Posts Tagged ‘novel’

 

meme Bumi Manusia

 

Oleh: Saut Situmorang*

Setidaknya ada tiga hal yang sangat mengecewakan setelah menonton film Bumi Manusia Hanung Bramantyo. Pertama, betapa kagetnya saya waktu tokoh Minke dalam film dipanggil “Tirto” oleh tokoh lainnya. Dari mana nama “Tirto” ini datang?! Tidak pernah sekalipun dalam keseluruhan Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer atau Pram (di mana novel Bumi Manusia merupakan bagian pertamanya) ada disebutkan bahwa nama lain tokoh Minke adalah “Tirto”. Hanya nama “Minke” yang kita kenal sebagai nama protagonis tetralogi Pram tersebut. Jadi, sekali lagi, dari mana nama “Tirto” itu datang?!

Walaupun beredar rumor bahwa tokoh utama Tetralogi Pulau Buru Minke didasarkan atas kehidupan seorang tokoh sejarah bernama Tirto Adhy Soerjo tapi tetralogi tersebut BUKAN sebuah biografi dari Tirto Adhy Soerjo melainkan karya fiksi berbentuk novel, karya seni sastra yang dikarang-karang. Biografi berbeda dari novel, dari fiksi. Apakah Hanung Bramantyo benar-benar menganggap bahwa Tetralogi Pulau Buru adalah biografi dari Tirto Adhy Soerjo?! Kalau Hanung memang bertujuan memfilmkan biografi dari tokoh historis bernama Tirto Adhy Soerjo maka dia telah salah memilih teks-sumbernya. Dia harusnya memakai buku lain Pram yang memang sengaja ditulis Pram sebagai biografi Tirto Adhy Soerjo yaitu Sang Pemula.

Kedua, ada satu adegan dalam novel Bumi Manusia yang merupakan salah satu adegan paling penting dari keseluruhan alur-cerita novel tersebut. Adegan dimaksud adalah saat Minke merangkak, beringsut seperti keong lalu duduk bersimpuh menekuri lantai di pendopo kediaman bapaknya, Bupati Kota B itu. Adegan ini sangat penting karena di situlah, dalam solilokui dalam hatinya, Minke memaki-maki semua yang dianggapnya dekaden dan busuk dalam budaya feodal Jawa, yang direpresentasikan oleh bapaknya yang sedang dihadapinya itu. Secara tekstual, adegan tersebut merupakan representasi dari kritik Pram sendiri atas dekadensi dan kebusukan budaya feodal Jawa, seperti yang selalu dilontarkanya dalam karya-karya besarnya seperti di novelnya yang lain Gadis Pantai. Menghilangkan solilokui Minke ini dari alur-cerita film adalah pengkebirian tekstual yang tidak dapat dimaafkan karena merupakan penyensoran atas kritik novel terhadap kondisi budaya feodal Jawa di zaman kolonial yang merupakan salah satu tema penting novel!

Hal ketiga yang membuat peristiwa menonton film Bumi Manusia Hanung jadi derita berjam-jam yang tak tertahankan adalah ketidakpedulian Hanung pada akurasi historis dari setting filmnya sendiri yaitu pemakaian bahasa Melayu dalam film. Novel Bumi Manusia adalah sebuah novel sejarah, lebih tepatnya sebuah novel yang mengambil tempat terjadinya peristiwa yang diceritakannya di masa kolonial Belanda di akhir abad 19-awal abad 20. Kalau Hanung menganggap bahwa kostum dan arsitektur dalam filmnya harus sesuai dengan setting zaman yang jadi latar belakang film, kenapa hal tersebut tidak diterapkannya juga atas bahasa Melayu yang dipakai para tokoh filmnya? Bagaimana mungkin kita para penonton filmnya di abad 21 ini bisa diyakinkannya bahwa pada zaman kolonial Belanda dulu itu bahasa Melayu di Hindia Belanda sudah mengenal kata-kata seperti “anda” dan “sih”! Seperti yang telah dengan sangat baik dijelaskan oleh Holy Adib dalam artikelnya yang membahas topik yang sama:

“Cerita dalam film Bumi Manusia terjadi pada 1898—1918 di Surabaya pada masa Hindia Belanda. Namun, ada beberapa kata yang dipakai dalam film tersebut yang tidak sesuai dengan latar belakang zamannya. Kata-kata tersebut, antara lain, anda dan sih.

Kata anda digunakan tiga kali, yakni dua kali oleh Nyai Ontosoroh di pengadilan dan satu kali oleh seorang anggota marsose ketika menjemput Annelies di rumah Ontosoroh untuk dibawa ke Belanda. Padahal, kata anda baru muncul pada 28 Februari 1957 dalam koran Pedoman

Kedua, kata sih dalam film Bumi Manusia digunakan dua kali, yakni oleh Ontosoroh ketika bertanya kepada Annelies, “Kenapa sih, An?”, dan oleh Minke ketika mengobrol dengan Annelies, “Masa sih?” Partikel sih hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari yang lazim dipakai oleh penutur bahasa Indonesia di Jakarta dan sekitarnya.’ (Anakronisme bahasa dalam film Bumi Manusia, Beritagar.id, Sabtu 24 Agustus 2019)

Ironisnya, bahasa Belanda dan Jawa sampai ke detil mimik ekspresi dan logat para pemakainya justru dengan setia ditunjukkan Hanung dalam filmnya! Termasuk waktu para bule kolonial berbahasa Melayu ke kaum boemipoetra!

