Archive for the ‘Cerpen’ Category

Judul: Kotbah Hari Minggu
Penulis: Saut Situmorang
Kategori: Cerpen
Ukuran: 13×19 cm
Tebal: 94.000
Penerbit: Penerbit JBS
Harga: 50.000
Harga PO: 42.500
Pemesanan: 0818-0271-7528 (WA)

Preorder berlangsung hingga 6 Maret 2021.

Kembali hadir kumpulan cerpen Kotbah Hari Minggu karya Saut Situmorang. Di dalamnya termuat 10 cerita yang membawa kita, pembaca, tertawa sekaligus merenung.

Sebagian besar cerita-cerita yang ditulis Saut Situmorang dalam buku ini adalah cerita-cerita dengan permainan alur cerita yang dramatis. Dramatisasi yang dibangun dalam cerita-cerita, baik lewat gaya detektif maupun lewat permainan psikologis tokoh-tokohnya, memang bukan sesuatu yang baru. Namun di luar ketidakbaruan secara teknis bercerita, cerpen-cerpen Saut Situmorang bisa menjadi cermin yang memantulkan posisi serta tanggapan pengarang di dalam dan terhadap masyarakat atau lingkungannya. Dengan penuh ketelitian Saut Situmorang mengekstrapolasikan petualangan-petualangan riil dan literernya selama hidup di tanah Batak, Selandia Baru, Bali, hingga Yogyakarta.

Membaca cerita-cerita yang terkompilasi dalam buku ini, pembaca bisa menemukan cara Saut Situmorang melontarkan kritik terhadap terorisme, feminisme, operasi kekuasaan yang culas, dan ketumpulan akalbudi masyarakat kita yang tidak memiliki kemampuan untuk mengontekstualisasikan ajaran-ajaran agama dalam praktek sosial mereka.

Surat untuk Tuhan

Posted: 27/10/2013 in Cerpen

Oleh: Gregorio Lopez y Fuentes

Untitled by Colin McCahon

Untitled by Colin McCahon

Rumah itu – satu-satunya di lembah itu – terletak di puncak sebuah bukit yang rendah. Dari situ nampak sungai dan, setelah tempat kandang binatang, nampak ladang jagung yang sudah matang diselang-selingi bunga-bunga kacang yang menjanjikan musim panen yang baik.

Hanya satu saja yang dibutuhkan ladang itu saat itu: turunnya hujan, atau paling tidak gerimis. Sepanjang pagi Lencho, yang akrab dengan setiap lekuk ladangnya itu, tak henti mengamati langit bagian timur laut.

“Hujan pasti akan segera turun sebentar lagi.”

Istrinya yang sedang menyiapkan makan malam menjawab:

“Ya, mudah-mudahan.”

Anak-anak laki-lakinya sedang kerja di ladang sementara yang masih kecil-kecil bermain-main di dekat rumah waktu perempuan itu memanggil mereka:

“Makan malam sudah siap…”

Waktu mereka sedang makan malam hujan lebat pun turun, tepat seperti yang diramalkan Lencho. Di langit sebelah timur laut nampak awan-awan sebesar gunung berarakan mendekat. Udara sejuk dan segar.

Lencho beranjak ke luar rumah menuju kandang binatang hanya untuk merasakan nikmat air hujan di tubuhnya, dan waktu kembali ke dalam rumah dia berseru:

“Bukan air hujan yang sedang turun dari langit ini tapi uang! Gumpalan-gumpalan air yang besar adalah uang sepuluh centavo, dan yang kecil-kecil lima centavo…”

Dengan wajah puas dipandanginya ladang jagungnya yang penuh bunga kacang diselimuti tirai hujan.

Tapi tiba-tiba angin kencang berhembus dan bersama hujan mulai turun pula batu-batu es yang besar-besar. Batu-batu es itu kelihatan seperti uang perak benaran. Anak-anak laki-lakinya menghambur ke luar rumah dan mengutipi mutiara-mutiara beku itu.

“Hujan ini sudah mulai merusak sekarang!” teriak Lencho, cemas. “Semoga segera berhenti.”

Hujan tidak segera berhenti. Selama satu jam hujan batu es itu turun menghajar rumah, kebun, bukit, ladang jagung, seluruh daerah lembah. Ladang jadi putih seperti ditutupi garam. Tak satu pun daun tertinggal di ranting pohonan. Jagung semuanya rusak. Bunga-bunga tanaman kacang musnah. Lencho betul-betul sedih. Setelah badai itu berlalu, dia berdiri di tengah-tengah ladangnya dan berkata pada anak-anaknya:

“Wabah belalang pun masih menyisakan lebih daripada ini… Hujan es telah merusak semuanya. Tahun ini kita bakal tak punya jagung atau kacang…”

Malam itu adalah malam yang sangat menyedihkan.

“Semua kerja kita sia-sia.”

“Tak ada yang bisa menolong kita.”

“Kita akan kelaparan tahun ini…”

Tapi dalam hati mereka yang tinggal di rumah terpencil di tengah lembah itu ada satu harapan yang tinggal: pertolongan dari tuhan.

“Jangan terlalu bersedih walau semuanya ini seperti sebuah kehilangan total. Ingat, tak ada yang mati kelaparan!”

“Begitulah kata mereka: tak ada yang mati kelaparan.”

Sepanjang malam Lencho hanya berpikir tentang satu-satunya harapannya itu: pertolongan tuhan, yang menurut apa yang diajarkan padanya, melihat segalanya termasuk apa yang ada dalam hati nurani manusia.

Lencho adalah seorang pekerja keras, dia juga tidak buta huruf. Hari Jumat berikutnya setelah matahari terbit dan setelah berhasil meyakinkan dirinya akan keberadaan suatu zat yang akan memberikan pertolongan, Lencho pun mulai menulis sepucuk surat yang akan dibawanya sendiri ke kota untuk diposkan.

Surat itu tidak tanggung-tanggung ditujukannya kepada TUHAN.

“Tuhan,” tulis Lencho, “kalau Kau tidak menolong aku, keluargaku dan aku akan kelaparan tahun ini. Aku perlu seratus peso untuk menanami ladangku kembali dan untuk biaya hidup sampai panen tiba, karena badai hujan es….”

Dia menulis “KEPADA TUHAN” di amplop, memasukkan surat itu ke dalamnya dan, masih merasa sedih, berangkat ke kota. Di kantor pos ditempelkannya perangko dan dimasukkannya surat itu ke kotak surat.

