Archive for 25/02/2013

Laskar Pelangi_foto Andrea Hirataoleh Damar Juniarto*

DELAPAN tahun setelah terbitnya Laskar Pelangi melalui penerbit Bentang Pustaka dilansir kabar yang sangat menyenangkan untuk didengar. Andrea Hirata, penulis kelahiran Belitung yang menulis seri kisah anak lelaki bernama Ikal dari pulau Belitung yang miskin tetapi akhirnya sukses, aktif mengabarkannya lewat beragam media, baik mainstream maupun akun media sosialnya. Pertama, â€ȘFarrar, Straus and Giroux‬ (selanjutnya disingkat FSG) akan mencetak Laskar Pelangi di bulan Februari 2013. Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang mendapat kesempatan dari penerbit yang terbiasa mencetak karya-karya sastrawan dunia. Kedua, Laskar Pelangi mendapat pengakuan sebagai “International Best Seller”. Ini didasarkan atas pencantuman label di bagian atas sampul Laskar Pelangi terbitan dari negara Turki.

Kedua kabar ini tidak secara serentak diberitakan, melainkan bertahap disampaikan. Semua mulai bergulir sejak terjemahan Laskar Pelangi lebih dulu dicetak oleh penerbit-penerbit di luar Indonesia, seperti Penguin Books dan Random House dan kemudian dipasarkan ke lebih dari 20 negara. Siapapun orang Indonesia pastilah bangga mendengarnya. Jarang sekali, bukan berarti tidak ada, penulis Indonesia menorehkan prestasi demikian.

Malahan, sebagai publisis yang bergerak di bidang buku dan film, saya nyatakan terbitnya Laskar Pelangi telah mengubah lanskap sejarah penerbitan dan perfilman. Di penerbitan, Laskar Pelangi telah tercetak lebih dari 5 juta eksemplar lewat ritel resmi dan di pasar gelap mencapai 15 juta eksemplar. Itu artinya, dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, 20 juta eksemplar dimiliki oleh pembaca. Booming karya Laskar Pelangi melahirkan genre yang dinamakan Novel Otobiografis atau biasanya saya sederhanakan artinya menjadi “novelisasi kisah hidup sendiri”. Sontak, penerbit berlomba mencari penulis yang mampu mengangkat kisah hidupnya dan sedapat mungkin dijadikan novel, hanya untuk mengikuti tren yang muncul karena Laskar Pelangi. Di film, kisahnya kurang lebih sama. Lewat tangan kreatif Mira Lesmana, Riri Riza, dan Salman Aristo sebagai penulis adaptasinya, film Laskar Pelangi mencetak angka penonton yang masih tercatat sebagai angka paling tinggi: 4.606.785 (Catatan Filmindonesia.or.id dari laporan jaringan 21 Cineplex). Sampai tahun 2013 ini, angka penonton ini hampir saja dilampaui oleh film Habibie & Ainun dengan jumlah penonton sebanyak 4.207.864. Sama halnya seperti di penerbitan, booming Laskar Pelangi menderaskan pengadaptasian buku-buku bestseller lain di Indonesia, bahkan bisa dikatakan “film adaptasi” adalah pilihan yang dipertimbangkan produser bahkan melampaui film horor.

Kalau tidak karena pernyataan sensasional yang disampaikan Andrea Hirata pada Selasa, 12 Februari 2013 dan dimuat di sejumlah media nasional, saya masih dalam kerangka berpikir yang sama. Karena pernyataan itu juga saya kemudian melakukan pengecekan ulang atas semua yang pernah dinyatakan Andrea Hirata mengenai pengakuan internasional atas karya Laskar Pelangi.

Klaim Penulis?