***

Film yang mengadaptasi novel, cerpen, drama, cerpen, biografi, bahkan reportase jurnalistik adalah fenomena biasa. Satu contoh yang sangat terkenal karena bukan saja mengadaptasi drama dari bahasa dan budaya yang berbeda dari asal si pembuat film tapi malah berhasil membuat adaptasinya tersebut jadi bagian dari budayanya sendiri adalah film Ran karya Akira Kurosawa (Jepang) atas drama King Lear William Shakespeare. Disamping Ran, Kurosawa juga mengadaptasi karya Shakespeare lain yaitu Macbeth jadi Throne of Blood. Kedua adaptasi Kurosawa ini dianggap masterpiece dari sinema dunia.

All the President’s Men adalah contoh film yang diadaptasi dari buku non-fiksi jurnalistik berjudul sama tentang Skandal Watergate di awal tahun 1970an yang melibatkan presiden Amerika Serikat saat itu, Richard Nixon.

Film yang mengadaptasi novel/fiksi malah sangat banyak. Kebanyakan film maestro Cina Zhang Yimou adalah contoh dari genre ini. Dia bahkan mengadaptasi sebuah cerita silat (cersil) Cina atau wuxia jadi film Hero yang merupakan standar untuk pembuatan film bergenre wuxia/cersil.

Mengadaptasi tentu saja tidak berarti membuat-ulang sumber asal seperti aslinya. Alasannya sederhana saja: kedua medianya berbeda. Film, misalnya, tidak akan mungkin bisa memuat semua detil yang ada dalam sebuah novel. Karena film bukan novel dan sebaliknya. Tapi ada sesuatu yang sangat penting yang harus diadaptasi yaitu apa yang membuat novel tersebut dianggap dahsyat, misalnya. Alur-cerita (plot) dan Karakter/Tokoh novel tentu saja merupakan unsur-unsur penting yang tidak bisa ditiadakan. Unsur lain bisa saja dilupakan atau dikurangi. Alur-cerita dan Karakterlah yang membuat Tema novel dan Tema ini yang jadi kiblat dari adaptasi yang akan dilakukan.

Gila Kekuasaan adalah tema dari kedua drama Shakespeare yang diadaptasi Kurosawa di atas dan Kurosawa berhasil mewujudkannya dalam versi Jepang, dengan semangat dan budaya Jepang di zaman kaum samurai. Zhang Yimou berhasil menggambarkan kondisi hidup kaum miskin Cina di awal abad 20 terutama kaum perempuannya seperti yang dilakukan novel-novel sumber adaptasinya itu.

Bagaimana dengan film Hanung Bramantyo yang konon merupakan “adaptasi” dari novel pertama Pramoedya Ananta Toer dari Tetralogi Pulau Buru-nya? Apakah tema novel Bumi Manusia Pram memang cuma soal cinta remaja seperti yang terus dikatakan Hanung Bramantyo dalam wawancara-wawancaranya sebelum pembuatan film? Kalau memang benar, lantas kenapa novel Pram tersebut dianggap sebuah masterpiece dalam sejarah Sastra Indonesia dan bahkan sampai dilarang oleh rezim Orde Baru? Apa rezim Orde Baru anti cinta remaja?! Kok novel-novel  cinta pop macam Cintaku Di Kampus Biru dan seri Ali Topan tidak dilarang? Kenapa Pram bahkan sampai dinominasi berkali-kali untuk Hadiah Nobel Sastra karena Tetralogi Pulau Buru-nya itu?! Bahkan di pertengahan tahun 1990an waktu saya mengambil mata kuliah “Politics and Literature” untuk gelar Master di Universitas Auckland, Selandia Baru, novel Bumi Manusia merupakan salah satu textbook yang harus dibaca disamping Uncle Tom’s Cabin, The Satanic Verses, dan Sketches from a Hunter’s Album padahal mata kuliah tersebut bukan diberikan departemen Asian Languages di mana saya jadi mahasiswanya tapi oleh departemen Comparative Literature.

Sebuah adaptasi film atas novel tentu saja, sekali lagi, tidak harus merupakan sebuah pengalihan keseluruhan novel tersebut ke dalam bentuk baru bernama film karena namanya juga film adaptasi. Tapi hal ini tidak serta merta lantas membuat sebuah adaptasi merupakan sebuah tafsir sesuka hatinya si pembuat film. Ada satu hal penting yang harus diingat dan dijadikan pedoman adaptasi yaitu apa yang membuat novel tersebut dianggap berhasil sebagai novel dan membuatnya terkenal hingga akhirnya bahkan dianggap penting untuk diadaptasi ke dalam bentuk genre baru, dalam hal ini film.

Novel Bumi Manusia adalah bagian dari sebuah seri-novel bernama Tetralogi Pulau Buru dan fakta ini membuatnya tak bisa dilepaskan dari keseluruhan tetralogi novel tersebut. Tafsir atas novel pertama dari Tetralogi Pulau Buru ini tak bisa dilakukan tanpa mengaitkannya dengan tema tetralogi. Makna dari keseluruhan tetralogi tersebut adalah konteks bagi interpretasi/tafsir yang (akan) dilakukan baik atas keseluruhan tetralogi maupun atas masing-masing novel yang membentuknya. Termasuk interpretasi dalam mengadaptasinya ke medium lain yang berbeda, film misalnya.

