Archive for the ‘Puisi’ Category

  1. Kartu Identitas

Catat!
Aku orang Arab
Dan nomor kartu identitasku limapuluh ribu
Aku punya delapan anak
Dan yang kesembilan akan lahir setelah musim panas
Apa kau akan marah?

Catat!
Aku orang Arab
Bekerja dengan sesamaku di sebuah tambang batu
Aku punya delapan anak
Aku beri mereka roti
Pakaian dan buku
dari batu…
Aku tidak mengemis bantuan dengan mengetuk pintu rumahmu
Atau merendahkan diriku di tangga kamarmu
Jadi apa kau akan marah?
Catat!
Aku orang Arab
Namaku tanpa gelar
Bersabar di negeri
Yang penuh orang-orang marah
Akarku
Tertanam di sini sebelum lahirnya waktu
Dan sebelum dimulainya zaman
Sebelum pohon-pohon pinus dan pohon-pohon zaitun
Dan sebelum rumput-rumput tumbuh.
Bapakku… keturunan keluarga pembajak tanah
Bukan dari kelas priyayi
Dan kakekku… seorang petani
Bukan orang kaya ataupun orang sekolahan!
Diajarkannya aku tentang harga diri matahari
Sebelum mengajariku membaca
Dan rumahku seperti gubuk penjaga malam
Terbuat dari ranting pohon dan tebu
Apa kau sudah puas dengan statusku sekarang?
Aku punya nama tanpa gelar!

Catat!
Aku orang Arab
Telah kau curi kebun-kebun buah nenek moyangku
Dan tanah yang kugarap
Bersama anak-anakku
Dan tak ada lagi sisa bagi kami
Kecuali batu-batu ini…
Apa Negara pun akan mengambilnya juga
Seperti kata orang?!

Jadi
Catat di bagian atas halaman pertama:
Aku tidak benci
Atau akan menyerang orang
Tapi kalau aku kelaparan
Daging penindasku akan jadi makananku
Hati-hatilah…
Hati-hatilah…
Dengan lapar
Dan marahku!

1964

  1. Aku Milik Tempat Itu

Aku milik tempat itu. Aku memiliki banyak kenangan. Aku dilahirkan seperti setiap orang dilahirkan.

Aku memiliki seorang ibu, sebuah rumah dengan banyak jendela, saudara-saudara laki-laki, kawan-kawan, dan sebuah sel penjara

dengan sebuah jendela yang dingin menggigilkan! Aku memiliki ombak yang direbut oleh burung-burung camar dan panorama milikku sendiri.

Aku memiliki padang rumput yang basah embun. Di horison kataku, aku memiliki sebuah bulan,

makanan untuk burung, dan sebuah pohon zaitun yang tak mati-mati.

Aku sudah tinggal di negeri itu lama sebelum pedang membuat manusia jadi mangsa.

Aku milik tempat itu. Waktu sorga meratapi ibunya, kukembalikan sorga

ke ibunya.

Dan aku menangis biar awan yang pulang ke sana akan membawa airmataku.

Untuk melanggar aturan, aku pelajari semua kata yang dibutuhkan bagi pengadilan darah.

Telah kupelajari dan bongkar semua kata agar bisa kudapatkan

satu kata tunggal: Rumah.

  1. Di Jerusalem

Di Jerusalem, dan maksudku di antara tembok-tembok tuanya,
aku berjalan dari zaman ke zaman tanpa ada ingatan
memanduku. Para nabi di sana memiliki
sejarah yang sama tentang yang suci . . . naik ke surga
dan kembali dengan lebih berani dan melankoli, karena cinta
dan damai adalah suci dan kembali ke kota.
Aku berjalan menuruni lereng bukit dan berpikir: Bagaimanakah
para tukang cerita bisa saling tidak akur tentang apa yang dikatakan cahaya kepada batu?
Apakah dari sebuah batu yang bersinar suram terpercik perang?
Aku berjalan dalam tidur. Aku memandang dalam tidur. Tak
ada orang di belakangku. Tak ada orang di depanku.
Semua cahaya ini untukku. Aku jalan. Aku menjadi ringan. Aku terbang
lalu menjadi orang lain. Berubah. Kata-kata
muncul seperti rumputan dari mulut
nabi Yesaya: “Kalau kau tidak percaya maka kau tidak akan percaya.”
Aku berjalan seolah aku ini orang lain. Dan lukaku
seperti bunga mawar biblikal. Dan kedua tanganku seperti dua ekor merpati
di salib melayang-layang dan membawa bumi.
Aku tidak berjalan, aku terbang, aku menjadi orang lain,
berubah. Tanpa tempat dan waktu. Jadi siapakah aku ini?
Aku bukan aku dalam peristiwa kenaikan ke surga. Tapi aku
berpikir: Sendiri, nabi Muhammad
bicara dalam bahasa Arab klasik. “Lalu apa?”
Lalu apa? Seorang serdadu perempuan berteriak:
Kau lagi? Bukankah aku telah membunuhmu?
Kataku: Kau membunuhku . . . dan seperti kau, aku lupa mati.