September 2012, Andrea Hirata memberitakan dirinya telah ditandatanganinya kontrak perjanjian dengan pihak penerbit FSG. FSG adalah sebuah penerbit yang dianggap sebagai penerbit terakhir yang hanya menerbitkan karya sastra dan terkenal karena daftar para penulis yang diterbitkan melaluinya, mulai dari karya fiksi sastra, narasi non-fiksi, puisi, hingga sastra anak. Nama-nama pemenang Nobel Sastra seperti Hermann Hesse, T. S. Eliot, Yasunari Kawabata, Aleksandr Solzhenitsyn, Pablo Neruda, Camilo José Cela, Nadine Gordimer, Mario Vargas Llosa. Begitu juga pemenang Nobel Perdamaian, tetapi yang pasti adalah para penulis pemenang anugerah sastra bergengsi Amerika Serikat Pulitzer. Nama-nama mulai Oscar Hijuelos, Michael Cunningham, Jeffrey Eugenides, hingga Marilynne Robinson ada di antara nama-nama penulis lain. Ini berarti Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang bekerjasama dengan FSG.

Sebagai publisis, beruntung bahwa saya memiliki informasi yang membuat saya mampu melakukan pengecekan ke pihak penerbit. Saya melakukan pengecekan ke FSG dan Bentang Pustaka. Fakta yang menarik adalah Laskar Pelangi yang kemudian diterjemahkan menjadi The Rainbow Troops ternyata dicetak oleh Sarah Crichton Books, imprint dari FSG, yang menerbitkan beragam karya sastra dan fiksi dan non-fiksi komersil. Sarah Crichton Books menekankan pada sisi komersil. Imprint ini mencetak The God Factor karya Cathleen Falsani tahun 2006 dan karya Ishmael Beah berjudul A Long Way Gone bestseller dan buku pilihan Starbucks tahun 2007.

Laskar Pelangi terjemahan InggrisDari informasi ini, saya melihat ada perbedaan besar antara FSG dan imprint Sarah Crichton Books. Sederhana saja, nama-nama penulis yang bekerjasama dengan Sarah Crichton Books nyaris nama-nama penulis yang asing terdengar dan di luar dari nama pemenang penghargaan Nobel/Pulitzer. Daftar penulisnya bisa dicek di: http://www.boomerangbooks.com.au/publisher/Sarah-Crichton-Books

Ketika hal ini saya tanyakan kepada CEO Bentang Pustaka Salman Faridi lewat wawancara telepon, secara mengejutkan, penerbit tidak mengetahui perihal ini. Salman tetap menyebutkan bahwa Laskar Pelangi dicetak oleh FSG dan bukan oleh imprint, dan bukan didasar atas pertimbangan komersil.

Berdasarkan fakta ini, ada detil kecil yang tidak disampaikan kepada kita sebagai pembaca/publik oleh Andrea Hirata. Informasi mengenai imprint dipotong dan diklaim bagian FSG hanya untuk kepentingan pencitraan (marketing), seolah-olah benar ada seorang penulis dari Indonesia yang telah kontrak dengan FSG.

Tetapi klaim ini kalah apabila dibandingkan dengan pernyataan Andrea Hirata berikut ini. Dalam konferensi pers Selasa, 12 Februari 2013 mengenai pengakuan “International Best Seller” dari Turki, yang dihadiri oleh media-media nasional, dilansir ucapan: “Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi Alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi bestseller dunia.” (Metronews.com)

Pengakuan Internasional?

Penerbit Turki bernama Butik Yayinlari menerbitkan Gokkusagi Askerleri dengan mencantumkan label “International Best Seller” di bagian atas sampul. “Untuk meraih predikat ‘International Best Seller’ di luar negeri tidak mudah. Paling tidak penjualan buku tersebut mencapai 70 persen di setiap negara yang menerbitkannya,” demikian disampaikan Andrea Hirata kepada pers (Antaranews.com). Tentu saja, saya langsung mencoba mencari data yang diperlukan atas apa yang disampaikan oleh penulis ini. Bagaimana faktanya?

