Archive for the ‘Wawancara’ Category

Saya Arpan Rachman menulis untuk globalvoices.org . Saya ingin mewawancarai Anda terkait kejadian yang Anda alami. Kalau tidak keberatan, sudilah Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
Arpan Rachman (AR):
Anda digugat dalam kasus pencemaran nama baik karena komentar Anda di Facebook. Apakah Anda pikir gugatan ini masuk akal?
Saut Situmorang (SS):
Baru sekali ini dalam sejarah Sastra Indonesia terjadi hal memalukan ini. Komentar di Facebook tentang Politik Sastra yang berkaitan dengan munculnya seseorang yang diklaim sebagai seorang “tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh” yaitu Denny JA telah dikriminalisasi dengan memakai sebuah undang-undang tentang internet yang bermasalah dan ditolak oleh banyak ahli hukum dan para aktivis HAM yaitu UU ITE. Gugatan tersebut sangat absurd dan tidak masuk akal karena jelas bertujuan untuk mengalihkan isu dari Debat Sastra ke Hukum. Bahasa yang biasa dipakai dalam dunia Sastra dan Seni pada umumnya telah dihakimi moralitas-nya dengan memakai standar bahasa Hukum!
AR:
Bagaimana latar belakang komentar Anda itu sebenarnya? Apakah terkait dengan karya sastra atau kegiatan sastra tertentu?
SS:
Komentar tersebut saya tulis dalam sebuah grup Sastra Indonesia di Facebook bernama “Aliansi Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” yang dibuat khusus untuk menolak penyusunan dan penerbitan buku berjudul sensasional “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” di mana terdapat nama “Denny JA” sebagai salah satu tokoh sastra paling berpengaruh dimaksud. Berarti jelas konteks dari komentar saya tersebut adalah Sastra yaitu peristiwa penyusunan dan penerbitan buku sejarah Sastra Indonesia yang kebenaran isi bukunya DITOLAK oleh para Sastrawan Indonesia. Buku tersebut secara universal dalam dunia Sastra kita dianggap sebagai manipulasi dan penipuan sejarah Sastra kita! Hal ini terbukti dari banyaknya terjadi acara-acara sastra yang diadakan sebagai penolakan atasnya di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan bahkan di Kairo, Mesir oleh para mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar!
AR:
Kira-kira, menurut Anda, mengapa penggugat merasa nama baiknya Anda cemarkan?
SS:
Pertanyaan ini hanya dia sendiri yang bisa menjawabnya.
Tapi sebagai bahan pertimbangan: Fatin Hamama yang menggugat saya itu telah dicap sebagai Makelar Sastra oleh beberapa sastrawan Indonesia yang merasa telah dikibulinya dalam sebuah proyek buku “puisi esai” di mana Fatin Hamama sangat terlibat dalam penyusunan dan penerbitannya. Penyair Ahmadun Yosi Herfanda (bekas redaktur sastra harian Republika, Jakarta) merupakan orang pertama yang memakai istilah tersebut, lalu diikuti oleh penyair Iwan Soekri Moenaf. Beberapa penyair lain menuliskan protes mereka terhadap Fatin Hamama atas penipuan yang mereka alami di atas dengan nada tulisan yang sama yaitu mengklaim bahwa mereka adalah korban Fatin Hamama. Dua penyair yang jadi korban Fatin Hamama dalam proyek buku kumpulan puisi esai di atas bahkan mengembalikan honor puisi mereka ke Fatin Hamama dan meminta agar puisi-puisi mereka dalam buku dimaksud (kalau tidak salah judul buku bermasalah itu “23 Penyair Kondang Indonesia”) ditarik! Kedua penyair itu adalah Ahmadun Yosi Herfanda sendiri dan Sihar Ramses Simatupang.
Nah sekarang “nama baik” siapa yang konon saya cemarkan itu? “Nama baik” yang mana itu?!
AR:
Anda dituntut 7 bulan penjara karena sepatah kata “Bajingan.” Dulu, Darmanto Jatman juga bilang begitu kepada Rendra dan Rendra tidak menuntutnya. Apakah Anda tetap akan membandingkan perdebatan antara Anda vs Fatin Hamama dengan Jatman vs Rendra sebagai salah satu alasan untuk membela diri?
SS:
Fakta sejarah antara Darmanto Jatman vs Rendra itu sangat baik dan kontekstual untuk dijadikan salah satu poin pembelaan di pengadilan. Untuk membuktikan betapa isu “pencemaran nama baik” TIDAK ada dalam pergaulan dunia Sastra dan Seni pada umumnya dan hanya mereka yang tolol goblok tentang dunia Sastra dan Seni saja yang gemar memakai isu mengada-ada ini untuk merespon romantika bahasa pergaulan Sastrawan/Seniman.
AR:
Apakah Anda merasa memang mendebat, sementara pihak yang Anda debat merasa bahwa Anda menghina?
SS:
Saya merasa difitnah. Saya merasa jadi Korban Fitnah dari seseorang yang tidak mampu menerima kenyataan bahwa dirinya adalah Makelar Sastra, Perusak Sastra Indonesia par excellence yang tidak tahu malu betapa publik Sastra Indonesia sangat tahu semua sepak terjangnya dalam mensukseskan Proyek Puisi Esai Denny JA! Keterlibatannya dalam usaha membuat Denny JA agar bisa diterima sebagai seorang “tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh” begitu nyata mencolok mata tapi dibuat agar tidak demikian dengan memanipulasi bahasa ekspresi pergaulan dunia Sastra dan Seni umumnya dengan memanfaatkan sebuah undang-undang yang sangat bermasalah dan yang telah memakan ratusan korban WNI yang berani bicara kritis di media sosial. Impotensi dalam membela diri dengan argumentasi intelektual telah ditutupi dengan kedok Moralitas Bahasa. Sejarah adalah pengadilan sekaligus hakim yang kejam dan pengadilan sekaligus hakim yang kejam inilah kelak yang akan membuktikan dan menunjukkan siapa sebenarnya yang melakukan Pencemaran Nama Baik dalam Skandal Sastra Indonesia yang sedang terjadi ini!
AR:
Terimakasih atas jawaban Anda.
SS:
Terimakasih kembali. Semoga Sastra Indonesia masih layak untuk diperjuangkan eksistensinya!
Advertisements
boemipoetraCatatan boemipoetra:
 
Radityo Djadjoeri adalah keponakan Goenawan Mohamad yang paling getol berusaha menjatuhkan boemipoetra dengan segala cara, terutama dengan memakai fitnah dan dengan menciptakan tokoh-tokoh fiktif dalam semua mailing-list di mana perang antara boemipoetra vs TUK terjadi terutama di tahun 2007 lalu. Radityo Djadjoeri juga menciptakan puluhan mailing-list untuk misinya tersebut!
 
Penjahat internet (cyber-criminal) yang namanya sudah sangat terkenal di dunia mailing-list Indonesia ini pernah melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan terhadap boemipoetra, khususnya atas salah seorang redakturnya yaitu Saut Situmorang, terhadap seorang wartawan senior Indonesia, Farid Gaban. Farid Gaban akhirnya mengeluarkan Radityo Djadjoeri dari keanggotaan mailing-list tempat cybercrime itu dilakukan yaitu “jurnalisme” yang dikelola Farid Gaban.
 
Dalam “pengantar”nya di bawah, kembali Radityo Djadjoeri menyebar dusta, seperti biasanya. Bonnie Triyana, wartawan Jurnal Nasional (Jurnas) yang melakukan wawancara dengan Goenawan Mohamad di bawah SUDAH MENCABUT NAMANYA SEBAGAI PENANDATANGAN “Ode Kampung” dan mengumumkan pencabutan tersebut di mailing-list “Forum Pembaca KOMPAS” (kalau boemipoetra tidak salah nama lengkap mailing-list tersebut) SEBELUM wawancara di bawah dimuat di Jurnal Nasional!
 
Radityo Djadjoeri penjahat internet yang terkenal itu ditemukan mati di kamar mandi tempat tinggalnya akhir tahun lalu. Dia ditemukan beberapa hari setelah malaikat elmaut mencabut nyawanya yang hina itu. Keadilan itu memang indah!
 
 
NB:
 
boemipoetra tidak pernah diwawancarai baik oleh Bonnie Triyana maupun Jurnal Nasional (Jurnas) berkaitan dengan “polemik” seperti yang jadi isu dalam wawancara di bawah! Sampai hari ini! Begitulah politik “cover both sides” Pers Indonesia!!!
 
 
=========
 
 
 
Pengantar dari Radityo Djadjoeri:
 
Boni Triyana dari harian Jurnal Nasional (Jurnas) berhasil mewawancarai sastrawan Goenawan Mohamad (GM) sekait gonjang-ganjing di dunia sastra Indonesia bertajuk “Polemik Utan Kayu”. Uniknya, Boni sendiri adalah salah satu penanda tangan “Ode Kampung” – akar penjalar “perang panas” yang hingga kini masih berlangsung di dunia maya. GM tak keberatan menerimanya.
 
Sebagai seorang wartawan, Boni ingin semua orang melihat persoalan ini secara jernih dan tidak “kemrungsung”. Ia  juga merasa prihatin karena perdebatan yang muncul menyoal ini cenderung tidak sehat lagi, bahkan menjadi semacam ajang ledek-ledekan, saling caci dan menghina, tanpa nuansa intelektual sedikit pun. “Saya pikir, kini saatnya menghidupkan suasana polemik yang intelek seperti dulu lagi,” tutur Boni lewat e-mailnya. 
 