Impotensi Hanung Bramantyo dalam menafsir novel Bumi Manusia akhirnya berakibat fatal atas filmnya sendiri. Film tersebut gagal mengadaptasi novel Pram, gagal jadi film Bumi Manusia, walau diklaimnya sebagai berdasarkan novel tersebut! Seperti kita saksikan sendiri, film Hanung tersebut memang tak lebih dari kisah cinta remaja belaka, seperti yang dinyatakannya sendiri di media massa jauh sebelum pembuatan film dimulai. Sejarah kebangkitan rasa nasionalisme kaum boemipoetra yang terjajah dan kritik atas dekadensi budaya feodal Jawa gagal kita temukan dalam filmnya itu. Karenanya pula film Bumi Manusia Hanung gagal mengenalkan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer kepada Generasi Milenial yang tidak membaca novel tersebut sebelum menonton film, generasi yang justru dipropagandakan Hanung sebagai target utama dari pembuatan filmnya itu. Padahal dia sendiri pernah klaim bahwa novel Ayat-ayat Cinta “lebih berat” dibanding Bumi Manusia! Sekarang saya mengerti kenapa Pram menolak waktu Hanung minta izin untuk memfilmkan Nyai Ontosoroh, tokoh novel Bumi Manusia itu, sekitar duapuluhan tahun lalu.

*Saut Situmorang, penyair tinggal di Jogjakarta

Oleh: Saut Situmorang

 

Kritikus sastra Amerika MH Abrams mendefinisikan istilah realisme, seperti yang biasa dipakai dalam kritik sastra, atas dua pengertian besar: pertama, sebagai nama sebuah gerakan sastra historis di Barat abad 19, terutama seperti yang bisa dibaca dalam karya-karya fiksi yang dipelopori Balzac di Prancis, George Eliot di Inggris dan William Dean Howells di Amerika; dan kedua, sebagai terminologi atas sebuah gaya penulisan, yang bisa ditemukan pada zaman apa saja, di mana representasi kehidupan dan pengalaman manusia menjadi tujuan penulisan yang paling penting, terutama seperti yang dicontohkan oleh karya-karya para sastrawan gerakan sastra di atas.

Fiksi realis biasanya dibedakan dari fiksi romantik. Roman (romance) dianggap berusaha menggambarkan kehidupan seperti yang kita mimpikan: lebih menyenangkan, penuh petualangan, lebih heroik dibanding kehidupan sebenarnya; sementara fiksi realis menggambarkan imitasi yang akurat atas kehidupan seperti apa adanya. Fiksi realis berusaha memberikan gambaran kehidupan dan realitas sosial seperti yang dikenal oleh pembaca umumnya, dan untuk mencapai tujuan ini tokoh protagonis fiksi biasanya adalah warga masyarakat biasa dalam kehidupan sosialnya sehari-hari. Dalam pengertian yang lebih umum, para penulis fiksi seperti Fielding, Jane Austen, Balzac, George Eliot dan Tolstoy adalah penulis realis karena mereka selalu menggambarkan warga masyarakat biasa dan kehidupannya dengan begitu meyakinkan hingga kita percaya bahwa memang seperti itulah hidup, bicara dan tingkah-laku orang biasa.

Realisme sendiri seperti yang secara umum digambarkan di atas masih mengenal dua sub-genre besar yang pengaruhnya cukup dominan dalam wacana sastra internasional: realisme sosialis dan realisme magis. Realisme sosialis adalah terminologi yang dipakai para kritikus Marxis untuk fiksi yang dianggap menggambarkan atau merefleksikan pandangan Marxis bahwa pertentangan antar kelas sosial merupakan dinamika esensial masyarakat. Dalam pengertiannya yang paling sempit, realisme sosialis merupakan istilah yang dipakai sejak tahun 1930an untuk fiksi yang merealisasikan kebijakan Partai Komunis Uni Soviet seperti pentingnya penggambaran penindasan sosial yang dilakukan kapitalis borjuis, penggambaran kebaikan kaum proletar, dan penggambaran kehidupan yang aman dan makmur di bawah sosialisme Partai Komunis. Tapi bagi seorang kritikus Marxis seperti Georg LukĂĄcs, misalnya, dengan menerapkan kriteria teoritis yang cukup kompleks atas konsep realisme, justru karya-karya klasik fiksi realis Eropa yang kebanyakan dipujinya, bukan fiksi yang dihasilkan di bawah doktrin kebijakan Partai Komunis.

Realisme magis adalah istilah yang dipakai untuk fiksi karya Jorge Luis Borges dari Argentina, dan termasuk juga karya-karya para penulis lain seperti Gabriel GarcĂ­a MĂĄrquez dari Kolombia, GĂŒnter Grass dari Jerman dan John Fowles dari Inggris. Ciri khas fiksi ini adalah eksperimen dalam tema, bentuk, isi, sekuen waktu, dan pencampur-adukan antara hal-hal biasa, fantastik, mitos dan mimpi yang mengakibatkan terjadinya kekaburan antara yang serius dan main-main, yang menakutkan dan absurd, yang tragis dan komik. Singkatnya, kolase yang terus menerus berubah polanya antara realisme dan unsur-unsur fantastik.

***

Kalau kita amati karya-karya fiksi sastra Indonesia mulai dari periode Balai Pustaka sampai penerbitan buku kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2002, maka akan terlihat betapa dominannya fiksi realis dalam sejarah sastra kita: Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Belenggu, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Atheis, Jalan Tak Ada Ujung, Cerita Dari Blora, Pertempuran dan Salju di Paris, Robohnya Surau Kami, Seribu Kunang-kunang di Manhattan, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Tarian Bumi, tujuh musim setahun, dan semua buku Cerpen Pilihan KOMPAS.