Salah seorang pegawai kantor pos menemui atasannya sambil ketawa geli dan menunjukkan surat untuk tuhan itu. Belum pernah dalam sejarah karirnya sebagai tukang pos dia mengalami hal seaneh ini. Kepala kantor pos yang gemuk dan ramah itu juga terpingkal-pingkal dibuatnya tapi tiba-tiba dia jadi serius dan sambil meletakkan surat itu di atas meja, dia berkata:

“Betapa kuat imannya! Seandainya saja aku punya iman seperti orang yang menulis surat ini. Seandainya saja aku punya keyakinan sebesar keyakinannya ini. MENULIS SURAT KEPADA TUHAN!!!”

Untuk tidak mengecewakan iman luar biasa yang ditunjukkan sepucuk surat yang tak mungkin dikirimkan itu, kepala kantor pos itu mendapat satu ide: balas surat itu. Tapi waktu amplop surat dibukanya, ternyata untuk membalasnya, maksud baik, tinta dan kertas belaka tidaklah cukup. Tapi dia tetap pada pendiriannya. Dia lalu minta sumbangan uang dari para pegawainya dan dia sendiri menyumbangkan setengah dari gajinya, sementara beberapa kawannya dengan sukarela juga menambah “sumbangan kemanusiaan” itu.

Tapi tak mungkin untuk mengumpulkan uang sebanyak seratus peso, maka dia mengirimkan hanya sedikit lebih daripada setengah yang dibutuhkan petani itu. Dimasukkannya uang itu ke dalam amplop yang dialamatkan kepada Lencho dengan disertai secarik kertas yang hanya bertuliskan satu kata sebagai tanda tangan si pengirimnya: TUHAN.

Hari Jumat berikutnya Lencho datang lebih cepat dari biasanya ke kantor pos dan bertanya kalau ada surat untuknya. Tukang pos itu sendiri yang menyerahkan surat itu padanya sementara kepala kantor pos yang merasa bahagia telah melakukan sebuah perbuatan mulia mengintip dari pintu kantornya.

Lencho sama sekali tidak menunjukkan rasa heran waktu melihat uang dalam amplop itu – begitulah besarnya imannya – tapi dia malah jadi marah setelah menghitung jumlah uang tersebut… Tuhan pasti tidak membuat kesalahan, atau menolak apa yang dimintanya!

Cepat-cepat Lencho mendatangi loket dan minta kertas dan tinta. Di meja yang khusus disediakan untuk umum di kantor pos itu dia pun segera mulai menulis, sambil mengerutkan keningnya karena berusaha keras untuk mengutarakan isi pikirannya. Setelah selesai, dia pergi membeli perangko di loket yang lalu dijilat dan dilekatkannya ke amplop dengan pukulan tinjunya.

Begitu surat itu masuk ke dalam kotak surat, kepala kantor pos segera mengambil dan membukanya. Beginilah isinya:

“Tuhan, dari jumlah uang yang aku minta itu, hanya tujuhpuluh peso saja yang sampai ke tanganku. Kirimkanlah sisanya karena aku betul-betul membutuhkannya. Tapi jangan kirim uang itu lewat pos karena para pegawai kantor pos bajingan semuanya. Lencho.” ***

(Diindonesiakan oleh Saut Situmorang dari READER’S DIGEST GREAT SHORT STORIES OF THE WORLD (1972))

darah

Posted: 04/04/2013 in Cerpen

-sebuah fiksi mini temuan buat Agus Noor

oleh Saut Situmorang

 

seorang cowok bernama Agnoor donorin darah buat ceweknya. tanda cintaku yang tulus dan murni kayak sajak Sapardi yang kau sukai itu, katanya pada sang kekasih di rumah sakit.

tapi beberapa minggu kemudian sang cewek memutuskan hubungan dengan Agnoor! Agnoor ketahuan ternyata sudah punya istri dan anak walo ngakunya masih perjaka tulen. dasar laki-laki! dasar bajingaaan!!! untung gue masih perawan!

kerna malu luar biasa, Agnoor jadi kalap dan keluarlah sifatnya yang sebenarnya, yang selama ini dia tutupi dengan tingkah laku yang sopan santun dan penuh pengorbanan terhadap sang kekasih.

“baik! putus ya putus tapi kembalikan darah yang gue donorin ke lu itu!” tereaknya sengit, persis kayak kawannya si Marco Sontoloyo, arsitek gagal yang jugak gemar tereak-tereak itu.

sang cewek mendelikkan matanya, membalikkan badan, lalu masuk ke kamarnya.

tak lama kemudian dia keluar dari kamar lalu melemparkan sebuah softex yang tepat jatuh ke wajah Agnoor.

“nih gue nyicil perbulan, oke!”
 

(Jogja, September 2010)

TIRAI

Posted: 19/12/2010 in Cerpen

cerpen Saut Situmorang

Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Seekor kucing tiba-tiba saja muncul dari seberang jalan dan berlari melintas. Aku gugup dan berusaha menekan pedal rem kuat-kuat. Akibatnya sepeda motorku ‘slip’ dan menggelincir tak terkendali ke tepi jalan.

Aku lihat banyak orang berlarian ke tempat di mana badanku terkapar. Mereka lalu berkerumun di sekitarku. Segera saja lalulintas di jalan itu macet. Suara-suara klakson mobil dan sepeda motor begitu ramai, tapi tak membuat kerumunan orang di sekitarku jadi bubar. Malah semakin banyak orang yang datang berkerumun di situ.

Tak berapa lama terdengar sirene ambulance. Sebuah mobil ambulance berhenti tak berapa jauh dari tempat badanku terkapar. Orang-orang yang berkerumun itu mulai menjauh tatkala dari dalam ambulance keluar seorang polisi dan dua laki-laki berpakaian putih-putih. Kedua laki-laki itu membawa sebuah tandu yang juga berwarna putih. Mereka berjalan ke tempat di mana badanku terkapar.

Begitu melihat posisi badanku yang terjepit sepeda motor dengan darah berceceran di sekitarnya itu, nampak ada perubahan di wajah ketiga orang itu. Terutama kedua laki-laki yang berpakaian putih-putih itu. Kayaknya mereka agak ngeri melihat apa yang ada di hadapan mereka saat itu. Polisi itu lalu mengangkat sepeda motor yang menimpa badanku. Terdengar beberapa jeritan kecil dari tepi jalan saat sepeda motor itu diangkat. Kepalaku berdarah dan darah itu begitu banyak hingga membentuk sebuah genangan kecil di dekatnya. Helmku tak nampak, mungkin tercampak waktu sepeda motor itu tergelincir tadi. Juga tak ada bangkai kucing di situ. Hanya pecahan kaca bertaburan sampai ke tepi jalan.

