Archive for March, 2013

Pembacaan "Deklarasi Hari Sastra Indonesia" di Solo oleh Wowok Hesti Prabowo, salah seorang redaktur boemipoetra

Pembacaan “Deklarasi Hari Sastra Indonesia” di Solo oleh Wowok Hesti Prabowo, salah seorang redaktur boemipoetra

1. Menolak hari sastra Indonesia yang berdasarkan tanggal lahir Abdul Moeis, yang digagas Taufiq Ismail dkk, karena pengarang Abdul Moeis adalah anak dari Balai Pustaka yakni institusi penerbitan pemerintah kolonial Belanda.

2. Untuk itu, kami dari Jurnal Sastra boemipoetra beserta simpatisannya mendeklarasikan Hari Sastra Indonesia jatuh pada tanggal 6 Februari. Pemilihan tanggal ini berdasarkan tanggal lahir sastrawan terbesar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yaitu pada tanggal 6 Februari 1925.

Pramoedya Ananta Toer adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang karya-karyanya mengandung semangat kebangsaan Indonesia, anti kolonialisme, anti feodalisme dan bersifat kerakyatan. Selain itu, Pramoedya Ananta Toer juga satu-satunya sastrawan Indonesia yang berkali-kali dinominasikan sebagai pemenang Hadiah Nobel Sastra.

3. Kami mendeklarasikan Hari Sastra Indonesia ini sebagai penolakan atas gagasan Taufiq Ismail dkk yang tidak historis, tidak menggambarkan realitas sastra Indonesia yang sebenarnya dan ngawur!

4. Kami menghimbau kepada seluruh sastrawan Indonesia untuk juga menolak gagasan hari sastra Indonesia versi Taufiq Ismail dkk di atas.

22 Maret 2013
Taman Budaya Surakarta, Solo

Jurnal Sastra boemipoetra dan simpatisan

poster peluncuran buku boemipoetra di Solo

Endo SenggonoHadirilah sebuah acara penghormatan yang tidak biasa kepada seorang yang sadar akan apa makna pengayoman untuk sebuah kemajuan. Sebuah perubahan. Untuk itu dia harus memikul akibat yang barangkali memang sudah dia duga sejak awal. Endo Senggono, yang dilengserkan oleh persekongkolan jahat dua sastrawan bergelar Doktor Kehormatan (baca buku baru terbit “Langit Pertama Langit Kedua”), selama bertahun-tahun telah membukakan pintu Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Jakarta menjadi tempat pertemuan (di luar jam kerja) bagi para seniman dari berbagai cabang kegiatan. Di Pusat Dokumentasi itu Endo duduk sebagai kepala pelaksana. Sikapnya yang murah hati itu berujung pada reaksi negatif dari pengurus Yayasan yang membawahi Pusat Dokumentasi itu. Dia digeser dari kedudukannya, dan malahan mau dimutasikan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI (Endo memang pegawai negeri, sementara yang berusaha memutasikannya, herannya, cuma ketua sebuah yayasan!). Endo, yang mengenakan tongkat ketiak itu, beberapa waktu lalu terserang stroke sehingga dia terkurung di kursi roda. Keadaan kesehatannya memburuk lagi belakangan ini setelah dia terserang penyakit itu kedua kalinya.

Kawan, teman dekat dan para simpatisan Endo Senggono akan menyelenggarakan acara penghormatan untuknya: Jumat 22 Maret 2013, jam 15:00 WIB di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Acara antara lain akan diisi dengan kata-kata pujaan dan doa untuk Endo, baca puisi, musik, teater, yang akan disumbangkan teman-temannya dari berbagai bidang kegiatan kesenian. Sempatkanlah mampir, ramaikan juga dengan membawa nyamikan ala kadarnya.

Salam hormat dari teman-teman Endo

cover Laskar Pelangi_Indonesiaoleh Katrin Bandel*

Andrea Hirata sedang heboh dibicarakan. Lewat tulisan pendek ini, saya tidak ingin ikut menanggapi kasus tersebut secara keseluruhan. Saya hanya akan berfokus pada satu unsur yang cukup penting dalam kisah kesuksesan Andrea Hirata di luar Indonesia, yaitu “terjemahan” Laskar Pelangi ke dalam bahasa asing. Kata “terjemahan” sengaja saya tempatkan dalam tanda kutip karena setelah membandingkan versi Inggris dan Jerman dengan versi Indonesia, saya berkesimpulan bahwa apa yang dihadirkan sebagai “terjemahan” tersebut sama sekali tidak layak disebut sebuah terjemahan. Kedua versi itu begitu jauh berbeda satu sama lain sehingga The Rainbow Troops (demikian judul versi Inggrisnya) lebih tepat disebut saduran atau adaptasi daripada terjemahan.

Versi Inggris yang dikerjakan oleh Angie Kilbane (sebagai “penerjemah”) pada awalnya diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2009, kemudian tahun ini (2013) diterbitkan ulang oleh Sarah Crichton Books, yang merupakan bagian dari Farrar, Strauss and Giroux. Pada tahun ini pula versi Jerman diterbitkan dengan judul Die Regenbogentruppe (penerbit Carl Hanser Verlag).

