untuk mengkritik itu. Aku tanya tadi, kritiknya sampai gak dari mana dukungan politis terhadap golongan ini? Berapa dana yang masuk dan dari mana danannya yang mengalir ke FPI. Contohnya. Terus, dia seperti biasa, ngeles lagi.h.eh.eh.e. dia bilang, ya, itu sudah ada di alam bawah sadar saja. Bahwa kalau ini pasti ada kepentingan politisnya dan ada dukunganya, jadi bukan agama semata. Bawah sadar? Mang alam pikiran semua orang kayak gitu? Wah2, jawabannya benar2 bikin kepalaku yang lagi pusing tambah pening.h.e.h.he.h.e.eh….terus dia malah cerita bagaimana “heroisme” JIL saat diserang FPI. Dari situ, JIL dikabarin polisi akan diserang FPI dan Ayu menyumpulkan memang ada hubungan antara mereka berdua. Loh..loh…kok malah narsi2an cerita diri sendiri mbak? Terus pertanyaanku tentang samapai mana karya dia mengkritik gerakan2 kekerasan beragama itu tak dijawab dech.

Ayu, dalam menjawab, juga tidak konsisten. Ini terlihat dari cara dia menjawab bantahan temanku tentang klaim dia bahwa sastra mainnya halus, tidak eksplisit. Terus, Ayu jadi bicara bahwa seni itu tidak ada larangannya. Termasuk sastra, jadi bisa saja sastra yang main halus ada, terang2an juga ada..Eh, ini dia mbantah klaim dia sendiri nih si Ayu.

Yang tragis lagi, pertanyaan terakhir temanku bahwa sastra juga berbahaya tidak dijawab..ha..ha.ha.h.a.ha..(ayo kenapa coba?)

Terus, ada penanya lagi yang menarik, dia tanya kenapa sebagian besar sastra yang mengunkap sejarah g30s hanya menjadi anti-thesis (lawan atau kebalikan) dari versi resmi Soeharto yang menuduh PKI sebagai dalangnya? Kita butuh perspektif baru, seperti bahwa rejimnya setelah 65 bukanlah militer, tapi jendral. Bapak aku militer tapi rendahan, sekarang cuman bisa jadi satpam R.S itu udah mending. Teman aku bapaknya nganggur. Perspektif apa yang ditawarkan karya Anda?

Ayu, kali ini tidak menjawab, juga tidak ngeles, jadi cuman mengiakan bahwa kita butuh perspektif baru. Terus gak dia menceritakan peristiwa para tahanan yang akhirnya akrab dengan militer2 rendahan. Ada penulis yang disuruh bikin surat cinta untuk keasih oleh seorang militer. Dia bilang, benar, ini memang rejim jendral. Waduh2..ini ya ndak beda jauh. Dia ndak menjawab tentang apa yang ditawarkan karya dia.

Diskusi berakhir pukul 09. Jadi hanya sekitar dua jam saja. Waktu segitu relatif sebentar untuk hitungan diskusi buku sastra, apalagi kali ini temanya luas karena Ayu mempersilahkan siapa saja menanyai dia dengan tema bebas. Kenapa begitu cepat? Teman aku ada yang sampai geleng2 kepala, “kok wes bubar?” katanya.

Setelah acara selesai, kami ngobrol2 dan seorang teman lagi (pokoke ndak nyebut merek, cuman teman2..ha..hah.a.) bilang “iki mbake kaya presiden Bemu pas neng kongres mahasiswa, jawabane personal2 dan ndak cerdas. Ndak konsisten dan suka mbulet2.” Terus, aku tanyakan temanku yang menanyakan banyak pertanyaan tadi, “piye pendapatmu?” Kecewa, sudah berkali2 aku dengar tentang dia. Tapi ini benar kongkrit dia di sini. Dan, “mengecewakan”. Seorang teman yang nge-fans sama Ayu Utami, semula berencana ingin foto bersama, lalu dia membatalkan niatnya. Katanya malu, juga ndak bawa kamera. Aku tawarkan temanku yang ada kamera, karena dia kebetulan wartawan dan setelah acara mewawancarai Ayu. Tetap ndak mau juga ambil foto bersama Ayu temanku yang nge-fans ini. Hmmm, apa dia masih ngefans ya ma Ayu setelah diskusi dan mengetahui Ayu suka ngeles (atau memang ndak paham pertanyaan?) juga kata2 temanku yang bilang “kecewa!” ini cukup mendengung-dengun di telinga walaupun dia sudah tahu dia tak bisa berharap banyak dari Ayu, tapi jawaban2nya itu lebih2 bikin dia “kecewa!”..