Salah seorang laki-laki berpakaian putih-putih itu jongkok dan meraba tangan kananku, sementara si polisi sibuk berkomunikasi via walky-talkynya. Kemudian dia bangkit dan membisikkan sesuatu kepada polisi itu. Tak lama kemudian datang tiga orang polisi bersepeda motor dan setelah berbicara sebentar dengan polisi pertama tadi, dua di antaranya mulai mengatur jalannya lalulintas yang sempat macet itu. Kedua laki-laki berpakaian putih-putih itu dibantu seorang polisi mulai mengangkat badanku ke tandu dan menggotongnya ke ambulance. Lalu sambil memperdengarkan suara sirenenya yang meraung-raung panjang ambulance itu bergerak meninggalkan tempat itu.

Mereka menempatkan badanku di sebuah ruangan yang bertuliskan ‘EMERGENCY’ di atas pintunya. Laki-laki berpakaian putih-putih yang meraba tanganku tadi nampak mulai sibuk. Dia berganti-ganti memberi perintah kepada beberapa laki-laki dan perempuan yang juga berpakaian putih-putih yang ada di ruangan itu. Lalu dia mulai menekan-nekan dadaku dengan kedua telapak tangannya. Dia berbuat begitu sampai keringat bercucuran dari dahinya. Semuanya kelihatan tegang. Hanya si polisi yang terdengar masih tetap berwalky-talky di luar. Aku tak tahu berapa lama laki-laki berpakaian putih-putih itu menekan-nekan dadaku sebelum dia menghentikannya. Kembali dia menghapus keringat di dahinya. Kemudian dia berjalan ke arah pintu, membukanya dan menatap polisi yang juga sedang melihat padanya. Dia menarik napas sebentar sebelum menggelengkan kepalanya.

Mereka meninggalkan badanku dalam ruangan bertuliskan ‘EMERGENCY’ ini dengan sehelai kain putih menutupi seluruh badanku. Aku masih sempat tadi melihat perban yang membalut kepalaku sebelum ditutupi kain putih itu. Terlihat cukup jelas noda darah di situ.

Entah berapa lama tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncullah si laki-laki berpakaian putih-putih tadi. Lalu si polisi dan beberapa orang lain. Aku mengenali beberapa orang lain itu. Terutama seorang perempuan tua di antara mereka. Perempuan tua itu adalah ibuku. Dia kelihatannya sedang menangis, dan begitu kain putih itu dibuka, tangisnya pun menjadi-jadi. Bahkan dia setengah menjerit. Begitu pula beberapa orang lain yang adalah adik-adik kandungku itu.

Aku heran sekali. Mengapa mereka menangis seperti itu? Terutama ibuku. Oh, betapa senangnya aku melihat perempuan tua yang sangat kusayangi itu. Aku panggil dia. Tapi, dia tak menjawab. Menoleh pun tidak. Aku ulangi lagi memanggilnya. Tapi sama saja. Aku jadi tambah heran. Aku coba menyentuh tangannya yang sedang mengusap-usap wajahku. Kembali tak ada reaksinya. Dia tidak menggubrisku! Aku coba memanggil nama adik-adikku sambil mengguncang pundak mereka. Mereka juga tak menggubrisku dan tetap menangis keras-keras. Aku benar-benar penasaran jadinya. Aku benar-benar tak tahu mengapa mereka tak menggubrisku. Apakah mereka tak melihat aku? Apakah mereka semua sudah tuli hingga tak mendengar panggilanku? Aku benar-benar tak mengerti sikap mereka itu.

Laki-laki berpakaian putih-putih itu mendekati ibuku dan mencoba menghiburnya. Kulihat dia mengatakan sesuatu pada ibuku. Ibuku mulai menghentikan tangisnya walau masih terlihat punggungnya bergerak-gerak perlahan tanda dia berusaha menahan keluarnya tangisannya. Ibuku lalu mengusap airmatanya dengan ujung selendangnya. Adik-adikku pun berhenti menangis. Kini mereka semua memandangi wajahku dengan pandangan kasihan. Ya, mungkin mereka merasa kasihan melihat wajahku yang rusak itu. Tapi aku masih tak tahu mengapa mereka tadi menangis begitu aneh dan malah sampai tak menggubris tegoranku. Ini sungguh aneh. Apa mungkin karena mereka begitu sedih melihat keadaan badanku yang rusak itu hingga tak sadar kalau aku sedang memanggili mereka tadi? Ya, mungkin saja. Mereka memang pantas bersikap seperti itu karena wajahku benar-benar amat menyedihkan keadaannya.

Setelah tak ada lagi terdengar tangisan di ruangan itu, si laki-laki berpakaian putih-putih melihat pada si polisi dan memberikan isyarat dengan menganggukkan kepalanya. Si polisi lalu keluar dari ruangan itu.

Ibuku mencium wajahku sebelum laki-laki berpakaian putih-putih itu menutupnya kembali dengan kain putih. Airmata masih terus mengalir di wajah ibu. Selendangnya pun sudah basah. Sekarang ibu mengusap airmatanya dengan saputangan yang tadi diberikan oleh salah seorang adikku. Tak lama kemudian si polisi tadi muncul dengan dua orang lain yang berpakaian putih-putih. Mereka langsung berjalan ke arah di mana badanku sedang dibaringkan. Lalu kedua laki-laki berpakaian putih-putih itu mendorong bed tempat badanku terbaring ke luar ruangan. Di luar sudah menunggu ambulance yang membawa badanku kemari tadi. Aku lihat ibuku mulai menangis lagi. Dia masuk ke dalam ambulance dan duduk dekat bed tempat badanku berada. Begitu pula adik-adikku dan si polisi. Kembali terdengar suara raungan sirene waktu ambulance mulai bergerak keluar rumah sakit.

Ternyata di rumah sudah banyak orang berkumpul. Mereka sepertinya sedang menunggu kedatangan ambulance itu. Begitu ambulance tiba, tiba-tiba pula terdengar suara-suara tangisan dari dalam rumah. Ibu dan adik-adikku pun mulai lagi menangis keras-keras. Aku benar-benar tak mengerti. Apa yang terjadi pada mereka hingga terus-menerus menangis? Kalau cuma karena melihat keadaanku yang rusak, mengapa sampai begitu berlebih-lebihan tangisan mereka? Dan orang-orang yang berada di rumah, apa pula sebabnya mereka menangis? Mereka kan belum melihat badanku yang rusak? Aku benar-benar tak tahu apa jawabannya. Aku hanya diam saja memandangi mereka yang bersikap aneh itu. Aku tak mau lagi mencoba menegur ibuku, adik-adikku, atau siapapun di tempat ini. Aku yakin tak satu pun dari mereka akan menggubrisku. Mereka benar-benar membingungkanku.