Ketika Andrea Hirata menyatakan bahwa hampir seratus tahun tidak ada pembuktian ada karya anak bangsa mendunia, dengan mudah saya kategorikan Andrea Hirata lagi-lagi sedang melakukan klaim. Karena faktanya tidak benar demikian. Pengakuan internasional untuk karya sastra dari Indonesia tak terbilang banyaknya. Pramoedya Ananta Toer pernah mendapatkannya, bahkan sampai hari ini baru dirinyalah sastrawan dari Indonesia yang dinobatkan sebagai kandidat peraih Nobel Sastra. YB Mangunwijaya juga mendapatkan pengakuan internasional. NH Dini, yang hampir menjadi kandidat Nobel juga termasuk. Jadi klaim Andrea Hirata ini terdengar sangat mengolok-olok dirinya sendiri. Andrea Hirata telah mencederai sejarah dunia sastra Indonesia dengan menyebutkan tidak ada karya anak bangsa mendunia dalam kurun waktu hampir seratus tahun.

Laskar Pelangi_TurkiSatu-satunya klaim yang mendekati kebenaran adalah soal “International Best Seller”. Paling tidak, menurut saya, Andrea Hirata membawa bukti berupa sampul Laskar Pelangi versi Turki. Maksudnya mendekati kebenaran, menurut Salman Faridi, ada kemungkinan pencantuman “International Best Seller” di sampul versi Turki berdasarkan keterangan dari Kathleen Anderson dari Kathleen Anderson Literary Management, agen yang berhasil menjual Laskar Pelangi. Kemungkinan besar karena Laskar Pelangi berhasil dijual Kathleen ke beberapa negara dan ada beberapa negara yang cetak ulang. Tetapi Salman tidak bisa merinci negara mana saja. Dari berita, hanya Vietnam saja yang mencetak ulang. Lalu mana daftar negara lainnya?

Tetapi masih terlalu cepat menyimpulkan kalau ini juga klaim. Maka saya mencari informasi mengenai kriteria “International Best Seller” dari penulis Maggie Tiojakin, yang akrab menggeluti karya-karya sastra internasional. Maggie menjelaskan kriterianya adalah cetak ulang di beberapa negara, biasanya di atas 10 negara. Setelah mendengar keterangan ini, saya menghentikan kegiatan saya untuk mencari informasi lebih lanjut. Saya tidak setuju label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini kemudian dipergunakan Andrea Hirata untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia, ini jelas memprihatinkan.

Kedepankan Kejujuran

Berhadapan dengan media, memang membutuhkan news peg yang menarik. Sebagai publisis, saya paham betul apa yang dilakukan Andrea Hirata tidak lebih dari strategi marketing untuk mencitrakan dirinya sebagai penulis Indonesia berkelas dunia. Personal branding dibangun dengan membalut diri dengan informasi-informasi yang fantastis, sama seperti kisah Ikal yang ditulisnya.

Tetapi sebagai publisis, saya berpikir strategi marketing bagi penulis Andrea Hirata dengan segala klaim yang dikatakannya selama ini beresiko. Resiko yang tak seharusnya terjadi bilamana mencuat kebenaran yang sesungguhnya. Resiko yang tak perlu muncul juga seandainya Andrea Hirata lebih bijak menempatkan dirinya. Resiko ini bukan hanya berlaku bagi penulis sendiri, tetapi juga akan mengikutsertakan penerbit, juga seantero industri penerbitan dan perfilman. Pasti kita semua tidak ingin ini terjadi bukan? Maka kedepankan kejujuran, wahai Andrea Hirata.***

 

*Publisis buku di Tanam Ide Kreasi (@scriptozoid), Moderator komunitas Goodreads Indonesia 2008-2010, pembaca aktif

 

Tulisan terkait/update:

1. Bantahan Andrea Hirata di Media Online: http://www.tempo.co/read/news/2013/02/15/219461465/Andrea-Indonesia-Butuh-Kritikus-yang-Kompeten

2. Penulis Laskar Pelangi Berencana Perkarakan Blogger – Hukum Online http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51239affba5e9/penulis-laskar-pelangi-berencana-perkarakan-blogger

3. Email Andrea lewat kompasioner Agus Hermawan: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/02/20/andrea-hirata-menjawab-penulis-indonesia-mencari-keadilan-536494.html