Apa yang menarik dari fakta dominasi fiksi realis dalam sastra kita adalah pertanyaan kenapa hal ini bisa terjadi. Adakah relasi sebab-akibat antara realitas pascakolonial masyarakat dan budaya kita dengan kecendrungan realis produk-produk sastra kita? Dalam kata lain, apakah realitas sosial masyarakat kita setelah berakhirnya masa kolonialisme Belanda yang tidak sesuai dengan janji-janji yang ditawarkan oleh konsep “bangsa yang merdeka, bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri” (keadilan sosial, humanisme, kemakmuran) bukan merupakan sebuah faktor signifikan dalam mempengaruhi kecendrungan penulisan fiksi realis atau “fiksi yang terlibat” dalam sastra kita? Bisakah kita nyatakan bahwa semangat Romantik di mana pengarang menganggap dirinya sebagai “juru bicara masyarakatnya” merupakan semangat kreatif yang menjadi ideologi proses kreatif pengarang kita pada umumnya?

Sejarawan sastra Indonesia asal Jerman Ulrich Kratz dalam Kata Pengantar buku Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX (Kratz 2000) yang disusunnya membuat sebuah pernyataan yang, saya pikir, cukup penting dalam usaha kita untuk memahami historisitas dari kecendrungan penulisan fiksi realis atau “fiksi yang terlibat” dalam sastra kita. Mengomentari esei Armijn Pane berjudul “Kesoesasteraan Baroe I” di majalah Pujangga Baru, 1 (1), 1933, yang merupakan penjelasan Armijn atas apa “sifat” dari sastra baru yang direpresentasikan oleh penerbitan majalah baru tersebut, Ulrich Kratz mengajak kita untuk menyadari satu hal yang sering dilupakan dalam pembicaraan atas cita-cita para sastrawan Pujangga Baru, yaitu betapa pada esei pertama terbitan majalah Pujangga Baru itu Armijn Pane sudah menekankan pentingnya hubungan antara seniman dan masyarakatnya. “Seorang hamba seni hidup dalam masyarakat, jadi seorang ahli masyarakat itu. Ia adalah anak kepada masyarakat itu, ia adalah gambaran dari pada masyarakat itu, seperti semua ahli masyarakat itu juga bersifat begitu. (…) Segala kejadian perobahan dalam masyarakatnya itu akan ternyatalah pada lukisannya; … kalau ia seorang pujangga atau pengarang akan teranglah perobahan itu pada sajaknya atau karangannya,” demikian tulis Armijn Pane.

Ulrich Kratz lebih jauh menyatakan bahwa aspek yang terlupakan dari sosok pengarang Pujangga Baru ini telah menyebabkan terciptanya tuduhan bahwa mereka menganut konsep “seni untuk seni”, yang dengan gamblang mereka katakan sebagai sebuah fitnah belaka. Sebelum munculnya para pengarang Pujangga Baru, karya-karya awal para sastrawan Balai Pustaka pun sebenarnya sudah berurusan dengan masalah-masalah sosial. Bahkan keterikatan sosial pengarang (Indonesia) merupakan benang merah dalam sejarah sastra Indonesia dan dapat ditemukan dalam prosa, drama dan puisi, maupun dalam esei. “Yang berubah dalam (realitas) keterlibatan pengarang dengan masyarakat adalah gaya pengungkapannya yang bergerak antara yang tersirat dan yang tersurat. Yang juga berbeda adalah kerelaan masing-masing pengarang untuk mengorbankan tata cara penulisan yang berpretensi dan bercita-cita sastra demi penyampaian ‘pesan’ tulisannya,” begitulah kesimpulan Ulrich Kratz.

Dalam sebuah esei lain berjudul “Mengapa Pengarang Modern Soeka Mematikan” (Kratz 2000), Armijn Pane lebih jauh membahas sebuah motif umum fiksi Balai Pustaka dan Pujangga Baru yaitu kesukaan para pengarang fiksi tersebut untuk “mematikan orang yang diceritakannya”. Mulai dari Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Layar Terkembang sampai Tenggelamnya Kapal van der Wijk, terkesan “sebagai dengan sengaja (para pengarang) itu memanggil malaiku’lmaut untuk mencabut nyawa (tokoh) yang diceritakannya, sedang menurut pikiran yang sehat, tidaklah mesti (tokoh) itu meninggal,” demikian tulis Armijn Pane di esei kritik sastra pertama dalam sastra kita itu. Alasan yang diberikan Armijn atas kebiasaan para pengarang awal sastra Indonesia untuk membunuh tokoh-tokoh utama fiksi mereka adalah “semangat baru” yang tidak ada bedanya dengan “semangat romantik” yang timbul di Eropa pada penutup abad 18 tapi terus berpengaruh sampai abad 19. Satu ciri-khas dari semangat romantik itu, demikian menurut Armijn Pane, adalah “hendak membesarkan pengaruh perasaan dan angan-angan (imajinasi)”, yang diabaikan di zaman sebelumnya, yaitu “zaman pikiran”, “zaman rationalisme”, untuk “menghidupkan kesadaran dalam hati pembacanya, bahwa soal, bahwa adat, bahwa perkawinan paksa, hal perkawinan dengan orang dari daerah lain, bahwa soal yang dikemukakannya itu dalam cerita (fiksinya), patut diberantas, bahwa adat itu menahan kemajuan bangsa adanya. Dan perasaan dapat ditimbulkan sehebat-hebatnya dengan jalan menerbitkan perasaan sedih dan kasihan dan perasaan sedih dan kasihan itu dapat dihidupkan dengan jalan mematikan orang yang baik hati, yang baik budi, yang tinggi cita-citanya dalam (fiksi) itu, orang yang kita sukai dan kita hormati”.