Berikut hasil wawancaranya yang dimuat Jurnal Nasional edisi 7 Oktober 2007 lalu:
 
————————————————————————————
 
 
 
Goenawan Mohamad: “Itu hanya corat-coret di tembok kakus!”
 
 
Goenawan Mohamad adalah orang Barat yang lahir di Batang, demikian  julukan yang pernah diberikan kepadanya oleh Hamid Basyaib.  Bagaimana pemikirannya tentang dinamika kesusasteraan Indonesia  saat ini: tentang serangan sekelompok sastrawan pada dirinya dan  Komunitas Utan Kayu yang ia dirikan? Bagaimana pula ia memaknai  perdebatan sastra yang pernah terjadi dulu dan sekarang?
 
Pendiri majalah TEMPO itu menuturkan pemikiran dan pengalamannya pada Jurnal Nasional di sela-sela kesibukannya di Komunitas Utan Kayu  dua pekan lalu.
 
 
Tanya:
Mas Goen, kini jagat sastra Indonesia diramaikan dengan  adanya polemik antara Sastrawan Ode Kampung yang menyerang  Komunitas Utan Kayu (KUK) sebagai salah satu pegiat aktivitas  kesenian di Jakarta. Apa tanggapan Anda?
 
Jawab:
Polemik itu kalau ada tukar menukar pendapat. Jadi kalau  tidak ada tukar menukar pendapat saya kira ya bukan polemik. Kalau  dulu seingat saya ada, semisal Ajip Rosidi menyerang Angkatan ‘45  karena dianggap kosmopolitan, dianggap tidak berakar pada daerah.  Terus Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat, Red) menyerang yang  disebutnya humanisme-universil, lantas Manifes (Manifes  Kebudayaan, Red) menyerang apa yang disebut realisme-sosialis,  prinsip-prinsip yang menurut saya penting, perdebatannya sangat penting. Apakah polemik berakhir dengan baik apa tidak itu soal  lain. Kemudian tentang sastra kontekstual pada era 1980-an, itu tak  terjadi polemik. Namun paling tidak diskusi itu melahirkan gagasan  baru.
 
Tanya:
Nah, yang sekarang bagaimana? Apakah ada ide-ide baru?
 
Jawab:
Kalau  saya begini, saya tidak melihat adanya ide yang baru dalam soal  ini. Itu yang saya dengar ya, karena saya belum baca semua. Saya  tak ada waktu. Kalau tidak ada yang gagasan baru berarti bukan  polemik. Kalau ada tuduhan dominasi yang dilakukan oleh satu komunitas, misal mereka tuduh  Utan Kayu, lantas apa buktinya? Apakah mereka bisa buktikan?
 
Tanya:
Dalam sejarah kesusasteraan kita selalu saja terjadi  polemik. Lantas Anda memaknai peristiwa yang terjadi sekarang  sebagai apa?
 
Jawab:
Apa dulu? Kalau polemik memang sering terjadi, kalau  maki-maki belum pernah terjadi. Dan itu tak pernah terjadi dalam  sejarah kita. Terlebih bila sifatnya memaki-maki, menyerang  pribadi. Jadi biarkan saja, karena menurut saya itu tak memunculkan  ide baru. Jadi biarkan saja. Dulu, polemik kebudayaan membikin  sejarah, manikebu membikin sejarah, terus sedikit-sedikit Ajip  Rosidi yang menyerang Angkatan 45 membikin sejarah. Sastra  kontekstual tidak membikin sejarah, tapi paling tidak mengajak  orang untuk kembali meninjau teori sastra. Kalau yang terjadi  sekarang saya belum melihatnya. Apakah itu layak didiskusikan?  Jangan-jangan malah nanti dalam lima tahun ke depan sudah tidak  lagi yang membahas persoalan ini.
 
Tanya:
Salah satu poin yang disebutkan dalam pernyataan Sastrawan Ode Kampung adalah melawan eksploitasi seksual dalam karya sastra. Dan itu, diarahkan kepada KUK?
 
Jawab:
Ini ada beberapa hal yah. Semisal apa yang dilakukan oleh Taufik Ismail sendiri, Chavchay Syaifulah dengan Media Indonesia sendiri dan apa yang dilakukan oleh apa itu… Boemipoetra (buletin yang dikelola oleh Wowok Hesti Prabowo, salah seorang penandatangan pernyataan Sastrawan Ode Kampung, Red) sendiri. Menurut saya berbeda-beda. Nah, Taufik itu lebih serius. Dalam artian dia layak ditanggapi. Terutama menyoal pornografi. Di sana ia mengkritik tentang peran erotisisme atau seksualitas dalam sastra. Dan itu adalah persoalan yang sah diperdebatkan dalam sastra. Dalam sejarahsastra itu sering terjadi. Bahwa di dalamnya juga terkandung caci-maki, boleh.
 
Tanya:
KUK dituduh sebagai komunitas sastra yang mengusung sastra kelamin? Orang menyebut salah satunya terdapat dalam karya Ayu Utami “Saman” yang mengandung unsur seksualitas?
 
Jawab:
Saman karya pertama Ayu Utami, pertama, itu bisa diperdebatkan tersendiri apakah itu suatu ekspresi seksualitas saja apakah ada sesuatu yang lebih dalam di sana. Ayu Utami bukan berarti KUK dan KUK bukan berarti Ayu Utami. Sitok (Sitok Srengenge, Red), Nirwan (Nirwan Dewanto, Red) atau saya mungkin, apa begitu juga. Satu hal, seksualitas itu bagian dari kehidupan. Di dalam Mahabarata sampai dengan Saman itu selalu timbul. Di barat di timur, di China, Arab, Amerika Latin. Bahwa ada orang yang mengatakan itu bagian dari kehidupan ya lumrah, ada yang bilang tidak ya tidak apa-apa. Tapi kalau ada yang bilang KUK itu penganut mazhab kelamin itu tidak benar. Kalau soal eksploitasi seksual saya juga menolak. Saya belum mengerti apa yang mereka maksudkan dengan eksploitasi seks dan belum tanya mereka, tapi kalau saya ada di sana saya juga menolak hal itu. Tapi bukan berarti seks tidak boleh dibicarakan. Lihat saja Mahabarata, Injil pun membicarakan seks, baca saja Kidung Sulaiman, sangat erotis.
 
Tanya:
Maman S. Mahayana dalam satu tulisannya mengatakan bahwa seksualitas dalam karya sastra seibarat sekrup kecil dalam mesin kapitalisme. Bagaimana menurut pendapat Anda?
 
Jawab:
Itu sebetulnya lebih baik pakai contoh. Ini problem dalam dunia sastra kita sekarang ini, jarang ada kritik sastra yang serius yang dilengkapi dengan argumentasi dan contoh. Misalnya kritik Taufik Ismail pada Ayu Utami yang dikatakannya memelopori FAK atau Fiksi Alat Kelamin. Itu harus dibuktikan mana yang dimaksudkan. Harus dibuktikan, sehingga kita bisa berbicara. Kalau selama ini hanya generalisir seperti pernyataan Maman S. Mahayana itu bisa dikatakan ya bisa juga tidak. Pernyataan itu sama artinya dengan pernyataan bahwa kemiskinan disebabkan oleh kapitalisme. Bisa ya bisa juga tidak. Jadi harus ada contohnya.
 
Tanya:
Selain soal seksualitas dalam karya sastra, KUK juga dituduh menerima bantuan dana asing dalam kegiatan-kegiatannya. Bagaimana Anda menanggapi kabar ini?
 
Jawab:
Itu problematis. Pertama dana asing itu datangnya kepada sastra atau prasarana sastra. Kedua dana asing itu belum tentu memengaruhi suatu produk. Misalnya, kalau pelukis Indonesia dibeli hak ciptanya oleh kolektor asing apakah itu namanya dipengaruhi oleh dan dana pembelian itu? Kalau kita berpikir analitis dan lepas dari kebencian, dari praduga-praduga, tidak seperti apa yang dibayangkan oleh kaum Demagog. Semisalnya, Universitas Indonesia dibiayai oleh dana asing, apakah hasil-hasilnya harus mengabdi pada asing juga? Kan juga tidak. Kalau anjuran saya sekarang ini yang penting, sudahlah, menulis saja yang bagus, menulis sastra yang bagus, menulis kritik (sastra) yang bagus. Jangan sampai waktu habis untuk mencaci maki.
 
Tanya:
Bukankah caci-maki juga termasuk ke dalam kebebasan berekspresi yang selama ini Anda perjuangkan?
 
Jawab:
Oh ya, betul. Bukan berarti saya melarang itu. Tapi saya hanya menganjurkan daripada buang waktu, lebih baik menulis sajalah yang bagus.
 
Tanya:
Anda dikenal sebagai pelaku sejarah, khususnya dalam sejarah pers Indonesia. Juga salah seorang penganjur kebebasan pers. Bagaimana Anda memandang diri Anda sendiri?
 
Jawab:
Aaahh… saya ini tidak pernah mendeskripsikan diri saya sendiri (tertawa, Red). Karena saya tidak pernah tahu diri saya sendiri. Karena itu ada kata-kata yang penting dari Oracle di Delphi, ketahuilah diri Anda sendiri dan itu adalah proses yang tidak pernah selesai. Dan jangan-jangan tidak perlu juga diketahui.
 
Tanya:
Sebagai seorang sastrawan dan penulis yang telah berpengalaman dan cukup senior, bagaimana pendapat Anda terhadap generasi sastrawan muda zaman sekarang?
 
