Posts Tagged ‘kanon’

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri

Oleh: Saut Situmorang

 

Kalok kita memang serius berusaha mendekonstruksi Sejarah Indonesia Versi Orde Baru maka salah satu dari Sejarah Indonesia tersebut adalah Sejarah Sastra Indonesia.

Dekonstruksi atas Sejarah Sastra Indonesia hanya bisa dilakukan dengan satu cara: Membaca-ulang politik kanon(isasi) tokoh-tokohnya.

Menulis prosa yang diklaim Sutardji Calzoum Bachri sebagai “puisi esai” itu apa susahnya dibanding nulis sajak mbeling nonsens yang diklaim Sutardji Calzoum Bachri sebagai “mantera tak punya makna” itu?!

Sutardji Calzoum Bachri tak pernah diakui para penyair angkatannya sebagai penyair. Cumak pelukis Popo Iskandar dan para penulis nonsens dari Bandung yang mengganggapnya penyair. Bahkan A. Teeuw pun tidak anggap dia penyair! Mangkanya dia purak-purak mabuk bir waktu pertama kali diundang baca nonsens-nya di TIM biar terkesan macam dukun kampung kesurupan yang lagi baca “mantra”. Ckckck…

Untung bagi Tardji – si impostor terbesar dalam sejarah Sastra Indonesia itu – bahwa Sastra Indonesia waktu itu sedang dikuasai ideologi artistik tunggal bernama “seni untuk seni” makanya nonsens-nya itu diterima begitu saja sebagai karya “seni” oleh mabes “seni untuk seni” yaitu Jakarta dengan DKJ, TIM dan majalah Horison-nya. Gaya baca pseudo-dadaisnya pun menambah eksotisme “art for art’s sake” nonsensnya tersebut!
Maman S Mahayana dan para komentator sastra lain mengklaim bahwa sajak-sajak mbeling nonsens Tardji yang dikumpulkan dalam buku “O Amuk Kapak” adalah puisi sufi. Sejak kapan genre Puisi Sufi cumak main-main nonsens huruf, kata, bunyi dan tipografi? Main-main linguistik yang gak jelas juntrungannya lagi! Kenapa jenis sajak yang sama yang ditulis pada waktu yang bersamaan dengan nonsens-nonsens Tardji itu di Bandung (di mana Tardji jugak nulis nonsens-nya itu dan diakui sebagai “penyair”) disebut “puisi mbeling”, BUKAN puisi sufi? Ada contoh lain dari kazanah sastra sufi yang memang bisa dibandingkan dengan nonsens Tardji itu? Dan apa puisi sufi itu cirinya dibacakan sambil purak-purak mabuk bir dengan mengacung-acungkan kapak ke penonton?!

Sutardji Calzoum Bachri memang benar seorang penyair SUFI. Yaitu “Suka Uang Freedom Institute”. Bukankah dia tidak merasa ada persoalan moral-relijius waktu bersedia menerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008?

Absennya tradisi Kritik Sastra yang sesungguhnya di Indonesia, yaitu tradisi Kritik Sastra seperti di Barat, asal Sastra Indonesia itu sendiri, telah membuat seorang tukang arsip biasa menjadi “kritik sastra” komentar-komentar yang dituliskannya di majalah Horison yang dipimpinnya dan menyulapnya jadi Kritikus Sastra. Otoritasnya yang begitu dominan dalam penciptaan kanon baru atas Angkatan 66 dan sesudahnya bahkan sampek membuatnya disebut sebagai Paus Sastra Indonesia walopun dia seorang Muslim dan bukan Katolik!

Tardji dan sesamanya Horisonis, yaitu Sapardi Djoko Damono dan Leon Agusta, bisa begitu remeh memandang Sejarah Sastra Indonesia dalam konteks Denny JA dan duitnya gampang dimengerti penyebabnya. Mereka sendiri pun lahir dari sejarah Sastra Indonesia yang dimanipulasi HB Jassin dan kaum Manikebuis lainnya maka wajar saja dan bahkan sesuai dengan ideologi mereka untuk mengklaim Denny JA sebagai “penyair” berdasarkan main-mainnya yang diberi gelar mentereng “puisi esai” itu.

