Archive for August, 2013

cover Keluargaku Yahudi Hidupku untuk Islamoleh Katrin Bandel

Saya harus mengakui bahwa saat mencari buku yang ingin saya bicarakan di sini di salah satu toko buku terbesar di kota saya, sesungguhnya saya merasa risih. Betapa tidak! Dengan judul Keluargaku Yahudi Hidupku untuk Islam, gambar sampul seorang perempuan kulit putih berkerudung dengan masjid di latar belakang, dan label “kisah nyata”, buku terbitan Zaytuna tahun 2012 ini terkesan seperti bacaan populer islami yang cenderung mengarah pada propaganda. Sampulnya diramaikan dengan keterangan nama sang mualaf yang dimaksud (gadis Yahudi yang masuk Islam), dicetak dengan huruf tebal di ujung kiri atas, mengalahkan nama pengarang yang tercetak dengan huruf yang lebih kecil. Maryam Jameelah, demikian namanya – dengan keterangan tambahan di bawah nama itu bahwa dia adalah “gadis Yahudi yang mengabdikan diri untuk Islam”, “menjadi intelektual Islam terkemuka”, dan “menulis lebih dari 30 judul buku yang mengilhami gerakan-gerakan Islam”.

Alasan mengapa saya mencari buku tersebut adalah karena versi aslinya dalam bahasa Inggris sudah saya baca lebih dulu. Dalam bahasa Inggris, karya penulis Amerika Serikat Deborah Baker tersebut berjudul The Convert, dengan subjudul A Tale of Exile and Extremism (2011). Memang seperti yang diiklankan sampul versi Indonesianya, buku tersebut merupakan biografi Maryam Jameelah, seorang perempuan Amerika Serikat yang masuk Islam pada tahun 1961, kemudian memutuskan untuk pindah ke Pakistan pada tahun 1962. Namun The Convert jauh dari perayaan yang diisyaratkan oleh sampul versi Indonesia.cover The Convert

Siapa perempuan bernama Maryam Jameelah itu? John L. Esposito dan John O. Voll dalam buku mereka Makers of Contemporary Islam (2001) mengangkat Maryam Jameelah sebagai salah satu di antara sembilan tokoh berpengaruh dalam pembentukan Islam kontemporer. Mereka membahas mualaf Amerika Serikat tersebut sebagai salah satu “suara Islam konservatif”, dengan catatan bahwa dia mulai aktif menulis pada sebuah masa dimana kehadiran suara perempuan masih sangat langka di dunia pemikiran Islam. Tulisan Maryam Jameelah banyak diterbitkan sejak tahun 1960an, baik dalam bahasa Inggris maupun dalam terjemahan ke bahasa Urdu, Arab dan bahasa-bahasa lain. Sejumlah bukunya juga diterjemahkan ke bahasa Indonesia, di antaranya Islam and Modernism (1971) yang diterbitkan sebagai Islam dan Modernisme oleh penerbit Usaha Nasional (1982). Salah satu topik utama dalam tulisan-tulisannya adalah kritik terhadap modernisasi yang cenderung disamakannya dengan westernisasi. Menurutnya, budaya Barat secara keseluruhan bersifat dekaden dan sangat perlu dijauhi. Seperti dirinya yang meninggalkan Barat dan menemukan pegangan dan kebahagiaan dalam Islam, dunia Islam perlu berhati-hati terhadap pengaruh Barat dan kembali kepada akar dan budayanya sendiri.

Maryam Jameelah merantau ke Pakistan atas undangan seorang tokoh penting, yaitu Abul Ala Mawdudi, pendiri Jamaah Islamiyah. Di rumah Mawdudi itulah dia tinggal setelah sampai di Pakistan, dan pada tahun 1963 dia kemudian menikah dengan Mohammad Yusuf Khan, seorang tokoh Jamaah Islamiyah. Sejak sebelum pindah ke Pakistan, Maryam juga tertarik pada ajaran Hasan al-Banna dan Sayyid Qutb, dan sempat berkorespondensi dengan Sayyid Qutb lewat Amina, saudara perempuan Qutb. Dalam kerangka orientasi pemikiran Islam politis semacam itulah Maryam Jameelah memaknai keislamannya, yang kemudian diekspresikan lewat tulisan-tulisan yang diterbitkannya.

