demikianlah

Posted: 20/09/2012 in Puisi

demi arak api di harmonika harry roesli

demi pinggul pinggul kecil bulat para dewi kayangan yang menari di pelangi pelangi alangkah indahmu merah kuning hijau di langit yang biru lebam dihajar popor m-16 anjing anjing kapitalis pascakolonial

demi tetes keringat tukang becak di sebelahmu di jalan polusi menunggu lampu merah kuning hijau

demi birahi istrimu pada tampax bau di akhir meditasimu

demi sejengkal sorga yang kau perebutkan dengan doa doa para tetangga

demi sms yang tiba tiga hari setelah kau dikuburkan bukan di taman para fascis yang pahlawan

demi asap tembakau di puting susu abg smp di bis kota di sebelahmu yang sedang mimpi jadi artis jadi selebriti

demi handphone yang tak henti berdering dalam acara baca puisimu

demi puisiku ini yang tersesat dalam labirin empat musim sebelum mekar di rambut di sisirmu

demi pengemis perempuan tua dalam sajak rendra yang kau dengar sambil setengah mabok dulu

demi cinta pertama yang menguap bersama embun pagi alun alun selatan seribu tahun yang lalu

demi kerling sebuah nama yang selalu menggoda tiap kali kau geser satu botol bir kosong di trotoar tak bernama

demi kumis saddam hussein yang menghantui george bush di belahan dada istrinya yang keriput tua

demi dr strangelove yang berkhayal nikmatnya sebuah rudal yang pecah di lobang duburnya

demi beribu dubur yang terbakar hangus tak terkubur di padang pasir ubur ubur

demi cintaKu padaMu wahai sepasang kaki tak bertubuh tapi bersepatu hitam hak tinggi di monitor pc pembelian istriku

demi kereta api yang keluar masuk lemak tergantung di leher alfred hitchcock

demi borobudur di duaribu obat nyamuk terbakar di rambut made wianta

demi ktp yang membuatmu jadi saut jadi situmorang

demi buah pantat megawati yang katanya simbol negeri ini yang sekelam awan sore kota jogja tak nyaman di hati

demi ikan mas yang mati mengapung di lobang kakus demam berdarahmu

demi bukek siansu yang tak pernah muncul di lorong lorong gelap kotamu di tengah malam gerhana bulan 17an

demi lidah pelo wiji thukul yang hilang di hutan simbol janggut karl marx tua

demi sepasang mata pengungsi afghan yang menikammu dari sampul national geographic keparat itu dulu

demi apalagi demi moore mau tidur semalaman dengan seorang jutawan kalau bukan demi jutaan yang dihambur hamburkan george bush di kepala jutaan anak afghan anak irak jutaan yang dihambur hamburkan megawati di kepala jutaan anak aceh lewat jutaan keping logam api yang membakar hangus jutaan puisi yang tertulis di jutaan gemeretak gigi gigi panas dingin demam marah pada langit biru kosong tanpa tuhan tanpa apa apa tanpa makna demikian perih kehidupan bagi manusia manusia yang bernasib sedemikian rupa tak mengerti mengapa

demikianlah seonggok taik anjing kering mengejek kita yang konon lebih mulia dari para malaikat di biji biji tasbih para alim ulama pemenang poligami award obladi oblada

demikianlah, guernica, demikianlah

jogja, 17 agustus 2003

Saut Situmorang

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s