***

Berkaitan dengan isu realisme fiksi Indonesia ini menarik di sini untuk juga menyinggung apa yang ditulis Faruk HT dalam kata pengantarnya “Dari Realisme Kultural ke Realisme Magis” untuk kumpulan cerpen Umar Kayam Lebaran di Karet, di Karet… (2002).

Dalam membicarakan cerpen-cerpen Umar Kayam dalam kumpulan di atas, Faruk membedakan “realisme” atas dua kategori besar yaitu realisme borjuis dan realisme kritis atau realisme sosialis. Realisme borjuis adalah realisme seperti yang bisa dibaca dalam fiksi realis klasik Eropa seperti yang saya contohkan di awal esei ini, sementara realisme kritis atau realisme sosialis merupakan sebuah paham yang juga “masih bercerita mengenai kehidupan keseharian manusia, hanya saja kehidupan keseharian itu didekati dengan perspektif sosialisme Marxis sehingga ia tampil sebagai sebuah tatanan kehidupan yang membusuk dan yang mengarah kepada terbentuknya tatanan kehidupan baru, yaitu sosialisme” Di antara kedua realisme inilah, yaitu realisme borjuis yang cenderung mendekati kehidupan secara psikologis dan realisme sosialis yang sosiologis-politis, Faruk menempatkan realisme fiksi Umar Kayam yang “– untuk sementara – dapat disebut sebagai realisme kultural”, realisme yang mendekati kehidupan secara antropologis.

Bagi Faruk, realisme kultural Umar Kayam seperti yang bisa dibaca dalam Sri Sumarah dan Bawuk merupakan “sumbangan Umar Kayam yang signifikan dalam sejarah sastra Indonesia”, yang pada fase berikutnya menjadi “satu kecenderungan baru yang diikuti oleh atau mengilhami banyak sastrawan dari generasi berikutnya”, seperti Satyagraha Hoerip, Bakdi Soemanto, Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, dan bahkan YB Mangunwijaya.

Uraian Faruk tentang kekhasan realisme fiksi Umar Kayam hingga pantas untuk disebut sebagai “realisme kultural” – perspektif yang digunakan pengarang adalah perspektif kebudayaan, tipologisasi tokoh yang antropologis (berdasarkan pekerjaan atau bahkan kekerabatan), psikologisasi tokoh yang “relatif” secara kultural (tidak “universal” seperti pada realisme borjuis), kekuatan sosial adalah “kekuatan simbolik” walau perubahan sosial hanya bisa terjadi oleh kekuatan sosial, bukan individual – terkesan terlalu sederhana dan sangat umum untuk membuat kita bisa menerima klaim yang dibuatnya sebagai sumbangan signifikan Umar Kayam itu.

Faruk tidak menganggap “sumbangan para penulis Sumatera tahun 1920an”, dan generasi Ajip Rosidi di tahun 1950an, sebagai sebuah “realisme kultural”, (walau diakuinya bahwa “karya-karya sastra Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari latar belakang budaya lokal atau primordial … pengarangnya”!) karena “pengaruh budaya lokal (pada karya-karya tersebut) cenderung merupakan pengaruh yang tidak diserap secara sadar oleh para pengarangnya. Kalaupun disadari, budaya lokal itu lebih mengungkapkan sikap politik pengarang terhadap, misalnya, proses modernisasi daripada suatu strategi dalam melihat dan merepresentasikan kehidupan”, seperti yang dilakukan oleh Umar Kayam!

“Sikap politik” para penulis Sumatera era 1920an yang dimaksud Faruk di sini adalah apa yang dia sebut sebagai “sikap politik nasionalis” yaitu “pengarang memahami modernisasi sebagai westernisasi dan westernisasi sebagai penjajahan” di mana “tidak semua tokoh-tokoh ceritanya dipahami sebagi terikat secara kultural, cullture bound [sic]”. Sementara fiksi generasi Ajip Rosidi merupakan “sebuah gerakan romantisisme dan bahkan eksotisisme dengan membangun cerita-cerita balada tentang kehidupan yang sudah sirna, masa lalu, yang setidaknya terlepas dari persoalan kehidupan keseharian”.

Kita, tentu saja, bisa mempersoalkan “esensialisme kultural” yang sangat kental dalam pemahaman Faruk atas apa itu “kebudayaan lokal” dan seperti yang dia yakini merupakan “realisme kultural” fiksi Umar Kayam. Hibriditas kultural yang memang sangat khas dalam fiksi para pengarang Sumatera tahun 1920an, dan juga mewarnai tetralogi Novel Buru Pramoedya Ananta Toer, telah luput dari fokus pembahasan Faruk, walau dalam konteks budaya pascakolonial yang merupakan budaya negara-negara Dunia Ketiga pada umumnya, hibriditas kultural inilah yang merupakan “realisme kultural” negeri-negeri bekas jajahan Barat ini.

Yang ingin saya persoalkan dalam kutipan pernyataan Faruk di atas adalah apakah “sikap politik” Umar Kayam tidak hadir dalam fiksi “realisme kultural”nya itu? Apakah “perspektif kebudayaan” yang dipakai pengarang bernama Umar Kayam dalam fiksinya adalah sebuah perspektif yang benar-benar netral, sama sekali tidak merepresentasikan kepentingan kelas dari mana dia berasal (walau dalam konteks kategori “antropologis” masyarakat Jawa, priyayi dan wong cilik, sekalipun)? Terakhir, apa memang benar bahwa “realisme budaya Jawa” seperti yang terdapat dalam fiksi Umar Kayam merupakan “cara orang Jawa memahami, menghayati, dan menyiasati (realitas kehidupannya bahkan) yang paling modern sekalipun” seperti yang diyakini oleh Faruk?