Jawab:
Saya kira mereka jauh lebih bagus dari generasi saya dan sebelumnya. Bacaan mereka lebih luas dan terbiasa dengan kerumitan pemikiran yang terjadi dalam dua- tigapuluh tahun terakhir, khususnya dalam pemikiran filsafat. Kalau dulu kalau saya bandingkan misalnya, tahun 1950-an, banyak orang yang bicara tentang eksistensialime tapi sebetulnya tidak banyak tahu. Yang mengerti banyak tentang itu hanya Arif Budiman, karena dia belajar filsafat. Juga sama halnya dengan realisme-sosialis di tahun 1960-an, menurut pendapat saya yang betul-betul mengerti itu cuma Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan yang lain itu cuma ikut-ikut saja, dan mungkin tidak peduli juga.
 
Tanya:
Berkaitan dengan pemikiran Pramoedya Ananta Toer, dia pernah bilang bahwa sastra itu bertugas, punya fungsi yang praktis?
 
Jawab:
Saya setuju. Cuma tugasnya jangan diberi oleh orang lain. Jadi harus dari panggilan nurani sendiri. Dulu pertengkaran Lekra-Manikebu itu kan berkisar pada perdebatan sastra revolusioner yang sebetulnya ditentukan garisnya oleh partai (Partai Komunis Indonesia, Red). Dan itu yang terjadi di Uni Soviet dan China, jadi lebih banyak menyebabkan pembungkaman. Tapi karena dulu partai lebih banyak berkuasa ke dalam, jadi tidak banyak begitu dimengerti mengenai persoalan ini. Itu pengalaman di Uni Soviet ya, kontrol partai terhadap sastra itu begitu kuatnya. Jadi pada dasarnya memang Manikebu sepakat dengan pendapat sastra itu bertugas.
 
Dalam Manifes Kebudayaan kami menyatakan bahwa kami menerima humanisme universal. Jadi Manifes Kebudayaan tidak sepenuhnya pro humanisme-universal , sebagaimana kami tidak anti pada realisme-sosialis. Ada macam-macam realisme sosialis, kan orang tidak baca itu. Artinya kami menerima. Ada macam-macam realisme sosialis itu. Orang tidak baca itu. Nah, bukan berarti seperti film cowboy, ada penjahat harus dibunuh. Dan dalam Manifes Kebudayaan itu terkandung pemikiran-pemikiran sosialis yang lebih dalam daripada yang dikatakan orang.
 
Tanya:
Tapi kenyataan sejarah menunjukkan bahwa polemik Manikebu versus Lekra seperti film cowboy yang Anda sebutkan tadi.
 
Jawab:
Itu karena sejarah tidak ditulis dengan benar. Kalau mau bicara polemik, harus dipelajari juga polemik yang berlangsung pada tahun 1920-an. Pendapat Pram, itu sama dengan pendapat Takdir (St Takdir Alisjahbana, STA) melawan pendapat Sanusi Pane soal sastra itu bekerja atau tidak. Nah, kemudian ada masalah seni untuk seni atau seni untuk masyarakat. Soal itu sudah selesai pada tahun 1950-an. Di tahun 1930-an itu antara Sanusi Pane dan STA, dan kemudian persis dilakukan oleh Pram.
 
Tanya:
Tapi kenapa Pram “menghabisi” STA di dalam tulisan-tulisannya yang dimuat oleh Bintang Timoer?
 
Jawab:
Nah, begini. Itu karena STA orangnya partai sosialis (Partai Sosialis Indonesia, PSI). Dan tentu saja cara-cara Pram dulu itu juga salah. Tapi nanti kalau saya bilang Pram salah Anda jadi marah, lagi… (tertawa)
 
Tanya:
Anda masih muda ketika turut menandatangani Manifes Kebudayaan. Sama halnya dengan beberapa sastrawan yang juga menandatangani pernyataan Sastrawan Ode Kampung. Kira-kira semangat apa yang mendorong Anda turut dalam manifes?
 
Jawab:
Semangat saya ingin menulis, menulis yang bagus dan tidak mau didikte oleh kekuasaan. Titik.
 
Tanya:
Sekuat apa sih tekanan kekuasaan pada saat itu?
 
Jawab:
Setelah Manifes dilarang berat, sangat berat. Saya pada waktu itu mau ikut rapat saja takut. Dan menulis pun harus pakai nama samaran. Pernah beberapa waktu lalu dalam email dikatakan oleh Tossi (Aboeprijadi Santoso, wartawan radio di Belanda, Red) bahwa Manikebu kan masih bisa melawan, itu tidak benar. Bahwa Lekra setelah itu(pasca pergolakan politik 1965-1970, Red) lebih menderita, bukan berarti Manikebu itu tak mengalami tekanan. Waktu itu (Orde Lama, Red) kan belum ada konsolidasi kekuasaan yang bisa menindas, hampir.
 
Waktu Orde Baru kan ada penindasan. Penindasan terhadap Lekra memang lebih dahsyat lagi. Tapi bibit-bibit pengekangan kebebasan berekspresi itu memang sudah terjadi sejak zaman demokrasi terpimpin. Jadi kalau Lekra atau Pramoedya tidak merasa bersalah itu saya sayangkan. Karena akhirnya suasana represif pada masa Orde Baru terus berlanjut. Beda Orde Lama dengan Orde Baru kan tidak banyak, kecuali yang satu sosialisme dan yang satu kapitalisme. Tapi demokrasinya tidak ada. Mochtar Loebis dipenjara sembilan tahun.
 
Kalau menurut saya kita harus mengakui bahwa kita semua salah dan generasi muda tak perlu melakukan itu lagi. Kalau tidak demikian, anak-anak muda memuja-muja kita, maka akan terjadi pengulangan. Karena intinya adalah intoleransi. Jadi sebetulnya yang diperjuangkan itu bukan kebebasan, tapi golongan saya tidak ditindas, dan golongan lain bisa ditindas. Nah kira-kira itu juga yang dikatakan oleh Pram, lawan revolusi harus ditindas.
 
Tahun 1970-an setelah banyak korban, saya termasuk orang yang menyadari bahwa perbedaan tidak harus diakhiri dengan memenjara orang. Apapun perbedaan itu. Pernah dulu saya menghadiri diskusi di rumahnya JCT Simorangkir, pemimpin umum Sinar Harapan, antara Nugroho Notosusanto dengan Wiratmo Soekito. Jangan lupa, waktu itu Nugroho Notosusanto menentang Manikebu. Ini yang tidak pernah ditulis oleh sejarah. Waktu itu Wiratmo menulis tentang kebebasan berekspresi.
 
Kepada Wiratmo, Nugroho mengatakan kalau begitu Anda akan mengijinkan puisinya Agam Wispi terbit. Wiratmo menjawab iya. Wiratmo mengutip Voltaire, “saya tidak setuju dengan pendapat kamu, tapi saya hormati hak kamu berpendapat”. Saya menyadari bahwa kita tidak boleh mengulangi lagi kesalahan.
 
Tanya:
Semangat menghargai perbedaan pendapat itu pula yang membuat Anda membiarkan pernyataan Sastrawan Ode Kampung?
 
Jawab:
Iya, betul. Saya diserang juga tidak apa-apa. Cuma jangan memfitnah.
 
Tanya:
Fitnah bagaimana maksud Anda?
 
Jawab:
Seperti yang ditulis oleh Chavchay itu di Media Indonesia mengenai pembukaan Bienale di KUK. Orang tidak ada yang mabok-mabok kok ditulis mabok-mabokan. Itu secara jurnalisme salah. Padahal disiplin jurnalisme itu adalah verifikasi.
 
Tanya:
Jadi Anda takkan melayani semua hal itu?
 
Jawab:
Tidak, itu saya anggap coretan tembok di kakus. Dalam beberapa wawancara juga saya katakan itu tidak penting untuk ditanggapi. Nah menurut saya sekarang mulailah melakukan studi yang serius. Misalnya disebutkan bahwa ada sastra imperialis, silakan, tapi buktikan dengan karya, tunjukkan karya sastra imperialis itu apa.  Jadi persoalan ini tidak penting dan memang bukan suatu hal yang patut dicatat dalam sejarah. Masa sih perlu menanggapi corat-coret di tembok kakus.
 
Tanya:
Apakah Anda sudah membaca pernyataan Sastrawan Ode Kampung berikut dengan buletin-buletin Boemipoetra?
 
Jawab:
Saya tidak baca, saya hanya diberitahu oleh kawan-kawan. Saya nggak ada waktu. Baca filsafat saja belum selesai-selesai (tertawa). Tapi bukan berarti saya melarang dan tidak menghargai pendapat mereka lho ya. Sekali lagi saya katakan saya tidak punya waktu untuk membaca apa yang mereka tulis, toh isinya cuma ngata-ngatai saya Gundul Monyet (tertawa), buat apa saya tanggapi. Tapi lucu juga itu. Kan cuma coret-coret di tembok kakus, sah-sah saja orang menulis di kakus.
 
Tanya:
Dalam sejarah hidup Anda, ada dua peristiwa yang “memukul” Anda.  Pertama tuduhan bahwa Anda didukung oleh militer ketika menandatangani Manifes Kebudayaan, lantas kedua sekarang Anda kembali diserang oleh pernyataan para Sastrawan Ode Kampung. Bagaimana Anda menyikapi ini?
 
