Archive for April, 2013

Perahu Mabuk

Posted: 19/04/2013 in Puisi

seascape abstract(antara Aku dan Kau

terbentang samudera

kata kata, o Imajinasi!

di manakah akan Kudapat

perahu mimpi

untuk melayariNya?)

 

 

I.

perahu kayu berlayar

di bibirnya dengan kain

layar penuh berkibar…

 

ahooi pelaut yang mabuk

birahi buih ombak di

laut malam!

kapan pulang

ke muara

yang penuh harum

rindu sungai bening

tempat kekasih mencuci

rambut remajanya!

 

ahooi suara ombak

yang menampar

perahu! muara sungai

muncul dari

balik kabut

seperti perawan

malu malu

di malam pertama

menyambut!

 

ahooi!

 

di sebuah batu karang

dekat garis pantai

yang hitam

di malam yang kelam

terdampar bangkai

seekor camar.

 

ahooi pelaut yang lupa pulang,

tak ada bulan

jadi mercusuar

jalan pulang

malam ini!

tidurlah di kayu perahu

sambil kau cumbu

bayang kekasih

di kibar layar!

 

hanya suara anjing

yang melolong

di kejauhan pantai

menemani sang penyair

menghabiskan araknya

di karang yang sekarang

penuh cahya kunang kunang

kehilangan perahu

dan cinta

yang ditelan

metafora muara

kata katanya… ahooi!

 

 

 

II.

aku tak mau

jadi mercusuar

pelayaranmu,

mercusuar yang sendiri

dalam dingin malam malam

kesepiannya,

 

yang melihat perahumu

menghilang di balik kabut pulau pulau karang

di kaki langit yang jauh

 

yang tak terjangkau.

 

aku mau jadi kibar layar

perahu yang membawamu

ke teluk yang paling putih pasirnya

 

paling lembut lambai nyiurnya,

 

tanpa mercusuar

penanda

mengintainya

bencana!

 

aku pun menolak

jadi bintang

penunjuk mata angin

malam malam pelayaranmu,

bintang yang begitu kecil

begitu jauh

 

dari belai lentik jari jari angin malammu.

 

kibarkanlah aku

sepenuh tiang

di jantung

perahu

layarmu!

 

kenapa takut

pada bayang malam

di buih ombak,

 

pada bayang badai di wajah bulan?

 

dengarlah nyanyian kibar layar

di seluruh perahu, di angin samudera,

menjanjikan teluk yang paling putih pasirnya

paling lembut lambai nyiurnya,

dengarlah!

 

aku ingin terbakar hangus

sampai mampus

oleh birahi

yang tak putus putus,

 

di manapun cinta terendus!

 

Jogja 2008

Saut Situmorang

Hujan dan Memori

Posted: 19/04/2013 in Puisi

-raining-sergey-selivanovmaukah kau kucintai dengan cinta yang pernah kecewa? masih murnikah cinta yang pernah kecewa? apakah cinta itu cuma cinta pertama? kalau cinta pertama memang tak punya makna, lantas punya maknakah cinta cinta berikutnya? aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa. maukah kau menerimanya? maukah kau mencintai cinta yang pernah kecewa? aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa, bukan dengan metafora metafora seperti penyair tua yang sok tahu tentang cinta itu! tapi apakah kau juga akan mencintaiku dengan cinta yang pernah kecewa?

air hujan yang jatuh dari wuwungan rumah selalu mengingatkanku padamu… entah kenapa, air hujan selalu mengingatkanku padamu. apakah air hujan juga selalu mengingatkanmu padaku? entah kenapa, air hujan selalu mengingatkanku padamu.

baiklah aku akan melupakanmu seperti kau sudah melupakan namaku waktu kemaren kita bertemu di tangga tangga batu di kota kecil yang jauh itu. aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat namamu. aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat wajahmu. aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat cintamu, dulu. mana mungkin hujan berhenti turun ke bumi, mana mungkin aku berhenti mengenangmu? mana mungkin kau berhenti melupakanku?

Jogjakarta, 18 April 2013

Saut Situmorang

What is Poetry Festival 2013 - South Africa-Zimbabwe

 

http://www.whatispoetry.net/

 

tidurlah cicak

Posted: 08/04/2013 in Puisi

Cicak Karo_small 2

tidurlah cicak walau dinding dinding terbakar

biarkan anak anak ayam berpesta atas ekor gadingmu

tidurlah cicak tidurlah

tidurlah cicak di atas ekor gadingmu

biarkan anak anak ayam dan dinding dinding terbakar

tidurlah cicak tidurlah

tidurlah cicak tidurlah tidurlah cicak tidurlah

cicak tidurlah tidurlah tidurlah tidurlah cicak

cicak cicak di dinding dinding

datang datang anak anak ayam

dinding dinding terbakar atas ekor gadingmu

tidurlah cicak tidurlah

mimpilah

anak anak ayam berpesta atas ekor gadingmu

di dinding dinding terbakar

cicak cicak di dinding dinding

tidurlah

tidur

(Saut Situmorang)

HARTO

Posted: 07/04/2013 in Puisi

Lirik : Saut Situmorang
Musik: Iwan Fals

 
Tuhan terlalu lama sudah tak kau panggil
Satu satunya yang tersisa
Diktator tua yang gila
Jahat licik tamak serakah
Tak peduli apa yang terlintas dalam jiwa rakyat Indonesia

Pesta gelak tawa dari pelosok negeri
Saat mengusir engkau nanti
Berjuta kepala terangkat lega
Terlintas nama seorang bajingan
Yang tak lepas dari namamu

Terbayang gebukmu, terbayang jahatmu
Terbayang jelas jiwa binatangmu
Bernisan serapah berkapan sumpah
Dari kami yang mengutuki orang
Sepertimu

(Wed, 13 May 1998 19:12:40 GMT+120)

 

Catatan:

Sajak ini adalah sebuah sajak lama dari periode milis “apakabar” yang sempat bertahun-tahun hilang di cyberia dan berhasil aku temukan kembali berkat jasa besar sobat John Koen. Terimakasih banyak buatmu, Koen!

darah

Posted: 04/04/2013 in Cerpen

-sebuah fiksi mini temuan buat Agus Noor

oleh Saut Situmorang

 

seorang cowok bernama Agnoor donorin darah buat ceweknya. tanda cintaku yang tulus dan murni kayak sajak Sapardi yang kau sukai itu, katanya pada sang kekasih di rumah sakit.

tapi beberapa minggu kemudian sang cewek memutuskan hubungan dengan Agnoor! Agnoor ketahuan ternyata sudah punya istri dan anak walo ngakunya masih perjaka tulen. dasar laki-laki! dasar bajingaaan!!! untung gue masih perawan!

kerna malu luar biasa, Agnoor jadi kalap dan keluarlah sifatnya yang sebenarnya, yang selama ini dia tutupi dengan tingkah laku yang sopan santun dan penuh pengorbanan terhadap sang kekasih.

“baik! putus ya putus tapi kembalikan darah yang gue donorin ke lu itu!” tereaknya sengit, persis kayak kawannya si Marco Sontoloyo, arsitek gagal yang jugak gemar tereak-tereak itu.

sang cewek mendelikkan matanya, membalikkan badan, lalu masuk ke kamarnya.

tak lama kemudian dia keluar dari kamar lalu melemparkan sebuah softex yang tepat jatuh ke wajah Agnoor.

“nih gue nyicil perbulan, oke!”
 

(Jogja, September 2010)