***

Dari apa yang sudah dipaparkan di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa realisme bukanlah sebuah hal asing dalam wacana sastra kita. Realisme bahkan merupakan sebuah ciri dominan di mana persoalan hubungan pengarang dan masyarakatnya menjadi isu definisinya yang utama. Realisme fiksi Indonesia mungkin akan lebih tepat kita definisikan sebagai “realisme kontekstual”, yaitu realisme dialektis dari realisme fiksi klasik Eropa (seperti pada karya-karya Fielding, Jane Austen, Balzac, George Eliot dan Tolstoy) dan realisme sosialis Uni Soviet. Realisme kontekstual fiksi Indonesia adalah sebuah realisme hibrid, terlahir dalam sebuah sastra nasional baru yang ahistoris, sastra yang tidak memiliki sejarah linguistiknya yang jelas, sastra lingua franca. Mungkin inilah yang disebut sebagai sastra pascakolonial itu.

Bukankah perdebatan tentang “sastra kontekstual” di pertengahan tahun 1980an merupakan indikasi kontekstual tentang pentingnya persoalan identitas kontekstual, realisme pascakolonial, dalam wacana sastra kita?***

 

cover buku Sastra Perempuan Seks_small

Judul : Sastra, Perempuan, Seks
Penulis : Katrin Bandel
Cetakan : 2006
Tebal : 166 halaman
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 979-3684-53-4
Harga : Rp 35.000
Pemesanan: http://bit.ly/15wNZ9h


 

Dalam dunia sastra Indonesia saat ini, “perempuan” dan “seks” merupakan dua isu yang sangat penting; “perempuan” terutama dalam arti “pengarang perempuan” dan “seks” sebagai tema karya sastra yang sedang ngetren. Begitu banyak pengarang perempuan baru bermunculan dalam beberapa tahun terakhir ini dan tidak sedikit dari mereka mendapat sambutan yang luar biasa, baik dari segi respons media, penghargaan sastra, maupun jumlah buku yang terjual. Benarkah karya mereka demikian hebat sehingga pantas dihebohkan serupa itu? Berbagai klaim muncul seputar para “pengarang perempuan baru” itu : tulisan mereka hebat, menciptakan gaya penulisan baru, mereka mendobrak tabu, terutama seputar seks dan hal itu sering dipahami sebagai semacam pembebasan perempuan bahkan sebagai feminisme.

Katrin Bandel dalam buku ini berusaha mempertanyakan klaim-klaim tersebut. Menurutnya, kehebohan seputar beberapa penulis perempuan (bukan “perempuan” penulis), yang secara popular disebut sebagai “sastrawangi” itu, sangat berlebihan

“Saya setuju dengan keprihatinan Katrin Bandel bahwa seakan-akan para penulis perempuan dengan sendirinya membongkar represi sosial yang selama ini diderita oleh perempuan. Keprihatinan itu bukan tanpa alasan. Di lingkungan akademis, misalnya, tidak jarang para mahasiswa mengangkat karya para penulis perempuan sebagai karya-karya feminis. Katrin Bandel mengingatkan bahwa yang paling penting adalah cara kita berargumentasi dalam memberikan penilaian atau pelabelan. Buku ini muncul dari rasa tidak puas Katrin atas cara para pengamat sastra di Indonesia memperlakukan sastra, terutama karya-karya sastra yang ditulis oleh pengarang perempuan.”

~ Dr. St. Sunardi, Ketua Program Pascasarjana Ilmu Religi & Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Laskar Pelangi_foto Andrea Hirataoleh Damar Juniarto*

DELAPAN tahun setelah terbitnya Laskar Pelangi melalui penerbit Bentang Pustaka dilansir kabar yang sangat menyenangkan untuk didengar. Andrea Hirata, penulis kelahiran Belitung yang menulis seri kisah anak lelaki bernama Ikal dari pulau Belitung yang miskin tetapi akhirnya sukses, aktif mengabarkannya lewat beragam media, baik mainstream maupun akun media sosialnya. Pertama, â€ȘFarrar, Straus and Giroux‬ (selanjutnya disingkat FSG) akan mencetak Laskar Pelangi di bulan Februari 2013. Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang mendapat kesempatan dari penerbit yang terbiasa mencetak karya-karya sastrawan dunia. Kedua, Laskar Pelangi mendapat pengakuan sebagai “International Best Seller”. Ini didasarkan atas pencantuman label di bagian atas sampul Laskar Pelangi terbitan dari negara Turki.

Kedua kabar ini tidak secara serentak diberitakan, melainkan bertahap disampaikan. Semua mulai bergulir sejak terjemahan Laskar Pelangi lebih dulu dicetak oleh penerbit-penerbit di luar Indonesia, seperti Penguin Books dan Random House dan kemudian dipasarkan ke lebih dari 20 negara. Siapapun orang Indonesia pastilah bangga mendengarnya. Jarang sekali, bukan berarti tidak ada, penulis Indonesia menorehkan prestasi demikian.