  1. Aku Tidak Minta Maaf Kepada Sumur Itu

Aku tidak minta maaf kepada sumur itu waktu aku melewatinya,
Aku pinjam dari pohon cemara tua itu sebuah awan
dan meremasnya seperti jeruk, lalu menunggu seekor gazel
putih dan legendaris. Dan kuperintahkan hatiku untuk bersabar:
Bersikap netrallah seolah kau bukan bagian diriku! Di sini
para penggembala baik itu berdiri dan mengeluarkan
suling mereka, lalu membujuk burung puyuh gunung masuk
ke dalam jerat. Dan di sini aku pasang pelana ke kuda untuk terbang menuju
planet-planetku, lalu terbang. Dan di sini para pendeta perempuan
mengingatkanku: Hati-hatilah dengan jalan aspal dan mobil
dan melangkahlah dalam hembusan nafasmu. Di sini
kusantaikan bayanganku dan menunggu, kuambil batu terkecil
dan berjaga sampai larut. Kupecahkan mitos dan kupecahkan.
Dan kukelilingi sumur itu sampai aku terbang dari diriku
ke sesuatu yang bukan bagian diriku. Sebuah suara rendah berteriak kepadaku:
Kuburan ini bukan kuburanmu. Jadi aku minta maaf.
Kubaca ayat-ayat dari kita suci yang bijaksana, dan kukatakan
kepada yang tak dikenal di dalam sumur itu: Salam bagimu di hari
kau terbunuh di negeri damai, dan di hari kau bangkit hidup
dari kegelapan sumur!

  1. Sebuah Kalimat Kata Benda

Sebuah kalimat kata benda, tanpa kata kerja:
bagi laut bau tempat tidur
setelah bercinta … parfum asin
atau masam. Sebuah kalimat kata benda: rasa riangku yang terluka
seperti matahari tenggelam di jendelamu yang aneh.
Bungaku hijau seperti burung phoenix. Hatiku melebihi
kebutuhanku, ragu-ragu antara dua pintu:
masuk lelucon, dan keluar
labirin. Di mana bayanganku–pemanduku di tengah
kerumunan di jalan menuju hari kiamat? Dan aku
seperti sebuah batu kuno dengan dua warna hitam di tembok kota,
coklat kemerahan dan hitam, sebuah tonjolan ketakpekaan
terhadap para pengunjungku dan tafsir bayang-bayang. Menginginkan
untuk kala sekarang sebuah pijakan kaki untuk berjalan di belakang
atau di depanku, telanjang kaki. Di mana
jalan keduaku menuju tangga luas itu? Di mana
kesia-siaan? Di mana jalan menuju jalan?
Dan di manakah kita, berjalan di jalan setapak kala
sekarang, di manakah kita? Percakapan kita adalah predikat
dan subjek di hadapan laut, dan buih
ujaran yang licin adalah titik-titik di huruf,
menginginkan sebuah pijakan kaki bagi kala sekarang
di trotoar …

  1. Soneta V

Aku menyentuhmu seperti sebuah biola yang kesepian menyentuh daerah suburbia kota tempat yang jauh itu
dengan sabar sungai meminta bagian gerimisnya
dan, sedikit demi sedikit, sebuah esok yang berlalu di puisi-puisiku mendekati
maka kubawa negeri yang jauh dan aku dibawanya di jalan perjalanan

Di atas kuda betina kebajikanmu, jiwaku menenun
langit alami dari bayang-bayangmu, satu kepompong demi satu kepompong.
Aku adalah anak laki-laki dari apa yang kau lakukan di bumi, anak laki-laki luka-lukaku
yang menerangi mekar delima di tamanmu yang tertutup