Saat ini akses yang saya miliki terhadap versi-versi asing tersebut sangat terbatas. Versi Inggris terbitan Bentang hanya bisa sayacover Laskar Pelangi_Inggris_Bentang akses lewat Google Books, beberapa halaman pertama versi terbitkan Sarah Crinchton Books serta versi Jerman bisa saya akses lewat amazon, dan informasi lainnya tentang versi Jerman saya dapatkan lewat komunikasi dengan seorang teman di Jerman yang sudah membaca versi Indonesia dan versi Jerman. Namun dengan akses yang demikian terbatas sekalipun sudah tampak dengan sangat jelas betapa jauh perbedaan antara versi asli dengan versi Inggris dan Jerman (mengenai versi dalam bahasa asing lain saya tidak memiliki informasi). Maka dalam tulisan ini saya akan memaparkan hasil pembacaan saya terhadap sumber yang relatif terbatas tersebut. Hal itu saya lakukan sebab mencari sumber yang lebih lengkap akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit, sedangkan pembaca Indonesia berhak segera mengetahui fakta seputar versi berbahasa asing tersebut agar tidak keliru menilai “sukses” Andrea Hirata di luar negeri.

Seperti lazimnya dalam buku terjemahan, di halaman awal The Rainbow Troops terbitan Sarah Crichton Books kita menemukan keterangan tentang judul asli dan penerjemah. Selain menyebutkan Angie Kilbane sebagai penerjemah, di situ tertulis:

“Originally published in Indonesian in 2005 by Bentang Pustaka, Indonesia, as Laskar Pelangi

English translation originally published, in slightly different form, in 2009 by Bentang Pustaka, Indonesia”

cover Laskar Pelangi_InggrisDengan demikian, tampak bahwa versi Inggris tersebut memang diterbitkan sebagai terjemahan atas novel Laskar Pelangi. Meskipun kerja penerjemahan selalu merupakan interpretasi yang tidak mungkin 100% “sama” dengan aslinya, tetap saja ada batas yang cukup jelas mengenai apa yang pantas disebut sebuah terjemahan. Kerja penerjemahan adalah usaha mereproduksi sebuah karya dalam bahasa yang berbeda dengan sebisa mungkin mempertahankan segala unsur karya aslinya, termasuk gaya bahasa, kronologi penceritaan, pembagian bab, dan sebagainya. Lebih-lebih lagi, versi terjemahan tidak mungkin mengubah plot dan penokohan sebuah karya. Namun rupanya etika dasar mengenai terjemahan tersebut dilanggar dengan sangat mencolok dalam versi Inggris dan Jerman Laskar Pelangi.

Berikut saya akan memberikan beberapa contoh pelanggaran untuk menunjukkan betapa jauh berbedanya versi Inggris dan Jerman dari versi aslinya. Mengingat terbatasnya akses saya terhadap kedua versi itu (atau sebetulnya ketiga versi – sebab sesuai dengan keterangan yang saya kutip di atas, versi Inggris terbitan Bentang sedikit berbeda daripada versi Sarah Crichton Books), tentu sangat mungkin masih ada banyak pelanggaran lain yang tidak saya ketahui saat ini. Namun kiranya apa yang bisa saya amati ini saja sudah cukup mengagetkan.cover Laskar Pelangi_Jerman

Contoh 1: Gaya Bahasa

Salah satu ciri khas gaya bahasa dalam versi asli Laskar Pelangi adalah banyaknya penggunaan istilah asing, rujukan pada teori ilmiah, nama Latin, dan sebagainya. Tampaknya, gaya khas tersebut hampir sepenuhnya dihilangkan dalam versi Inggris dan Jerman. Berikut salah satu contoh sebagai ilustrasi. Bab 2 Laskar Pelangi dalam versi asli berjudul “Antediluvium” dan berawal dengan kalimat berikut:

“Ibu Muslimah yang beberapa menit lalu sembab, gelisah, dan coreng-moreng kini menjelma menjadi sekuntum Crinum giganteum.” (Laskar Pelangi, hlm. 9)

Dalam bahasa Inggris bab 2 berjudul “The Pine Tree Man”, dan berawal dengan:

“Bu Mus, who, a few minutes earlier, had been on edge with a puffy, smudged face, now transformed into a budding Giant Himalayan Lily.” (versi Bentang, hlm. 9)

“Bu Mus looked like a budding giant Himalayan lily” (versi Sarah Crichton Books, hlm. 8)

Di bab yang sama, pada halaman berikut, terdapat pilihan kata yang cukup ganjil dalam versi aslinya, yaitu ayah Lintang, seorang nelayan, dideskripsikan seperti berikut: “pembukaan wajahnya yang mirip seorang Bushman…” (Laskar Pelangi, hlm. 10). Dalam versi Inggris kata “bushman” yang terkesan aneh dan tidak sesuai konteks itu tidak muncul. Kalimat tersebut diterjemahkan sebagai “his face was like that of a kind shepherd” (versi Bentang, hlm. 10).