Siapa Deborah Baker, dan mengapa dia menulis biografi Maryam Jameelah? Baker merupakan seorang biografer profesional, namun bukan dalam arti bahwa dia menerima pesanan penulisan biografi, atau mengangkat tokoh-tokoh besar untuk merayakan dan mengenangnya. Dalam bab pertama The Convert, Baker mengisahkan betapa pada dasarnya keputusannya untuk menulis biografi Maryam Jameelah berawal tanpa perencanaan khusus sama sekali. Baker berjumpa dengan nama Maryam Jameelah saat dia dia sedang sibuk memeriksa arsip perpustakaan umum di New York dengan tujuan memburu bahan penulisan. Perpustakaan tersebut menjadi tempat yang cocok untuk tujuan tersebut sebab di situ terdapat arsip mengenai berbagai macam tokoh yang seringkali namanya kurang dikenal atau dikenang masyarakat, namun yang kisahnya sangat mungkin menarik diangkat. Nama Maryam Jameelah ada di antara sekian nama lain di arsip tersebut. Baker tidak mengenal nama tersebut dan tidak memiliki spesialisasi di bidang tokoh Islam. Namun kehadiran satu nama Muslim di antara sekian banyak nama Kristen dan Yahudi ternyata memancing rasa ingin tahunya.

Di antara dokumen yang disimpan di situ ada beberapa buku Maryam Jameelah, tapi selain itu arsip tersebut lebih bersifat pribadi. Ada sekian banyak surat pribadi, terutama surat Maryam kepada orang tuanya, juga lukisan dan drawing yang dikerjakan Maryam. Uniknya, dokumen-dokumen tersebut rupanya sampai di perpustakaan itu atas kehendak Maryam sendiri. Dengan demikian, kutipan dari Mishkat al-Masabih yang dipakai Baker sebagai pembuka biografinya menjadi sungguh tepat: “Kalau seseorang melewati sebuah pintu yang tidak bertirai dan tidak terkunci, lalu ia menoleh ke dalam, maka ia tidak berdosa.” Tampaknya Maryam Jameelah sengaja membiarkan pintu menuju kehidupan pribadinya terbuka, dengan harapan akan ada seseorang yang tertarik menoleh ke dalam. Dan setelah Deborah Baker menghubunginya, ternyata Maryam memang tidak keberatan surat pribadinya digunakan dalam penulisan biografi. Dia juga tidak keberatan atas hasil akhir proyek penulisan tersebut, meski sempat mencatat bahwa sebagai non-Muslim Baker memiliki keterbatasan dalam memahami jalan hidupnya.

Menurut salah satu komentar yang dikutip di sampul versi asli The Convert, biografi tersebut mirip sebuah cerita detektif (komentar Ahmed Rashid, seorang wartawan Pakistan). Dan memang demikian adanya. Kisah Maryam Jameelah penuh teka-teki, dan kita diajak sang detektifnya, Deborah Baker, untuk mengikuti penelusurannya dengan tujuan mencari tahu siapa sebetulnya perempuan Amerika Serikat bernama Margaret Marcus yang kemudian menjadi Maryam Jameelah tersebut, dan bagaimana pengalaman hidupnya. Namun berbeda dengan cerita detektif pada umumnya, teka-teki kehidupan sang mualaf tersebut tidak pernah sepenuhnya terjawab. Informasi yang diperoleh lewat surat-suratnya, dan kemudian lewat sebuah perjalanan ke Pakistan untuk secara langsung menjumpai Maryam Jameelah dan mewawancarai beberapa orang yang mengenalnya, seringkali penuh pertentangan dan ambivalensi.

Seperti yang diakui Maryam Jameelah sendiri, di Amerika Serikat dia menjadi perempuan muda berprilaku ganjil yang cukup merepotkan keluarganya. Karena informasi yang ada hampir sepenuhnya berupa tulisan Margaret/Maryam sendiri, sulit dinilai tepatnya apa yang “salah” pada kelakuannya. Yang jelas, keganjilan prilakunya membuat orangtuanya demikian cemas sehingga mereka membawanya berobat pada seorang psikoterapis (ahli psikoanalisis), dan akhirnya Margaret bahkan masuk rumah sakit jiwa untuk beberapa waktu. Setelah keluar dari rumah sakit, dia kembali hidup bersama orangtuanya, tapi mereka semakin sulit menjalani hidup bersama. Margaret tampak tidak mampu hidup sesuai dengan norma masyarakatnya. Dia canggung dalam pergaulan dan sangat menjaga jarak dengan laki-laki sehingga orangtuanya kehilangan harapan dia akan berumah tangga. Namun untuk melamar pekerjaan pun dia enggan. Keputusannya untuk memeluk Islam tentu tidak membuat situasi tersebut lebih mudah. Orangtuanya semakin tidak sabar terhadap putri mereka yang berkelakuan aneh dan tidak sanggup (atau tidak mau) hidup mandiri tersebut. Dalam kondisi itulah Maryam akhirnya memutuskan untuk menerima undangan Mawdudi dan pindah ke Pakistan.