Akhirnya aku pulang dan terheran2, kok bisa ya penulis menang hadiah Prince Claus Award? Memang aku sudah pernah baca tulisan Katrin Bandel tentang ini, cuman masih heran aja rasanya. Gak nyangka sebegitunya…

Wah2..Ayu Utami, kau lebih dari yang aku kira sebelumnya……***

*Ian Ahong Guruh, mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

oleh Wijaya Herlambang

IndonesiaSeni.com – Di pertengahan 2007, boemipoetra, sebuah buletin budaya yang sangat sederhana, menyinggung pengaruh Congress for Cultural Freedom (CCF) di dalam dinamika kebudayaan Indonesia di tahun 1960an. Buletin yang digawangi penyair Wowok Hesti Prabowo dan Saut Situmorang itu meyakini bahwa hubungan antara CCF dan aktivis kebudayaan Indonesia adalah salah satu bentuk interaksi penting bagi terbangunnya tradisi kebudayaan liberal Barat di Indonesia. Sayangnya, karena kekurangan dana –yang berakibat pada minimnya jumlah halaman— boemipoetra terpaksa mengesampingkan analisis dan bukti-bukti yang memadai. Walaupun demikian, kritik ini penting sebagai titik tolak untuk meninjau kembali peran CCF di Indonesia. Apakah CCF dan seberapa jauh pengaruhnya bagi perkembangan kebudayaan modern Indonesia? Tulisan ini adalah sebuah refleksi singkat sejarah CCF dan interaksinya dengan aktivis kebudayaan di Indonesia.

Berdirinya CCF dan Tujuannya

CCF, yang didirikan oleh dinas intelijen Amerika, CIA, pada tahun 1950 di Berlin –kemudian dipindah ke Paris– adalah lembaga kebudayan untuk beberapa tujuan: Pertama, melawan komunisme pada masa Perang Dingin di Eropa; Kedua, menampung gagasan para intelektual sayap kanan dan tokoh-tokoh kiri non-komunis terkenal; Ketiga, mempromosikan gagasan liberalisme Barat agar para intelektual tidak jatuh cinta pada Marxisme. Walaupun akhirnya skandal dukungan CIA terhadap CCF terbongkar melalui laporan dari the New York Times di tahun 1966, namun peran CCF dalam memanipulasi intelektual untuk membela kepentingan AS selama lebih dari satu dekade sebelumnya di hampir seluruh dunia, sangat berpengaruh.

Tokoh utama CCF adalah Michael Josselson yang bekerja di bawah supervisi Frank Wisner, tangan kanan bos CIA Allen Dulles. Josselson adalah seorang Yahudi asal Tartu (Estonia), yang direkrut CIA untuk bekerja di Jerman dengan tugas mengumpulkan intelektual Eropa untuk mendukung kebijakan luar negeri AS dalam menguasai sumber-sumber ekonomi dunia, terutama di dunia ketiga, termasuk Indonesia. Untuk meyakinkan para inteletual tersebut, Josselson sengaja membiarkan mereka memerangi blok Komunis melalui ide-ide liberal, mulai dari eksistensialisme hingga kritik epistemologi terhadap Marxisme, sambil menyalurkan dana CIA kepada mereka. Berbekal uang CIA sebesar $50.000, Josselson menggelar kongres di Berlin yang dihadiri oleh intelektual yang mendukung kebijakan AS seperti John Dewey, Isaiah Berlin, Albert Camus, Bertrand Russell, Sydney Hook, Arthur Koestler, Stephen Spender, Richard Wright dan ratusan nama besar lain. Hingga tahun 1960an, CCF telah menerima puluhan juta dollar dari CIA, termasuk sekitar $7 juta dari Ford Foundation, yang kemudian menjadi pendonor utama mereka. Uang ini digunakan CCF untuk mendukung kampanye AS seperti seminar-seminar internasional, menerbitkan ratusan judul buku dan puluhan jurnal ternama seperti Encounter, Der Monat, Partisan Review, New Leader, Quadrant dan lain-lain. Dengan senjata intelektual dan dana yang besar, CCF mengembangkan pengaruhnya di Asia, termasuk Indonesia.

