Saat Indonesia Memperdebatkan Peran Islam, Amerika Tak Turut Campur

Posted: 21/11/2010 in Reportase

Pengantar Penerjemah:
Catatan ini adalah terjemahan saya dari artikel Andrew Higgins berjudul “As Indonesia debates Islam’s role, U.S. stays out” yang dipasang di Washington Post pada hari Minggu, 25 Oktober 2009 ( http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2009/10/24/AR2009102402279.html ) dan telah disunting oleh Wahyu Adi Putra Ginting. Pertama kali saya menemukan tulisan ini dari tautan yang dipasang oleh Ompu Datu Rasta Sipelebegu alias Saut Situmorang di Facebook-nya. Terimakasih untuk tautannya. Terjemahan ini juga telah dipasang di forum diskusi Orong-Orong Newsletter.

Meski sudah hampir setahun ditulis, informasi yang terkandung dalam artikel ini belum basi. Kenyataan bahwa Amerika turut campur dalam semua segi kehidupan masyarakat Indonesia kadang masih menjadi kabar burung, kalau tak mau disebut mitos belaka. Perang terhadap “terorisme,” yaitu Islam yang tidak sama dengan Islam yang diinginkan Amerika, masih gencar di media. Meski sudah banyak bukti yang menyatakan bahwa mitos yang sebenarnya adalah terorisme itu sendiri, media-media arus-utama Indonesia yang dimiliki oleh para MNC dan konglomerat-kapitalis lokal Indonesia yang berkedudukan tinggi di pemerintahan Indonesia terus mengulang-ulang kebohongan besar tentang Islam.

Maka, tulisan semacam ini sangat penting untuk terus dipublikasikan dan dipublikasikan berulang-ulang agar kebohongan tidak menjadi kebenaran. Selanjutnya, silahkan disebarkan!😉

-Wahmuji Ijumhaw, mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

============

Saat Indonesia Memperdebatkan Peran Islam, Amerika Tak Turut Campur

oleh Andrew Higgins

Pada awal 1980an, Nasir Tamara, seorang sarjana muda Indonesia, butuh uang untuk mendanai studi mengenai Islam dan Politik. Ia pergi ke kantor Ford Foundation cabang Jakarta untuk meminta bantuan. Ia pulang dengan tangan hampa. Amerika, dikatakan padanya, “tidak tertarik dengan urusan Islam.”

Penolakan datang dari ibu presiden Obama, Ann Duhham, seorang antropolog Amerika yang tinggal di Indonesia selama lebih dari satu dasawarsa. Dunham, yang meninggal pada 1995, fokus pada persoalan pembangunan ekonomi, bukan pada masalah kepercayaan dan politik – subjek sensitif di sebuah negara yang diperintah oleh seorang otokrat (penguasa mutlak) berpikiran sekuler.

“Waktu itu, mengerjakan apapun tentang Islam dianggap tak trendi,” ingat Tamara.

Kini, Indonesia adalah negara demokrasi dan peran Islam merupakan salah satu isu terpenting dalam menghadapi kebijakan Amerika di sebuah negara yang memiliki umat Muslim lebih banyak dari total penganut agama Islam di Mesir, Syria, Yordania, dan semua negara Arab di Teluk Persia. Islam macam apa yang berlaku di sini genting bagi kepentingan Amerika di dunia Muslim yang lebih luas.

“Ini adalah pertarungan demi ide, pertarungan demi masa depan macam apa yang Indonesia inginkan,” ujar Walter North, kepala utusan Jakarta untuk U.S. Agency International Development (USAID), yang kenal Dunham saat ia di sini pada tahun 1980an.

Ini juga merupakan pertarungan yang mengangkat sebuah pertanyaan rumit: Haruskah orang Amerika tidak ikut campur dalam perjuangan internal Islam di seluruh dunia atau masuk ke dalam dan mencoba mendukung umat Muslim yang berpandangan sama dengan Amerika?

Pengamatan dekat pada interaksi Amerika dengan kelompok Muslim di Indonesia – tempat tinggal Obama kecil selama empat tahun – menunjukkan bahwa, sejak serangan 11 September 2001, strategi tandingan telah dimainkan, seringkali dengan konsekuensi yang berbeda dari yang diniatkan Washington.

