KOTBAH HARI MINGGU

Posted: 19/12/2010 in Cerpen

cerpen Saut Situmorang

 

Hari Minggu pagi. Tak ada mendung di langit, matahari bulat penuh kemerah-merahan seperti telor matasapi tergantung di ranting pohon jambu di depan rumah. Tiga ekor burung kutilang ribut di pucuk ranting jambu yang tinggi, sementara di bawahnya di tanah ayam-ayam kampung berebutan makan jagung. Terdengar suara anak menangis dari dalam rumah.

“Pagi yang indah,” kata Pak Pendeta sambil meminum kopi yang masih mengepulkan uap panas di atas meja. Dia baru saja bangun. Cuci muka dulu, lalu dia duduk menghadapai kopi panasnya. Sudah jadi kebiasaannya begitu. Bangun pagi, cuci muka, lalu minum kopi. Tanpa baju, hanya pakai sarung. Sudah jadi kebiasaan istrinya pula untuk bangun pagi, cuci muka, masak air, dan membuat kopi untuk dia, suaminya. Tentu saja dia pakai baju dan sarung.

“Pagi yang indah,” kata Pak Pendeta sambil meminum kopi yang masih mengepulkan uap panas di atas meja, di depannya. Suara tangisan anak tadi masih terus terdengar. Berasal dari kamar mandi di belakang rumah. Kadang-kadang terdengar juga suara perempuan, istri Pak Pendeta, sedang membujuk-bujuk anak yang menangis itu. Pak Pendeta baru tiga tahun kawin. Punya anak satu, laki-laki. Dan di rumah ini tidak ada orang lain yang tinggal bersama mereka kecuali mereka bertiga saja. Itulah sebabnya suara anak yang menangis di kamar mandi itu adalah suara anaknya dan yang sedang membujuk-bujuk anaknya yang menangis di kamar mandi itu adalah istrinya yang baru tiga tahun dikawininya.

“Pagi yang indah,” kata Pak Pendeta sambil meletakkan gelas kopinya yang sudah kosong ke meja di depannya. Meja itu terbuat dari kayu jati dan diberi taplak Ulos Batak. Sekarang matahari sudah agak tinggi dan anaknya sudah selesai mandi dan Pak Pendeta bangkit dan pergi ke kamar mandi. Seekor lalat terbang mengitari permukaan gelas kopi yang sudah kosong itu, hanya di dasarnya nampak sisa kopi, dan terus terbang mengitarinya selama beberapa detik sebelum akhirnya hinggap di tepi mulut gelas kopi yang sudah kosong di atas meja kayu jati bertaplak Ulos Batak itu.

Di kamar istri Pak Pendeta sedang sibuk membantu anaknya berpakaian. Mereka hendak ke gereja dan mereka masih punya banyak waktu untuk berpakaian. Dia sendiri belum mandi, hanya cuci muka dulu lalu masak air dan membuat kopi untuk suaminya, Pak Pendeta. Sudah jadi kebiasaannya juga, dia baru mandi setelah anak laki-lakinya yang menangis di kamar mandi tadi dan suaminya selesai mandi. Sekarang dia, istri Pak Pendeta, sedang sibuk membantu anaknya berpakaian di kamar anaknya itu.

Pak Pendeta sudah selesai mandi. Wajahnya berseri-seri, rambutnya agak basah, dan dia cuma memakai sarung saja keluar dari kamar mandi. Dia melihat pada gelas kopi kosong yang ada lalat merayapi dalamnya untuk minum sisa kopi di dasar gelas di atas meja kayu jati bertaplak Ulos Batak itu. Dia tersenyum. Pagi yang indah, gumamnya sambil masuk ke kamarnya. Hari ini adalah hari pertamanya memberikan kotbah setelah kepindahannya ke kota ini.

Giliran istrinya sekarang mandi. Anak laki-lakinya sudah selesai berpakaian dan tidak menangis lagi. Dia duduk di ruang tamu menunggu orangtuanya siap berangkat ke gereja.

Tak berapa lama kemudian mereka bertiga sudah berada dalam mobil. Pak Pendeta mengenakan pakaian barunya yang tadi malam disetrika rapi oleh istrinya. Sepatunya tersemir mengkilat. Rambutnya yang dipangkas pendek tersisir rapi ke samping. Dia nampak gagah. Dia tersenyum. Hari ini adalah hari pertamanya memberikan kotbah setelah kepindahannya ke kota ini. Istrinya juga berpakaian rapi. Wajahnya juga berseri-seri. Dia nampak jauh lebih muda dan sangat cantik. Anak laki-laki mereka merasa bangga sekali melihat kedua orangtuanya itu.