4. Yusril Ihza Mahendra: http://www.tempo.co/read/news/2013/02/20/114462541/Yusril-Andrea-Hirata-Dipojokkan

5. Kontroversi Andrea Hirata, Pelajaran bagi Blogger dan Penulis – Marintan Omposungu http://media.kompasiana.com/new-media/2013/02/20/hirata-gate-dan-kebebasan-530321.html

6. Menggugat Kepenulisan Andrea Hirata – Carolus Putranto http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/20/menggugat-kepenulisan-andrea-hirata-535582.html

7. Andrea Hirata dan Saatnya Balas Tulisan dengan Tulisan – Hazmi Srondol http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/02/23/andrea-hirata-dan-saatnya-balas-tulisan-dengan-tulisan-531356.html

8. 10 Kritikus Sastra bicara tentang Andrea Hirata dan Laskar Pelangi http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/21/10-kritikus-sastra-bicara-tentang-andrea-hirata-dan-laskar-pelangi-535723.html

9. Benarkah ada saran dari Buya Syafii Maarif http://media.kompasiana.com/buku/2013/02/22/benarkah-ada-saran-buya-syafii-maarif-agar-andrea-hirata-menempuh-jalur-hukum-536140.html

 

Sumber:

http://media.kompasiana.com/buku/2013/02/13/pengakuan-internasional-laskar-pelangi-antara-klaim-andrea-hirata-dan-faktanya-533410.html

cover Laskar Pelangioleh Wahmuji

 

“Tokoh-tokoh dalam novel ini membawa saya pada kerinduan menjadi orang Indonesia… A must read!!!”

-Riri Reza

 

“Tidak ada tokoh dalam novel Laskar Pelangi.” Kalimat itulah yang menyeruak bagai udara yang bebas dari balon sabun yang meletup dalam kepala saya di sebuah diskusi kecil dengan beberapa teman pada pertengahan Januari (2013) silam. Waktu itu, kami sedang membicarakan sebuah novel berjudul Ulid Tak Ingin ke Malaysia karya Mahfud Ikhwan, khususnya tentang hubungan narator dan tokoh dalam sebuah cerita fiksi. Kenapa saya bisa sampai berkata begitu? Bukankah Laskar Pelangi banyak dipuji karena, salah satunya, dianggap berisikan tokoh-tokoh yang menginspirasi, seperti yang bisa kita lihat dalam kalimat Riri Reza yang saya kutip di atas?

Sederhana saja: saya melihat “tokoh-tokoh” Laskar Pelangi tidak pernah berbicara dengan bahasanya sendiri, bahasa yang cocok dengan latar belakang tempat (Belitung), latar belakang masa (1970an dan 1980an), umur (anak-anak SD dan SMP), dan (batas) pengetahuannya. Saya menganggap penting ‘orisinalitas’ bahasa tokoh dalam cerita fiksi. Saya ingin menemukan diksi, dan bahkan tatabahasa, yang dipakai orang Belitung untuk bicara soal modernitas, soal pabrik timah, soal kapitalisme, soal Tuhan, soal kesuksesan atau tema apapun yang sedang disajikan Laskar Pelangi pada saya. Dari situlah saya bisa meresapi apa yang dirasakan orang. Dengan itulah saya ingin memahami cara pikir orang dari latar belakang ruang, waktu, dan budaya yang berbeda. Saya tidak menemukan ‘orisinalitas’ bahasa itu dari “tokoh-tokoh” Laskar Pelangi. Semuanya telah diwakili oleh narator, telah direbut oleh narator, yang berkelakuan ibarat seorang guru yang mencuri semua perhatian hadirin dengan terlalu asyik bercerita tentang serentetan peristiwa yang dialaminya dan murid bimbingannya pada sebuah kontes debat tanpa sekalipun memberi kesempatan bagi si murid itu untuk bercerita sendiri. Andrea Hirata telah gagal mencipta tokoh.