Malahan, sebagai publisis yang bergerak di bidang buku dan film, saya nyatakan terbitnya Laskar Pelangi telah mengubah lanskap sejarah penerbitan dan perfilman. Di penerbitan, Laskar Pelangi telah tercetak lebih dari 5 juta eksemplar lewat ritel resmi dan di pasar gelap mencapai 15 juta eksemplar. Itu artinya, dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, 20 juta eksemplar dimiliki oleh pembaca. Booming karya Laskar Pelangi melahirkan genre yang dinamakan Novel Otobiografis atau biasanya saya sederhanakan artinya menjadi “novelisasi kisah hidup sendiri”. Sontak, penerbit berlomba mencari penulis yang mampu mengangkat kisah hidupnya dan sedapat mungkin dijadikan novel, hanya untuk mengikuti tren yang muncul karena Laskar Pelangi. Di film, kisahnya kurang lebih sama. Lewat tangan kreatif Mira Lesmana, Riri Riza, dan Salman Aristo sebagai penulis adaptasinya, film Laskar Pelangi mencetak angka penonton yang masih tercatat sebagai angka paling tinggi: 4.606.785 (Catatan Filmindonesia.or.id dari laporan jaringan 21 Cineplex). Sampai tahun 2013 ini, angka penonton ini hampir saja dilampaui oleh film Habibie & Ainun dengan jumlah penonton sebanyak 4.207.864. Sama halnya seperti di penerbitan, booming Laskar Pelangi menderaskan pengadaptasian buku-buku bestseller lain di Indonesia, bahkan bisa dikatakan “film adaptasi” adalah pilihan yang dipertimbangkan produser bahkan melampaui film horor.

Kalau tidak karena pernyataan sensasional yang disampaikan Andrea Hirata pada Selasa, 12 Februari 2013 dan dimuat di sejumlah media nasional, saya masih dalam kerangka berpikir yang sama. Karena pernyataan itu juga saya kemudian melakukan pengecekan ulang atas semua yang pernah dinyatakan Andrea Hirata mengenai pengakuan internasional atas karya Laskar Pelangi.

Klaim Penulis?

September 2012, Andrea Hirata memberitakan dirinya telah ditandatanganinya kontrak perjanjian dengan pihak penerbit FSG. FSG adalah sebuah penerbit yang dianggap sebagai penerbit terakhir yang hanya menerbitkan karya sastra dan terkenal karena daftar para penulis yang diterbitkan melaluinya, mulai dari karya fiksi sastra, narasi non-fiksi, puisi, hingga sastra anak. Nama-nama pemenang Nobel Sastra seperti Hermann Hesse, T. S. Eliot, Yasunari Kawabata, Aleksandr Solzhenitsyn, Pablo Neruda, Camilo José Cela, Nadine Gordimer, Mario Vargas Llosa. Begitu juga pemenang Nobel Perdamaian, tetapi yang pasti adalah para penulis pemenang anugerah sastra bergengsi Amerika Serikat Pulitzer. Nama-nama mulai Oscar Hijuelos, Michael Cunningham, Jeffrey Eugenides, hingga Marilynne Robinson ada di antara nama-nama penulis lain. Ini berarti Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang bekerjasama dengan FSG.

Sebagai publisis, beruntung bahwa saya memiliki informasi yang membuat saya mampu melakukan pengecekan ke pihak penerbit. Saya melakukan pengecekan ke FSG dan Bentang Pustaka. Fakta yang menarik adalah Laskar Pelangi yang kemudian diterjemahkan menjadi The Rainbow Troops ternyata dicetak oleh Sarah Crichton Books, imprint dari FSG, yang menerbitkan beragam karya sastra dan fiksi dan non-fiksi komersil. Sarah Crichton Books menekankan pada sisi komersil. Imprint ini mencetak The God Factor karya Cathleen Falsani tahun 2006 dan karya Ishmael Beah berjudul A Long Way Gone bestseller dan buku pilihan Starbucks tahun 2007.

Laskar Pelangi terjemahan InggrisDari informasi ini, saya melihat ada perbedaan besar antara FSG dan imprint Sarah Crichton Books. Sederhana saja, nama-nama penulis yang bekerjasama dengan Sarah Crichton Books nyaris nama-nama penulis yang asing terdengar dan di luar dari nama pemenang penghargaan Nobel/Pulitzer. Daftar penulisnya bisa dicek di: http://www.boomerangbooks.com.au/publisher/Sarah-Crichton-Books

Ketika hal ini saya tanyakan kepada CEO Bentang Pustaka Salman Faridi lewat wawancara telepon, secara mengejutkan, penerbit tidak mengetahui perihal ini. Salman tetap menyebutkan bahwa Laskar Pelangi dicetak oleh FSG dan bukan oleh imprint, dan bukan didasar atas pertimbangan komersil.

Berdasarkan fakta ini, ada detil kecil yang tidak disampaikan kepada kita sebagai pembaca/publik oleh Andrea Hirata. Informasi mengenai imprint dipotong dan diklaim bagian FSG hanya untuk kepentingan pencitraan (marketing), seolah-olah benar ada seorang penulis dari Indonesia yang telah kontrak dengan FSG.

Tetapi klaim ini kalah apabila dibandingkan dengan pernyataan Andrea Hirata berikut ini. Dalam konferensi pers Selasa, 12 Februari 2013 mengenai pengakuan “International Best Seller” dari Turki, yang dihadiri oleh media-media nasional, dilansir ucapan: “Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi Alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi bestseller dunia.” (Metronews.com)

Pengakuan Internasional?

Penerbit Turki bernama Butik Yayinlari menerbitkan Gokkusagi Askerleri dengan mencantumkan label “International Best Seller” di bagian atas sampul. “Untuk meraih predikat ‘International Best Seller’ di luar negeri tidak mudah. Paling tidak penjualan buku tersebut mencapai 70 persen di setiap negara yang menerbitkannya,” demikian disampaikan Andrea Hirata kepada pers (Antaranews.com). Tentu saja, saya langsung mencoba mencari data yang diperlukan atas apa yang disampaikan oleh penulis ini. Bagaimana faktanya?