Dalam debat mengenai cara terbaik mempengaruhi arah religius negara itu, beberapa pihak berhasil melakukan campur-tangan, terutama sebuah organisasi swasta dari North Carolina yang masuk jauh ke dalam perjuangan theologis Indonesia. Namun, secara keseluruhan, pemikiran Amerika telah kembali pada masa Dunham: tidak ikut campur masalah Islam.

Perubahan di suasana-hati publik
Dalam banyak cara, Indonesia – sebuah negara berpenduduk 240 juta jiwa yang tersebar di 17.000 pulau – bergerak dalam arahan Amerika. Indonesia telah main-main dengan dogmatisme gaya-Saudi di ranah pinggirnya. Namun, meski kesalehan meningkat, Indonesia menunjukkan sedikit tanda penolakan atas apa yang, sejak Islam tiba di sini pada abad ke-14, secara umum menjadi merek eklektik dan lentur dari agama itu.

Terorisme, yang sebelumnya dianggap banyak orang Indonesia sebagai mitos ciptaan Amerika, sekarang mengobarkan rasa jijik masyarakat umum. Saat seorang tersangka kunci dalam kasus bom bunuh diri bulan Juli di Jakarta baru-baru ini terbunuh dalam baku-tembak dengan unit kepolisian didikan Amerika, desa asalnya, yang dikejutkan dengan kegiatan kekerasannya, menolak menerima jenazahnya untuk dikuburkan.

Gerombolan “polisi” moral Islam bulan ini memaksa seorang bintang porno Jepang membatalkan perjalanannya ke Jakarta. Namun kelompok itu tidak lagi menyerang bar, klub malam, dan hotel seperti beberapa tahun lalu, di masa-masa puncak gerakan Amerika untuk mempromosikan Islam “moderat”. Aceh, sebuah Daerah Istimewa Indonesia yang taat-agama dan penerima utama dana bantuan dari Amerika setelah tsunami 2004, akhir-akhir ini mencanangkan peraturan yang mengamanatkan hukuman rajam sampai mati bagi para penzina, tapi hanya sedikit orang yang berharap hukuman itu diterapkan. Gubernur Aceh, yang memiliki seorang penasehat Amerika yang dibayar oleh USAID, menentang hukuman rajam.

Kemarahan publik terhadap Amerika di perang Irak telah meredup, sebuah gejala yang dipercepat oleh lengsernya Presiden George W. Bush dan terpilihnya Obama. Pada 2003, tahun pertama perang, hanya 15 persen orang Indonesia, yang disurvei oleh Pew Researcher Center, yang berpandangan baik terhadap Amerika – dibandingkan dengan 75% sebelum Bush menjabat presiden. Saat ini, penilaian baik terhadap Amerika 63%.

Ada banyak alasan atas perubahan suasana-hati itu: ekonomi yang berkembang pesat meskipun ada kemerosotan global; meningkatnya stabilitas politik yang berakar dari pemilihan yang umumnya bebas dan adil; gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seorang mantan jendral didikan Amerika yang memenangkan pemilihan-ulang dengan selisih suara yang besar pada bulan Juli, untuk mengkooptasi partai politik Islam.

Alasan lain, ujar Masdar Mas’udi, seorang ulama senior di Nahdlatul Ulama, Organisasi Islam terbesar di Indonesia – dan di dunia – adalah bahwa Amerika telah mundur dari campur-tangan yang kasatmata pada persoalan-persoalan agama. Mas’udi, seorang musuh muslim garis-keras yang telah bekerja dekat dengan Amerika, mengatakan bahwa ia sekarang percaya bahwa intervensi Amerika dalam perselisihan theologis seringkali justru memberi kaum radikal “mitra tanding” yang memperkuat mereka. Akhir-akhir ini, alih-alih secara sembarangan bermain-main dengan doktrin agama, sebuah proyek penjinakan difokuskan bagi penyediaan bibit padi organik bagi petani muslim yang miskin.

Tak lama setelah serangan 11 September, Washington menyebarkan uang dan retorika dengan tekanan yang besar untuk mendukung Muslim “moderat” melawan apa yang disebut Bush “ideologi nyata dan besar” dari “fasisme-Islam.” Obama, yang menjanjikan sebuah “awal baru antara Amerika dan Muslim di seluruh dunia,” menghindari pemisahan Muslim ke dalam kubu-kubu theologis yang saling bersaing. Ia mencela “ekstrimis keras” tapi, pada sebuah pidato bulan Juni di Kairo, menyatakan bahwa “Islam bukan bagian dari masalah.”