Dalam korespondensi sebelum berangkat ke Pakistan, Maryam Jameelah tidak merahasiakan kondisi pribadinya dari Mawdudi. Namun tampaknya Mawdudi mengira bahwa masalah-masalah pribadi dan psikis Maryam disebabkan terutama oleh ketidaksesuaian antara gaya hidup Barat dan nilai-nilai yang diyakini Maryam, dan dengan demikian bisa disebut wajar saja. Setelah hidup di dunia Islam, demikian harapannya, dengan sendirinya masalah tersebut akan terselesaikan. Namun pada kenyataannya, rumah tangga Mawdudi di Lahore pun kemudian dibuat resah oleh kehadiran Maryam. Sekali lagi kisahnya penuh teka-teki sebab Maryam beberapa kali menyembunyikan kondisi sesungguhnya dalam surat-suratnya, tapi kemudian meralat keterangannya sendiri dalam surat yang lain. Versi cerita yang diperoleh lewat wawancara dengan anak Mawdudi (Mawdudi sendiri sudah meninggal saat Baker ke Lahore) pun kerapkali berbeda daripada pengakuan Maryam sendiri. Tampaknya kelakuan Maryam di rumah Mawdudi dipandang ganjil dan bermasalah, dan dia sempat dipindahkan ke rumah keluarga lain di luar kota. Pada akhirnya sekali lagi Maryam terpaksa masuk rumah sakit jiwa untuk beberapa bulan.

The Convert merupakan biografi yang unik dan agak eksentrik sebab sang biografer (Deborah Baker) secara eksplisit ikut menghadirkan diri dalam kisahnya. Kita diajak mengikuti Baker bergelut dengan data yang diperolehnya. Menariknya, pergelutan itu bukan hanya menyangkut usaha untuk memastikan apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan Maryam Jameelah. Lebih jauh lagi, pertanyaan lain yang selalu dihadirkan sang biografer adalah: “Bagaimana saya mesti menilai semua ini?” Baker terombang-ambing antara simpati dan antipati. Di satu sisi, dia dapat beridentifikasi dengan keresahan Margaret/Maryam di tengah masyarakat Amerika Serikat tahun 50an dan awal 60an yang cenderung memaksakan konsep hidup yang seragam pada setiap warganya. Margaret/Maryam bukan satu-satunya misfit – demikian Baker menyebutnya – di tengah masyarakat tersebut, juga bukan satu-satunya yang berujung di rumah sakit jiwa. “Seniman, penyair, homoseksual, komunis, dan ibu rumah tangga tidak bahagia” pun bernasib serupa (The Convert, hlm. 126). Dengan kata lain, pengalaman Margaret/Maryam sejalan dengan pengalaman sekian banyak manusia lain yang tidak mampu atau tidak bersedia “menormalisasi diri” dalam sebuah masyarakat yang tidak menghargai keberagaman. Namun di sisi lain, Baker tidak menyembunyikan antipatinya terhadap pandangan dunia Maryam yang sangat hitam-putih. Dia muak membaca tulisan-tulisan Maryam yang mendemonisasi budaya Barat serta mendukung jihad dalam bentuk perang fisik, dan menggugatnya atas keterlibatannya dalam sebuah wacana radikalisme yang berujung pada kekerasan dan kebencian.

Meskipun perbandingan dengan cerita detektif memang mengena, pada akhirnya usaha memahami kisah dan pilihan hidup seorang manusia tetap tidak bisa disamakan dengan pekerjaan mencari pelaku sebuah tindakan kriminal. Berbeda dengan seorang detektif yang berkewajiban merekonstruksi kejadian “yang sebenarnya”, Deborah Baker justru menolak untuk menyatukan potongan-potongan informasi yang berseliweran dan saling bertentangan menjadi sebuah narasi yang lurus dan nyaman di hati. Misalnya, ada sebuah momen menarik dan agak mengejutkan dalam pertemuan Baker dengan Maryam Jameelah di Lahore tahun 2007. Maryam mendadak membuka rahasia pribadinya tentang sebuah pelecehan seksual yang dialaminya pada usia 8 tahun. Peristiwa semacam itu selalu ditanyakan terapisnya saat Margaret mengalami krisis di masa remajanya di Amerika Serikat, namun Margaret bersikeras menyembunyikan pengalamannya. Saat mendengar pengakuan Maryam di Lahore tahun 2007 itu, Baker menolak untuk kelewat mementingkan informasi tersebut. “Bagi banyak orang, [hal ini] akan menjadi penjelasan segalanya”, komentarnya (The Convert, hlm. 195). Namun dirinya tidak tertarik untuk berspekulasi lebih jauh mengenai makna dan implikasi pengalaman masa kecil yang baru terungkap itu.