Contoh 2: Usia dan Pengalaman Mengajar Bu Mus

Dalam versi asli Laskar Pelangi saya tidak menemukan informasi mengenai usia Ibu Muslimah (Bu Mus), guru yang menjadi salah satu tokoh penting dalam novel tersebut. Namun di bab 1 disebut bahwa dia sudah 5 tahun mengajar di “sekolah melarat yang amat ia cintai” itu (Laskar Pelangi, hlm. 5).

Dalam bab 1 versi Inggris diceritakan:

“Today was her first day as a teacher, a moment she had been dreaming of for a very long time. She had just graduated from Sekolah Kepandaian Putri (Vocational Girls’ School), a junior high school in the capital of the regency, Tanjong Pandan. She was only fifteen.” (versi Crichton Books, hlm. 5-6)

Ini sama sekali bukan terjemahan, sebab semua kalimat tersebut tidak terdapat dalam bab 1 versi Indonesia! Bahwa Bu Mus “hanya memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri)” disebut di bab 4 versi asli (Laskar Pelangi, hlm. 29), namun bahwa dia baru berusia 15 tahun dan baru mulai mengajar bertentangan dengan versi aslinya! Disamping itu, seandainya tidak bertentangan pun, tentu tidak bisa diterima kalau sebuah terjemahan begitu saja memindahkan informasi dari bab 4 ke bab 1. Dalam versi Jerman pun terdapat kalimat-kalimat yang hampir serupa, hanya dengan tambahan bahwa Bu Mus baru saja tamat dari sekolah tersebut seminggu sebelumnya (Die Regenbogentruppe, hlm. 9).

Menariknya, Andrea Hirata tampaknya sangat menyadari betapa perubahan penokohan tersebut memiliki potensi dalam mengiklankan versi Inggris novel tersebut. Dalam keterangan singkat mengenai novel itu di website-nya sendiri, Andrea Hirata memperkenalkan tokoh Bu Mus sebagai “the neglected 15 year old teacher” (andrea-hirata.com). Mungkin usia muda tersebut dipandang lebih ampuh untuk menimbulkan rasa iba dan simpati.

Contoh 3: Adegan Pengisian Formulir di Bab 2

Setelah memperkenalkan Lintang dan ayahnya di bab 2 seperti yang sudah saya sebut di atas, dalam versi Inggris terdapat adegan di mana Bu Mus membagikan formulir untuk diisi masing-masing orangtua murid. Hanya ayah Lintang yang tidak mengisi formulir tersebut, menjadi gelisah, dan akhirnya menerangkan bahwa dirinya tidak bisa baca-tulis, dan bahkan tidak tahu tahun kelahirannya sendiri. Dengan heroik kemudian Lintang bangkit, mengambil formulir itu, dan mengatakan: “I will be the one to fill out this form later, Ibunda Guru, after I have learned how to read and write!” (versi Bentang, hlm. 13)

Seluruh adegan tersebut sama sekali tidak ada dalam versi aslinya. Satu-satunya keterangan dari adegan itu terdapat dalam sebuah renungan narator yang sambil lalu menyebutkan bahwa ayah Lintang “tak tahu tanggal dan bulan kelahirannya” (Laskar Pelangi, hlm. 13). Pengisian formulir sama sekali tidak diceritakan dalam versi asli Laskar Pelangi.

Contoh 4: Tokoh “Mister Samadikun”

Dalam versi Inggris dan Jerman terdapat seorang tokoh bernama Samadikun, pengawas sekolah yang berniat menutup sekolah itu. Tokoh itu tidak ada dalam versi aslinya. Mungkin karena tokoh itu ditambahkan dalam proses penerjemahan, berbeda dengan tokoh asli yang dalam versi terjemahan pun dipanggil Pak (Pak Harfan) dan Bu (Mu Mus), pengawas tersebut disebut “Mister Samadikun” (dalam versi Bentang – untuk versi Crichton Books dan versi Jerman saya tidak memiliki akses untuk memeriksa penulisan nama tersebut, namun berdasarkan informasi dari teman yang saya sebut di atas, saya tahu bahwa tokoh Samadikun juga terdapat dalam versi itu).

Dalam salah satu bab di pertengahan novel – entah bab ke berapa dalam versi aslinya, sulit dinilai sebab plot begitu jauh berbeda – tokoh pengawas sekolah (school superintendent – entah jabatan apa tepatnya dimaksudkan, dan apakah memang dikarang berdasarkan pengetahuan tentang struktur sistem pendidikan di Indonesia) bernama “Mister Samadikun” itu muncul sebagai figur yang amat ditakuti sebab dia ingin menutup sekolah itu. Antara lain kita berjumpa dengan adegan berikut:

“The truth is, Mister Samadikun had wanted to shut down our school for quite some time now – it was troublesome extra work for the officials in the administration office of the Department of Education and Culture. Those officials repeatedly pushed for our school to be banished from the face of this earth. Mister Samadikun himself once bragged to his superior, ‘Ah, let me take care of the Muhammadiyah school problem. With one kick I could bring them down.[…]’