Aku tiba-tiba melihat sesuatu yang aneh di samping rumah. Sebuah peti, tapi bentuknya agak panjang. Peti panjang itu kelihatan cantik, apalagi dengan adanya kain hitam yang membalutnya. Di salah satu ujungnya terdapat sebuah tanda besar. Tanda itu berwarna putih. Aku tak tahu tanda apa itu dan untuk apa peti panjang itu. Tanda itu juga nampak cantik di peti panjang itu. Aku suka melihat tanda aneh itu.

Aku tak mau masuk ke dalam rumah. Aku tak suka melihat keadaan di situ. Aku tahu mereka pasti sedang menangis di dekat badanku yang rusak itu seperti yang dilakukan ibu dan adik-adikku di ruangan yang di atas pintunya ada tulisan ‘EMERGENCY’ tadi. Mereka hanya akan menambah kebingunganku saja nanti.

Aku tak tahu berapa lama aku berdiri dekat peti panjang itu ketika datang empat laki-laki ke arahku. Aku gembira melihat kedatangan mereka. Aku yakin mereka pasti melihatku dan ingin berbincang-bincang denganku. Begitu mereka sudah dekat aku langsung menyapa mereka. Tapi, tak satu pun dari mereka membalas sapaanku. Aku ulangi lagi, kali ini sengaja kusapa mereka keras-keras. Tapi tetap saja tak ada balasan mereka. Malah mereka melewatiku dan berjalan menuju peti panjang itu. Lalu mereka mengangkatnya dan membawanya ke dalam rumah. Aku penasaran sekali melihat kesombongan mereka itu. Aku coba menahan kemarahanku dan kuikuti mereka dari belakang. Aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan dengan peti panjang itu.

Peti panjang itu sudah terbuka tutupnya dan terletak dekat badanku yang dibaringkan di tengah-tengah ruang tamu. Aku lihat kain penutup wajahku pun terbuka dan nampaklah wajahku yang penuh perban itu. Ibuku duduk dekat kepalaku. Airmata nampak di wajahnya yang agak bengkak itu. Begitu juga adik-adikku. Mereka terus-menerus memandangi wajahku yang sangat pucat itu. Seluruh ruang tamu penuh dengan orang-orang dengan wajah yang juga nampak berduka

Keempat laki-laki tadi mengangkat badanku dan memasukkannya ke dalam peti panjang itu. Lalu mereka mengangkat penutup peti ke atasnya. Setelah itu mulailah mereka memaku tepinya. Aku kaget sekali. Mengapa mereka masukkan badanku ke peti panjang itu lalu memakunya? Hendak mereka apakan badanku itu? Kembali kudengar suara-suara tangisan waktu keempat laki-laki itu mengangkat peti panjang berisi badanku keluar rumah. Aku buru-buru mengikuti mereka sampai mereka memasukkan peti panjang itu ke dalam ambulance yang masih menunggu di jalan depan rumah. Orang-orang di dalam rumah pun ikut keluar. Mereka kemudian masuk ke dalam beberapa mobil yang berbaris di depan rumah. Setelah semua mobil itu penuh, ambulance mulai bergerak meninggalkan depan rumahku, diikuti mobil-mobil itu, entah menuju ke mana.

Banyak sekali rumah-rumah kecil aneh di tempat ke mana badanku dibawa ini. Semuanya bersemen dan mempunyai tanda aneh seperti tanda di peti panjang berisi badanku itu. Keempat laki-laki tadi membawa peti panjang itu ke satu sudut di mana aku lihat terdapat satu lobang besar yang baru digali. Melihat lobang besar itu, aku tiba-tiba jadi gelisah. Aku berusaha menduga apa tujuan mereka membawa badanku kemari. Peti panjang itu mereka letakkan dekat bibir lobang besar itu sekarang.

Orang-orang dari rumahku tadi berkumpul di sekeliling lobang besar itu. Ibu dan adik-adikku berdiri dekat bagian kepala peti panjang itu. Lalu seorang laki-laki tua berpakaian hitam-hitam yang berdiri di sisi peti mulai bicara dan membaca sebuah buku kecil di tangannya. Lalu mereka semua mulai bernyanyi! Makin bingung aku melihat tingkah-laku orang-orang ini. Tadi menangis, sekarang mereka menyanyi! Bahkan ibuku pun ikut-ikutan menyanyi sambil sesekali mengusap airmata yang tak henti mengalir di wajahnya! Absurd!

Tapi aku justru makin gelisah dibuatnya. Aku berusaha menduga-duga apa arti dari semuanya ini tapi aku tetap tak mengerti. Entah berapa lama kemudian tiba-tiba keempat laki-laki tadi muncul dari kerumunan orang-orang di sekeliling lobang besar itu, mendekati peti, lalu memasukkan peti panjang yang berisi badanku itu dengan tali ke dalam lobang. Lalu laki-laki tua berpakaian hitam-hitam itu, ibuku, adik-adikku, dan yang lainnya mulai menjatuhkan gumpalan-gumpalan tanah ke dalam lobang itu!

Aku menjerit keras! Aku mencoba menahan mereka untuk tidak melanjutkan perbuatan mereka itu tapi tak ada yang menghiraukanku dan mereka terus memasukkan tanah ke dalam lobang itu! Aku berlari mendekati ibuku yang menangis di dekat lobang yang sudah mulai tertutup tanah itu. Sambil menggoncang-goncangkan badannya kuminta dia melarang orang-orang menimbuni lobang tempat badanku berada. Tapi, kembali usahaku sia-sia. Ibuku masih tetap tak menghiraukanku…

Aku menangis sedih. Aku menangis sedih dekat gundukan tanah berisi badanku ini. Aku masih terus menangis walau kini tinggal aku sendiri di tempat sunyi ini. Aku tak mengerti mengapa mereka lakukan semua ini.


Medan, April 1988- Jogja, Oktober 2005

(In Memoriam: Ibuku)

KOTBAH HARI MINGGU

Posted: 19/12/2010 in Cerpen

cerpen Saut Situmorang

 

Hari Minggu pagi. Tak ada mendung di langit, matahari bulat penuh kemerah-merahan seperti telor matasapi tergantung di ranting pohon jambu di depan rumah. Tiga ekor burung kutilang ribut di pucuk ranting jambu yang tinggi, sementara di bawahnya di tanah ayam-ayam kampung berebutan makan jagung. Terdengar suara anak menangis dari dalam rumah.

“Pagi yang indah,” kata Pak Pendeta sambil meminum kopi yang masih mengepulkan uap panas di atas meja. Dia baru saja bangun. Cuci muka dulu, lalu dia duduk menghadapai kopi panasnya. Sudah jadi kebiasaannya begitu. Bangun pagi, cuci muka, lalu minum kopi. Tanpa baju, hanya pakai sarung. Sudah jadi kebiasaan istrinya pula untuk bangun pagi, cuci muka, masak air, dan membuat kopi untuk dia, suaminya. Tentu saja dia pakai baju dan sarung.