Dari melati darah malam mengalir putih. Parfummu,
kelemahanku dan rahasiamu, mengikutiku seperti sebuah gigitan ular. Dan rambutmu
adalah tenda angin musim gugur berwarna. Aku berjalan bersama ujaran
sampai ke kata terakhir yang diceritakan seorang beduin ke sepasang merpati

Aku membelaimu seperti sebuah biola membelai sutra dari waktu yang jauh itu
dan di sekitarku dan kau tumbuh rumput dari sebuah tempat kuno–baru

Catatan:
Keenam puisi di atas diterjemahkan dari berbagai sumber terjemahan bahasa Inggris

Mahmoud Darwish (1941–2008) adalah penyair terbesar Palestina. Darwish memakai Palestina sebagai metafor hilangnya Taman Firdaus, kelahiran dan kelahiran-kembali, dan derita kehilangan dan eksil. Dia digambarkan sebagai inkarnasi dan refleksi dari “tradisi penyair politik dalam Islam, manusia aksi yang memakai puisi sebagai aksinya”. Dia juga pernah jadi editor beberapa majalah sastra di Palestina.

Darwish menerbitkan kumpulan puisi pertamanya Daun-daun Zaitun pada 1964, waktu berusia 22 tahun. Sejak itu, dia telah menerbitkan tigapuluh buku puisi dan prosa yang telah diterjemahkan ke lebih daripada duapuluh dua bahasa. Buku-buku puisinya antara lain Beban Kupu-kupu (2006), Sayangnya, Sorga: Seleksi Puisi (2003), Pengepungan (2002), Adam dari Dua Firdaus (2001), Mural (2000), Tempat Tidur Orang Asing (1999), Kenapa Kau Biarkan Kuda Itu Sendiri? (1994), dan Musik Daging Manusia (1980).

Mahmoud Darwish juga penerima berbagai penghargaan internasional, antara lain Lannan Cultural Freedom Prize dari Lannan Foundation, Lenin Peace Prize, and the Knight of Arts and Belles Lettres Medal dari Prancis.

Amsal Merah Marah

Posted: 13/05/2020 in Puisi

        

         “berikanlah kepada kaisar

         apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar

         dan kepada Allah

         apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”

 

tapi bagaimana

kalau kaisar itu bukan kaisar

dan menganggap dirinya sama dengan Allah?

 

orang orang kurus

yang bayangannya juga kurus

menengadahkan tangan mereka

ke langit

dengan desah napas tertahan

 

doa doa melambung ke udara

bagai ribuan balon kosong menghambur ke cakrawala

mengetuk ngetuk pintu langit

menggetarkan awan awan yang kering hujan

 

“sampai kapankah kami

mesti terus memberi

kering tulang kami

susut perut kami

sementara bumi sudah lama tak akrab lagi?”

 

di laut

sebuah pedal sepeda

tersangkut di celah karang

bau keringat mengerubunginya

bagai lalat lalat di tumpukan sampah di kota

 

orang orang kurus

dengan bayangan kurus

masih mengangkat tangan mereka

wajah wajah suram tergores kering airmata

 

“berikanlah kepada kaisar…”

 

ya burung tak bernama

yang mengerti bahasa cakrawala

terdengarkah detak jantung kami yang lemah

dari atas sana? adakah…?

 

padi tumbuh tapi layu jadi debu

keringat mengalir kering jadi debu

angin musim cuma membawa hujan debu

dalam tidur pun mimpi kami

tak bisa lari dari debu, debu, debu…

tapi di kota kota

yang cuma penuh serdadu serdadu tak berwajah

suara asing itu tak henti henti menyiksa

         “berikanlah kepada kaisar…”

 

orang orang kurus

bernasib kurus, sekarang tak sabar lagi

dengan langit.

bagai kerbau luka napas mereka mendengus – kota kota membara

terbakar hangus

di mata mereka yang merah marah!

 

(Saut Situmorang)

 

 

Anatomi Penyiksaan

Posted: 08/09/2019 in Puisi

mata
jangan kau menangis
walau tak henti sepatu sepatu tentara itu
menghajar dada.

mulut
jangan kau mengeluh
walau terbakar kulit daging
disundut rokok rokok itu.

kaki
jangan kau goyah
walau berjam jam kau berdiri
menahanku terpaksa.

perut
bertahanlah.
rasa mual yang amis itu
cuma listrik menggigit darah.

ah, dada yang malang
jantungmu sudah tak tahan
hampir pecah.
tegarlah, tegarlah
jangan kau sampai berkhianat

itu yang diinginkan mereka!