Pak Pendeta merasa beruntung sekali karena gereja barunya tempat dia sekarang bekerja menyediakan satu mobil untuk dipakainya. Mobil itu tidak baru, tapi karena dirawat baik oleh pemakai sebelumnya, yaitu pendeta lama yang digantikannya, jadi nampak seperti baru dibeli saja. Memang mobil itu sebenarnya baru dibeli oleh gereja untuk dipakai pendeta lama tadi. Jadi bisa dibilang mobil itu mobil baru juga. Pak Pendeta merasa beruntung sekali karena gereja barunya tempat dia sekarang bekerja menyediakan satu mobil untuk dipakainya jadi dia tak perlu repot-repot lagi memikirkan untuk membeli kendaraan untuk dipakainya sehari-hari. Tentu saja dia tahu menyetir mobil. Ayahnya almarhum adalah bekas pendeta dan sama seperti dia sekarang juga disediakan mobil untuk dipakai sehari-hari oleh gereja tempatnya bekerja. Waktu itulah dia belajar nyetir dan setelah bisa nyetir dia sering menyupiri ayahnya ke tempatnya kerja. Mengingat itu semua Pak Pendeta tersenyum lebar dan menoleh pada anak laki-lakinya.

Karena hari ini hari Minggu jalanan nampak lengang. Tak banyak kendaraan lalu lalang seperti waktu hari-hari kerja. Kayaknya orang merasa malas keluar rumah dan memilih nonton tv saja di rumah bersama keluarga. Mungkin juga karena berpikir kalau keluar rumah pasti keluar uang maka lebih baik menghabiskan liburan sehari di rumah saja. Tapi sudah beberapa kali Pak Pendeta melihat anak-anak muda ke gereja. Mereka berjalan di trotoar jalan dan nampak kitab suci Injil serta buku nyanyian di tangan mereka. Kebanyakan mereka anak-anak yang masih sangat muda usianya. Pak Pendeta gembira sekali melihat ini semua. Mulutnya terus menerus menyunggingkan senyuman lebar. Wajahnya berseri-seri. Tiba-tiba dibayangkannya bagaimana nanti meriahnya sambutan orang di gereja terhadap dirinya, pendeta baru mereka. Mereka akan dengan tekun mendengar kotbahnya. Dan setelah selesai acara kebaktian mereka akan datang menyalaminya sambil mengucapkan selamat datang. Mungkin juga bakal ada semacam acara selamat datang yang khusus untuknya. Bukankah dia juga mendapatkan hal yang sama waktu keberangkatannya dulu dari gerejanya yang lama? Pagi yang indah, gumamnya dan tersenyum-senyum. Di jalan nampak anak-anak berusia sangat muda berjalan ke gereja dan nampak kitab suci Injil serta buku nyanyian di tangan mereka. Pak Pendeta jadi ingin cepat-cepat sampai ke gereja barunya. Dia sudah tak sabar untuk melihat domba-dombanya. Dia sudah tak sabar untuk memberi makan domba-dombanya…

Waktu itulah kecelakaan itu terjadi. Tiba-tiba saja seorang pengendara sepeda motor muncul dari belakang dan menyalipnya. Untunglah dia seorang pengemudi yang berpengalaman. Walaupun kaget setengah mati dia masih dapat menguasai dirinya dan berhasil merem mobilnya meski tetap saja mereka terdorong cukup keras ke depan. Istrinya menjerit dan nampak pucat. Untunglah saat itu tak ada kendaraan lain di belakang mereka. Sulit dibayangkan apa yang bakal terjadi kalau ada satu atau tiga kendaraan lain membuntuti mereka waktu dia merem mobilnya dengan tiba-tiba tadi. Tapi sebentar kemudian perhatiannya sudah beralih ke arah muka. Rupanya sepeda motor tadi mengalami kecelakaan. Satu mobil sedan tiba-tiba muncul di persimpangan jalan dan meskipun mobil itu berjalan pelan kecelakaan tak terhindarkan lagi. Si pengendara sepeda motor terlempar dari sepeda motornya dan terbanting dengan keras ke aspal jalan dan sepeda motornya sendiri terseret sampai ke pinggir jalan. Mobil sedan yang tiba-tiba muncul di persimpangan jalan tadi melarikan diri dengan kecepatan tinggi. Di depannya sekarang di jalan berserakan kaca bercampur darah dan si pengendara sepeda motor tergeletak tak bergerak dan sepeda motornya hancur dan berlepotan darah. Istri Pak Pendeta pucat wajahnya. Anak laki-laki mereka diam tak berani bertanya apa-apa. Di tengah jalan berserakan kaca bercampur darah dan di tengah-tengah genangan darah si pengendara sepeda motor tergeletak tak bergerak.

Suara klakson mobil di belakangnya menyadarkan Pak Pendeta dan mobil mereka mulai bergerak pelan-pelan ke depan…


Hari Minggu pagi. Tak ada mendung di langit dan matahari bulat penuh kemerah-merahan seperti telor matasapi tergantung di atas jalan dan di tengah jalan berserakan kaca bercampur darah dan di tengah-tengah genangan darah si pengendara sepeda motor tergeletak tak bergerak. Di trotoar jalan nampak anak-anak berusia sangat muda berjalan ke gereja dan nampak kitab suci Injil serta buku nyanyian di tangan mereka.

Wellington 1993

Comments
  1. rismapurnama says:

    menyedihkan sekali😦

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s