Pengaruh CCF di Panggung Kebudayaan Indonesia

Masuknya pengaruh CCF di Indonesia tak lepas dari peran para tokoh PSI seperti Sjahrir, Soedjatmoko dan Sumitro Djojohadikusumo dalam membuka pintu gerbang diplomasi antara AS dan Indonesia. Melalui tokoh-tokoh PSI, CCF menjadi akrab di telinga penulis simpatisan PSI. Misi CCF di Indonesia dilakukan dengan cara: Pertama, menjadikan tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia anggota atau simpatisan CCF; Kedua, menyebarkan buku-buku bertema hujatan terhadap komunisme seperti kumpulan essay The God that Failed, termasuk karya-karya eksistensialis anti-Marxis seperti Albert Camus dan Miguel De Unamuno; Ketiga, menyebarkan majalah dan jurnal yang berisi agenda CCF, mensponsori proyek-proyek terjemahan dan seminar-seminar. Tema dominan dari aktivitas itu adalah mempromosikan liberalisme Barat yang dibungkus dengan istilah-istilah indah seperti eksistensialisme, kebebasan intelektual dan kebebasan berekspresi. Orang penting CCF yang bertugas mendekati intelektual Indonesia dan menyalurkan dana untuk aktivitas CCF di Indonesia serta menyebarkan buku-buku bertema liberalisme adalah Ivan Kats. Beliau inilah yang membangun jaringan di kalangan simpatisan PSI untuk menjadi aktivis kebudayan pro-AS yang militan. Tokoh-tokoh yang aktif dalam klik CCF kebanyakan mantan aktivis majalah Siasat yang kemudian bergabung dalam kelompok studi majalah Konfrontasi seperti Mochtar Lubis dan Sutan Takdir Alisjahbana, PK. Oyong, Rosihan Anwar, Soedjatmoko, Wiratmo Soekito termasuk HB. Jassin. Ketika CCF mengadakan kongres pertama mereka di Rangoon tahun 1955, Lubis dan Alisjahbana adalah delegasi yang mewakili Indonesia, sementara Sumitro Djojohadikusumo, tokoh PSI yang juga ekonom pro-AS militan, dipilih sebagai anggota dewan kehormatan CCF Asia. Tokoh-tokoh ini bertugas untuk mempromosikan ide-de liberal, tidak saja di dalam kebudayaan tapi juga ekonomi, untuk membela kepentingan AS di Indonesia.

Di tahun 1957 – 1958, ketika pemberontakan PRRI/Permesta yang didukung CIA meletus, di mana Sumitro lari keluar negeri dan mendirikan gerakan bahwa tanah, Gerakan Pembaharuan Indonesia (GPI) untuk menjatuhkan Presiden Sukarno, Lubis ditahan akibat dukungannya terhadap PRRI melalui korannya Indonesia Raya. Sementara, Alisjahbana dikenakan tahanan kota akibat tulisannya di majalah Konfrontasi yang juga mendukung pemberontakan. Sejak itu Ivan Kats mulai membangun klik baru dengan melibatkan simpatisan PSI yang lebih muda seperti Goenawan Mohamad dan Arief Budiman termasuk, dalam tingkat tertentu, Soe Hok Gie, Taufiq Ismail, WS. Rendra. Para aktivis ini, yang didukung sepenuhnya oleh senior mereka, terutama Wiratmo Soekito, mulai menggodok konsep kebudayaan yang diadopsi langsung dari deklarasi CCF Eropa. Dalam deklarasinya CCF menyatakan “kebudayaan hanya dapat lahir di dalam kebebasan, dan kebebasan itu akan mendorong majunya kebudayaan.” Gagasan inilah yang kemudian menjadi dasar dari istilah kebebasan berekspresi yang di Indonesia dikenal dengan istilah humanisme universal.