(Saut Situmorang)

Inilah Aku

Posted: 08/09/2019 in Puisi

inilah wajahku
yang kau siarkan di media massamu.
tak perlu lagi kau memburuku.

inilah tanganku
yang kau tuduh menulis hasutan hasutan itu.
tak perlu lagi kau memburuku.

inilah kakiku
yang kau katakan lari dari tanggungjawabku.
tak perlu lagi kau memburuku.

dan inilah dadaku
yang kau fitnah penuh benci pada negeriku sendiri.
tembaklah dengan senapanmu

kalau kau berani melawan nuranimu!

(Saut Situmorang)

Matamu

Posted: 04/02/2019 in Puisi

Matamu adalah hutan hutan nenek moyang yang ditebang jadi perkebunan sawit dan pabrik pupuk kertas

Matamu adalah gunung gunung suci keramat yang dicincang jadi emas dan tembaga

Matamu adalah lahan lahan subur gembur yang dicuri jadi pabrik pabrik semen

Matamu adalah danau biru berkabut yang disulap jadi tempat pembuangan kotoran babi raksasa

Matamu adalah kampung kampung damai tenteram yang dikutuk jadi hotel hotel bernama asing

Matamu adalah banjir dan kemacetan lalulintas yang tak henti menghantui pagi dan malammu

Matamu adalah anak anak yang menangis kelaparan tak punya uang untuk beli beras dan garam impor

Matamu adalah tangki gas yang meledak di dapur waktu kau dan istrimu bersenggama

Matamu adalah harga BBM yang terus naik tiap kali kau kendarai sepedamotor kreditanmu ke tempat kerja

Matamu adalah acara acara televisi yang menayangkan gaya hidup orang orang kaya termasuk waktu mereka shopping ke luar negeri

Matamu adalah para anggota DPR yang mengeluh gaji mereka terlalu rendah sementara mereka mengendarai mercedes keluaran terbaru

Matamu adalah polisi yang menembaki para mahasiswa yang sedang demo sambil memaki mereka anarkis dan teroris

Matamu adalah preman preman berjubah memukuli mahasiswa yang sedang diskusi buku sambil memaki mereka Komunis

Matamu adalah sang Presiden yang tak henti bilang “Bukan Urusan Saya”

Matamu adalah media massa yang membuatmu memilih presiden itu

Matamu adalah sang Penyair yang dilaporkan ke polisi dengan tuduhan “pencemaran nama baik dan kekerasan seksual verbal” di Facebook

Matamu adalah nenek tua yang dipenjarakan karena mau memakai ranting kayu dari halaman rumahnya sendiri untuk kayu api

Matamu adalah pejabat negara yang tersenyum di televisi waktu ditangkap karena korupsi

Matamu adalah suku suku rimba nomaden yang dipaksa negara untuk tinggal di kampung dan jadi beradab

Matamu adalah supermall dan supermarket yang menjamur menggantikan pasar pasar tradisional di seluruh negerimu yang miskin

Matamu adalah orang miskin yang ditolak rumah sakit di seluruh negerimu

Matamu adalah mata jutaan orang miskin yang marah dan tak tahan lagi menanggung semua ini menunggu meledaknya revolusi berdarah seperti sebuah gunung api yang lama mati

Matamu ada di mana mana

 

Jogjakarta 2015

Saut Situmorang

Negeri Terluka

Posted: 04/02/2019 in Puisi

Bahkan sejak kanak kanak pun
kita kena dusta!

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku… 

Tanah tumpah darahku! Tanah di mana darahku
tumpah oleh sangkur senjata tentara
oleh pistol polisi!

Bagaimana mungkin tanah di mana darahku
ditumpahkan oleh kekuasaan

masih harus kusebut tanah airku!

Dan para pelawak ramai ramai
ikut menyanyikan dusta itu
untuk menutupi bau busuk dari luka luka kita:

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman… 

MARI KITA IRINGI NYANYI MEREKA ITU DENGAN KOOR INI:

Orang bilang tanah kita tanah surga
Politikus dan ulama benar benar menikmatinya

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tentara polisi kerjasama dengan preman bela pengusaha

Orang bilang tanah kita tanah surga
Buruh dan tani tak lebih berharga dibanding asap pabrik dan pestisida

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman karena tak ada lagi hutan dan sawah!

 

Jogja, Desember 2014

Saut Situmorang

 

Borneo_clearcut_2000c

kota kota menggersang. hari hari jahat. hantu
srigala betina bangkit dari sela reruntuhan bangunan.