Pada dasarnya, informasi pribadi tersebut memang sangat potensial dikaitkan dengan salah satu wacana mainstream seputar Islam, yaitu wacana yang memandang peraturan-peraturan yang membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam sebagai wujud represi terhadap seksualitas. Mengikuti logika pikir tersebut, pilihan Maryam untuk memeluk Islam dan pindah ke Pakistan bisa dipahami sebagai implikasi logis dari represinya terhadap trauma seksual yang dialaminya di masa kecil. Penjelasan simplistik semacam itu sangat dihindari Baker. Di tangannya, kehidupan subjek biografinya bukan menjadi sederhana dan mudah dimaknai, tapi justru sebaliknya: sang biografer seakan-akan sengaja terus-menerus mengingatkan kita betapa rumitnya kehidupan manusia.

Menjelang akhir buku The Convert, pergulatan sang biografer dengan subjek biografinya tersebut semakin memuncak. Baker secara eksplisit mengekspresikan kekecewaan dan kemarahannya terhadap pemikiran dan pilihan hidup Maryam Jameelah. Misalnya, Baker bertanya mengapa di satu sisi Maryam mengagungkan peran perempuan sebagai ibu, namun di sisi lain dia sendiri mengaku tidak cakap mengurus anak dan rumah tangga, sehingga istri pertama suaminya terpaksa mengurus semua anak mereka (termasuk anak Maryam) seorang diri. Pertanyaan penting lain adalah bagaimana Maryam bisa mempertanggungjawabkan buku dan pamflet-pamflet yang dia tulis dalam rangka merekrut anak-anak muda untuk “berperang di jalan Allah”. Menariknya, pada puncak pergulatan tersebut Deborah Baker menemukan jawaban justru dalam al-Quran. “Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (Al-Anfal, 61). Ayat itu dikutip Baker untuk dikaitkan dengan “perang” antara dirinya dan Maryam Jameelah. Maryam telah disuratinya untuk menyampaikan berbagai kritik, kekecewaan dan gugatan. Namun Maryam tidak menyerang balik, dan bahkan setelah mengetahui sikap Baker tersebut, Maryam tetap tidak keberatan dengan segala rencana penulisan Baker. Bukankah jelas sekali itu merupakan sebuah ajakan untuk berdamai?

Maryam Jameelah meninggal pada tanggal 31 Oktober 2012 di Lahore, kira-kira setahun setelah biografi The Convert diterbitkan. Dalam sebuah obituari yang diterbitkan di The Friday Times (sebuah mingguan berbahasa Inggris di Pakistan) Deborah Baker secara singkat mengisahkan perjalanan hidup Maryam Jameelah (The Friday Times edisi 9-15 November 2012). Tampaknya Baker berusaha untuk tetap menghadirkan kerumitan dan ambivalensi yang dia temukan pada kisah tokoh tersebut, meskipun tentu saja hal itu hanya bisa dilakukan secara sangat terbatas dalam tulisan sependek itu. Sebagai akibatnya, di halaman versi online mingguan tersebut segera muncul sejumlah komentar yang menyuarakan ketersinggungan. Pembaca yang berkomentar tersebut menolak “imaji buruk” yang konon diciptakan Baker, lalu menegaskan identitas Maryam Jameelah sebagai muslimah yang soleh, cerdas dan memberikan kontribusi berharga terhadap pemikiran Islam. Tampaknya, usaha Baker untuk menghadirkan kerumitan realitas kehidupan langsung dimaknai sebagai sebuah penghinaan.