Walaupun istilah humanisme universal diperkenalkan pertama kali oleh Jassin ketika ia bekerja dengan A. Teeuw di UI di awal tahun 1950an, namun ide dasarnya adalah deklarasi CCF Eropa. Joebaar Ajoeb, penulis Lekra, bahkan yakin bahwa istilah humanisme universal sebenarnya diperkenalkan oleh Teeuw yang kemudian dipakai Jassin untuk menjelaskan konsep dasar CCF: kebebasan berekspresi. Teeuw sendiri sudah lama dicurigai oleh Joebaar Ajoeb dan Pramoedya Ananta Toer sebagai bagian dari misi kebudayaan kabinet Van Mook di akhir tahun 1940an yang dimotori ahli budaya Melayu Rob Neuwenhuis dan Dolf Vespoor. Misi utama kebudayaan itu adalah menginfiltrasi intelektual Indonesia pro-Barat melalui ide-ide kebebasan berekspresi yang tengah mendominasi Eropa Barat sebagai bagian dari kampanye kebudayaan AS menjelang kongres CCF. Tujuannya untuk mengaburkan garis permusuhan antara Indonesia dan Belanda yang berusaha untuk menjajah kembali Indonesia. Deklarasi CCF Eropa adalah legitimasi penting bagi konsep universal humanisme. Deklarasi ini mejadi landasan kampanye AS, untuk menguasai sumber-sumber ekonomi di dunia ketiga, termasuk Indonesia, dengan cara memusnahkan kekuatan kiri dan nasionalis atas nama demokrasi, sambil mengebiri peran Belanda. Dalam konteks inilah perwakilan CCF untuk Asia, Ivan Kats, bertugas mempengaruhi pandangan inteletual Indonesia, terutama di lingkungan simpatisan PSI, untuk mendukung kebijakan luar negeri AS di Indonesia.

CCF dan Manifes Kebudayaan

Di tahun 1960an, ketika para penulis kiri secara agresif melakukan kampanye anti-kolonial untuk mendukung kebijakan Demikrasi Terpimpin Sukarno, intelektual di lingkaran PSI juga semakin merapat ke poros politik sayap kanan termasuk militer. Dalam ketegangan politik itulah mereka mendeklarasikan Manifes Kebudayaan di tahun 1963 tidak saja sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap ide-ide kebudayaan kiri namun juga sebagai promosi nyaring gagasan liberalisme Barat. Hasilnya memang memekakkan telinga: humanisme universal adalah sumber filsafat utama untuk menjamin kebebasan berekspresi di bidang kebudayaan. Tidak mengherankan setahun kemudian aktivitas mereka dilarang oleh Presiden Sukarno. Sejak itu mereka terbungkam walaupun tetap bergerak di bawah tanah. Dalam ketegangan politik waktu itu, tampaknya CCF mencium gelagat bahwa akan terjadi sebuah peristiwa politik penting di Indonesia yang mungkin akan berakibat buruk terhadap aktivis yang menentang kebijakan Demokrasi Terpimpin.

Dalam situasi yang tidak menguntungkan itu CCF, melalui Ivan Kats, menawarkan beasiswa bagi aktivis muda Manifes Kebudayaan yang mereka anggap berpontesi di bidang akademik. Arief Budiman adalah penerima beasiswa CCF pertama yang dikirim ke College of Europe di Belgia, walaupun setelah beberapa waktu di sana ia tidak kerasan, hingga akhirnya memustuskan untuk pulang. Orang kedua adalah Goenawan Mohamad yang dikirim ke sana hanya beberapa hari setelah peristiwa berdarah tanggal 30 September 1965. Beberapa peneliti seperti Janet Steele mempertanyakan hal ini: apakah pemberian beasiswa itu berkait dengan upaya preventif untuk mengevakuasi beberapa tokoh penting Manifes Kebudayaan? Arief Budiman menjawab tegas: tidak, itu hanya kebetulan. Sebaliknya, Goenawan justru mengakuinya. Dalam sebuah wawancara video, Goenawan mengakui bahwa alasan ia pergi ke Belgia adalah untuk ‘mengungsi’ dari peristiwa politik di tanah air. Siapa yang benar? Tidak jelas. Namun, hal penting yang dapat dicatat dari rentetan peristiwa itu adalah: CCF merupakan salah satu lembaga yang berpengaruh kuat bagi terbentuknya wacana kebudayaan liberal Barat di Indonesia. Pada saat yang sama, peran CCF merupakan petunjuk penting bahwa aktivitas kebudayaan menjadi alat politik untuk membela kepentingan AS di Indonesia. Inilah yang disebut Giles Scott-Smith sebagai “politiknya budaya non-politik.” ***