North, kepala misi USAID, mengatakan bahwa cara terbaik untuk menolong “para penganjur perspektif yang tercerahkan untuk merebut kemenangan” adalah dengan menghindari theologi dan membantu Indonesia “mengurus masalahnya seperti kemiskinan dan korupsi”. Berusaha untuk menyiapkan pemimpin Muslim Indonesia yang disukai Amerika tidak akan banyak membantu, katanya.

Memikir-ulang kebijakan pasca-9/11

Ini adalah kemunduran yang mencolok dari pendekatan yang diambil tepat setelah serangan 11 September, ketika segudang program yang didanai AS berusaha memperkeras suara “kaum moderat.” Ratusan ulama Indonesia menjalani kursus-kursus yang disponsori AS yang mengajarkan sebuah pembacaan Qur’an berpikiran reformis. Sebuah buku-saku untuk para khatib (penceramah), yang diterbitkan dengan uang Amerika, menawarkan kiat-kiat mengenai apa yang harus dikhatibkan. Sebuah kelompok Muslim yang didanai Amerika bahkan mencoba menaskahkan khotbah ibadah Jum’at.

Prakarsa semacam itu meniru strategi yang diadopsi selama Perang Dingin, ketika, untuk melawan ideologi komunis, Amerika mendanai banyak kelompok budaya, pendidikan, dan lainnya yang selaras dengan tujuan-tujuan Amerika. Bahkan beberapa pelaku kuncinya sama. Asia Foundation, didirikan jelas-jelas dengan dana Amerika pada 1950an guna memerangi komunisme, memelopori perang melawan cabang islam yang berbahaya di Indonesia sebagai bagian dari program yang dibiayai oleh USAID, bernama Islam dan Masyarakat Madani (Islam and Civil Society). Program itu dimulai sebelum serangan 11 September tapi aktivitasnya meningkat setelahnya.

“Kami ingin menantang langsung ide-ide garis keras,” ujar Ulil Abshar Abdalla, seorang ahli dalam theologi Islam yang, dengan dana Asia Foundation, mendirikan Jaringan Islam Liberal pada tahun 2001. Jaringan itu meluncurkan program radio mingguan yang mempertanyakan tafsir-tafsir harfiah atas teks-teks suci mengenai perempuan, kaum homoseksual, dan doktrin dasar. Jaringan ini membeli jam tayang di televisi nasional untuk menayangkan sebuah video yang menghadirkan Islam sebagai sebuah kepercayaan “warna-warni” dan membagi-bagikan liflet yang mempromosikan theologi liberal di masjid-masjid.

Dirayakan oleh masyarakat Amerika sebagai moderat panutan, Ulil diterbangkan ke Washington pada 2002 untuk bertemu para pejabat Departemen Negara Bagian dan Pentagon, termasuk Paul D. Wolfowitz, yang nantinya menjabat wakil sekretaris pertahanan dan mantan duta besar AS di Jakarta. Namun, usaha-usaha untuk menanamkan taktik Perang Dingin ke dalam dunia islam mulai salah jalan. Kaum muslim yang lebih konservatif tidak pernah menyukai apa yang mereka pandang sebagai campur tangan Amerika dalam theologi. Ketidaknyamanan mereka terhadap motif AS naik tajam dengan dimulainya perang Irak dan menyebar ke daerah yang lebih luas. Irak “menghancurkan segalanya,” kata Ulil, yang mulai mendapatkan ancaman kematian.

Majelis Ulama Indonesia, karena marah dengan apa yang dipandangnya sebagai kampanye Amerika untuk membentuk-ulang Islam, mengeluarkan sebuah fatwa yang mengharamkan “sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme.”

Asia Foundation menarik dana yang diberikan pada jaringan Ulil dan mulai memikirkan kembali strateginya. Yayasan ini masih bekerja dengan kelompok-kelompok muslim tapi menghindari isu theologis yang sensitif dan fokus pada pelatihan untuk mengawasi anggaran, melawan korupsi, dan melobi atas nama orang miskin. “Yayasan jadi percaya bahwa debat antar-Islam berlangsung lebih efektif tanpa keterlibatan organisasi-organisasi Internasional,” ujar Robin Bush, kepala kantor Jakarta dari Asia Foundation.