Mungkin Anda beranggapan saya luput menyadari bahwa cerita dalam Laskar Pelangi dituturkan oleh orang-pertama. Ikal adalah pencerita sekaligus tokoh utama. Lagipula, seperti kata Akmal Nasery Basral, Laskar Pelangi adalah “[s]ebuah memoar dalam bentuk novel yang
” (sengaja tidak saya hadirkan lengkap karena kelanjutannya cuma klaim lebay yang tidak ada gunanya bagi artikel ini). Bukankah sebagai sebuah memoar, yang penceritanya orang-pertama, sah-sah saja kalau tokoh-tokoh lain berbicara dalam bahasa si pencerita? Toh itu semua berdasar pada memorinya? Selama matahari terbit dari timur, pencerita orang-pertama itu terbatas pengetahuannya, maka aneh kalau sampai ia bisa sangat tahu apa yang sedang dipikirkan tokoh-tokoh lain. Kalau demikian, kenapa secara aksiomatis saya menganggap pencerita adalah orang ketiga sehingga saya bisa berpendapat bahwa ia tidak memberi kesempatan pada tokoh-tokohnya untuk berbicara dengan bahasanya sendiri?

Saya membaca lagi Laskar Pelangi dan komentar-komentar mengenai “memoar dalam bentuk novel” itu. Saya menemukan bahwa narator orang-pertama dalam Laskar Pelangi terlalu pandai, atau lebih tepatnya terlalu banyak tahu. Begitu pandainya ia sehingga bahasa yang dipakainya adalah bahasa pencerita orang-ketiga, bahasa pencerita maha-tahu. Ikal adalah salah satu anggota Laskar Pelangi, satu kelompok anak-anak SD Muhammadiyah. Bagaimana ia bisa menamai pohon dengan bahasa latin? Bagaimana ia bisa tahu karya Mozart Haffner No. 35 in D Major? Keanehan semacam ini akan pula kita alami ketika mendengarkan cerita seseorang yang menggambarkan dirinya melihat seseorang tidur, dan ia mampu mengetahui bahwa orang yang tidur itu sedang bermimpi, dan ia bahkan mampu menceritakan isi mimpi orang yang tidur itu. Orang macam ini bukan narator, ia cenayang!

Persoalan narasi Laskar Pelangi sudah dibicarakan secara singkat oleh Jakob Sumardjo. Dalam tulisan pendeknya, Jakob Sumardjo memaparkan dua pokok permasalahan yang penting. Pertama, ketidakmampuan Andrea Hirata untuk memisahkan dirinya dan objek ceritanya. “Kejadian di masa kecil dijelaskan secara manusia kota besar yang kontemporer.” Kedua, tiadanya penjelasan atas berbagai keajaiban yang muncul dalam cerita. Misalnya, anak-anak SD yang hidup di kampung terpencil tapi sudah tahu budaya Afrika.

Nurhady Sirimorok, dalam bukunya yang sangat berharga Laskar Pemimpi; Andrea Hirata, Pembacanya, dan Modernisasi di Indonesia, juga sudah menyinggung persoalan narasi ini. Meski pokok bahasan Nurhady adalah “virus modernitas” (termasuk klaim-klaim kolonialisnya) yang bersemayam di dalam karya-karya Andrea Hirata dan bagaimana para pembacanya bisa begitu gegap-gempita dalam mengkonsumsinya, tampaknya ia juga tidak tahan untuk tidak memaparkan keanehan narasi yang terdapat dalam karya-karya yang dibahasnya itu.

“Bila kita menerima Ikal dewasa sebagai penuturnya akan sulit menerima bagaimana dia bisa mengingat banyak pernik seperti dalam perdebatan rumit ketika Lintang berdebat dengan guru cerdas berpendidikan tinggi dari sekolah favorit saat adegan cerdas cermat berlangsung (hl. 375). Sebaliknya, jika kita menerima bahwa yang menuturkan kisah ini adalah Ikal kecil, agak susah menerima dia menggunakan frasa ‘Taman Jurassic’ untuk mengandaikan taman bunga di sekolahnya, atau Bu Mus yang memuji Lintang di kelas dengan, “Superb! Anak pesisir, superb!” (hl. 107), atau Flo yang dengan takjub menyebut secara spesifik jenis gua yang menjorok di depannya, “Sebuah gua antedilivium..” (hl. 397). Semuanya adalah elemen retorik yang belum akrab di latar masa novel ini (Sirimorok, 2008: 89-90).”