*Wijaya Herlambang, Ph.D Candidate, University of Queensland, Australia

Sumber:

http://indonesiaseni.com/lokus/wacana-dan-kritik/pengaruh-congress-for-cultural-freedom-di-indonesia.html

 

 

Pengantar Penerjemah:
Catatan ini adalah terjemahan saya dari artikel Andrew Higgins berjudul “As Indonesia debates Islam’s role, U.S. stays out” yang dipasang di Washington Post pada hari Minggu, 25 Oktober 2009 ( http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2009/10/24/AR2009102402279.html ) dan telah disunting oleh Wahyu Adi Putra Ginting. Pertama kali saya menemukan tulisan ini dari tautan yang dipasang oleh Ompu Datu Rasta Sipelebegu alias Saut Situmorang di Facebook-nya. Terimakasih untuk tautannya. Terjemahan ini juga telah dipasang di forum diskusi Orong-Orong Newsletter.

Meski sudah hampir setahun ditulis, informasi yang terkandung dalam artikel ini belum basi. Kenyataan bahwa Amerika turut campur dalam semua segi kehidupan masyarakat Indonesia kadang masih menjadi kabar burung, kalau tak mau disebut mitos belaka. Perang terhadap “terorisme,” yaitu Islam yang tidak sama dengan Islam yang diinginkan Amerika, masih gencar di media. Meski sudah banyak bukti yang menyatakan bahwa mitos yang sebenarnya adalah terorisme itu sendiri, media-media arus-utama Indonesia yang dimiliki oleh para MNC dan konglomerat-kapitalis lokal Indonesia yang berkedudukan tinggi di pemerintahan Indonesia terus mengulang-ulang kebohongan besar tentang Islam.

Maka, tulisan semacam ini sangat penting untuk terus dipublikasikan dan dipublikasikan berulang-ulang agar kebohongan tidak menjadi kebenaran. Selanjutnya, silahkan disebarkan! 😉

-Wahmuji Ijumhaw, mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

============

Saat Indonesia Memperdebatkan Peran Islam, Amerika Tak Turut Campur

oleh Andrew Higgins

Pada awal 1980an, Nasir Tamara, seorang sarjana muda Indonesia, butuh uang untuk mendanai studi mengenai Islam dan Politik. Ia pergi ke kantor Ford Foundation cabang Jakarta untuk meminta bantuan. Ia pulang dengan tangan hampa. Amerika, dikatakan padanya, “tidak tertarik dengan urusan Islam.”

Penolakan datang dari ibu presiden Obama, Ann Duhham, seorang antropolog Amerika yang tinggal di Indonesia selama lebih dari satu dasawarsa. Dunham, yang meninggal pada 1995, fokus pada persoalan pembangunan ekonomi, bukan pada masalah kepercayaan dan politik – subjek sensitif di sebuah negara yang diperintah oleh seorang otokrat (penguasa mutlak) berpikiran sekuler.

“Waktu itu, mengerjakan apapun tentang Islam dianggap tak trendi,” ingat Tamara.

Kini, Indonesia adalah negara demokrasi dan peran Islam merupakan salah satu isu terpenting dalam menghadapi kebijakan Amerika di sebuah negara yang memiliki umat Muslim lebih banyak dari total penganut agama Islam di Mesir, Syria, Yordania, dan semua negara Arab di Teluk Persia. Islam macam apa yang berlaku di sini genting bagi kepentingan Amerika di dunia Muslim yang lebih luas.

“Ini adalah pertarungan demi ide, pertarungan demi masa depan macam apa yang Indonesia inginkan,” ujar Walter North, kepala utusan Jakarta untuk U.S. Agency International Development (USAID), yang kenal Dunham saat ia di sini pada tahun 1980an.

Ini juga merupakan pertarungan yang mengangkat sebuah pertanyaan rumit: Haruskah orang Amerika tidak ikut campur dalam perjuangan internal Islam di seluruh dunia atau masuk ke dalam dan mencoba mendukung umat Muslim yang berpandangan sama dengan Amerika?