Jawab:
Yang sekarang itu bukan apa-apa bagi saya. Kalau dulu saya angap serius karena ada kekuatan politik. Kalau sekarang yang diarah oleh kawan-kawan itu apa sih? KUK ditutup atau saya dipenjara (tertawa), atau apa? Atau saya gak boleh nulis? Atau tidak ada dominasi? Nah ini soal dominasi, itu masalah, soal KUK itu jangan dianggap penting dong. Begini, Nobel itu memberikan standard penilaian, tapi bukan berarti segala-galanya. Jean Paul Sartre itu mengembalikan Nobel, dan banyak yang bagus tidak mendapat hadiah Nobel tapi tetap dihargai. Dan KUK itu tidak pernah memberikan hadiah sastra. Kalau KUK mengundang sastrawan untuk ikut festival sastra internasional, itu soal giliran saja. Kan tidak mungkin mengundang semua sastrawan. Dua puluh orang diatur saja sudah susah. Ini kan juga soal mutu. Kalau kata teman-teman kurator tidak dianggap bermutu, yang tidak diajak. Dan kalau tidak oleh KUK tidak apa-apa, bukan berarti mereka tidak jadi sastrawan. Jangan-jangan mereka lebih bermutu  daripada yang diundang. Jangan dianggap begitu. Itu malah mereka membuat KUK menjadi penting. Hegemoni, dominasi di mana? Itu yang saya tidak mengerti. Bahwa karya-karya mereka tidak dimuat di Kalam bisa saja. Nah sekarang masalah festival sastra, saya nggak pernah diundang. Ayu Utami diundang karena sekarang sudah tidak di KUK lagi. Orang KUK sendiri tidak pernah muncul ke festival itu. Karya Tony Prabowo yang orang KUK juga tak pernah dimainkan di sini. Menurut saya tidak ada dominasi. Itu perasaan orang minder saja.
 
Tanya:
Ya mindernya karena apa?
 
Jawab:
Saya tidak tahu.
 
Tanya:
Apakah ini sebagai akibat dari tidak pernah dijalinnya komunikasi  antara KUK dengan teman-teman di daerah? Sehingga meninggalkan kesan sombong?
 
Jawab:
Lho, KUK itu terbuka bagi siapa saja. Siapa yang melarang orang datang ke sini? Kalau mau datang ya datang. Undangan kita sebar. Saya gak mengerti, apa sih yang spesial bagi KUK. Kan ada juga yang lain, ada Bentara Budaya. Kenapa tidak diserang? Galeri Kompas di  Yogya juga ada, kenapa gak diserang. Saya tidak mengerti apa yang disebut dominasi? Kalau KUK dianggap penting, yang menganggap penting siapa? Kalau ada satu orang dari KUK yang menonjol yang seharusnya disaingi dengan karya juga. Saya kira biasa saja. Alasan yang biasa. Di dalam sastra, seperti di dalam olahraga, kalau ada kesebelasan bagus yang dikalahkan melalui pertandingan. Kalau olahraga kan jelas ada wasitnya, kalau dalam sastra yah seharusnya bisa bersaing terus dengan karya. Kami juga jadi geli (tertawa)  kalau KUK dilihat seperti itu. Nirwan bilang (Nirwan Dewanto), saya saja gak pernah mikirin KUK, mereka 24 jam mikirin KUK. Itu kan hanya membesar-besarkan KUK saja jadinya.
 
 
Bonnie Triyana
 
 
 
Sumber:
 
https://groups.yahoo.com/neo/groups/media-jabar/conversations/topics/929
Saut Situmorang

Saut Situmorang

oleh Zamakhsyari Abrar – wartaone

Jakarta – Saut Situmorang, nama penyair ini, dalam beberapa tahun belakangan mencuat namanya dalam panggung sastra negeri ini. Lewat kritik-kritiknya yang tajam dan keras, ia menyerang Goenawan Mohamad dan kawan-kawan atas apa yang disebutnya sebagai politik sastra Teater Utan Kayu.

Bersama dengan penyair Wowok Hesti Prabowo, sastrawan yang lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, pada 29 Juni 1966, ini lalu menerbitkan jurnal Boemipoetra, sebuah jurnal yang terbit dwibulanan, wadah tempat mereka untuk menulis dan mengekspresikan tulisan untuk “menyerang” politik sastra Goenawan cs.

Terkait banyaknya reaksi yang kaget ketika membaca Boemipoetra, Saut menilainya hal itu wajar-wajar saja. Menurut pria berambut gimbal ini, selama pemerintahan Orde Baru, seniman kita memang tidak terbiasa berpolitik dalam kesenian.

Apa dan bagaimana Boemipoetra? Bagaimana tanggapan Saut terhadap pernyataan Goenawan yang beberapa waktu sebelumnya menyebut Boemipoetra tak lebih dari coret-coretan di toilet? Berikut petikan perbincangan WartaOne.com dengan Saut di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (9/7).

WartaOne (WO): Salah satu pemicu berdirinya Boemipoetra adalah karena sakit hati penyair Wowok Hesti Prabowo yang gagal masuk dalam pemilihan anggota Dewan Kesenian Jakarta pada 2006?

Saut Situmorang (SS): Seandainya pun itu benar, tak apa-apa toh. Karena kita tahu Dewan Kesenian Jakarta yang kemudian terbentuk, itu kan Dewan Kesenian Goenawan Mohammad. Mulai dari ketuanya yang namanya Marco K itu (Marco Kusumawijaya), sampai ke dalam bidang-bidang dalam Dewan Kesenian Jakarta. Misalnya sastra, di situ ada Ayu Utami, Nukila Amal, dan di situ juga ada yang kusebut antek-antek Goenawan Mohamad atau TUK, Zen Hae. Dan (kelompok Goenawan) itu juga ada di teater dan film.

Jadi Dewan Kesenian Jakarta yang kemudian terbentuk itu, semua orang bisa melihat bahwa jelas sekali itu Dewan Kesenian Jakarta versi Teater Utan Kayu. Kita tahu permainan Goenawan Mohamad di Akademi Jakarta mempengaruhi anggota-anggota lain supaya mereka itu terpilih. Dan bukan hanya Wowok saja itu yang ketendang keluar dari pemilihan itu, ada juga Ahmadun Y. Herfanda, dan juga Radhar Panca Dahana.

Jadi kalau misalnya itu dibuat semacam ejekan bahwa Wowok akhirnya memulai jurnal Boemipoetra karena sakit hati itu, ya ndak apa-apa. Itu wajar saja, sebab itu sebuah perlawanan terhadap manipulasi yang terjadi pada pemilihan anggota Dewan Kesenian Jakarta pada periode tersebut. Sebuah perlawanan yang konkret karena melahirkan jurnal Boemipoetra, yang kau tahu efeknya ya, sekarang Boemipoetra sudah terbit sekitar dua tahunlah.

WO: Boemipoetra mencoba menandingi wacana kebudayaan Goenawan Mohamad cs. Goenawan cs menurut saya menguasai wacana kebudayaan Indonesia, misalnya sastra, teater dan agama. Boemipoetra apa yang ditawarkan untuk menandingi mereka? Saya kok melihat Boemipoetra tidak menawarkan apa-apa?

SS: Aku sangat tidak setuju dengan pendapat itu bahwa kami tidak menawarkan apa-apa. Sekarang kita bicarakan apa yang kau bilang dominasi wacana kebudayaan Goenawan. Itu buktinya mana? Kalau Goenawan menguasai wacana teater, maksudnya apa? Kalau hanya sekadar mengerti teater, semua orang mengerti teater, mengerti sastra, semua orang mengerti sastra. Tapi kalau kau bilang menguasai wacana, maksudnya apa pernah dia menulis kritik sastra dan teater? Tidak pernah. Banyak orang seperti kau mengenal Goenawan Mohamad karena ia itu menjadi mitos dari catatan pinggirnya di Tempo. Mayoritas hanya mengenalnya dari catatan pinggirnya tadi. Sebagian besar mereka juga adalam pembaca Tempo, majalah kelas menengah ke atas. Bahasa catatan pinggir itu bahasa kelas menengah. Kalau kau benar-benar mau membahas catatan pinggir, itu enggak ada yang dibicarakan oleh Goenawan. Dia itu cuma bermain-main dalam retorika yang berbudi indah. Silahkan kau baca, tidak ada yang dibicarakan. Ia mengelak membicarakan isu yang merupakan judul dari setiap catatan pinggirnya. Ia bermain-main dalam retorika bahasa yang kosong.

Jadi kalau kau bilang Goenawan Mohamad itu menguasai macam-macam itu, begini aja, silahkan saja Goenawan Mohamad itu diskusi dengan Saut Situmorang dari Boemipoetra, topik apa aja, untuk membuktikan (pernyataan) itu. Karena justru mitos besar yang kosong inilah salah satu tujuan (berdirinya) Boemipoetra. Jadi pembaca itu disadarkan. Sebab kalau kalian baca tulisan, apalagi tulisan seperti Goenawan Mohamad, kalian tidak bisa membaca seperti membaca berita di koran. Karena kita berbicara soal politik retorika. Kebanyakan pembaca kita bacaannya paling-paling majalah Tempo, atau Kompas. Itu tidak cukup. Kalau Anda mau bergerak di dunia baca-membaca, apalagi seperti Goenawan yang dengan sadar mempermainkan retorika, enggak cukup. Bacaan harus lebih canggih lagi man.

WO: Wacana agama, misalnya, kelompok Teater Utan Kayu memiliki Ulil Abshar-Abdalla cs dengan JIL-nya?