Saya sengaja mengutip panjang tulisan Nurhady Sirimorok karena persis di titik itulah kegagalan narasi Laskar Pelangi. Novel yang konon mendapat cap international best seller itu tidak dituturkan oleh orang-ketiga yang tahu-segala, tapi juga sulit diterima kalau penuturnya adalah orang pertama Ikal kecil, bahkan juga orang-pertama Ikal besar. Bagaimana itu, coba? Begitupun, kita masih bisa merasakan bahwa narator dalam Laskar Pelangi adalah orang-pertama. Jelas bukan Ikal kecil karena kalimat pertama pembuka novel itu berbunyi, “Pagi itu, waktu aku masih kecil
,” melainkan orang pertama yang melampaui batas-batas pengetahuan dan daya ingatnya. Siapa dia? Nanti saya jawab. Tapi yang jelas, itulah sumber keanehan narasi Laskar Pelangi. Itulah yang membuat kita bisa mengatakan bahwa secara naratif, Andrea Hirata telah gagal mencipta dunia fiksi.

Pertanyaan sinis yang mungkin muncul di kepala setelah membaca pernyataan itu adalah: kalau secara naratif Andrea Hirata telah gagal mencipta dunia fiksi, kenapa novelnya bisa laris-manis? Sayangnya, pertanyaan itu tidak bisa saya jawab di sini karena pokok pembahasan saya bukanlah resepsi publik atas sebuah karya. Tapi, jika ingin mencari jawaban atas laku-kerasnya novel Laskar Pelangi, mungkin kita harus terlebih dahulu memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sepadan, seperti: Mengapa Cocacola bisa laris? Atau, mengapa Arnold Schwarzenegger bisa jadi gubernur di negara bagian California?

Kualitas fiksi dan resepsi publik adalah dua persoalan yang berbeda. Nurhady sudah membahasnya cukup panjang di buku yang telah saya sebutkan di muka. Tepatlah pula apa yang dikatakan Saut Situmorang kalau Cultural Studies-lah yang cocok dipakai untuk membahas novel macam ini, terutama berkaitan dengan konsumsi dan distribusinya. Dengan demikian, saya juga sependapat dengan Ken Gelder yang menyatakan bahwa “fiksi populer bukan cuma persoalan teks-dalam-dirinya-sendiri, tapi merupakan keseluruhan aparatus produksi, distribusi (termasuk promosi dan iklan) dan konsumsi.”

Kembali ke persoalan narasi. Pertanyaan yang lebih relevan untuk diutarakan di sini adalah: apa penulis tidak bisa melakukan eksperimen narasi: membaurkan narator orang-pertama dengan orang-ketiga, misalnya?

Saya akan menjawab pertanyaan itu dengan pembacaan saya atas novel Disgrace karya J. M. Coetzee, seorang penulis yang berhasil mendapatkan hadiah Nobel Sastra pada 2003. Menurut saya, Coetzee dalam novelnya itu telah dengan cerdas berhasil ‘bermain-main’ dengan posisi narator. Secara sepintas kita bisa melihat bahwa novel Disgrace dituturkan oleh orang-ketiga. Namun, kalau kita baca lebih teliti, narator tidak pernah masuk ke dalam pikiran tokoh-tokohnya kecuali Lurie, tokoh utama dalam novel itu. Kalaupun narator meraba pikiran tokoh-tokoh lainnya, ia selalu merasa tidak yakin dengan apa yang sebenarnya dipikirkan tokoh-tokoh itu. Kalau kita baca pendapat dan komentar narator atas suatu peristiwa atau tindakan tokoh-tokoh, kita akan menemukan bahwa nada dari pendapat dan komentar itu adalah suara Lurie sendiri. Disgrace, pada pengamatan lapis pertama, dituturkan oleh orang-ketiga yang terbatas pengetahuannya. Tapi pada pengamatan lapis kedua, kita akan menemukan bahwa sebetulnya suara narator tidak lain adalah suara Lurie.