Pengamatan dekat pada interaksi Amerika dengan kelompok Muslim di Indonesia – tempat tinggal Obama kecil selama empat tahun – menunjukkan bahwa, sejak serangan 11 September 2001, strategi tandingan telah dimainkan, seringkali dengan konsekuensi yang berbeda dari yang diniatkan Washington.

Dalam debat mengenai cara terbaik mempengaruhi arah religius negara itu, beberapa pihak berhasil melakukan campur-tangan, terutama sebuah organisasi swasta dari North Carolina yang masuk jauh ke dalam perjuangan theologis Indonesia. Namun, secara keseluruhan, pemikiran Amerika telah kembali pada masa Dunham: tidak ikut campur masalah Islam.

Perubahan di suasana-hati publik
Dalam banyak cara, Indonesia – sebuah negara berpenduduk 240 juta jiwa yang tersebar di 17.000 pulau – bergerak dalam arahan Amerika. Indonesia telah main-main dengan dogmatisme gaya-Saudi di ranah pinggirnya. Namun, meski kesalehan meningkat, Indonesia menunjukkan sedikit tanda penolakan atas apa yang, sejak Islam tiba di sini pada abad ke-14, secara umum menjadi merek eklektik dan lentur dari agama itu.

Terorisme, yang sebelumnya dianggap banyak orang Indonesia sebagai mitos ciptaan Amerika, sekarang mengobarkan rasa jijik masyarakat umum. Saat seorang tersangka kunci dalam kasus bom bunuh diri bulan Juli di Jakarta baru-baru ini terbunuh dalam baku-tembak dengan unit kepolisian didikan Amerika, desa asalnya, yang dikejutkan dengan kegiatan kekerasannya, menolak menerima jenazahnya untuk dikuburkan.

Gerombolan “polisi” moral Islam bulan ini memaksa seorang bintang porno Jepang membatalkan perjalanannya ke Jakarta. Namun kelompok itu tidak lagi menyerang bar, klub malam, dan hotel seperti beberapa tahun lalu, di masa-masa puncak gerakan Amerika untuk mempromosikan Islam “moderat”. Aceh, sebuah Daerah Istimewa Indonesia yang taat-agama dan penerima utama dana bantuan dari Amerika setelah tsunami 2004, akhir-akhir ini mencanangkan peraturan yang mengamanatkan hukuman rajam sampai mati bagi para penzina, tapi hanya sedikit orang yang berharap hukuman itu diterapkan. Gubernur Aceh, yang memiliki seorang penasehat Amerika yang dibayar oleh USAID, menentang hukuman rajam.

Kemarahan publik terhadap Amerika di perang Irak telah meredup, sebuah gejala yang dipercepat oleh lengsernya Presiden George W. Bush dan terpilihnya Obama. Pada 2003, tahun pertama perang, hanya 15 persen orang Indonesia, yang disurvei oleh Pew Researcher Center, yang berpandangan baik terhadap Amerika – dibandingkan dengan 75% sebelum Bush menjabat presiden. Saat ini, penilaian baik terhadap Amerika 63%.

Ada banyak alasan atas perubahan suasana-hati itu: ekonomi yang berkembang pesat meskipun ada kemerosotan global; meningkatnya stabilitas politik yang berakar dari pemilihan yang umumnya bebas dan adil; gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seorang mantan jendral didikan Amerika yang memenangkan pemilihan-ulang dengan selisih suara yang besar pada bulan Juli, untuk mengkooptasi partai politik Islam.

Alasan lain, ujar Masdar Mas’udi, seorang ulama senior di Nahdlatul Ulama, Organisasi Islam terbesar di Indonesia – dan di dunia – adalah bahwa Amerika telah mundur dari campur-tangan yang kasatmata pada persoalan-persoalan agama. Mas’udi, seorang musuh muslim garis-keras yang telah bekerja dekat dengan Amerika, mengatakan bahwa ia sekarang percaya bahwa intervensi Amerika dalam perselisihan theologis seringkali justru memberi kaum radikal “mitra tanding” yang memperkuat mereka. Akhir-akhir ini, alih-alih secara sembarangan bermain-main dengan doktrin agama, sebuah proyek penjinakan difokuskan bagi penyediaan bibit padi organik bagi petani muslim yang miskin.