SS: Kau salah. Kalau kau melihat komposisi redaksi Boemipoetra, itu macam-macam. Wowok itu orang buruh, saya Marxist, Kusprihyanto Namma itu Islam. Anda boleh ngomong macam-macam tentang Islam dengan Kusprihyanto. JIL itu apa? JIL itu labelnya aja yang Islam. Kalau kau mengerti apa yang disebut dengan Islam liberal, kau akan kaget bahwa itu adalah sebuah proyek besar disebut orientalisme, terutama oleh Amerika Serikat untuk mengacaukan Islam. Tokoh-tokohnya seperti Bernard Lewis dan lain-lain, orang yang mengaku Islam tapi menghina Islam. Jadi kalau berbicara JIL, Anda tak bisa melihat apa yang mereka omongkan. Anda harus tahu mereka berasal dari mana. Nah bacalah (buku) Edwar W. Said (Orientalisme), Anda akan tahu apa itu Islam liberal.

WO: Bukankah gejala kelompok seperti ini bukan gejala baru dalam sastra Indonesia. Di luar juga seperti itu?

SS: Ya, makanya. Itulah harus ada counter. Jadi kenapa ada Boemipoetra, seolah-olah dianggap anomali, aneh. Karena orang kita itu selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru, selama itu berkuasa Horison-Manikebu. Orang Indonesia itu sudah terlalu biasa untuk tidak berpolitik dalam kesenian. Jadi kalau melihat munculnya fenomena Boemipoetra yang menentang Goenawan Mohamad dengan Teater Utan Kayunya dalam perspektif sastra secara luas, bukan hanya karya ya, baik politik karya, politik kanonisasi sastra, informasi tentang sastra di dalam maupun luar negeri, orang pada kaget karena belum pernah terjadi sebelumnya (dalam sejarah sastra Indonesia). Banyak sekali polemik-polemik STA (Sutan Takdir Alisyahbana) dengan lawan-lawannya termasuk yang terakhir itu perdebatan sastra kontekstual, itu hanya membicarakan karya. Belum membicarakan sebuah isu. Sosiologi sastra, politik sastra, bukan semacam itu.

Nah ini sesuatu hal yang baru yang dibawa oleh jurnal Boemipoetra. Kalau Anda ingin tahu tentang perspektif yang lebih luas tentang perlawanan Boemipoetra terhadap Goenawan Mohamad dan TUKnya, saya baru menerbitkan kumpulan esei saya judulnya Politik Sastra.

Dalam buku itu, jelas sekali yang kami tawarkan, sesuatu yang selama ini dikoar-koarkan oleh GM yaitu pluralisme. Baik pluralisme dalam berpikir, pluralisme dalam berkarya. Mereka kan tidak. Lihat saja seleksi pengarang. Yang mereka undang, yang sama gaya menulisnya dengan mereka. Pernahkah mereka mengundang dalam acara bienale sastra itu pengarang Islam seperti Helvy Tiana Rosa? Atau pengarang yang mewakili suara buruh. Banyak sekali kan. Tidak hanya Wowok. Pernah gak? Kan enggak. Tapi yang diundang hanya pengarang-pengarang yang mengangkat cerita seks, sesuatu yang abstrak yang tidak ada dalam persoalan kehidupan sehari-hari. Berarti mereka itu menyeragamkan topik, menyeragamkan style of writing. Di sisi lain mereka berkoar-koar soal pluralisme dan macam-macam. Mereka tidak plural sama sekali. Mereka antipluralisme. Seperti Jaringan Islam Liberal. Kenapa rupanya kalau ada FPI (Front Pembela Islam), dan kelompok fundamentalis? Anda kan plural, Anda kan liberal, liberal itu kan plural. Siapa aja silahkan, atheis juga silahkan. Tapi kan tidak.

WO: Jadi yang diomongkan tak sesuai dengan perbuatan?

SS: Terbukti kan? Anda yang berseberangan ide, ideologi, style dengan mereka, dikucilkan. Buktinya Boemipoetra tidak setuju dengan mereka. Harus terima dong, kan mereka plural. Kalau mereka hanya menerima orang yang setuju dengan mereka, itu bukan plural. Itu seragam. Itu fasis namanya.

WO: Yang menonjol dari jurnal Boemipoetra adalah bencinya itu?

SS: Ya, kita harus benci waktu kita melawan sesuatu, bukan sayang, karena kalau sayang itu kan munafik. Kita benci dengan segala sesuatu yang mereka presentasikan. Seperti yang saya bilang tadi. Di Islam itu ada JIL, di sastra itu ada TUK, di dunia kesenian mereka itu ada Salihara. Ya, kita benci itu karena (mereka) tidak konsisten. Itulah politik kesenian.

Jadi pretensi orang selama ini bahaslah karya. Coba kita lihat. Selama ada sastra Indonesia, tidak ada kritik sastra. Coba sekarang bahas karya, GM tidak mampu. Apalagi Sitok (Srengenge), Nirwan Dewanto, tidak mampu apa-apa itu. Jadi mereka itu berpolitik sastra. Semuanya itu berpolitik sastra.

WO: Saya pernah mewawancarai Sapardi Djoko Damono terkait tidak adanya kritik sastra seperti yang dikeluhkan oleh Bang Saut. Menurut Sapardi, hal itu tidak benar. Banyak kritik sastra diproduksi dalam bentuk tesis dan disertasi.

SS: Itu tugas kuliah, bukan kritik sastra. Hahaha… Kalau benar kritik sastra, mereka kritikus dong yang menulisnya. Tapi gak kan? Itu tugas supaya dapat gelar sarjana. Beda. Kritik sastra itu sebuah profesi, seperti kau wartawan, tukang becak dan tukang bajaj. Kalau profesi itu ada karir, mulai dari bawah. Kritik sastra itu karir. Dan Sapardi juga bukan kritikus sastra. Dia gak ngerti apa-apa. Sapardi gak bisa bahas karya, baca aja semua kumpulan tulisan dia. Gak ada. (Tulisan) dia itu seperti opini Kompas aja. Opini itu lain, itu bukan kritik. Kritik itu kau menganalisis sesuatu, kau punya sebuah hipotesis, lalu kau buktikan. Kau bahas. Tidak bisa sekadar, oh temanya begini, tokohnya begini, dan mereka berantem. Itu namanya menceritakan kembali. Mengkritik bukan menceritakan kembali, tapi menganalisis cerita yang kau ceritakan kembali.

WO: Jadi problemnya sumber daya manusia?

SS: Sumber daya manusia kita sangat parah. terutama di dunia seni. tidak ada kritikus seni, baik teater, sastra. Tidak ada itu. tapi memang ini berangkat dari pendidikan yang anjlok itu. Kau lihat misalnya. Berani tidak mahasiswa mendebat dosennya di kelas? Pasti habis dia. Ini persoalannya di sini, kita memang diadakan untuk tidak kritis, kalau sistem pendidikan seperti ini di mana debat antara mahasiswa dan dosen, murid dan gurunya tidak diperbolehkan sama sekali, bagaimana akan ada kritik seni atau kritik kebudayaan? Itu awalnya, pendidikan kita diciptakan oleh Soeharto seperti itu untuk menurut. Siswa kerjanya sekolah, sks, lulus, mudah-mudahan dapat kerjaan, kemudian kawin mati.

WO: Saya sepakat dengan hal itu.

SS: Ya, gak akan mungkin ada satu elemen dari kebudayaan yang anjlok aja. Ini semua, struktural. Jadi kalau misal ada kerusakan ekonomi, di dunia politik partai, gak ada di situ aja. Itu gak akan terjadi kalau gak didukung oleh unsur-unsur lain, dalam berpikir, dalam cara orang beragama, bersekolah. Itu mendukung sistem ini.

WO: GM menganggap Boemipoetra cuma coret-coretan di toilet? Tanggapan Anda?

SS: Sama aja. Kami mengggap semua tulisannya juga cuma coret-coretan toilet di terminal bis umum. Gak apa-apa. Tapi persoalannya ketika dia ngomong begitu, apa pernah dia buktikan? Apa pernah dia kasih alasan? Kan gak pernah kan.

WO: Anda pernah menyamakan jurnal Boemipoetra dengan manifesto kaum Dada dan Surealisme Prancis? Apa itu tidak berlebihan?

SS: Lho, sekarang Anda sudah pernah baca manifesto kaum Dada dan Surealisme tersebut? Belum. Kalau belum, sulit saya menjelaskannya. Coba Anda baca manifesto mereka, seperti apa bahasa mereka? Itu majalah kecil juga, mereka juga menyebutnya jurnal. Nanti kalau saya jelaskan, Anda anggap pembelaan lagi.

WO: Jadi konkretnya seperti apa agenda kebudayaan jurnal Boemipoetra?

SS: Pertama pluralisme. Selama ini Utan Kayu mengklaim dirinya pluralis. Nah, kami itu mengkritik itu. Mereka itu sebenarnya antipluralis. Kedua, kita antiideologi Goenawan cs bahwa seks adalah satu-satunya standar estetika kesenian Indonesia. Orang kan bisa menulis tentang Islam, makanan, kan gak apa-apa dong. Mengapa harus seks yang dianggap paling hot? Semua oke, persoalannya bagaimana kau menuliskannya. Dan ketiga, kita antifunding asing. Kalau mereka sudah masuk, kacau dunia kesenian. Contohnya ya Teater Utan Kayu itu. (mak/mak)

Diambil dari situs: http://www.wartaone.com/articles/13125/1/Kegundahan-Sastra-Saut-Situmorang/Halaman1.html

Sumber: http://sastra-indonesia.com/2010/10/kegundahan-sastra-saut-situmorang/

WAWANCARA DENGAN SAUT SITUMORANG: PERANG SASTRA boemipoetra vs TEATER UTAN KAYU (TUK)

Universitas Indonesia, khususnya Fakultas Ilmu Budaya sebagai ranah sastra mahasiswa, yang sebagian kecil masyarakatnya adalah penikmat sastra akademis, mungkin belum membaur ke dalam fase politik sastra (bukan kekuasaan) atau pun pembacaan jarak dekat.