In my fantasy, after those arrogant statements, Mister Samadikun and the high-level education authorities made a toast, clinking each other’s glasses filled with sugar palm milk. Sugar palm milk usually came as a bribe from teachers who wanted to be promoted to principal or transferred out of isolated areas, or for their school to be deemed a model school.” (versi Bentang, hlm. 87)

Tidak perlu diterangkan lagi bahwa adegan tersebut, juga berhalaman-halaman lain yang berkisah seputar Mister Samadikun, sama sekali tidak terdapat dalam versi Indonesia. Menarik diperhatikan betapa lewat penciptaan tokoh tambahan tersebut, ancaman terhadap sekolah kecil itu terpersonifikasikan dan menjadi lebih dramatis. Kalau versi asli dengan relatif realistis menceritakan betapa sekolah tersebut terancam tutup disebabkan kemiskinan, kekurangan murid, dan kurangnya perhatian pemerintah, dalam versi Inggris justru pemerintah seakan-akan memiliki perhatian khusus pada sekolah itu dan dengan sengaja ingin menutupnya. Bahkan syarat bahwa sekolah hanya bisa beroperasi kalau jumlah murid minimal 10 orang pun dalam versi tersebut (versi Bentang, hlm. 87) hanyalah alasan yang sengaja diciptakan oleh Mister Samadikun untuk menyelesaikan apa yang dalam kutipan di atas disebut “the Muhammadiyah school problem” – pilihan kata yang ganjil, seakan-akan sekolah miskin yang diceritakan dalam novel itulah satu-satunya sekolah Muhammadiyah di Indonesia!

Disamping itu, adegan minum “sugar palm milk” tentu luar biasa aneh. Orang menyuap dengan “sugar palm milk”? Apa “sugar palm milk” itu? Rupanya korupsi pun bisa dieksotiskan!

Contoh 5: Akhir Novel

Menurut cerita teman saya, menjelang akhir novel versi Jerman dan Inggris makin jauh dari versi asli. Maka saya pun membaca bab terakhir versi Inggris, meski sayangnya hanya sebagian dari bab tersebut, sebab tidak semua halaman bab terakhir dapat diakses lewat Google Books. Namun dengan akses terbatas itu pun sudah sangat jelas bagi saya bahwa cerita teman saya tidak berlebihan.

Seperti dalam versi asli, beberapa bab terakhir mengisahkan jalan hidup anggota Laskar Pelangi setelah dewasa. Bab terakhir yang berjudul “Don’t Give Up” merupakan bab ke-48 dalam versi Inggris, sedangkan versi asli hanya terdiri dari 34 bab, dan di antaranya tidak ada yang memiliki judul serupa itu (yaitu “Jangan Menyerah”). Isi bab itu pun sangat sulit ditemukan dalam versi aslinya. Ada beberapa kalimat yang dapat ditemukan di sana-sini, meskipun bukan dalam urutan seperti di versi Inggris, dan bukan di bab terakhir. Bagian-bagian lain tampak disusun baru, terkadang berangkat dari plot seperti yang ditemukan dalam versi Indonesia, terkadang berbeda dengan plot tersebut. Misalnya, disebutkan secara singkat bahwa A Kiong telah menikah dengan Sahara, seperti yang diceritakan di bab 32 dalam versi Indonesianya. Namun seluruh kisah seputar pernikahan itu, termasuk bahwa sebelumnya A Kiong masuk Islam dan namanya diganti menjadi Nur Zaman, tidak diceritakan dalam versi Inggris. (Dalam versi Indonesia, di bab-bab akhir nama Nur Zaman digunakan untuk merujuk pada tokoh tersebut, tapi dalam versi Inggris nama Nur Zaman sama sekali tidak muncul.) Dan tokoh Syahdan – untuk sekadar menyebut satu contoh lagi – dalam versi Inggris diceritakan “hilang” setelah merantau ke Jakarta untuk menjadi aktor – “We never heard anything about him anymore” (versi Bentang, hlm. 457). Padahal, dalam versi asli Syahdan menjadi narator bab terakhir, dan di situ dia menjadi panelis dalam sebuah acara peluncuran buku di Belitung di mana teman-teman dan kedua bekas gurunya juga hadir.

Saya rasa contoh-contoh di atas sudah cukup untuk mengilustrasikan bahwa versi Inggris dan Jerman novel Laskar Pelangi sangat jauh berbeda daripada versi Indonesia. Lalu bagaimana kita mesti menilai hal tersebut?