Tak lama setelah serangan 11 September, Washington menyebarkan uang dan retorika dengan tekanan yang besar untuk mendukung Muslim “moderat” melawan apa yang disebut Bush “ideologi nyata dan besar” dari “fasisme-Islam.” Obama, yang menjanjikan sebuah “awal baru antara Amerika dan Muslim di seluruh dunia,” menghindari pemisahan Muslim ke dalam kubu-kubu theologis yang saling bersaing. Ia mencela “ekstrimis keras” tapi, pada sebuah pidato bulan Juni di Kairo, menyatakan bahwa “Islam bukan bagian dari masalah.”

North, kepala misi USAID, mengatakan bahwa cara terbaik untuk menolong “para penganjur perspektif yang tercerahkan untuk merebut kemenangan” adalah dengan menghindari theologi dan membantu Indonesia “mengurus masalahnya seperti kemiskinan dan korupsi”. Berusaha untuk menyiapkan pemimpin Muslim Indonesia yang disukai Amerika tidak akan banyak membantu, katanya.

Memikir-ulang kebijakan pasca-9/11

Ini adalah kemunduran yang mencolok dari pendekatan yang diambil tepat setelah serangan 11 September, ketika segudang program yang didanai AS berusaha memperkeras suara “kaum moderat.” Ratusan ulama Indonesia menjalani kursus-kursus yang disponsori AS yang mengajarkan sebuah pembacaan Qur’an berpikiran reformis. Sebuah buku-saku untuk para khatib (penceramah), yang diterbitkan dengan uang Amerika, menawarkan kiat-kiat mengenai apa yang harus dikhatibkan. Sebuah kelompok Muslim yang didanai Amerika bahkan mencoba menaskahkan khotbah ibadah Jum’at.

Prakarsa semacam itu meniru strategi yang diadopsi selama Perang Dingin, ketika, untuk melawan ideologi komunis, Amerika mendanai banyak kelompok budaya, pendidikan, dan lainnya yang selaras dengan tujuan-tujuan Amerika. Bahkan beberapa pelaku kuncinya sama. Asia Foundation, didirikan jelas-jelas dengan dana Amerika pada 1950an guna memerangi komunisme, memelopori perang melawan cabang islam yang berbahaya di Indonesia sebagai bagian dari program yang dibiayai oleh USAID, bernama Islam dan Masyarakat Madani (Islam and Civil Society). Program itu dimulai sebelum serangan 11 September tapi aktivitasnya meningkat setelahnya.

“Kami ingin menantang langsung ide-ide garis keras,” ujar Ulil Abshar Abdalla, seorang ahli dalam theologi Islam yang, dengan dana Asia Foundation, mendirikan Jaringan Islam Liberal pada tahun 2001. Jaringan itu meluncurkan program radio mingguan yang mempertanyakan tafsir-tafsir harfiah atas teks-teks suci mengenai perempuan, kaum homoseksual, dan doktrin dasar. Jaringan ini membeli jam tayang di televisi nasional untuk menayangkan sebuah video yang menghadirkan Islam sebagai sebuah kepercayaan “warna-warni” dan membagi-bagikan liflet yang mempromosikan theologi liberal di masjid-masjid.

Dirayakan oleh masyarakat Amerika sebagai moderat panutan, Ulil diterbangkan ke Washington pada 2002 untuk bertemu para pejabat Departemen Negara Bagian dan Pentagon, termasuk Paul D. Wolfowitz, yang nantinya menjabat wakil sekretaris pertahanan dan mantan duta besar AS di Jakarta. Namun, usaha-usaha untuk menanamkan taktik Perang Dingin ke dalam dunia islam mulai salah jalan. Kaum muslim yang lebih konservatif tidak pernah menyukai apa yang mereka pandang sebagai campur tangan Amerika dalam theologi. Ketidaknyamanan mereka terhadap motif AS naik tajam dengan dimulainya perang Irak dan menyebar ke daerah yang lebih luas. Irak “menghancurkan segalanya,” kata Ulil, yang mulai mendapatkan ancaman kematian.

Majelis Ulama Indonesia, karena marah dengan apa yang dipandangnya sebagai kampanye Amerika untuk membentuk-ulang Islam, mengeluarkan sebuah fatwa yang mengharamkan “sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme.”