“Pagi yang indah,” kata Pak Pendeta sambil meminum kopi yang masih mengepulkan uap panas di atas meja, di depannya. Suara tangisan anak tadi masih terus terdengar. Berasal dari kamar mandi di belakang rumah. Kadang-kadang terdengar juga suara perempuan, istri Pak Pendeta, sedang membujuk-bujuk anak yang menangis itu. Pak Pendeta baru tiga tahun kawin. Punya anak satu, laki-laki. Dan di rumah ini tidak ada orang lain yang tinggal bersama mereka kecuali mereka bertiga saja. Itulah sebabnya suara anak yang menangis di kamar mandi itu adalah suara anaknya dan yang sedang membujuk-bujuk anaknya yang menangis di kamar mandi itu adalah istrinya yang baru tiga tahun dikawininya.

“Pagi yang indah,” kata Pak Pendeta sambil meletakkan gelas kopinya yang sudah kosong ke meja di depannya. Meja itu terbuat dari kayu jati dan diberi taplak Ulos Batak. Sekarang matahari sudah agak tinggi dan anaknya sudah selesai mandi dan Pak Pendeta bangkit dan pergi ke kamar mandi. Seekor lalat terbang mengitari permukaan gelas kopi yang sudah kosong itu, hanya di dasarnya nampak sisa kopi, dan terus terbang mengitarinya selama beberapa detik sebelum akhirnya hinggap di tepi mulut gelas kopi yang sudah kosong di atas meja kayu jati bertaplak Ulos Batak itu.

Di kamar istri Pak Pendeta sedang sibuk membantu anaknya berpakaian. Mereka hendak ke gereja dan mereka masih punya banyak waktu untuk berpakaian. Dia sendiri belum mandi, hanya cuci muka dulu lalu masak air dan membuat kopi untuk suaminya, Pak Pendeta. Sudah jadi kebiasaannya juga, dia baru mandi setelah anak laki-lakinya yang menangis di kamar mandi tadi dan suaminya selesai mandi. Sekarang dia, istri Pak Pendeta, sedang sibuk membantu anaknya berpakaian di kamar anaknya itu.

Pak Pendeta sudah selesai mandi. Wajahnya berseri-seri, rambutnya agak basah, dan dia cuma memakai sarung saja keluar dari kamar mandi. Dia melihat pada gelas kopi kosong yang ada lalat merayapi dalamnya untuk minum sisa kopi di dasar gelas di atas meja kayu jati bertaplak Ulos Batak itu. Dia tersenyum. Pagi yang indah, gumamnya sambil masuk ke kamarnya. Hari ini adalah hari pertamanya memberikan kotbah setelah kepindahannya ke kota ini.

Giliran istrinya sekarang mandi. Anak laki-lakinya sudah selesai berpakaian dan tidak menangis lagi. Dia duduk di ruang tamu menunggu orangtuanya siap berangkat ke gereja.

Tak berapa lama kemudian mereka bertiga sudah berada dalam mobil. Pak Pendeta mengenakan pakaian barunya yang tadi malam disetrika rapi oleh istrinya. Sepatunya tersemir mengkilat. Rambutnya yang dipangkas pendek tersisir rapi ke samping. Dia nampak gagah. Dia tersenyum. Hari ini adalah hari pertamanya memberikan kotbah setelah kepindahannya ke kota ini. Istrinya juga berpakaian rapi. Wajahnya juga berseri-seri. Dia nampak jauh lebih muda dan sangat cantik. Anak laki-laki mereka merasa bangga sekali melihat kedua orangtuanya itu.

Pak Pendeta merasa beruntung sekali karena gereja barunya tempat dia sekarang bekerja menyediakan satu mobil untuk dipakainya. Mobil itu tidak baru, tapi karena dirawat baik oleh pemakai sebelumnya, yaitu pendeta lama yang digantikannya, jadi nampak seperti baru dibeli saja. Memang mobil itu sebenarnya baru dibeli oleh gereja untuk dipakai pendeta lama tadi. Jadi bisa dibilang mobil itu mobil baru juga. Pak Pendeta merasa beruntung sekali karena gereja barunya tempat dia sekarang bekerja menyediakan satu mobil untuk dipakainya jadi dia tak perlu repot-repot lagi memikirkan untuk membeli kendaraan untuk dipakainya sehari-hari. Tentu saja dia tahu menyetir mobil. Ayahnya almarhum adalah bekas pendeta dan sama seperti dia sekarang juga disediakan mobil untuk dipakai sehari-hari oleh gereja tempatnya bekerja. Waktu itulah dia belajar nyetir dan setelah bisa nyetir dia sering menyupiri ayahnya ke tempatnya kerja. Mengingat itu semua Pak Pendeta tersenyum lebar dan menoleh pada anak laki-lakinya.

Karena hari ini hari Minggu jalanan nampak lengang. Tak banyak kendaraan lalu lalang seperti waktu hari-hari kerja. Kayaknya orang merasa malas keluar rumah dan memilih nonton tv saja di rumah bersama keluarga. Mungkin juga karena berpikir kalau keluar rumah pasti keluar uang maka lebih baik menghabiskan liburan sehari di rumah saja. Tapi sudah beberapa kali Pak Pendeta melihat anak-anak muda ke gereja. Mereka berjalan di trotoar jalan dan nampak kitab suci Injil serta buku nyanyian di tangan mereka. Kebanyakan mereka anak-anak yang masih sangat muda usianya. Pak Pendeta gembira sekali melihat ini semua. Mulutnya terus menerus menyunggingkan senyuman lebar. Wajahnya berseri-seri. Tiba-tiba dibayangkannya bagaimana nanti meriahnya sambutan orang di gereja terhadap dirinya, pendeta baru mereka. Mereka akan dengan tekun mendengar kotbahnya. Dan setelah selesai acara kebaktian mereka akan datang menyalaminya sambil mengucapkan selamat datang. Mungkin juga bakal ada semacam acara selamat datang yang khusus untuknya. Bukankah dia juga mendapatkan hal yang sama waktu keberangkatannya dulu dari gerejanya yang lama? Pagi yang indah, gumamnya dan tersenyum-senyum. Di jalan nampak anak-anak berusia sangat muda berjalan ke gereja dan nampak kitab suci Injil serta buku nyanyian di tangan mereka. Pak Pendeta jadi ingin cepat-cepat sampai ke gereja barunya. Dia sudah tak sabar untuk melihat domba-dombanya. Dia sudah tak sabar untuk memberi makan domba-dombanya…