Sebagian kecil darinya pula tentu ada yang merasa kritis terhadap desas-desus yang terjadi di luar sana. Untuk itu kami terus menangkap kejadian-kejadian sastra yang terjadi di Indonesia sebab ternyata permasalahan sastra bukan hanya pertunjukan dan karya tapi idealisme dan polemik. Majalah kami, Recup Budaya edisi pertama 2007, mungkin berangkat dari tugas mata kuliah, namun kekuatan berpikir dan  hasrat mengaromakan sastra dan sendinya kepada mahasiswa lain adalah semacam batu asah untuk meningkatkan kepekaan kami

Anda menyebut diri sebagai politisi sastra. Kami baru dengar istilah itu. Apa tugas sentral profesi tersebut, tentunya dalam eksternal sastra dan internal sastra?

SS: Hahaha… Istilah sebenarnya adalah “politikus sastra” dan aku pakai sebagai keterangan-diri di eseiku yang berjudul “Politik Kanonisasi Sastra” – yang merupakan makalahku untuk Kongres Cerpen Indonesia V di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 26-28 Oktober 2007 lalu – yang kusebar di Internet sebagai salah satu dari rangkaian seranganku terhadap Teater Utan Kayu (TUK). Istilah itu sebenarnya sebuah istilah ironis yang tongue-in-cheek, dimaksudkan untuk memberi nuansa kepada isi eseiku itu. Tapi reaksi pembaca macam-macam. Hudan Hidayat yang konon seorang novelis itu, misalnya, menyebutku “politisi sastra” di Internet. Aku lebih suka istilah “politikus sastra”. “Politisi” itu istilah apa?! Apa ada “kritisi” sastra?! Hudan Hidayat memang seorang penulis bakat alam par excellence! Hahaha…

Jurnal Boemipoetra yang terbit beberapa bulan lalu, semacam aksi propaganda demonstratif sastrawan Ode Kampung terhadap perlawanan terhadap Komunitas Utan Kayu (KUK). Namun sebagian masyarakat menyatakan itu bukan jurnal yang semestinya ilmiah sebab kata-kata yang “kasar”?

SS: Coba perhatikan, kalimat macam apa yang kau tuliskan ini! Membingungkan! Hehehe… Jurnal sastra boemipoetra (pake huruf kecil semua!) adalah jurnal sastra paling keren dan cool sepanjang sejarah sastra Indonesia karena fungsinya cuma satu: menghancurkan Teater Utan Kayu (TUK)! Dan sudah terbit (tanpa mengemis dana ke Amerika Serikat dan sekutu neo-kolonialnya) sampai empat edisi. Hahaha… Satu-satunya “little magazine” sastra kita yang berani memakai apa yang kau sebut sebagai “kata-kata yang ‘kasar’” itu! Mengutip Clark Gable dalam Gone with the Wind, aku katakan kepada mereka-mereka yang tiba-tiba (menjadi) moralis linguistik itu padahal konon sudah beyond morality dalam kasus Sastra Porno Sastrawangi, seperti Manneke Budiman dosen Universitas Indonesia itu: Frankly, my dear, I don’t give a damn! Hahaha… Benar, jurnal boemipoetra memang bukan jurnal ilmiah kayak Oxford Literary Review, Critical Inquiry, New German Review, New Left Review, Social Text, atau Representations dan tidak punya pretensi untuk menjadi jurnal ilmiah. Tapi apa memang (pernah) ada jurnal “ilmiah” seperti yang aku sebutkan barusan di Indonesia? Nenek moyang boemipoetra adalah majalah-majalah kecil yang diterbitkan kaum Dada dan Surrealis di Eropa di awal abad 20 lalu, yang berisi baik manifesto-manifesto gerakan-gerakan tersebut maupun serangan-serangan keras mereka terhadap apa-apa yang pada saat itu mereka anggap menjajah pemikiran budaya orang-orang Eropa. Dan bahasa yang mereka gunakan bahkan jauh lebih “vulgar” dibanding “kata-kata kasar” boemipoetra! Ada catatan penting: boemipoetra bukan sastrawan Ode Kampung! Ode Kampung itu adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh komunitas sastra Rumah Dunia di Serang, Banten. Secara ideologis dan praktis boemipoetra justru sangat radikal dibanding Rumah Dunia dan Ode Kampungnya itu. Juga kalau kalian pelajari komposisi redaksi boemipoetra maka akan terlihat jelas keberagaman ideologi di dalamnya. Kerancuan informasi ini memang sudah universal di dunia kangouw sastra Indonesia dan ini cuma menunjukkan betapa parahnya orang kita membaca persoalan, betapa tidak canggihnya imajinasi orang-orang sastra kita dalam menafsirkan silsilah sebuah persoalan seperti Perang Sastra antara boemipoetra vs TUK. Manneke Budiman adalah lagi-lagi contohnya. Yang harus disadari lagi adalah bahwa Teater Utan Kayu (TUK) yang dikuasai orang-orang sastra itu yang menjadi fokus dari serangan-serangan kami, bukan Komunitas Utan Kayu (KUK) secara umum dan yang macam-macam isinya itu. Makanya perang kami ini adalah Perang Sastra! Musuh kami adalah Goenawan Mohamad dan segelintir penulis muda yang berlindung di balik bayangannya yang tua. Segelintir penulis-sekedar yang merasa sudah mencapai satori atau pencerahan sastra padahal rata-rata masih medioker kemampuannya, baik kreatif maupun kritis! Segelintir megalomaniak!

Letak keburukan TUK sehingga Anda begitu gencar untuk mengutuk mereka?

SS: Harus diakui bahwa pada awalnya mereka itu oke, kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan termasuk penerbitan majalah ikon mereka itu, Kalam, merupakan angin segar dalam kondisi jenuh sastra kita yang diakibatkan hegemoni majalah Horison dan Taman Ismail Marzuki (TIM). Tapi itu hanya sebentar! Mereka kemudian merasa sudah menjadi mainstream baru, sang dominan baru dalam sastra kita. Mereka sampai merasa begini tentu saja tak dapat dilepaskan dari “pesona” yang memang telah mereka timbulkan dalam kepala para sastrawan kita, terutama di kota-kota besar kita. Mereka telah menjadi mitos baru yang menggantikan mitos-mitos lama Horison dan TIM bagi para sastrawan yang mulai dikenal publik sastra kita di periode 1990an, apa yang saya sebut sebagai Sastrawan 90an itu, dan yang sedang merajai penerbitan buku sastra saat ini. Mitos baru tentang TUK ini dimanfaatkan dengan sangat canggih oleh Goenawan Mohamad dan segelintir penulis-sekedar yang aku sebutkan di atas. Dominasi-tunggal atas dunia sastra kita adalah ambisi ekstra-literer mereka. Ini dimulai dengan skandal menangnya novel jelek berjudul Saman di Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Memakai istilah salah seorang penulis-sekedar TUK bernama Eko Endarmoko yang berpretensi keras mencari kelemahan esei saya “Politik Kanonisasi Sastra” tapi gagal dengan mengenaskan itu (karena kurang imajinasi tekstual dan miskinnya pengetahuan sejarah sastra), menurut “kabar angin” naskah Saman itu sebenarnya sudah lewat deadline pengiriman naskah tapi salah seorang juri menerimanya juga. “Kabar angin” lain adalah bahwa salah seorang juri Sayembara Roman DKJ 1998 itu menerima naskah Saman dari seorang tukang sapu gedung dimana para juri sedang memeriksa naskah-naskah yang masuk dan naskah tersebut didapatkan tukang sapu itu di dalam tong sampah! Siapa saja tentu saja bebas menafsirkan legenda yang diciptakan seputar Saman ini sama seperti para penilai Prince Claus Award yang memenangkan Ayu Utami pada tahun 2000 untuk novel satu-satunya itu dengan alasan bahwa “karyanya dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya”! Bagaimana para juri Prince Claus Award bisa menilai kedahsyatan novel tersebut padahal tak satupun terjemahan bahasa asingnya sudah ada pada waktu itu hanya Goenawan Mohamad yang tahu. Coba baca prosa-pendek Ayu Utami (yang diklaim sebagai “kolom” itu) di media massa cetak seperti koran Seputar Indonesia Minggu. Masuk akalkah seseorang yang diklaim oleh sebuah institusi internasional sejenis Prince Claus Award sebagai “meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya” cuma mampu menghasilkan cakar-ayam yang bahkan lebih jelek dari medioker seperti itu! Aku kasih sebuah “kabar angin” lagi. Kalau Saman itu sebuah fragmen dari karya panjang (yang sekarang kita tahu adalah Saman dan Larung) lantas kenapa Saman bisa begitu sensasional legendanya sementara Larung sunyi senyap?! Karya Pramoedya Ananta Toer yang jauh lebih panjang aja, yaitu Tetralogi Buru, tidak begitu jauh jarak “mutu”nya antara satu fragmen dengan fragmen lainnya. Bicara tentang Pram, bukankah komentar Pram di sampul belakang Saman itu adalah sebuah manipulasi tekstual paling brengsek dalam sejarah promosi sebuah karya sastra di negeri ini! Kalau memang benar Saman yang memenangkan Sayembara Roman DKJ 1998 dan Prince Claus Award 2000 itu begitu “dahsyat” seperti yang diklaim Sapardi Djoko Damono, Faruk dkk, untuk apa lagi dia mesti memelintir komentar Pram yang pada dasarnya menganggap novel itu jelek!