Novel pop memang sudah selazimnya bertujuan untuk menghibur, dan ditulis sesuai dengan perkiraan mengenai selera populer, agar laku di pasar. Dapat diperkirakan bahwa sebuah terjemahan yang benar-benar murni terjemahan atas novel Laskar Pelangi tidak akan sukses di luar Indonesia. Oleh sebab itu, cukup masuk akal (sesuai dengan logika pemasaran bacaan pop) bahwa versi berbahasa asing disesuaikan agar novel tersebut tetap laku dijual. Tampak dengan sangat jelas bahwa hal itu dengan ekstensif dilakukan terhadap Laskar Pelangi. Namun “penyesuaian” itu membawa berbagai persoalan, khususnya berkaitan dengan reputasi dan pengakuan-pengakuan Andrea Hirata sendiri, baik di Indonesia maupun di luar negeri:

  1. Penyesuaian itu tidak dilakukan secara terbuka. Versi asing diterbitkan sebagai “terjemahan”, dan baik pembaca asing maupun pembaca Indonesia tidak diberitahu mengenai adanya perbedaan yang sangat jauh antara versi-versi itu. Di Indonesia, sukses versi asing tersebut dibanggakan sebagai sukses Laskar Pelangi, dan edisi-edisi baru versi Indonesia pun diberi label “International Bestseller”. Padahal yang laku di luar negeri bukanlah novel Laskar Pelangi tersebut, tapi sebuah novel lain yang paling-paling dapat disebut saduran dari Laskar Pelangi.
  2. Andrea Hirata kini memposisikan diri sebagai penulis Indonesia yang sukses di luar negeri. Namun siapa sebetulnya yang menulis novel yang sukses di luar Indonesia tersebut? Apakah The Rainbow Troops merupakan karya Andrea Hirata, atau kolaborasi antara dirinya dan Angie Kilbane?
  3. Andrea Hirata diposisikan dan memposisikan diri bukan sekadar sebagai penghibur lewat novel popnya, tapi juga sebagai sejenis pembela keadilan. Namun dengan adanya eksotisasi penderitaan dan kemiskinan seperti yang terlihat dalam beberapa contoh dari versi Inggris di atas, juga informasi yang menyesatkan mengenai kebudayaan Indonesia, sistem pendidikan Indonesia dan lain-lain, apakah kita masih dapat percaya pada cita-cita luhur Andrea Hirata tersebut?
  4. Di atas saya mengkategorikan Laskar Pelangi sebagai novel populer, sehingga logika pemasarannya pun berbeda daripada yang berlaku untuk karya sastra. Namun Andrea Hirata sendiri tidak tegas dalam merepresentasikan diri, apakah dirinya ingin dipandang sebagai sastrawan atau sebagai penulis populer. Dia sempat membandingkan dirinya dengan penulis Indonesia lain yang konon tidak pernah mencapai apa yang dicapai dirinya. Selain mempertanyakan penilaian tersebut, kita juga dapat bertanya: Bukankah karya penulis Indonesia lain yang hadir di pasar internasional semuanya merupakan terjemahan, bukan saduran yang sudah dieksotis-eksotiskan seperti The Rainbow Troops? Jadi bagaimana kita dapat membandingkan suksesnya?

*Katrin Bandel, kritikus sastra, tinggal di Jogjakarta

GM vs Pram

Posted: 09/03/2013 in Esei

foto GMSurat Terbuka untuk Pramoedya Ananta Toer*

oleh Goenawan Mohamad

 

Seandainya ada Mandela di sini. Bung Pram, saya sering mengatakan itu, dan mungkin mulai membuat orang jemu. Tapi Mandela, di Afrika Selatan, menyelamatkan manusia dari abad ke-20. Tiap zaman punya gilanya sendiri. Abad ke-20 adalah zaman rencana besar dengan pembinasaan besar. Hitler membunuh jutaan Yahudi karena Jerman harus jadi awal Eropa yang bersih dari ras yang tak dikehendaki. Stalin dan Mao dan Pol Pot membinasakan sekian juta “kontrarevolusioner” karena sosialisme harus berdiri. Kemudian Orde Baru: rezim ini membersihkan sekian juta penduduk karena “demokrasi pancasila” tak memungkinkan adanya orang komunis (dan/atau “ekstrim” lainnya) di sudut manapun.

Rencana besar, cita-cita mutlak, dan mengalirkan darah. Manusia menjadi penakluk. Ia menaklukkan yang berbeda, yang lain, agar dirinya jadi subjek.

Mandela bertahun-tahun di penjara, orang hitam Afrika Selatan bertahun-tahun ditindas, tapi kemudian ketika ia menang, ia membuktikan bahwa abad ke-20 tak sepenuhnya benar: manusia ternyata bisa untuk tak jadi penakluk. Ia menawarkan rekonsiliasi dengan bekas musuh. Ia tak membalikkan posisi dari si objek jadi sang subjek.

Tiap korban yang mengerti rasa sakit yang sangat tak akan mengulangi sakit itu bahkan kepada musuhnya yang terganas. Ia.akan menghabisi batas antara subjek dan objek. Makna “rekonsiliasi” di Afrika Selatan punya analogi dengan impian Marx: karena proletariat tertindas, kelas ini berjuang agar setelah kapitalisme ambruk, segala kelas sosial pun hilang. Proletariat tak akan mengakhiri sejarah dengan berkuasa, melainkan menghapuskan kekuasaan, pangkal lahirnya korban-korban. Sejarah adalah sejarah penebusan kemerdekaan. Utopia itu tak terlaksana, tapi tiap utopia mengandung sesuatu yang berharga. Begitu ia menang, Mandela membongkar kembali tindak sewenang-wenang para petugas rezim apartheid yang menindasnya (dan juga tindak sewenang-wenang pejuang kemerdekaan pendukung Mandela sendiri). Proses itu mirip “pengakuan dosa” di depan publik.