Waktu itulah kecelakaan itu terjadi. Tiba-tiba saja seorang pengendara sepeda motor muncul dari belakang dan menyalipnya. Untunglah dia seorang pengemudi yang berpengalaman. Walaupun kaget setengah mati dia masih dapat menguasai dirinya dan berhasil merem mobilnya meski tetap saja mereka terdorong cukup keras ke depan. Istrinya menjerit dan nampak pucat. Untunglah saat itu tak ada kendaraan lain di belakang mereka. Sulit dibayangkan apa yang bakal terjadi kalau ada satu atau tiga kendaraan lain membuntuti mereka waktu dia merem mobilnya dengan tiba-tiba tadi. Tapi sebentar kemudian perhatiannya sudah beralih ke arah muka. Rupanya sepeda motor tadi mengalami kecelakaan. Satu mobil sedan tiba-tiba muncul di persimpangan jalan dan meskipun mobil itu berjalan pelan kecelakaan tak terhindarkan lagi. Si pengendara sepeda motor terlempar dari sepeda motornya dan terbanting dengan keras ke aspal jalan dan sepeda motornya sendiri terseret sampai ke pinggir jalan. Mobil sedan yang tiba-tiba muncul di persimpangan jalan tadi melarikan diri dengan kecepatan tinggi. Di depannya sekarang di jalan berserakan kaca bercampur darah dan si pengendara sepeda motor tergeletak tak bergerak dan sepeda motornya hancur dan berlepotan darah. Istri Pak Pendeta pucat wajahnya. Anak laki-laki mereka diam tak berani bertanya apa-apa. Di tengah jalan berserakan kaca bercampur darah dan di tengah-tengah genangan darah si pengendara sepeda motor tergeletak tak bergerak.

Suara klakson mobil di belakangnya menyadarkan Pak Pendeta dan mobil mereka mulai bergerak pelan-pelan ke depan…


Hari Minggu pagi. Tak ada mendung di langit dan matahari bulat penuh kemerah-merahan seperti telor matasapi tergantung di atas jalan dan di tengah jalan berserakan kaca bercampur darah dan di tengah-tengah genangan darah si pengendara sepeda motor tergeletak tak bergerak. Di trotoar jalan nampak anak-anak berusia sangat muda berjalan ke gereja dan nampak kitab suci Injil serta buku nyanyian di tangan mereka.

Wellington 1993

PETI MATI

Posted: 19/12/2010 in Cerpen

cerpen Saut Situmorang

Aku sedang tidur lelap waktu tiba-tiba suara bel pintu mengagetkanku. Pukimak! makiku, terseok-seok jalan ke pintu. Dengan kepala masih setengah tidur aku buka kunci pintu dan ternyata tak ada orang! Aku keluar dan tetap tak ada orang di situ. Bangsat! Setan alas begu ganjang mana pula ini yang berani mengganggu tidurku pagi-pagi begini!

Tapi, apa itu? Di atas tanah di bawah tangga rumah nampak sesuatu seperti sebuah papan besar tergeletak. Aku segera turun. Belum lagi tiga anak tangga aku turuni, rasa heran mulai timbul padaku. Benda yang mirip papan lebar yang aku lihat tadi ternyata bagian penutup sebuah peti mayat yang masih baru yang tergeletak tepat di atas tanah di ujung tangga rumahku. Bah!

Setan mana pula ini yang berani main gila denganku sepagi ini!

Aku lihat tak ada orang di sekitar situ. Di jalan kecil depan rumah juga begitu. Untuk beberapa saat aku cuma berdiri termangu. Ngantukku sudah lenyap. Marahku menguap, jadi kehampaan rasa heran yang mustahil bisa kau bayangkan. Setelah beberapa waktu berlalu aku dekati dan perhatikan baik-baik peti itu dan memang terdapat satu sticker berisi nama dan alamatku di bagian penutupnya…

SAUT SITUMORANG
24 VOLTAIRE ST
KARORI
WELLINGTON
NEW ZEALAND

Hanya itu. Tak ada nama si pengirim, atau keterangan lainnya. Peti mati ini memang untukku!

Aku coba mengingat-ingat tapi aku yakin tak pernah aku pesan peti mati untukku. Untuk apa aku pesan peti mati walau ia mengkilat dan berukiran bagus begini? Pasti ada orang yang main-main denganku! April Fool’s Day? Tapi hari ini bukan bulan April. Hari ini… ah, baru aku ingat, hari ini 29 Juni, hari ulangtahunku! Pasti ada kawan yang main gila denganku. Diancuk!

Peti mayat ini cukup cantik. Kayunya kayu hitam yang kuat dan dipernis mengkilat. Peti mayat ini juga dihiasi dengan kain putih berenda seperti renda-renda kain jendela. Mengingatkanku pada peti mayat orang-orang kaya yang punya selera. Peti mayat ini pasti mahal harganya.

Walau begitu ini absurd! Hanya film-film Luis Bunuel yang penuh kejadian surrealis macam begini. Setahuku, aku tak punya kawan segila Bunuel. Justru akulah yang selalu mereka bandingkan dengan si Spanyol eksentrik itu! Ini sudah keterlaluan. Ini sudah melanggar hak asasiku. Tak bisa aku terima ini. Ini sudah lebih daripada sekedar black comedy. Ini penghinaan. Fucking shit!

Karena peti mati ini memang dialamatkan kepadaku tak mungkin aku membiarkannya tergeletak terus begitu saja di halaman rumah. Para tetangga bakal heboh dan polisi pasti akan datang untuk mengecek. Bisa berabe ini. Aku tak mau jadi objek ketawaan tetangga dan polisi dan mungkin juga negeri yang kecil ini. Di sini hal-hal sepele seperti kucing yang tak bisa turun pohon saja masuk Siaran Berita Nasional, apalagi berita sensasional seperti peti mati yang tiba-tiba muncul di depan rumahku ini! Aku tak mau masuk televisi karena alasan ini!

Ternyata peti mayat ini tidak begitu berat. Perlahan-lahan aku berhasil memundaknya naik ke rumah. Aku letakkan ia di ruang tengah. Dari celah gorden jendela aku intip keluar kalau-kalau ada orang yang kebetulan melihat. Syukurlah tak ada. Di sini hal-hal kecil juga bisa tiba-tiba jadi persoalan besar. Kalau ada orang misalnya melihatku memasukkan peti mayat ke dalam rumah, dia bisa berpikir yang bukan-bukan. Mungkin dikiranya aku baru membunuh seseorang dan ingin menutupi pembunuhan itu dengan cara menanam korbanku diam-diam. Di bukit di belakang rumah, atau juga di basement di bawah rumah. Lalu dia menelpon polisi dan tak tahulah aku bagaimana menjelaskan kepada polisi tentang keberadaan peti keparat ini. Yang pasti, polisi akan memeriksa semua sudut rumahku dan mencatat segala informasi tentang diriku dan akan terus mengawasiku dari waktu ke waktu. Dengan segala kecemasan ini di kepala, cepat-cepat kututup kembali pintu rumah.