Kisah hidup mualaf telah menjadi semacam genre tersendiri yang memiliki kekhasan tertentu. Kisah-kisah mualaf yang dapat ditemukan di berbagai media (terutama di media Islam yang berorientasi dakwah) umumnya merayakan keislaman mualaf tertentu, tidak jarang dengan memperhadapkan keyakinan dan gaya hidup yang ditinggalkan dengan apa yang ditemukan sang mualaf dalam Islam. Hal serupa secara ekstensif dilakukan Maryam Jameelah lewat tulisan-tulisan yang dipublikasikannya. Sebagai salah satu mualaf Barat pertama yang dikenal secara luas di dunia Islam, mungkin dia bahkan dapat disebut sebagai polopor genre kisah mualaf tersebut. Dalam konteks itu, bukankah sangat menarik bahwa disamping menerbitkan tulisan dengan retorika persuasif yang relatif hitam-putih tersebut, Maryam juga sengaja menyumbangkan surat, drawing dan dokumen pribadi lainnya ke sebuah arsip, lalu secara aktif mendukung penulisan sebuah biografi yang sangat jauh dari retorika hitam-putih publikasinya sendiri?

Mengingat sikap Maryam Jameelah tersebut, pantas disayangkan bahwa terjemahan The Convert ke dalam bahasa Indonesia justru dikemas dengan mengembalikannya pada retorika dakwah kisah mualaf. Namun meskipun demikian, tampaknya terjemahan itu sendiri tetap dikerjakan sesuai dengan aslinya (meski dengan kualitas terjemahan yang relatif terbatas), tanpa perubahan substansial sebagai penyesuaian dengan ideologi kemasannya (judul dan sampul). Dengan demikian, versi Indonesia sepantasnya diresepsi tetap sesuai dengan bobot aslinya, yaitu sebagai “sebuah kisah eksil dan ekstremisme” (sesuai subjudulnya) yang memberi kontribusi yang sangat unik dan menarik dalam memandang konstruksi wacana seputar “Islam” versus “Barat”, selain sebagai karya biografis yang menawarkan eksperimentasi gaya tulis yang menawan.***

Katrin Bandel, kritikus sastra, tinggal di Jogja

Saut Situmorang

Saut Situmorang

oleh Zamakhsyari Abrar – wartaone

Jakarta – Saut Situmorang, nama penyair ini, dalam beberapa tahun belakangan mencuat namanya dalam panggung sastra negeri ini. Lewat kritik-kritiknya yang tajam dan keras, ia menyerang Goenawan Mohamad dan kawan-kawan atas apa yang disebutnya sebagai politik sastra Teater Utan Kayu.

Bersama dengan penyair Wowok Hesti Prabowo, sastrawan yang lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, pada 29 Juni 1966, ini lalu menerbitkan jurnal Boemipoetra, sebuah jurnal yang terbit dwibulanan, wadah tempat mereka untuk menulis dan mengekspresikan tulisan untuk “menyerang” politik sastra Goenawan cs.

Terkait banyaknya reaksi yang kaget ketika membaca Boemipoetra, Saut menilainya hal itu wajar-wajar saja. Menurut pria berambut gimbal ini, selama pemerintahan Orde Baru, seniman kita memang tidak terbiasa berpolitik dalam kesenian.

Apa dan bagaimana Boemipoetra? Bagaimana tanggapan Saut terhadap pernyataan Goenawan yang beberapa waktu sebelumnya menyebut Boemipoetra tak lebih dari coret-coretan di toilet? Berikut petikan perbincangan WartaOne.com dengan Saut di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (9/7).

WartaOne (WO): Salah satu pemicu berdirinya Boemipoetra adalah karena sakit hati penyair Wowok Hesti Prabowo yang gagal masuk dalam pemilihan anggota Dewan Kesenian Jakarta pada 2006?

Saut Situmorang (SS): Seandainya pun itu benar, tak apa-apa toh. Karena kita tahu Dewan Kesenian Jakarta yang kemudian terbentuk, itu kan Dewan Kesenian Goenawan Mohammad. Mulai dari ketuanya yang namanya Marco K itu (Marco Kusumawijaya), sampai ke dalam bidang-bidang dalam Dewan Kesenian Jakarta. Misalnya sastra, di situ ada Ayu Utami, Nukila Amal, dan di situ juga ada yang kusebut antek-antek Goenawan Mohamad atau TUK, Zen Hae. Dan (kelompok Goenawan) itu juga ada di teater dan film.

Jadi Dewan Kesenian Jakarta yang kemudian terbentuk itu, semua orang bisa melihat bahwa jelas sekali itu Dewan Kesenian Jakarta versi Teater Utan Kayu. Kita tahu permainan Goenawan Mohamad di Akademi Jakarta mempengaruhi anggota-anggota lain supaya mereka itu terpilih. Dan bukan hanya Wowok saja itu yang ketendang keluar dari pemilihan itu, ada juga Ahmadun Y. Herfanda, dan juga Radhar Panca Dahana.