Asia Foundation menarik dana yang diberikan pada jaringan Ulil dan mulai memikirkan kembali strateginya. Yayasan ini masih bekerja dengan kelompok-kelompok muslim tapi menghindari isu theologis yang sensitif dan fokus pada pelatihan untuk mengawasi anggaran, melawan korupsi, dan melobi atas nama orang miskin. “Yayasan jadi percaya bahwa debat antar-Islam berlangsung lebih efektif tanpa keterlibatan organisasi-organisasi Internasional,” ujar Robin Bush, kepala kantor Jakarta dari Asia Foundation.

Sementara itu, Ulil meninggalkan Indonesia dan pindah ke Boston untuk studi.

Satu kelompok AS ikut campur
Sementara Asia Foundation dan yang lainnya menyelam untuk berlindung, satu kelompok Amerika melompat masuk ke dalam keriuhan theologis ini dengan penuh semangat. Pada Desember 2003, C. Holland Taylor, mantan eksekutif telekomunikasi dari Winston-Salem, N.C., mendirikan sebuah kelompok agresif bernama LibForAll Foundation untuk “mempromosikan budaya kebebasan dan toleransi.”

Taylor, yang mampu berbahasa Indonesia, mendapatkan dukungan dari orang-orang besar, termasuk mantan presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ulama terkemuka tapi sakit fisik, dan seorang bintang pop kenamaan Indonesia yang merilis sebuah lagu andalan yang menyerukan, ”Tidak untuk laskar jihad! Ya untuk laskar cinta.” Taylor mengajak Gus Dur ke Washington, dimana mereka bertemu Wolfowitz, Wakil Presiden Richard B. Cheney dan yang lainnya. Ia merekrut sarjana Qur’an berpikiran-reformis dari Mesir untuk membantu mempromosikan “kebangkitan pluralisme, toleransi, dan pemikiran kritis Islam.”

Pendanaan datang dari orang-orang kaya Amerika, termasuk pewaris dari kekayaan pakaian dalam Hanes, dan beberapa organisasi Eropa. Taylor, dalam wawancara di Jakarta akhir-akhir ini, menolak untuk menyebutkan donor Amerika terbesarnya. Ia mengatakan bahwa ia telah berulangkali meminta uang pada pemerintah AS tapi hanya menerima $50.000 – sebuah hibah dari unit “counterterrorism” Departemen Negara Bagian.

“Anda tidak bisa memenangkan perang dengan jumlah itu,” kata Taylor, yang sedang bekerja dalam film dokumenter TV 26-seri, yang bertujuan untuk membuktikan ketidakbenaran doktrin Islam garis-keras. “Orang-orang di Washington akan memilih untuk berpikir bahwa jika kita tidak melakukan apa-apa kita akan baik-baik saja: potong saja kepala para teroris dan semuanya akan baik-baik saja.”

Saat suasana sudah lebih bersahabat, Ulil, kesayangan Amerika yang banyak-dicerca, tahun ini kembali ke Jakarta. Ia belum mengubah pandangan liberalnya mengenai Islam tapi sekarang ia menghindari topik yang menyulut amarah musuh-musuhnya. “Saya telah berubah. Lingkungan telah berubah,” ujarnya. “Kami sekarang menyadari bahwa kelompok-kelompok radikal tidak sedominan yang kami pikirkan di awal.”

Letih dicap antek Amerika, ia berencana untuk ikut pemilihan tahun depan sebagai ketua Nahdlatul Ulama, sebuah tiang penegak agama tradisional Indonesia. Peluang yang dimilikinya tidak besar tapi ia ingin “terlibat dengan arus-utama alih-alih pinggiran.” Jaringan Islam Liberal-nya tidak lagi mendapatkan dana dari AS, menghindari topik yang mudah menyinggung orang di acara radionya, dan tidak lagi membagikan liflet di masjid-masjid.

“Agama terlalu sensitif. Kita jangan terlibat,” ujar Kay Ikranagara, orang Amerika teman dekat mendiang ibu Obama yang bekerja di Jakarta untuk program beasiswa yang didanai USAID. Ikranagara khawatir atas makin kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan sehari-hari di negara itu, namun ia was-was terhadap orang asing yang ingin menekan Indonesia dalam hal keyakinan agama.

“Kita hanya akan mendapat banyak masalah kalau mencoba melakukan itu,” katanya.***