Heran, aku kok tiba-tiba merasa sedih. Rasa sedih ini timbul setelah kembali aku mengamati peti mati di hadapanku ini. Walau memang sangat cantik, seperti namanya, peti ini adalah simbol kematian. Betapa berlawanan rupa peti ini dengan kenyataan yang ia wakilkan. Kematian selalu membuatku sedih. Tak ada yang lebih sedih daripada kehilangan seseorang karena mati. Kematian sangat menyedihkan karena tak adanya kemungkinan untuk bertemu lagi. Juga karena tak adanya kepastian ke mana kematian membawa yang mati pergi. Kematian adalah kehilangan total. Yang mati membusuk dilahapi berjuta ulat menjijikkan sampai yang tinggal cuma debu. Kematian adalah perusak nomor satu!

Tiba-tiba aku mulai menangis. Semua orang yang kukasihi yang sudah mati terbayang kembali. Tubuh mereka yang rusak yang hancur di perut bumi sangat menyakitkan hati. Aku benci mati! Aku tak mau mati! Peti keparat ini telah mengingatkanku pada mati yang sudah lama kucoba lupai.

Bangsat! Terkutuklah kau yang mengirim peti mati ini ke sini!

Seluruh badanku tiba-tiba gemetar dengan amarah. Kudekati peti mayat di hadapanku ini. Kuludahi ia seperti orang gila. Kumaki-maki dan kuterjang dengan jijik. Kuangkat tutupnya yang…

Oh! Kulihat tubuhku terbaring pucat di dalam peti mati itu!!!

Wellington 1995
Auckland 1998


BAH!

Posted: 14/08/2010 in Cerpen

cerpen Saut Situmorang

Malam itu aku datang lagi ke situ. Aku sudah sangat rindu pada perempuanku. Perempuanku yang manis, perempuanku yang pandai menghibur. Aku mempercepat langkahku, membelok ke gang terakhir menuju gerbang masuk perkampungan kecil dimana perempuanku itu tinggal.

Perkampungan itu sangat sunyi. Hanya beberapa anak kecil nampak sedang main kejar-kejaran dan dua-tiga perempuan berpapasan denganku. Mereka menyapaku dan kubalas dengan anggukan kepala.

Rumah perempuanku terletak agak di tepi perkampungan kecil itu. Rumah itu juga kecil. Hanya punya sebuah kamar tidur dan kamar mandi saja. Tak ada dapur dan perempuanku membeli makanannya di rumah makan di luar perkampungan atau pada para penjual bakso atau sate yang sering masuk ke situ. Mengingat perempuanku yang manis itu tanpa sadar aku mempercepat langkahku.

Tinggal seratusan meter dari rumah perempuanku, tiba-tiba kuhentikan langkahku. Aku lihat seorang laki-laki muncul dari dalam rumah itu. Laki-laki itu berdiri sebentar di ambang pintu, sepertinya sedang mengawasi sesuatu, lalu kembali menutup pintu rumah perempuanku. Aku jadi heran. Bukankah perempuanku sudah berjanji akan memberikan malam ini sepenuhnya untukku? Bukankah dia bilang tak akan ada orang yang akan mengganggu? Aku masih termangu-mangu di tempatku itu sambil mencoba mengingat-ingat perkataan perempuanku seminggu lalu waktu pintu  rumahnya terbuka lagi dan laki-laki tadi muncul kembali di ambang pintu. Kembali dia bersikap seperti sedang mengawasi sesuatu di luar rumah sebelum menutup pintu.

Rasa penasaranku makin menjadi-jadi hingga kuputuskan untuk mendatangi saja rumah perempuanku itu. Mulanya aku hendak masuk lewat pintu depan dimana laki-laki tadi berdiri, tapi segera kubatalkan. Aku ingin menyelidiki dulu siapa laki-laki itu dan kenapa tingkahnya aneh begitu. Untuk itu aku harus mengintip apa yang dilakukannya di dalam rumah perempuanku. Aku juga heran kenapa perempuanku sedari tadi tak pernah muncul-muncul. Apa dia tak ada di rumah hingga laki-laki tadi harus menunggunya? Mungkin laki-laki itu tak sabar menunggu begitu lama…

Baru saja tanganku meraba dinding rumah perempuanku, tiba-tiba aku dengar suara laki-laki dari dalamnya. Aku yakin suara itu pasti punya si laki-laki yang kulihat di pintu tadi. Suara itu agak berat dan kasar. Kayaknya dia sedang marah. Tapi, marah pada siapa?

Akhirnya aku berhasil memergoki sebuah lobang kecil dekat jendela. Kudekatkan mataku ke lobang itu dan coba melihat apa yang sedang terjadi di dalam rumah.

Mataku langsung melihat laki-laki tadi. Dia sedang duduk di atas ranjang perempuanku dan wajahnya menghadap ke arahku. Rasa-rasanya aku seperti mengenali laki-laki setengah baya yang sedang marah itu. Kucoba mengingat-ingat, tapi aku lupa. Kuamati lagi wajahnya yang bulat dan gempal itu, aku yakin aku mengenalnya. Tapi aku tetap lupa siapa namanya.

Sekarang kucoba cari perempuanku. Aku lihat kursi dekat cermin yang tergantung di dinding, kosong. Biasanya dia suka duduk di kursi itu sambil menyisir rambutnya. Aku jadi tambah heran. Aku lalu kembali ke tempat tidur. Laki-laki itu masih duduk di situ. Tiba-tiba dia bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu. Pada waktu itulah perempuanku nampak padaku.

Dia telungkup di atas ranjang. Wajahnya terbenam di bantal. Kulihat punggungnya bergerak-gerak tak teratur. Dia sedang menangis. Tapi, kenapa? Kenapa dia menangis dan kenapa laki-laki tadi kelihatan marah dan resah? Siapa laki-laki itu dan apa yang sedang terjadi di sini?

Laki-laki itu kembali menutup pintu dan berjalan ke arah tempat tidur dimana perempuanku sedang menelungkup menangis. Wajah laki-laki itu mengerikan sekali. Kemarahan yang sangat dahsyat memancar di matanya. Begitu sampai di tepi ranjang, tangan kanannya langsung bergerak ke kepala perempuanku. Dengan kasar dijambaknya rambut perempuanku yang panjang itu.