Jadi kalau misalnya itu dibuat semacam ejekan bahwa Wowok akhirnya memulai jurnal Boemipoetra karena sakit hati itu, ya ndak apa-apa. Itu wajar saja, sebab itu sebuah perlawanan terhadap manipulasi yang terjadi pada pemilihan anggota Dewan Kesenian Jakarta pada periode tersebut. Sebuah perlawanan yang konkret karena melahirkan jurnal Boemipoetra, yang kau tahu efeknya ya, sekarang Boemipoetra sudah terbit sekitar dua tahunlah.

WO: Boemipoetra mencoba menandingi wacana kebudayaan Goenawan Mohamad cs. Goenawan cs menurut saya menguasai wacana kebudayaan Indonesia, misalnya sastra, teater dan agama. Boemipoetra apa yang ditawarkan untuk menandingi mereka? Saya kok melihat Boemipoetra tidak menawarkan apa-apa?

SS: Aku sangat tidak setuju dengan pendapat itu bahwa kami tidak menawarkan apa-apa. Sekarang kita bicarakan apa yang kau bilang dominasi wacana kebudayaan Goenawan. Itu buktinya mana? Kalau Goenawan menguasai wacana teater, maksudnya apa? Kalau hanya sekadar mengerti teater, semua orang mengerti teater, mengerti sastra, semua orang mengerti sastra. Tapi kalau kau bilang menguasai wacana, maksudnya apa pernah dia menulis kritik sastra dan teater? Tidak pernah. Banyak orang seperti kau mengenal Goenawan Mohamad karena ia itu menjadi mitos dari catatan pinggirnya di Tempo. Mayoritas hanya mengenalnya dari catatan pinggirnya tadi. Sebagian besar mereka juga adalam pembaca Tempo, majalah kelas menengah ke atas. Bahasa catatan pinggir itu bahasa kelas menengah. Kalau kau benar-benar mau membahas catatan pinggir, itu enggak ada yang dibicarakan oleh Goenawan. Dia itu cuma bermain-main dalam retorika yang berbudi indah. Silahkan kau baca, tidak ada yang dibicarakan. Ia mengelak membicarakan isu yang merupakan judul dari setiap catatan pinggirnya. Ia bermain-main dalam retorika bahasa yang kosong.

Jadi kalau kau bilang Goenawan Mohamad itu menguasai macam-macam itu, begini aja, silahkan saja Goenawan Mohamad itu diskusi dengan Saut Situmorang dari Boemipoetra, topik apa aja, untuk membuktikan (pernyataan) itu. Karena justru mitos besar yang kosong inilah salah satu tujuan (berdirinya) Boemipoetra. Jadi pembaca itu disadarkan. Sebab kalau kalian baca tulisan, apalagi tulisan seperti Goenawan Mohamad, kalian tidak bisa membaca seperti membaca berita di koran. Karena kita berbicara soal politik retorika. Kebanyakan pembaca kita bacaannya paling-paling majalah Tempo, atau Kompas. Itu tidak cukup. Kalau Anda mau bergerak di dunia baca-membaca, apalagi seperti Goenawan yang dengan sadar mempermainkan retorika, enggak cukup. Bacaan harus lebih canggih lagi man.

WO: Wacana agama, misalnya, kelompok Teater Utan Kayu memiliki Ulil Abshar-Abdalla cs dengan JIL-nya?

SS: Kau salah. Kalau kau melihat komposisi redaksi Boemipoetra, itu macam-macam. Wowok itu orang buruh, saya Marxist, Kusprihyanto Namma itu Islam. Anda boleh ngomong macam-macam tentang Islam dengan Kusprihyanto. JIL itu apa? JIL itu labelnya aja yang Islam. Kalau kau mengerti apa yang disebut dengan Islam liberal, kau akan kaget bahwa itu adalah sebuah proyek besar disebut orientalisme, terutama oleh Amerika Serikat untuk mengacaukan Islam. Tokoh-tokohnya seperti Bernard Lewis dan lain-lain, orang yang mengaku Islam tapi menghina Islam. Jadi kalau berbicara JIL, Anda tak bisa melihat apa yang mereka omongkan. Anda harus tahu mereka berasal dari mana. Nah bacalah (buku) Edwar W. Said (Orientalisme), Anda akan tahu apa itu Islam liberal.