Sementara itu, Ulil meninggalkan Indonesia dan pindah ke Boston untuk studi.

Satu kelompok AS ikut campur
Sementara Asia Foundation dan yang lainnya menyelam untuk berlindung, satu kelompok Amerika melompat masuk ke dalam keriuhan theologis ini dengan penuh semangat. Pada Desember 2003, C. Holland Taylor, mantan eksekutif telekomunikasi dari Winston-Salem, N.C., mendirikan sebuah kelompok agresif bernama LibForAll Foundation untuk “mempromosikan budaya kebebasan dan toleransi.”

Taylor, yang mampu berbahasa Indonesia, mendapatkan dukungan dari orang-orang besar, termasuk mantan presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ulama terkemuka tapi sakit fisik, dan seorang bintang pop kenamaan Indonesia yang merilis sebuah lagu andalan yang menyerukan, ”Tidak untuk laskar jihad! Ya untuk laskar cinta.” Taylor mengajak Gus Dur ke Washington, dimana mereka bertemu Wolfowitz, Wakil Presiden Richard B. Cheney dan yang lainnya. Ia merekrut sarjana Qur’an berpikiran-reformis dari Mesir untuk membantu mempromosikan “kebangkitan pluralisme, toleransi, dan pemikiran kritis Islam.”

Pendanaan datang dari orang-orang kaya Amerika, termasuk pewaris dari kekayaan pakaian dalam Hanes, dan beberapa organisasi Eropa. Taylor, dalam wawancara di Jakarta akhir-akhir ini, menolak untuk menyebutkan donor Amerika terbesarnya. Ia mengatakan bahwa ia telah berulangkali meminta uang pada pemerintah AS tapi hanya menerima $50.000 – sebuah hibah dari unit “counterterrorism” Departemen Negara Bagian.

“Anda tidak bisa memenangkan perang dengan jumlah itu,” kata Taylor, yang sedang bekerja dalam film dokumenter TV 26-seri, yang bertujuan untuk membuktikan ketidakbenaran doktrin Islam garis-keras. “Orang-orang di Washington akan memilih untuk berpikir bahwa jika kita tidak melakukan apa-apa kita akan baik-baik saja: potong saja kepala para teroris dan semuanya akan baik-baik saja.”

Saat suasana sudah lebih bersahabat, Ulil, kesayangan Amerika yang banyak-dicerca, tahun ini kembali ke Jakarta. Ia belum mengubah pandangan liberalnya mengenai Islam tapi sekarang ia menghindari topik yang menyulut amarah musuh-musuhnya. “Saya telah berubah. Lingkungan telah berubah,” ujarnya. “Kami sekarang menyadari bahwa kelompok-kelompok radikal tidak sedominan yang kami pikirkan di awal.”

Letih dicap antek Amerika, ia berencana untuk ikut pemilihan tahun depan sebagai ketua Nahdlatul Ulama, sebuah tiang penegak agama tradisional Indonesia. Peluang yang dimilikinya tidak besar tapi ia ingin “terlibat dengan arus-utama alih-alih pinggiran.” Jaringan Islam Liberal-nya tidak lagi mendapatkan dana dari AS, menghindari topik yang mudah menyinggung orang di acara radionya, dan tidak lagi membagikan liflet di masjid-masjid.

“Agama terlalu sensitif. Kita jangan terlibat,” ujar Kay Ikranagara, orang Amerika teman dekat mendiang ibu Obama yang bekerja di Jakarta untuk program beasiswa yang didanai USAID. Ikranagara khawatir atas makin kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan sehari-hari di negara itu, namun ia was-was terhadap orang asing yang ingin menekan Indonesia dalam hal keyakinan agama.

“Kita hanya akan mendapat banyak masalah kalau mencoba melakukan itu,” katanya.***

Comments
  1. […] This post was mentioned on Twitter by agunk gie, Saut Situmorang. Saut Situmorang said: Saat Indonesia Memperdebatkan Peran Islam, Amerika Tak Turut Campur http://bit.ly/hgPciw […]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s