Perempuanku menjerit kesakitan tapi berusaha menahannya agar tak terdengar ke luar. Wajahnya basah airmata. Tiba-tiba kurasakan api kemarahan muncul dalam diriku. Aku mulai panas. Aku ingin mendobrak masuk dan menghajar laki-laki yang menyakiti perempuanku itu. Kurasakan badanku mulai gemetar.

Sambil melepaskan jambakannya, laki-laki itu mulai memaki-maki perempuanku yang sekarang duduk di atas ranjang dan menangis terisak-isak. Dia memakinya “lonte tak tahu diri”, “pelacur jorok”, “perempuan tukang serong” dan kata-kata kasar lainnya yang tak pantas diucapkan pada seorang perempuan, apalagi perempuan seperti perempuanku itu yang begitu manis dan pandai menghibur hati. Perempuanku tak menjawab sepatah kata pun dan hanya menangis  di atas ranjang sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.

Setelah puas memaki-maki, laki-laki itu lalu membentak perempuanku supaya berhenti menangis, melihat padanya, dan menjawab pertanyaannya. Perempuanku menurut. Dihentikannya tangisnya dan mengangkat wajahnya memandang ke arah laki-laki itu. Wajah itu basah dan nampak bengkak.

Dia bertanya tentang “siapa lelaki itu” dan minta perempuanku menjawabnya dengan jujur. Perempuanku cuma diam. Tak ada satu bunyi pun keluar dari mulutnya. Laki-laki itu mengulang pertanyaannya. Perempuanku tetap tak menjawab. Lalu diulanginya lagi pertanyaannya tadi. Karena tetap tak mendapat jawaban, tangan kanannya yang besar dan kasar melayang ke pipi kiri perempuanku. Plak! Perempuanku terjungkal ke belakang dan jeritan kecil keluar dari mulutnya.

Laki-laki itu lalu menarik rambutnya hingga dia kembali ke posisinya semula duduk di atas ranjang. Kemudian kembali tangannya melayang berkali-kali ke wajah perempuanku yang mulai berdarah itu. Kulihat bibirnya pecah dan darah ada di wajahnya, baju tidurnya, seprei, dan di tangan kanan laki-laki itu. Laki-laki itu lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebuah pistol kecil!

Kaget sekali aku melihatnya. Pistol kecil itu ditodongkannya ke dada perempuanku yang kini memandangnya dengan mata terbelalak ketakutan. Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa. Keinginanku untuk melabrak masuk terpaksa aku tunda.

Dari lobang dekat jendela itu kulihat laki-laki itu mulai tersenyum! Bangsat, apa orang ini sudah gila! Dia bisa tersenyum dengan pistol di tangannya ditodongkan ke dada seorang perempuan yang memandangnya ketakutan! Laki-laki ini benar-benar bajingan! Seekor binatang gila! Dia malah mengancam akan menembak perempuanku kalau tetap tak mau menjawab pertanyaannya itu. Katanya perempuanku lebih baik mampus daripada jabatannya sebagai walikota hancur.

Walikota! Aku ingat sekarang! Ya, aku ingat laki-laki ini adalah walikota kotaku yang sering kubaca beritanya di koran lokal dan sering muncul di tv lokal. Dia juga sering hadir di seminar-seminar yang diadakan di kampusku. Aku ingat siapa dia sekarang.

Laki-laki bajingan yang sekarang kupanggil si Walikota itu mengulurkan tangan kirinya ke arah dada perempuanku dan mulai meremas-remas kedua buah dadanya sambil tersenyum. Dia meremas-remasnya dengan kuat hingga perempuanku meringis kesakitan dan menggeliat-geliatkankan badannya. Kembali Walikota itu mengulangi pertanyaannya. Tapi tetap saja perempuanku tidak menjawabnya. Merasa kalau perempuanku tidak akan pernah menjawab pertanyaannya itu walau disakiti sekalipun, Walikota itu mulai hilang kesabarannya.

Dengan kasar dirobeknya baju perempuanku. Dirobek dan dirobeknya terus hingga perempuanku hampir telanjang bulat duduk di atas ranjang di depannya. Hanya kutang dan celana dalamnya saja yang tinggal. Lalu dipaksanya perempuanku membuka keduanya. Karena sangat ketakutan, perempuanku menuruti perintah Walikota yang sekarang juga mulai membukai pakaiannya sendiri itu. Lalu Walikota itu memperkosa perempuanku sementara pistol kecilnya ditodongkannya ke kepalanya.

Aku memejamkan mataku. Tangis perempuanku dan kemarahanku memukul-mukul kepalaku. Aku berusaha tenang. Aku berusaha mengendalikan amarahku karena kalau aku mendobrak pintu dan membuat Walikota bangsat itu gugup, terancamlah nyawa perempuanku. Aku tak mau perempuanku mati terbunuh setelah disiksa dan diperkosa. Walikota itu mesti mempertanggung jawabkan perbuatan biadabnya itu. Aku juga ingin tahu siapa laki-laki yang membuat Walikota itu begitu marah hingga membuatnya melakukan perbuatan gilanya terhadap perempuanku. Aku tak boleh kalap, aku tak boleh membuat keselamatan perempuanku terancam…

Aku tak tahu entah berapa lama berlalu ketika tiba-tiba kudengar suara “tep”, “tep” yang sangat halus dari dalam rumah. Lalu suara orang melangkah tergesa-gesa,  pintu dibuka, dan suara langkah di halaman. Lalu sunyi. Aku tak mendengar apa-apa lagi. Aku coba melihat ke dalam rumah lewat lobang kecil tadi. Perempuanku ada di atas ranjang, telanjang bulat. Walikota itu tak ada di dekatnya. Juga tidak di kursi dekat cermin. Walikota itu sudah tak ada di dalam rumah.

Aku segera berjalan ke pintu, kucoba dan terbuka. Sekarang dengan jelas kulihat darah di mana-mana dalam rumah perempuanku itu! Di atas ranjang kudapati perempuanku sudah tak bernyawa lagi, matanya terbelalak lebar, dan di dekat kepalanya yang penuh darah tergeletak sebuah pistol kecil yang juga berlumuran darah. Aku meraung keras. Baru saja aku membalikkan badanku hendak mengejar Walikota itu, kulihat di ambang pintu sudah berdiri kepala kampung, seorang polisi, dan Walikota itu sendiri. Lalu kudengar suara ribut-ribut di luar rumah dan…

“Tok! Tok! Tok!!!

Dengan ini Majelis Hakim menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara kepada terdakwa yang didakwa membunuh seorang wanita dengan cara menembaknya dua kali di bagian kepala dengan…”

Di antara para pengunjung sidang pengadilan, kulihat Walikota itu tersenyum mengejek padaku!

Wellington 1993