WO: Bukankah gejala kelompok seperti ini bukan gejala baru dalam sastra Indonesia. Di luar juga seperti itu?

SS: Ya, makanya. Itulah harus ada counter. Jadi kenapa ada Boemipoetra, seolah-olah dianggap anomali, aneh. Karena orang kita itu selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru, selama itu berkuasa Horison-Manikebu. Orang Indonesia itu sudah terlalu biasa untuk tidak berpolitik dalam kesenian. Jadi kalau melihat munculnya fenomena Boemipoetra yang menentang Goenawan Mohamad dengan Teater Utan Kayunya dalam perspektif sastra secara luas, bukan hanya karya ya, baik politik karya, politik kanonisasi sastra, informasi tentang sastra di dalam maupun luar negeri, orang pada kaget karena belum pernah terjadi sebelumnya (dalam sejarah sastra Indonesia). Banyak sekali polemik-polemik STA (Sutan Takdir Alisyahbana) dengan lawan-lawannya termasuk yang terakhir itu perdebatan sastra kontekstual, itu hanya membicarakan karya. Belum membicarakan sebuah isu. Sosiologi sastra, politik sastra, bukan semacam itu.

Nah ini sesuatu hal yang baru yang dibawa oleh jurnal Boemipoetra. Kalau Anda ingin tahu tentang perspektif yang lebih luas tentang perlawanan Boemipoetra terhadap Goenawan Mohamad dan TUKnya, saya baru menerbitkan kumpulan esei saya judulnya Politik Sastra.

Dalam buku itu, jelas sekali yang kami tawarkan, sesuatu yang selama ini dikoar-koarkan oleh GM yaitu pluralisme. Baik pluralisme dalam berpikir, pluralisme dalam berkarya. Mereka kan tidak. Lihat saja seleksi pengarang. Yang mereka undang, yang sama gaya menulisnya dengan mereka. Pernahkah mereka mengundang dalam acara bienale sastra itu pengarang Islam seperti Helvy Tiana Rosa? Atau pengarang yang mewakili suara buruh. Banyak sekali kan. Tidak hanya Wowok. Pernah gak? Kan enggak. Tapi yang diundang hanya pengarang-pengarang yang mengangkat cerita seks, sesuatu yang abstrak yang tidak ada dalam persoalan kehidupan sehari-hari. Berarti mereka itu menyeragamkan topik, menyeragamkan style of writing. Di sisi lain mereka berkoar-koar soal pluralisme dan macam-macam. Mereka tidak plural sama sekali. Mereka antipluralisme. Seperti Jaringan Islam Liberal. Kenapa rupanya kalau ada FPI (Front Pembela Islam), dan kelompok fundamentalis? Anda kan plural, Anda kan liberal, liberal itu kan plural. Siapa aja silahkan, atheis juga silahkan. Tapi kan tidak.

WO: Jadi yang diomongkan tak sesuai dengan perbuatan?

SS: Terbukti kan? Anda yang berseberangan ide, ideologi, style dengan mereka, dikucilkan. Buktinya Boemipoetra tidak setuju dengan mereka. Harus terima dong, kan mereka plural. Kalau mereka hanya menerima orang yang setuju dengan mereka, itu bukan plural. Itu seragam. Itu fasis namanya.

WO: Yang menonjol dari jurnal Boemipoetra adalah bencinya itu?

SS: Ya, kita harus benci waktu kita melawan sesuatu, bukan sayang, karena kalau sayang itu kan munafik. Kita benci dengan segala sesuatu yang mereka presentasikan. Seperti yang saya bilang tadi. Di Islam itu ada JIL, di sastra itu ada TUK, di dunia kesenian mereka itu ada Salihara. Ya, kita benci itu karena (mereka) tidak konsisten. Itulah politik kesenian.

Jadi pretensi orang selama ini bahaslah karya. Coba kita lihat. Selama ada sastra Indonesia, tidak ada kritik sastra. Coba sekarang bahas karya, GM tidak mampu. Apalagi Sitok (Srengenge), Nirwan Dewanto, tidak mampu apa-apa itu. Jadi mereka itu berpolitik sastra. Semuanya itu berpolitik sastra.

WO: Saya pernah mewawancarai Sapardi Djoko Damono terkait tidak adanya kritik sastra seperti yang dikeluhkan oleh Bang Saut. Menurut Sapardi, hal itu tidak benar. Banyak kritik sastra diproduksi dalam bentuk tesis dan disertasi.