Bagi saya, cara bercerita Coetzee dalam Disgrace punya korelasi yang jelas dengan tema yang ingin dibicarakannya: representasi masyarakat Afrika Selatan pasca-apartheid. Representasi orang-ketiga seakan netral, lepas dari bias wacana kolonialis. Tetapi ternyata orang-ketiga yang seakan netral itu tidak lain adalah Lurie, seorang laki-laki kulit putih, dosen sastra Inggris yang khusus mengajar sastra Inggris masa Romantik, yang sangat sinis dengan perkembangan masyarakat Afrika Selatan. Coetzee mungkin ingin bilang bahwa wacana yang kita terima mengenai masyarakat Afrika Selatan tidak lain merupakan sisa-sisa wacana kolonialis. Dan kita sulit untuk keluar sepenuhnya dari wacana-wacana itu.

Bila teknik narasi Laskar Pelangi disanding-bandingkan dengan teknik narasi Disgrace, maka itu akan tampak seperti menyanding-bandingkan komik ‘seri cantik’ dengan Kartun Riwayat Peradaban-nya Larry Gonick atau One Piece-nya Eichiiro Oda, misalnya. Saya tidak melihat kesadaran naratif dari Andrea Hirata. Yang tampak adalah kebingungan mencari posisi narator. Sebuah kebingungan yang mungkin, seperti ditengarai oleh Jakob Sumardjo, disebabkan oleh “antusiasme dan optimismenya dalam mempahlawankan masa lalunya.” Atau mungkin, Andrea Hirata tidak mampu memisahkan logika memoar (bagaimana individu mengingat kehidupannya sendiri) dengan logika novel (dunia fiksi). Andrea Hirata mungkin sedang menulis memoar, tapi tidak sedang secara serius menulis novel. Kalaupun sedang menulis memoar, saya rasa Andrea Hirata tidak mampu (atau tidak mau jujur?) mengungkapkan perasaan-perasaannya saat dia masih kecil. Ia lebih tertarik untuk mengeksplorasi perasaan dewasanya tentang masa kecilnya, yang diolah sedemikian rupa seakan itulah perasaan masa kecilnya, seolah itulah bahasa masa kecilnya. Wajar bila saya tidak menemukan ‘orisinalitas’ bahasa sekaligus pengalaman tokoh murid-murid dan guru dari Belitung tahun 1970an dan 1980an dalam Laskar Pelangi. Jadi, saya akan merevisi kalimat saya yang membuka esai ini, sekaligus menjawab pertanyaan siapa narator dalam novel pertama Andrea Hirata ini: “Hanya ada satu tokoh dalam Laskar Pelangi. Namanya: Andrea Hirata.”

***

Kegagalan Andrea Hirata secara naratif dalam mencipta dunia fiksi perlu diungkapkan di tengah hingar-bingar puja-puji atas ‘kehebatan’ novelnya, terutama di tengah klaim-klaimnya sendiri yang sangat meninggikan posisi dirinya sebagai penulis itu—Andrea Hirata tidak mau disebut sastrawan, tapi, dari pernyataan-pernyataannya, sangat ingin diakui oleh kalangan sastrawan dan kritikus sastra di Indonesia. Kegagalan mendasar ini sekaligus merupakan salah satu bukti bahwa tidaklah benar “Hirata has contributed significantly to the development of modern Indonesian literature”, seperti ditulis oleh Random House Books Australia. Menerima pernyataan tersebut sama saja seperti menerima pernyataan bahwa “Film Twilight telah berkontribusi besar pada perkembangan dunia perfilman Amerika.”

 

Rujukan Pustaka

Coetzee, J.M. Disgrace. London: Vintage Random House, 1999.

Gelder, Ken. Popular Fiction; The Logics and Practices of a Literary Field. London & New York: Routledge, 2004.

Sirimorok, Nurhady. Laskar Pemimpi; Andrea Hirata, Pembacanya, dan Modernisasi Indonesia. Yogyakarta: INSISTPress, 2008

 

Sumber: http://mediasastra.com/esei_sastra/others/4/andrea_hirata_gagal_mencipta_dunia_fiksi