Politik Kanon(isasi) Sastra yang sangat digemari kaum Manikebuis Humanis Universal itu (mulai dari Balai Pustaka ke HB Jassin ke Goenawan Mohamad-TUK-Salihara dan memuncak pada Skandal Denny JA) adalah ciri dari ideologi Politik adalah Panglima, yang ironisnya tak malu-malu mereka fitnahkan ke musuh mereka yang sudah kaput dibantai Harto dan para algojonya yaitu almarhum LEKRA. Sebuah kelakuan yang benar-benar “kelakuan for kelakuan’s sake” yang tak bermoral, ahistoris dan atheis. Cumak mereka yang tak percaya sama Tuhan yang sanggup melakukan kebiadaban intelektual begini!

Bukankah hal yang sama yang terus menerus difitnahkan Denny JA kepada mereka yang menolak statusnya sebagai Penyair dan terutama sebagai salah seorang dari “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” seperti yang berusaha dia wujudkan lewat buku sampah berjudul sama yang disusun orang-orang bayarannya itu? Dia memaki para penentangnya sebagai anti demokrasi, pembakar buku bahkan disamakannya dengan FPI. Tapi Sejarah dengan sangat manis dan puitis membuktikan betapa dia lah sebenarnya contoh dari apa-apa yang dia makikan itu! Dia lah yang telah berusaha membungkam Suara yang menentang Manipulasi Sejarah Sastra Indonesia yang sedang dia lakukan itu dengan cara mempolisikan dua sastrawan penentangnya. Dan Sejarah dengan manis puitis pula membuktikan bahkan di usaha terakhirnya ini pun dia gagal total dengan begitu dahsyatnya dukungan yang diberikan di mana-mana (bukan cuma dari dunia Sastra belaka) atas perjuangan melawan Kriminalisasi Sastrawan yang dia lakukan dan makin tercium bau busuk dirinya yang ingin disembunyikannya di balik omong kosong gerakan Anti Diskriminasi taik kucingnya itu!
Kriminalisasi Sastrawan adalah respon dari status quo yang legitimasi status kanonnya dipermasalahkan. Itulah sebabnya para “tokoh” itu diam saja dan tidak melakukan apa-apa atas skandal memalukan yang menista harga diri Sastra Indonesia ini! Bukankah para Humanis Universal ini juga diam saja waktu para pengarang LEKRA dikriminalisasi (dibunuh ato diasingkan jadi budak paksa di Pulau Buru) oleh rezim diktator militer Jendral Suharto yang notabene mereka dukung untuk berkuasa dengan mengkudeta presiden Sukarno yang sedang berkuasa saat itu!

Mari kita bongkar mitos-mitos kosong dalam Sastra Indonesia biar Sastra Kita bersih dari dusta dan manipulasi politik kanon sastra!

Mereka pikir kita bodoh dan penakut seperti mereka. Mari kita tunjukkan ke mereka bahwa kita mengerti mereka lah yang bodoh dan penakut!***

 

Referensi:

Penghargaan Achmad Bakrie 2008 http://www.freedom-institute.org/index.php%3Foption%3Dcom_content%26view%3Darticle%26id%3D111%26Itemid%3D322

Satu Tulisan Pendek Atas Lima Puisi Panjang http://puisi-esai.com/2012/03/26/satu-tulisan-pendek-atas-lima-puisi-panjang/

Politik Kanonisasi Sastra dalam Sastra Indonesia https://boemipoetra.wordpress.com/2010/08/18/politik-kanonisasi-sastra-dalam-sastra-indonesia/

Isu Diskriminasi dalam Puisi Esai http://puisi-esai.com/2012/03/21/6/

Saut Situmorang

Saut Situmorang

oleh Puthut Ea*

 

Ada banyak celometan yang ditujukan kepada Pak Goenawan. Namun menurut saya hanya satu orang yang benar-benar menjadi penantang serius sang begawan Salihara yakni Saut Situmorang.

Apakah yang lain tidak serius? Ada yang sedikit serius, ada yang hanya bisa berisik, bahkan ada yang oportunistik. Tapi yang benar-benar melawan dengan menyeluruh, tangguh, hanya bisa saya dapatkan pada diri Saut. Apa sih maksud melawan Sang Begawan dengan oportunistik? Jika kemudian ada ‘sogokan’ panggung, kegiatan atau bantuan maka mereka menjadi lembek dan terkooptasi. Lalu apa sih maksudnya melawan dengan berisik? Mereka yang melawan Sang Begawan tanpa argumen memadai, hanya mengumpat, tidak jelas maunya apa, tidak terang alasannya mengapa.