SS: Itu tugas kuliah, bukan kritik sastra. Hahaha… Kalau benar kritik sastra, mereka kritikus dong yang menulisnya. Tapi gak kan? Itu tugas supaya dapat gelar sarjana. Beda. Kritik sastra itu sebuah profesi, seperti kau wartawan, tukang becak dan tukang bajaj. Kalau profesi itu ada karir, mulai dari bawah. Kritik sastra itu karir. Dan Sapardi juga bukan kritikus sastra. Dia gak ngerti apa-apa. Sapardi gak bisa bahas karya, baca aja semua kumpulan tulisan dia. Gak ada. (Tulisan) dia itu seperti opini Kompas aja. Opini itu lain, itu bukan kritik. Kritik itu kau menganalisis sesuatu, kau punya sebuah hipotesis, lalu kau buktikan. Kau bahas. Tidak bisa sekadar, oh temanya begini, tokohnya begini, dan mereka berantem. Itu namanya menceritakan kembali. Mengkritik bukan menceritakan kembali, tapi menganalisis cerita yang kau ceritakan kembali.

WO: Jadi problemnya sumber daya manusia?

SS: Sumber daya manusia kita sangat parah. terutama di dunia seni. tidak ada kritikus seni, baik teater, sastra. Tidak ada itu. tapi memang ini berangkat dari pendidikan yang anjlok itu. Kau lihat misalnya. Berani tidak mahasiswa mendebat dosennya di kelas? Pasti habis dia. Ini persoalannya di sini, kita memang diadakan untuk tidak kritis, kalau sistem pendidikan seperti ini di mana debat antara mahasiswa dan dosen, murid dan gurunya tidak diperbolehkan sama sekali, bagaimana akan ada kritik seni atau kritik kebudayaan? Itu awalnya, pendidikan kita diciptakan oleh Soeharto seperti itu untuk menurut. Siswa kerjanya sekolah, sks, lulus, mudah-mudahan dapat kerjaan, kemudian kawin mati.

WO: Saya sepakat dengan hal itu.

SS: Ya, gak akan mungkin ada satu elemen dari kebudayaan yang anjlok aja. Ini semua, struktural. Jadi kalau misal ada kerusakan ekonomi, di dunia politik partai, gak ada di situ aja. Itu gak akan terjadi kalau gak didukung oleh unsur-unsur lain, dalam berpikir, dalam cara orang beragama, bersekolah. Itu mendukung sistem ini.

WO: GM menganggap Boemipoetra cuma coret-coretan di toilet? Tanggapan Anda?

SS: Sama aja. Kami mengggap semua tulisannya juga cuma coret-coretan toilet di terminal bis umum. Gak apa-apa. Tapi persoalannya ketika dia ngomong begitu, apa pernah dia buktikan? Apa pernah dia kasih alasan? Kan gak pernah kan.

WO: Anda pernah menyamakan jurnal Boemipoetra dengan manifesto kaum Dada dan Surealisme Prancis? Apa itu tidak berlebihan?

SS: Lho, sekarang Anda sudah pernah baca manifesto kaum Dada dan Surealisme tersebut? Belum. Kalau belum, sulit saya menjelaskannya. Coba Anda baca manifesto mereka, seperti apa bahasa mereka? Itu majalah kecil juga, mereka juga menyebutnya jurnal. Nanti kalau saya jelaskan, Anda anggap pembelaan lagi.

WO: Jadi konkretnya seperti apa agenda kebudayaan jurnal Boemipoetra?

SS: Pertama pluralisme. Selama ini Utan Kayu mengklaim dirinya pluralis. Nah, kami itu mengkritik itu. Mereka itu sebenarnya antipluralis. Kedua, kita antiideologi Goenawan cs bahwa seks adalah satu-satunya standar estetika kesenian Indonesia. Orang kan bisa menulis tentang Islam, makanan, kan gak apa-apa dong. Mengapa harus seks yang dianggap paling hot? Semua oke, persoalannya bagaimana kau menuliskannya. Dan ketiga, kita antifunding asing. Kalau mereka sudah masuk, kacau dunia kesenian. Contohnya ya Teater Utan Kayu itu. (mak/mak)

Diambil dari situs: http://www.wartaone.com/articles/13125/1/Kegundahan-Sastra-Saut-Situmorang/Halaman1.html

Sumber: http://sastra-indonesia.com/2010/10/kegundahan-sastra-saut-situmorang/