PETI MATI

Posted: 19/12/2010 in Cerpen

cerpen Saut Situmorang

Aku sedang tidur lelap waktu tiba-tiba suara bel pintu mengagetkanku. Pukimak! makiku, terseok-seok jalan ke pintu. Dengan kepala masih setengah tidur aku buka kunci pintu dan ternyata tak ada orang! Aku keluar dan tetap tak ada orang di situ. Bangsat! Setan alas begu ganjang mana pula ini yang berani mengganggu tidurku pagi-pagi begini!

Tapi, apa itu? Di atas tanah di bawah tangga rumah nampak sesuatu seperti sebuah papan besar tergeletak. Aku segera turun. Belum lagi tiga anak tangga aku turuni, rasa heran mulai timbul padaku. Benda yang mirip papan lebar yang aku lihat tadi ternyata bagian penutup sebuah peti mayat yang masih baru yang tergeletak tepat di atas tanah di ujung tangga rumahku. Bah!

Setan mana pula ini yang berani main gila denganku sepagi ini!

Aku lihat tak ada orang di sekitar situ. Di jalan kecil depan rumah juga begitu. Untuk beberapa saat aku cuma berdiri termangu. Ngantukku sudah lenyap. Marahku menguap, jadi kehampaan rasa heran yang mustahil bisa kau bayangkan. Setelah beberapa waktu berlalu aku dekati dan perhatikan baik-baik peti itu dan memang terdapat satu sticker berisi nama dan alamatku di bagian penutupnya…

SAUT SITUMORANG
24 VOLTAIRE ST
KARORI
WELLINGTON
NEW ZEALAND

Hanya itu. Tak ada nama si pengirim, atau keterangan lainnya. Peti mati ini memang untukku!

Aku coba mengingat-ingat tapi aku yakin tak pernah aku pesan peti mati untukku. Untuk apa aku pesan peti mati walau ia mengkilat dan berukiran bagus begini? Pasti ada orang yang main-main denganku! April Fool’s Day? Tapi hari ini bukan bulan April. Hari ini… ah, baru aku ingat, hari ini 29 Juni, hari ulangtahunku! Pasti ada kawan yang main gila denganku. Diancuk!

Peti mayat ini cukup cantik. Kayunya kayu hitam yang kuat dan dipernis mengkilat. Peti mayat ini juga dihiasi dengan kain putih berenda seperti renda-renda kain jendela. Mengingatkanku pada peti mayat orang-orang kaya yang punya selera. Peti mayat ini pasti mahal harganya.

Walau begitu ini absurd! Hanya film-film Luis Bunuel yang penuh kejadian surrealis macam begini. Setahuku, aku tak punya kawan segila Bunuel. Justru akulah yang selalu mereka bandingkan dengan si Spanyol eksentrik itu! Ini sudah keterlaluan. Ini sudah melanggar hak asasiku. Tak bisa aku terima ini. Ini sudah lebih daripada sekedar black comedy. Ini penghinaan. Fucking shit!

Karena peti mati ini memang dialamatkan kepadaku tak mungkin aku membiarkannya tergeletak terus begitu saja di halaman rumah. Para tetangga bakal heboh dan polisi pasti akan datang untuk mengecek. Bisa berabe ini. Aku tak mau jadi objek ketawaan tetangga dan polisi dan mungkin juga negeri yang kecil ini. Di sini hal-hal sepele seperti kucing yang tak bisa turun pohon saja masuk Siaran Berita Nasional, apalagi berita sensasional seperti peti mati yang tiba-tiba muncul di depan rumahku ini! Aku tak mau masuk televisi karena alasan ini!

Ternyata peti mayat ini tidak begitu berat. Perlahan-lahan aku berhasil memundaknya naik ke rumah. Aku letakkan ia di ruang tengah. Dari celah gorden jendela aku intip keluar kalau-kalau ada orang yang kebetulan melihat. Syukurlah tak ada. Di sini hal-hal kecil juga bisa tiba-tiba jadi persoalan besar. Kalau ada orang misalnya melihatku memasukkan peti mayat ke dalam rumah, dia bisa berpikir yang bukan-bukan. Mungkin dikiranya aku baru membunuh seseorang dan ingin menutupi pembunuhan itu dengan cara menanam korbanku diam-diam. Di bukit di belakang rumah, atau juga di basement di bawah rumah. Lalu dia menelpon polisi dan tak tahulah aku bagaimana menjelaskan kepada polisi tentang keberadaan peti keparat ini. Yang pasti, polisi akan memeriksa semua sudut rumahku dan mencatat segala informasi tentang diriku dan akan terus mengawasiku dari waktu ke waktu. Dengan segala kecemasan ini di kepala, cepat-cepat kututup kembali pintu rumah.

Heran, aku kok tiba-tiba merasa sedih. Rasa sedih ini timbul setelah kembali aku mengamati peti mati di hadapanku ini. Walau memang sangat cantik, seperti namanya, peti ini adalah simbol kematian. Betapa berlawanan rupa peti ini dengan kenyataan yang ia wakilkan. Kematian selalu membuatku sedih. Tak ada yang lebih sedih daripada kehilangan seseorang karena mati. Kematian sangat menyedihkan karena tak adanya kemungkinan untuk bertemu lagi. Juga karena tak adanya kepastian ke mana kematian membawa yang mati pergi. Kematian adalah kehilangan total. Yang mati membusuk dilahapi berjuta ulat menjijikkan sampai yang tinggal cuma debu. Kematian adalah perusak nomor satu!

Tiba-tiba aku mulai menangis. Semua orang yang kukasihi yang sudah mati terbayang kembali. Tubuh mereka yang rusak yang hancur di perut bumi sangat menyakitkan hati. Aku benci mati! Aku tak mau mati! Peti keparat ini telah mengingatkanku pada mati yang sudah lama kucoba lupai.

Bangsat! Terkutuklah kau yang mengirim peti mati ini ke sini!

Seluruh badanku tiba-tiba gemetar dengan amarah. Kudekati peti mayat di hadapanku ini. Kuludahi ia seperti orang gila. Kumaki-maki dan kuterjang dengan jijik. Kuangkat tutupnya yang…

Oh! Kulihat tubuhku terbaring pucat di dalam peti mati itu!!!

Wellington 1995
Auckland 1998


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s