Saut mengumpat. Ia juga mencaci dengan kecenderungan yang kasar. Tapi ia punya argumen yang kokoh. Banyak orang terutama yang ikut-ikutan menentang kekuasaan Pak Goen hanya meniru ‘kekasaran’ Saut. Mereka lupa membaca dengan cermat esai-esainya yang runtut dan jernih. Umpatan atau cacian pun bisa dibaca sebagai ragam ekspresi khas Saut. Tapi juga bisa dibaca lebih dalam dengan kerangka teoritik sebagaimana para pendahulu kita melawan hegemoni bahasa yang tertib, halus dan santun dengan bahasa yang lugas, langsung, cenderung kasar. Ekspresi tersebut dipilih dengan sadar dan bukan asal-asalan.

Kekuatan lain Saut adalah soal integritas. Saut menolak karyanya masuk nominasi sebuah penghargaan dan menjelaskan alasannya. Ia bukan tipe orang yang ‘ada maunya’. Kalau ‘maunya’ sedang difasilitasi bisa berubah jadi anak baik-baik. Ia bukan orang yang seperti itu.

Bagi Saut, semua hal bisa jadi cara dan propaganda untuk melawan dominasi Pak Goen. Dari mulai minum bir, diskusi formal, buku, blog, media sosial, semua adalah arena pertempuran dimana ia akan memposisikan diri sebagai lawan Pak Goen.

Selain memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni, Saut juga diberkati ilmu komunikasi yang baik. Ia propagandis sekaligus agitator yang ulung. Anda yang tidak tahu Pak Goen atau dunia kebudayaaan maupun sastra di Indonesia, duduk setengah jam saja dengan Saut akan terbuka peluang menjadi pembenci Pak Goen. Ditambah dengan selera humor yang lumayan, lengkaplah senjata Saut.

Saut adalah nabi kecil lain yang sedang dan terus membangun kekuasaannya yang khas, berhadapan dengan kekuasaan besar Sang Begawan. Setidaknya dalam amatan saya sekitar 15 tahun. Bukan waktu yang pendek untuk kemampuan melawan sebuah rezim kuat, mewah dan punya banyak sekali modal.

Saut adalah gerilyawan tulen, keras dan gigih. Mungkin dalam panggung kebudayaan republik ini, Saut adalah fenomena yang pantas diberi tempat tersendiri. Dalam ingatan saya belum ada seorang penyair cum intelektual seperti Saut yang melawan sebuah dominasi kelompok elit kebudayaan dengan konsisten dan awet.

Saya yakin ada banyak orang baik yang dekat sekali maupun agak dekat dengan Sang Begawan yang risih dengan kehadiran dan jurus mabuk Saut. Pak Goen yang dulu menganggap sepele kehadiran Si Gimbal dengan suara serak sengau bariton itu pun lama-lama jengah juga. Tapi Pak Goen nyaris tidak bisa melakukan apa-apa. Ia dalam posisi dilematis. Kalau melayani Saut berarti ia akan ikut terus mengangkat performa pengganggunya itu. Jika tidak dilawan, Saut semakin bisa memperluas arena pertempuran. Hal yang sama terjadi juga bagi orang-orang di sekitar Sang Begawan. Mereka pura-pura tidak peduli Saut. Tapi sesungguhnya mereka sangat terganggu.

Sialnya, Saut tidak bisa ‘dibeli’. Seakan-akan menghancurkan dominasi Sang Begawan adalah salah satu tugas hidup Saut, alasan eksistensialnya, yang dilakukan dengan riang dan bergairah.

Problem besar Saut saya kira adalah dia tidak berhasil membangun kapasitas orang-orang yang ikut dalam rombongannya. Dan tampaknya Saut belum melakukan pengorganisasian perlawanan yang baik dan terstruktur. Jurus mabuk masih efektif di fase seperti ini. Tapi ada fase selanjutnya.

Dalam ilmu perang, jurus mabuk adalah sistem gerilya yang fungsinya untuk mengganggu. Tapi untuk menganvaskan musuh tetap di tangan pasukan infanteri yang masif, kuat dan solid.

Mari kita lihat babak selanjutnya…

 

*Puthut Ea, prosais, tinggal di Jogjakarta

 

Sumber:

https://www.facebook.com/notes/puthut-ea/jurus-mabuk-saut/10151885730158167?notif_t=comment_mention