Kejahatan TUK semacam ini, yaitu manipulasi informasi, berkali-kali mereka lakukan. Yang langsung bersentuhan dengan aku adalah “laporan” di majalah-berita Tempo yang konon ditulis oleh Ags Dwipayana (aku tak ingat nama lengkapnya tapi orang ini orang teater, menurut “kabar angin”) tentang Temu Sastra Internasional 2003 yang diselenggarakan TUK di Solo. “Laporan” yang pada dasarnya mengelu-elukan program sastra TUK itu dan mengejek aku dan kawan-kawan Solo yang memprotesnya dengan keras karena tidak melibatkan seorangpun sastrawan Solo kecuali sebagai pembawa acara, hahaha…, ternyata tidak ditulis berdasarkan pandangan mata langsung “pelapor”nya! Si penulisnya tidak pernah hadir di Solo sama sekali selama dua-hari acara TUK itu dan menurut “kabar angin” semua infonya diberikan oleh Yang Mulia Goenawan Mohamad! Kasus Solo ini menjadi penting dalam “arkeologi dusta TUK”, hahaha…, kalau kita kaitkan dengan Kasus Chavchay Syaifullah, wartawan budaya Media Indonesia yang dipecat bosnya sebagai wartawan budaya karena pengaduan langsung Goenawan Mohamad. Chavchay menulis di korannya tentang acara Utan Kayu International Literary Biennale yang diadakan di TIM bulan Agustus lalu dan Goenawan Mohamad tersinggung atas laporan pandangan mata langsung Chavchay itu. Alasan Goenawan Mohamad, Chavchay dalam laporannya itu telah melakukan “fitnah” karena tidak menjalankan asas “cover both sides”, yaitu “tak mencoba mendapatkan dan memuat versi panitia dan TIM” paling tidak tentang diusirnya penyair Geger dari tempat acara. Padahal Chavchay punya rekaman pernyataan Geger bahwa dia diusir! Sontoloyo, itulah komentarku! Kekuasaan sipil yang sudah mulai menjadi diktatorial!

Masih mau lagi? Hahaha… Coba perhatikan jaringan kekuasaan yang sudah dibentuk TUK saat ini untuk menguasai dunia sastra kita: Hasif Amini di koran Kompas Minggu, keikutsertaan TUK dalam menyeleksi sastrawan lokal untuk Ubud Writers and Readers Festival, Ayu Utami di DKJ, dan “kabar angin” lagi Sitok Srengenge bakal menjadi redaktur sastra koran Media Indonesia Minggu! Sitok ini juga yang menurut “kabar angin” lain pernah sesumbar bahwa “Sastrawan Indonesia” itu adalah cuma mereka yang pernah diundang ikut acara sastra TUK! Megalomaniak gak, hahaha… Dulu waktu dia dan Medy Loekito dari komunitas kami Cybersastra ada di Iowa mengikuti program menulisnya, si penyair rima-dalam ini, hahaha…, pernah berkata bahwa dalam berbahasa Inggris, dia kalah dengan Medy, tapi dalam menulis puisi, dia lebih unggul! Uh, hebatnya, hahaha… Kalau dia tak bisa berbahasa Inggris, kok bisa dia mewakili Sastra(wan) Indonesia ke Iowa? Saat ini yang mewakili Sastra(wan) Indonesia ke Iowa adalah, you guess it!… monsieur  Nirwan Dewanto, hahaha… Sejak kapan redaktur koran ini jadi sastrawan dan mana karya sastranya? Mestinya kan penyair dan politikus sastra Saut Situmorang dong yang mewakili TUK, dan sastra Indonesia, ke Iowa, iya kan, hahaha…

O iya, sebelum aku lupa dan ada juga kaitannya sedikit dengan soal majalah “ilmiah” yang kita singgung di atas. Pernah baca buku kumpulan esei Goenawan Mohamad berjudul Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (AlvaBet, 2001)? Coba baca kata pengantar buku itu berjudul “Ke-Lain-an Goenawan Mohamad” yang ditulis oleh Hamid Basyaib! Atau baca ringkasannya di blurb sampul belakang buku! Dengan tidak ada rasa malu sama sekali dia mengklaim Goenawan Mohamad sebagai “esais terbaik Indonesia”, “orang Barat yang lahir di Batang” dan dalam kumpulan eseinya itu “ia membahas Brecht, Derrida, Adorno, Habermas, Nietcszhe [sic], Camus, Benjamin dan banyak nama penting lain dalam jagat pemikiran Barat bagai berbincang akrab dengan teman dekat”, “semuanya disorotinya dengan perangkat kritik sastra, yang digunakannya dengan kemahiran tak tertara”! Nah pertanyaan sederhanaku ini aja: Kalau Goenawan Mohamad itu memang begitu hebat, kok dia gak nulis di jurnal-jurnal ilmiah seperti yang kusebutkan di atas tadi aja? Kita kan bisa jadi sangat bangga kalau ada seorang penulis hebat kita yang tulisan kritiknya bisa muncul di jurnal ilmiah standar internasional ketimbang sekedar di media lokal doang! Inilah contoh megalomania narsisistik Teater Utan Kayu par excellence, hahaha…

Sudah tentu TUK, menganggapnya sebagai angin lalu. Bahkan fitnah?

SS: Jelas dong. Mana ada yang suka kebusukannya diekspos, apalagi sekelompok megalomaniak.

Manifesto Boemipoetra telah kami pelajari. Rasa sosial dan solidaritas tinggi serta anti-Liberalisme, rupanya tertanam kuat di diri sastrawan Ode Kampung. Berangkat dari kemanusian, apakah Anda tidak takut pengecaman Anda dkk. justru menjadi bumerang?

SS: Sekali lagi, jangan samakan boemipoetra dengan Ode Kampung. Tahu kan apa itu bumerang? Bumerang itu adalah senjata tradisional bangsa Aborijin Australia yang dipakai dengan melemparkannya ke objek yang ingin dilumpuhkan. Karena bentuknya melengkung dan cara melemparkannya khas, bumerang bisa kembali ke pemiliknya kalau tidak mengenai sasarannya. Kalau seseorang tidak sigap atau pandai menangkap bumerang yang terbang kembali itu, maka bocorlah kepalanya, hahaha… Maka ketahuan pula kalau dia bukan pemilik sebenarnya! Nah apa yang terjadi sekarang adalah bumerang itu tak bisa ditangkap kembali oleh Goenawan Mohamad dan para penulis-sekedarnya maka bocorlah kepala mereka, hahaha…

Menurut Anda mengapa setelah terbitnya Jurnal Boemipoetra, TUK tidak membalas sama sekali serangan Anda?

SS: Karena mereka itu cuma mitos belaka, tak ada esensinya. Karena isi boemipoetra tak bisa mereka bantah. Karena mereka takut kalau merespons maka semua kebusukan mereka akan jadi terbuka. Lebih baik didiamkan saja kan. Atau seperti “kabar angin” tentang apa yang dikatakan Goenawan Mohamad: apa Saut itu masih tahan menyerang sampai enam bulan lagi? Kalau tak salah, aku sudah menyerang TUK sejak tahun 2003 dan sekarang makin asyik aja, hahaha…

Seorang millist bernama Radityo yang disinyalir sebagai tangan kanan TUK,    menyerang Anda habis-habisan. Anda bisa jelaskan ini?

SS: Hahaha… Radityo Djadjoeri itu adalah keponakan Goenawan Mohamad. Dia sendiri yang ngaku begitu di Internet dan aku pun pernah mempostingkan data yang kudapat di Internet tentang keluarga besar mereka yang keturunan Arab-Kurdi itu. Radityo yang konon tamatan FE-UII Jogja ini memang seorang cyberpsikopat! Dulu dia juga pernah punya problem besar dengan Farid Gaban dari Republika dan melakukan teknik pencemaran nama yang sama, yaitu dengan menciptakan tokoh-tokoh cyber fiktif yang menyerang dengan alamat email buatan. Untuk menghadapi aku yang memang jauh di atas kelas intelektualnya ini, hahaha…, dia bahkan menciptakan milis-milis baru seperti yang bernama “sautisme@yahoogroups.com” itu. Tapi manalah pulak awak bisa dikerjainnya! Buktinya, justru dia sekarang yang dicekal dari begitu banyak milis Indonesia di Internet, hahaha…

TUK diperkirakan sebagai benih-benih sastra imperialis, yang secara general pernah disembulkan Taufik Ismail. Apakah kelahiran Jurnal Boemipoetra berangkat dari pernyataan Taufik?