Drawing: Mohammad Sadam Husaen

Drawing: Mohammad Sadam Husaen

tak ada lagi damba
hanya
lumut dan bara api
menemani sepanjang hari.
aku disergap dentang kematian
dan aku terbakar hangus
dan aku lari tak tentu arah.
api memarak menghangus bajuku
sepasang tanganku
rambut kusutku. dan sambil berlari
aku menjerit memekik. tapi
tak ada yang peduli.
aku memandang ke depan dengan kedua mataku buta
dan ada pedih di sana
aku mendengar sekitarku dengan kedua kupingku tuli
dan ada suara-suara sumbang
buta dan tuli
tak mampu lindungiku
dari suasana hidup yang memilu

mata dan telinga hati
membebani!

1987

Saut Situmorang

my country where my mother lived and died
giving birth to five deaths, five silent deaths
silence of little babies lying cold on the tears-stained sheet of the bed
all the dreams, all the hopes of a noisy future
cut off and sliced by five angels of death
angels of envy, angels of burning crosses
angels that only dared to scare five little new born babies…

my country the land where my mother lived and died
forty eight years of cries and cries
and still more cries, sad and accepting cries
the silent cries that shamed the bright blue sky
that shamed the sun and the moon of the tropical sky
that shamed the great ancient tree of life
in the old square of the distant village
village of childhood, of a little girl too generous
for the arrogant world, the world of big-headed nonsense men
forty eight years of praying in the middle
of the nights, frightening nights of ancestors’ ghosts
and a drunkard husband
long lonely nights of a little country girl
lost in the labyrinth of big cities’ cheats and deceptions

my country the country of deep blue sea, deep blue sorrowful sea
the country of burning trees, burning birds, burning monkeys
the rivers dirty and choked like a diseased throat
and the countrymen walk aimlessly and stiff like skinny starved zombies

I cry for you, beloved land where my mother lived and died
land of blood thirsty green dogs roaming the dimly lit city streets
with hot bullets firing each time they barked
each time they howled at the half moon
which would never again become full
they howled and howled and barked and howled
and hot bullets, cursed hot white bullets like rain hitting everything
the sun the moon the stars the fishes in the black rivers
the birds hiding under rotten burnt branches the tigers the elephants
in the burning forests
the skinned snakes hanging from the houses’ roofs
houses of dust in burning cities of dust
air of dust water of dust voices of dust
and thin brown shadows
millions of thin brown shadows
under the evil watchful eye of a mad old general

Indonesia
my county, my mother…

(Saut Situmorang)

Haiku - such boredom

YOUR EYES

Posted: 20/04/2015 in Puisi
Tags:

Your eyes are ancestral forests cut down for palm-oil plantations and pulp mills

Your eyes are sacred mountains dissected for gold and tin

Your eyes are fertile lands stolen for cement factories

Your eyes are mist-covered blue lake transformed into a giant pigsty

Your eyes are beautiful peaceful neighbourhoods cursed into foreign-name hotels

Your eyes are floodings and traffic jams haunting your mornings and nights

Your eyes are children crying starving not enough money to buy imported rice and salt

Your eyes are gas tanks exploded in the kitchen when you are making love with your wife

Your eyes are petrol price raised every time you ride your credit motorbike to work

Your eyes are the television programs showing how the rich live and do their shopping overseas

Your eyes are members of parliament complaining how low their salaries are while driving brand new mercedes

Your eyes are the police who shoot protesting students calling them anarchists and terrorists

Your eyes are the thugs dressed in religious clothings beating up students who are discussing book calling them communists

Your eyes are the president who keeps saying, “Sorry, it’s none of my business”

Your eyes are the media who made you elect the president

Your eyes are the outspoken poet reported to the police accused of “defamation, libel and verbal sexual violence” in Facebook

Your eyes are old women imprisoned for using the tree branches in their own property for firewood

Your eyes are state officials smiling on television after being arrested for corruption

Your eyes are nomadic indigenous tribes forced by the state to live in permanent villages and be civilized

Your eyes are supermalls and supermarkets mushrooming replacing the traditional markets all over your poor Third World country

Your eyes are the poor being refused emergency health care by hospitals all over your country

Your eyes are sick and tired brown eyes of million angry poor brown people waiting for a bloody brown revolution to explode like a long dead supervolcano

Your eyes are everywhere

(Saut Situmorang)