Kemudian: pertalian kembali. Mandela menunjukkan, bahwa pembebasan yang sebenarnya adalah pembebasan bagi semua pihak. Bung Pram, saya ragu apakah Bung akan setuju dengan asas itu. Bung menolak ide “rekonsiliasi”, seperti Bung nyatakan dalam wawancara dengan Forum Keadilan 26 Maret 2000 pekan lalu. Bung menolak permintaan maaf dari Gus Dur. “Gampang amat!”, kata Bung. Saya kira, di sini Bung keliru.

Ada beberapa kenalan, yang seperti Bung, juga pernah disekap di Pulau Buru, di antaranya dalam keadaan yang lebih buruk. Mereka sedih oleh pernyataan Bung. Saya juga sedih, karena Bung telah bersuara parau ketidak-adilan. Justru ketika berbicara untuk keadilan. Bung terutama tak adil terhadap Gus Dur. Bagi seseorang dalam posisi Gus Dur, (Presiden Republik Indonesia, pemimpin NU, tokoh Islam, yang tumbuh dalam masa Orde Baru), meminta maaf kepada para korban kesewenang-wenangan 1965 berarti membongkar tiga belenggu yang gelap dan berat di pikiran banyak orang Indonesia.

Belenggu pertama adalah kebiasaan seorang pemimpin umat untuk memperlakukan umatnya sebagai kubu yang suci. Dengan meminta maaf, Gus Dur memberi isyarat bahwa klaim kesucian itu tak bisa dipertahankan, dan tak usah. Tiap klaim kesucian bisa jadi awal pembersihan dan kesewenang-wenangan. Dengan meminta maaf, diakui bahwa dalam peristiwa di tahun 1965 sejumlah besar orang NU, juga orang Islam lain – juga orang Hindu di Bali dan orang Kristen di Jawa Tengah – telah terlibat dalam sebuah kekejaman. Mengakui ini dan meminta maaf sungguh bukan perkara gampang. Bung Pram toh tahu tak setiap orang sanggup melakukan hal itu. Mungkin juga Bung sendiri tidak akan.

Dengan meminta maaf Gus Dur juga membongkar belenggu tahayul selama hampir seperempat abad: bahwa tiap orang PKI, juga tiap anak, isteri, suaminya, layak dibunuh atau disingkirkan. Gus Dur mencampakkan sebuah sikap yang tak mau bertanya lagi: adilkah yang terjadi sejak 1965 itu? Seandainya pun pimpinan PKI bersalah besar di tahun 1965, toh tetap amat lalim hukuman yang dikenakan kepada tiap orang, juga sanak keluarganya, yang terpaut biarpun tak langsung dengan partai itu. Kita ingat kekejaman purba: sebuah kota dikalahkan dan setiap warganya dibantai atau diperbudak.

Gus Dur agaknya tak menginginkan kezaliman itu. Ia, sebagai presiden, membiarkan dirinya dipotret duduk mesra dekat Iba, putri D.N. Aidit, yang hampir seumur hidupnya jadi pelarian yang tanpa paspor di Eropa. Dalam adegan itu ada gugatan: bersalahkah Iba hanya karena ia anak Ketua PKI? Jawaban Gus Dur: tidak. Tak banyak tokoh politik yang berbuat demikian, Bung Pram. Tak gampang untuk seperti itu. Gus Dur juga telah membongkar belenggu ”teori” tua ini: bahwa PKI selamanya berbahaya. Ia bukan saja minta maaf kepada para korban pembasmian massal 1965. Ia juga hendak menghapuskan larangan resmi bagi orang Indonesia untuk mempelajari Marxisme-Leninisme. Ia seperti menegaskan bahwa komunisme adalah masa lampau yang menjauh, gagal—juga di Rusia dan Cina. Memekikkan terus “bahaya komunis” adalah menyembunyikan kenyataan bahwa PKI jauh lebih mudah patah dalam perlawanannya dibandingkan dengan gerakan Darul Islam.

Siapa yang menghentikan masa lalu, akan dihentikan oleh masa lalu. Gus Dur tidak. Ia sering salah, tapi ada hal-hal pelik yang ia tempuh karena ia ingin masa lalu tak jadi sebuah liang perangkap. Ia memang bukan Mandela yang pernah dirantai. Tapi seorang korban yang memaafkan sama nilainya dengan seorang bukan-korban yang meminta maaf. Maaf bukanlah penghapusan dosa. Maaf justru penegasan adanya dosa. Dan dari tiap penegasan dosa, hidup pun berangkat lagi, dengan luka, dengan trauma, tapi juga harapan. Dendam mengandung unsur rasa keadilan, tapi ada yang membedakan dendam dari keadilan. Dalam tiap dendam menunggu giliran seorang korban yang baru.

Begitu sulitkah Bung menerima prinsip itu? Karena masa lalu seakan-akan menutup pintu ke masa depan? Sekali lagi: siapa yang menghentikan masa lalu, akan dihentikan oleh masa lalu.