Ketika Andrea Hirata menyatakan bahwa hampir seratus tahun tidak ada pembuktian ada karya anak bangsa mendunia, dengan mudah saya kategorikan Andrea Hirata lagi-lagi sedang melakukan klaim. Karena faktanya tidak benar demikian. Pengakuan internasional untuk karya sastra dari Indonesia tak terbilang banyaknya. Pramoedya Ananta Toer pernah mendapatkannya, bahkan sampai hari ini baru dirinyalah sastrawan dari Indonesia yang dinobatkan sebagai kandidat peraih Nobel Sastra. YB Mangunwijaya juga mendapatkan pengakuan internasional. NH Dini, yang hampir menjadi kandidat Nobel juga termasuk. Jadi klaim Andrea Hirata ini terdengar sangat mengolok-olok dirinya sendiri. Andrea Hirata telah mencederai sejarah dunia sastra Indonesia dengan menyebutkan tidak ada karya anak bangsa mendunia dalam kurun waktu hampir seratus tahun.

Laskar Pelangi_TurkiSatu-satunya klaim yang mendekati kebenaran adalah soal “International Best Seller”. Paling tidak, menurut saya, Andrea Hirata membawa bukti berupa sampul Laskar Pelangi versi Turki. Maksudnya mendekati kebenaran, menurut Salman Faridi, ada kemungkinan pencantuman “International Best Seller” di sampul versi Turki berdasarkan keterangan dari Kathleen Anderson dari Kathleen Anderson Literary Management, agen yang berhasil menjual Laskar Pelangi. Kemungkinan besar karena Laskar Pelangi berhasil dijual Kathleen ke beberapa negara dan ada beberapa negara yang cetak ulang. Tetapi Salman tidak bisa merinci negara mana saja. Dari berita, hanya Vietnam saja yang mencetak ulang. Lalu mana daftar negara lainnya?

Tetapi masih terlalu cepat menyimpulkan kalau ini juga klaim. Maka saya mencari informasi mengenai kriteria “International Best Seller” dari penulis Maggie Tiojakin, yang akrab menggeluti karya-karya sastra internasional. Maggie menjelaskan kriterianya adalah cetak ulang di beberapa negara, biasanya di atas 10 negara. Setelah mendengar keterangan ini, saya menghentikan kegiatan saya untuk mencari informasi lebih lanjut. Saya tidak setuju label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini kemudian dipergunakan Andrea Hirata untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia, ini jelas memprihatinkan.

Kedepankan Kejujuran

Berhadapan dengan media, memang membutuhkan news peg yang menarik. Sebagai publisis, saya paham betul apa yang dilakukan Andrea Hirata tidak lebih dari strategi marketing untuk mencitrakan dirinya sebagai penulis Indonesia berkelas dunia. Personal branding dibangun dengan membalut diri dengan informasi-informasi yang fantastis, sama seperti kisah Ikal yang ditulisnya.

Tetapi sebagai publisis, saya berpikir strategi marketing bagi penulis Andrea Hirata dengan segala klaim yang dikatakannya selama ini beresiko. Resiko yang tak seharusnya terjadi bilamana mencuat kebenaran yang sesungguhnya. Resiko yang tak perlu muncul juga seandainya Andrea Hirata lebih bijak menempatkan dirinya. Resiko ini bukan hanya berlaku bagi penulis sendiri, tetapi juga akan mengikutsertakan penerbit, juga seantero industri penerbitan dan perfilman. Pasti kita semua tidak ingin ini terjadi bukan? Maka kedepankan kejujuran, wahai Andrea Hirata.***

 

*Publisis buku di Tanam Ide Kreasi (@scriptozoid), Moderator komunitas Goodreads Indonesia 2008-2010, pembaca aktif

 

Tulisan terkait/update:

1. Bantahan Andrea Hirata di Media Online: http://www.tempo.co/read/news/2013/02/15/219461465/Andrea-Indonesia-Butuh-Kritikus-yang-Kompeten

2. Penulis Laskar Pelangi Berencana Perkarakan Blogger – Hukum Online http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51239affba5e9/penulis-laskar-pelangi-berencana-perkarakan-blogger

3. Email Andrea lewat kompasioner Agus Hermawan: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/02/20/andrea-hirata-menjawab-penulis-indonesia-mencari-keadilan-536494.html

4. Yusril Ihza Mahendra: http://www.tempo.co/read/news/2013/02/20/114462541/Yusril-Andrea-Hirata-Dipojokkan

5. Kontroversi Andrea Hirata, Pelajaran bagi Blogger dan Penulis – Marintan Omposungu http://media.kompasiana.com/new-media/2013/02/20/hirata-gate-dan-kebebasan-530321.html

6. Menggugat Kepenulisan Andrea Hirata – Carolus Putranto http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/20/menggugat-kepenulisan-andrea-hirata-535582.html

7. Andrea Hirata dan Saatnya Balas Tulisan dengan Tulisan – Hazmi Srondol http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/02/23/andrea-hirata-dan-saatnya-balas-tulisan-dengan-tulisan-531356.html

8. 10 Kritikus Sastra bicara tentang Andrea Hirata dan Laskar Pelangi http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/21/10-kritikus-sastra-bicara-tentang-andrea-hirata-dan-laskar-pelangi-535723.html

9. Benarkah ada saran dari Buya Syafii Maarif http://media.kompasiana.com/buku/2013/02/22/benarkah-ada-saran-buya-syafii-maarif-agar-andrea-hirata-menempuh-jalur-hukum-536140.html

 

Sumber:

http://media.kompasiana.com/buku/2013/02/13/pengakuan-internasional-laskar-pelangi-antara-klaim-andrea-hirata-dan-faktanya-533410.html