SS: Harus disadari lagi bahwa boemipoetra tak ada hubungan apa-apa dengan Taufiq Ismail atau jelasnya dengan Kasus Taufiq Ismail vs Hudan Hidayat. Dan boemipoetra lahir bukan karena Taufiq Ismail ataupun pernyataan publiknya!!! Kami bertujuan membabat utan kayu, titik. Aku sendiri secara pribadi bertentangan dengan Taufiq Ismail soal Marxisme dan Lekra. Aku ini Marxist tapi Marxisme seperti yang diejek-ejek Taufiq Ismail tak pernah ada dalam Marxisme! Dia tak bisa membedakan antara politik partai dan sebuah isme pemikiran. Dalam sejarah peradaban manusia, isme yang paling kritis dan paling membela harkat orang banyak hanyalah Marxisme! Dan lawan utama Marxisme bukan Agama Monotheis seperti yang dirancukan Taufiq Ismail dkk, tapi Liberalisme-Kapitalisme yang justru telah menyebabkan matinya agama Kristen di Barat dan timbulnya kolonialisme di Asia, Afrika, Australia, Pasifik dan benua Amerika! Bagi boemipoetra, TUK adalah agen imperialisme Liberalisme-Kapitalisme terutama Amerika Serikat di sastra Indonesia, lewat program-program sastranya. Mudahnya akses bagi orang-orang TUK dan sekutunya ke program-program di Amerika Serikat, seperti program menulis Iowa itu misalnya, sementara orang-orang yang non-TUK ditolak visa mereka oleh Kedutaan Amerika Serikat, adalah bukti nyata.

Seks dan agama adalah keberlainan bahkan kebertentangan, Ayu Utami, yang selanjutnya diikuti Nukila Amal, dan Dewi Lestari sebagaimana Taufik yang menyatakan mereka bagian dari Fiksi Alat Kelamin (FAK) dan (GSM). Apakah Anda menyerang lini ini dengan berpusar pada pijak agama?

SS: Gawat! Siapa yang bilang bahwa “seks dan agama” itu bertentangan! Apa ada “agama” yang melarang seks! Gereja Katolik yang melarang pastor untuk kawin itu aja tidak melarang seks bagi yang non-pastor!!! Ketidakhati-hatian orang kita dalam berbahasa memang sudah fenomenal. boemipoetra tidak anti-seks malah sangat suka seks! Yang dilawan boemipoetra adalah eksploitasi seks (seksploitasi) sebagai standar estetika sastra (paling) bermutu, yang mengorbankan estetika sastra non-seks seperti nilai-nilai Islami pada Forum Lingkar Pena misalnya. Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu dan Dinar Rahayu adalah para penulis perempuan Indonesia yang mengeksploitasi seks dalam tulisan mereka dan menjadi terkenal karenanya. Menjadi dibaca tulisannya karenanya. Itu saja alasannya kenapa mereka dibaca. Lucu ya bahwa ketiga perempuan tukang eksploitasi seks perempuan ini punya nama sama, yaitu “Ayu”. Mungkin nama Sastrawangi musti diganti jadi “Sastrayu”, hahaha…

Sastra TUK jelas berbeda, mereka mengakomodir tulisan dengan kualitas tinggi. Bahkan mereka tidak akan menerbitkan karya yang dianggap “tidak layak” di jurnal Kalam. Berarti Sastra TUK punya pagar untuk menyempitkan dunianya(red). Eksklusivitas ini rupanya yang tidak diterima oleh Anda dkk. Mengapa?

SS: Hahaha… Itulah mitos yang berhasil dibangun TUK tentang dirinya dan dikunyah bulat-bulat oleh banyak sastrawan muda termasuk fakultas sastra yang seharusnya lebih kritis daripada sastrawan sendiri!

Kalam itu kan cuma majalah budaya umum dan “kekuatan”nya terletak lebih pada esei-esei budaya yang dimuatnya, bukan pada puisi atau cerpennya. Kolom puisi Kompas Minggu sewaktu ditangani Sutardji Calzoum Bachri jauh lebih tinggi reputasinya bagi para penyair Indonesia ketimbang Kalam. Bukankah cerpen yang dimuat di koran Kompas yang dianggap cerpen nyastra yang bermutu? Sastra TUK itu apa? Yang “sastrawan” di TUK itu kan cuma Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge dan Ayu Utami. Ini kan sastra TUK itu.

Soal “kualitas tinggi” TUK. Apa tinggi kualitasnya puisi Sitok, bahkan Goenawan Mohamad sekalipun? Apa tinggi kualitasnya esei-esei Nirwan Dewanto atau Hasif Amini? Terjemahan Hasif atas cerpen-cerpen Jorge Luis Borges (dari terjemahan bahasa Inggris) aja jelek tapi dipuji-puji setinggi langit oleh sesama orang TUK! Apa tinggi kualitasnya program biennale sastra TUK yang mengklaim Avi Basuki dan Laksmi Pamuntjak sebagai “sastrawan internasional Indonesia” itu? Apa yang pernah ditulis Laksmi Pamuntjak dalam “sastra Indonesia”? Yang benar adalah bahwa manipulasi informasi TUK memang berkualitas tinggi, hahaha…

Apa perjuangan Anda dkk. sudah selesai?

SS: Apa TUK sudah hancur? Hahaha…

Dengan duduknya Hasif Amini di Kompas dan Nirwan Dewanto di Tempo, sudah tentu makin melambungkan sastra TUK yang Anda sinyalir sebagai kelompok yang berambisi menoreh sejarah sastra. Benarkah?

SS: Sudah aku jawab di atas.

Mahasiswa, sebagai akademisi sastra yang belum terbaluri pengaruh ini, sebaiknya ada di posisi mana?

SS: Masak mahasiswa sastra belum terkena pengaruh mitos TUK! Yang benar aja ah.

Pertanyaan No.10 di atas kan jelas menunjukkan betapa kalian sudah sangat dalam dipengaruhi oleh “pesona” mitos TUK itu! Sadarlah dan kembalilah ke jalan yang benar! Hahaha…

Anda tidak meluaskan propaganda ke kalangan mahasiswa. Mengapa?

SS: Lha wawancara ini apa namanya kalau bukan propaganda demitologisasi TUK, hahaha…

Kanonisasi Sastra dapatkah Anda jelaskan secara singkat?

SS: Kanon adalah sekelompok karya yang, minimal, selalu ada dalam kurikulum pengajaran sastra di sekolah dan perguruan tinggi. Sebuah karya yang bisa masuk jadi anggota kanon sastra tentu saja akan terangkat reputasi sastranya, dan pengarangnya, dalam hierarki kelas “kedahsyatan” artistik dalam sejarah sastra. Dan bisa dipastikan akan terus menerus dicetak-ulang sekaligus dibahas-ulang dalam skripsi, tesis dan disertasi.

Tentu saja semua pengarang ingin semua karyanya bisa masuk dalam kanon sastra, paling tidak sebuah bukunya. Tapi kenyataannya cuma segelintir saja pengarang yang bernasib mujur begini. Ketidakmujuran nasib banyak pengarang dalam peristiwa kanonisasi sastra inilah yang menimbulkan pertanyaan: Kok karya S Takdir Alisjahbana bisa masuk kanon sementara cerita silat Kho Ping Hoo nggak? Kenapa puisi Goenawan Mohamad, bukan Saut Situmorang? Masak cerpen Seno Gumira Ajidarma masuk tapi cerpen Hudan Hidayat kagak? Apakah karena cerpen Seno punya “substansi” sementara cerpen Hudan cuma begitu-begitu aja? Puisi Goenawan Mohamad “sublim” tapi Saut Situmorang cuma bermain-main dengan intertekstualitas dan tidak tertarik pada “kedalaman” simbolisme pasemon puitis? Apa sebenarnya yang menjadi “kriteria” dalam seleksi kanon (canon formation)? Apakah “substansi” sastra atau “sublimitas” sastra seperti yang diyakini Hudan Hidayat dan para pengarang bakat alam lainnya itu? Apakah estetika satu-satunya standar dalam menilai mutu karya? Kalau benar, lantas apakah “estetika” itu? Adakah karya sastra yang an sich benar-benar “dahsyat” dan “universal”? Apakah karya sastra itu memang otonom, bebas nilai, tidak tergantung pada hal-hal di luar dirinya untuk menentukan baik-buruk mutunya? Atau ada hal-hal lain di luar teks karya – mulai dari komentar para “pengamat” sampai ekspose di media massa atas sosok sang pengarang – yang menjadi faktor dominan dalam terpilih-tidaknya sebuah karya sastra menjadi anggota kanon sastra?

Sastra kontemporer kita rusak karena dilettante sastra, petualang sastra seperti TUK, Kompas dan Richard Oh dengan sensasi duit Katulistiwa Literary Award-nya itu merajalela membuat kanon-kanon sastra baru tanpa kriteria yang bisa dipertanggungjawabkan dan para sastrawan pada cuek aja. Inilah efek apolitisasi sastra Orde Baru!

Bang Saut setiap jawaban Abang akan kami publikasikan. Silahkan menambahkan sesuatu yang perlu Abang uraikan.  Tapi kami  tetap menjaga etika jurnalisme.

Terima kasih banyak. Salam untuk Wowok dkk.

SS: Terimakasih juga. Wawancara kalian ini adalah wawancara pertama yang dilakukan dengan boemipoetra untuk mendengarkan perspektif boemipoetra tentang Perang Sastra boemipoetra vs TUK. Selama ini cuma Goenawan Mohamad dan anggota TUK lainnya aja yang diberikan kesempatan bicara secara formal dalam sebuah wawancara. Kalian sudah bertindak adil! Bravo! Aku juga mengharapkan kalian berani memuat semua yang aku nyatakan di sini. Berani seperti boemipoetra! Kalau mahasiswa aja sudah gak berani mengeluarkan pendapatnya dalam media kampusnya sendiri, apalagi dengan alasan mitos “etika jurnalisme” yang cuma menguntungkan kekuasaan status quo itu, untuk apa kita punya universitas di negeri ini! Mitomania harus dilawan oleh semua mahasiswa yang menganggap dirinya berbudaya dan kritis, terutama oleh mahasiswa sastra. Ingat apa yang dikatakan George Orwell: During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act! HIDUP MAHASISWA!