Tapi mungkin juga Bung hanya bisa melihat korban sebagai perpanjangan diri sendiri. Seakan di luar sana tak mungkin ada. Dalam wawancara, Bung menyatakan setuju bila orang-orang yang tak sepaham dengan Revolusi disingkirkan (ini di masa “Demokrasi Terpimpin” 1959-1965, ketika sejumlah suratkabar dibrangus, sejumlah buku & film & musik dilarang, sejumlah orang dipenjarakan). Bung mengakui ini semua melanggar hak asasi. Dan Bung punya argumen: waktu itu “Perang Dingin” dan Indonesia dalam bahaya. Tapi kekuasaan apa yang berhak menentukan ada “bahaya” atau tidak? Dan jika adanya ”bahaya” bisa menjadi dalih penindasan, Soeharto pun menjadi benar. Ia juga dulu mengumumkan Indonesia terancam bahaya (”komunis”) di Perang Dingin, maka rezimnya pun membunuh, membuang, dan mencopot entah berapa ribu orang dari jabatan. Dan pengadilan dibungkam. Bung memang menambahkan: ingat, pelanggaran hak asasi waktu Bung Karno tak seburuk dengan yang terjadi di masa Orde Baru. Mochtar Lubis, korban Demokrasi Terpimpin, tak dikurung di Pulau Buru, tapi di Jawa. Memang ada perbedaan. Tapi adakah peringkat penderitaan? Bagaimana membandingkannya? Di mana ukurannya, bila di masa yang sama, apalagi di masa yang berbeda, ada yang ditembak mati, ada yang disiksa, ada yang di sel, ada yang di pulau?

Dalam sejarah kesewenang-wenangan, semua korban akhirnya diciptakan setara, biarpun berbeda. Suatu hari dalam kehidupan Pramudya Ananta Toer di Pulau Buru setara terkutuknya dengan suatu hari dalam kehidupan Ivan Denisovich dalam sebuah gulag Stalin. Tak bisa ada hierarki dalam korban, sebagaimana mustahil ada hierarki kesengsaraan.

Saya kira ini penting dikemukakan. Di zaman ketika sang korban dengan mudah dianggap suci, seorang yang merasa lebih ”tinggi” derajat ke-korban-annya akan mudah merasa berhak jadi maha hakim terakhir. Tapi seperti setiap klaim kesucian, di sini pun bisa datang kesewenang-wenangan. Mandela tahu itu. Gus Dur mungkin juga tahu itu. Keduanya merendahkan hati. Saya pernah mengharapkan Bung akan bersikap sama. Saya pernah harapkan ini, Bung Pram: bukan sekedar keadilan dan hukum yang adil yang harus dibangun, tapi di arus bawahnya, kebencian pun lepas, dan kemudian hilang, tenggelam. Saya tak tahu masih bisakah saya berharap.

* Tulisan GM ini dimuat di Majalah Tempo 3-9 April 2000, dan dimuat ulang dalam buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2004).

——————-

Saya Bukan Nelson Mandela foto Pram

(Tanggapan buat Goenawan Mohamad)

oleh Pramoedya Ananta Toer

 

Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika Selatan. Dia berharap saya menerima permintaan maaf yang diungkapkan Presiden Abdurrahman Wahid (Tempo, 9 April 2000), seperti Mandela memaafkan rezim kulit putih yang telah menindas bangsanya, bahkan memenjarakannya. Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia.

Di Afrika Selatan penindasan dan diskriminasi dilakukan oleh kulit putih terhadap kulit hitam. Putih melawan hitam, seperti Belanda melawan Indonesia. Mudah. Apa yang terjadi di Indonesia tidak sesederhana itu: kulit cokelat menindas kulit cokelat. Lebih dari itu, saya menganggap permintaan maaf Gus Dur dan idenya tentang rekonsiliasi cuma basa-basi. Dan gampang amat meminta maaf setelah semua yang terjadi itu. Saya tidak memerlukan basa-basi.

Gus Dur pertama-tama harus menjelaskan dia berbicara atas nama siapa. Mengapa harus dia yang mengatakannya? Kalau dia mewakili suatu kelompok, NU misalnya, kenapa dia berbicara sebagai presiden? Dan jika dia bicara sebagai presiden, kenapa lembaga-lembaga negara dilewatinya begitu saja? Sekalipun dalam kapasitasnya sebagai presiden, Gus Dur tidak bisa meminta maaf. Negara ini mempunyai lembaga-lembaga perwakilan, dan biarkan lembaga negara seperti DPR dan MPR mengatakannya. Bukan Gus Dur yang harus mengatakan itu.

Yang saya inginkan adalah tegaknya hukum dan keadilan di Indonesia. Orang seperti saya menderita karena tiadanya hukum dan keadilan. Saya kira masalah ini urusan negara, menyangkut DPR dan MPR, tetapi mereka tidak bicara apa-apa. Itu sebabnya saya menganggapnya sebagai basa-basi.

Saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia. Buku-buku saya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah lanjutan di Amerika, tapi di Indonesia dilarang. Hak saya sebagai pengarang selama 43 tahun dirampas habis. Saya menghabiskan hampir separuh usia saya di Pulau Buru dengan siksaan, penghinaan, dan penganiayaan. Keluarga saya mengalami penderitaan yang luar biasa. Salah satu anak saya pernah melerai perkelahian di sekolah, tapi ketika tahu bapaknya tapol justru dikeroyok. Istri saya berjualan untuk bertahan hidup, tapi selalu direcoki setelah tahu saya tapol. Bahkan sampai ketua RT tidak mau membuatkan KTP. Rumah saya di Rawamangun Utara dirampas dan diduduki militer, sampai sekarang. Buku dan naskah karya-karya saya dibakar.

Basa-basi baik saja, tapi hanya basa-basi. Selanjutnya mau apa? Maukah negara mengganti kerugian orang-orang seperti saya? Negara mungkin harus berutang lagi untuk menebus mengganti semua yang saya miliki.

Minta maaf saja tidak cukup. Dirikan dan tegakkan hukum. Semuanya mesti lewat hukum. Jadikan itu keputusan DPR dan MPR. Tidak bisa begitu saja basa-basi minta maaf. Tidak pernah ada pengadilan terhadap saya sebelum dijebloskan ke Buru. Semua menganggap saya sebagai barang mainan. Betapa sakitnya ketika pada 1965 saya dikeroyok habis-habisan, sementara pemerintah yang berkewajiban melindungi justru menangkap saya.

Ketika dibebaskan 14 tahun lalu, saya menerima surat keterangan bahwa saya tidak terlibat G30S-PKI. Namun, setelah itu tidak ada tindakan apa-apa. Dalam buku saya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang terbit pada 1990 juga terdapat daftar 40 tapol yang dibunuh Angkatan Darat. Tapi tidak pernah pula ada tindakan.

Saya sudah kehilangan kepercayaan. Saya tidak percaya Gus Dur. Dia, seperti juga Goenawan Mohamad, adalah bagian dari Orde Baru. Ikut mendirikan rezim. Saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali para intelektualnya; mereka selama ini memilih diam dan menerima fasisme. Mereka semua ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang saya alami. Mereka ikut bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan Orde Baru.

Goenawan mungkin mengira saya pendendam dan mengalami sakit hati yang mendalam. Tidak. Saya justru sangat kasihan dengan penguasa yang sangat rendah budayanya, termasuk merampas semua yang dimiliki bangsanya sendiri.

Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi. Dalam hitungan hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati, karena penyempitan pembuluh darah jantung. Basa-basi tak lagi bisa menghibur saya.

saut kecil bicara dengan tuhan

Posted: 04/03/2013 in Puisi

bocah laki laki itu
duduk sendiri
di tanah kering
di belakang rumah

diangkatnya wajahnya
yang kuning langsat
ke langit
yang kebiru biruan

matanya yang hitam
tak terpejam
asyik mengikuti gumpalan gumpalan awan
yang dihembus angin pelan pelan

Tropical Sky 2

dia tahu tuhan tinggal di situ
di langit biru di balik awan awan itu
karena begitulah kata Ibu
tiap kali dia bertanya ingin tahu

bocah kecil itu
masih terus memandangi langit biru
matanya yang hitam
masih terus tak terpejam

tapi dia tak mengerti
kenapa kadang kadang turun hujan ke bumi
membuat becek jalan di depan rumah
membuat dia tak boleh main di luar rumah

kalau di atas ada langit
apakah yang ada di bawah tanah ini
bocah kecil itu bertanya tanya dalam hati

mungkin di bawah tanah ini
sama seperti di atas sini, serunya dalam hati
ada pohon ada rumah rumah
ada tanah lapang di mana orang
main layang layang
dan tentu mereka mengira
di atas sini tinggal tuhan mereka!

dia mulai tersenyum
dia tahu sekarang kenapa kadang kadang turun hujan

tentu saja hujan turun dari langit
karena di atas sana tuhan sedang pesta
dan air hujan itu
tentu air yang dipakai mencuci piring gelas
sehabis pesta
sama seperti Ibu waktu cuci piring gelas
dan airnya hilang masuk ke dalam tanah

senyumnya makin lebar sekarang
dibayangkanNya anak anak mandi hujan
di bawah sana!

(Saut Situmorang)

tropical sky

samosir

Posted: 01/03/2013 in Puisi

TELE_9

 

menyusuri jalanan batu

di pinggang ramping bukitan batu

angin danau yang panas

bangkitkan amarah purba nenek moyang

 

anak anak negeri terkutuk!

langit mengirimkan asap racun

mencekik mimpi mimpi malammu

bau mayat embun debu

berhembus dari dada susut anak anakmu!

tertawalah terus dengan angkuh

tertawalah di tengah padang semak ilalang

yang menarikan tortor kematianmu!

 

menyusuri jalanan airmata

antara tugu tugu hantu

matahari membakar rambutku satu satu

jadi bukitan tandus

terkelupas hangus

menguap di didih air danau

yang diludahkan para leluhur

dari pusuk buhit dongeng kanak kanakku

 

21 maret 2002

(Saut Situmorang)