Posts Tagged ‘sajak’

Haiku - such boredom

Advertisements

Marsinahdari luka luka tubuhmu

tercipta bintang bintang

setiap bintang adalah sajak

yang mengabadikan suaramu

 

 

perempuan muda yang berani itu

mati terbunuh.

kenapa?

 

tubuhnya yang indah yang suci

rusak

ternodai – kematian yang laknat

menghancurkan

beribu doa ibu yang tinggal termangu.

kenapa?

 

perempuan muda yang berani angkat suara

karena tak adilnya matahari yang menyengat muka

perempuan bernama marsinah itu

mati dibunuh

 

dibunuh seperti kambing hitam yang cuma binatang

dibunuh seperti babi hitam yang cuma binatang

dibunuh seperti anjing hitam yang cuma binatang

dibunuh seperti cuma seekor binatang!

 

kenapa lobang tanah yang sempit yang hitam

lebih menerima seorang manusia yang perempuan

dibanding kita makhluk yang lebih tinggi dari

malaikat tuhan?

 

seorang perempuan muda

mati

hanya karena berani.

 

terlalu tinggi dia

 

bagi kita

yang terkutuk hidup

sebagai

 

pengecut!

 

(Saut Situmorang)

seorang laki laki
seorang bapak
berdiri tegak
hening
sebuah kaleng kecil di tangannya

seorang perempuan kecil
masih anak anak
terduduk di lantai
airmata di wajahnya
memandangnya

“bapak. berikanlah, bapak”
suara memelas itu begitu lembut
begitu pedih

airmata yang tak henti mengalir
jadi genangan kecil di lantai
bercampur darah
bercampur isak tangis…

seorang laki laki tua
seorang bapak
roboh ke lantai
tanpa suara

di sampingnya di tengah genangan darah airmata
anak perempuan kecilnya
mati menenggak sekaleng racun serangga

anaknya satu satunya

 

(Saut Situmorang)

”kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

matahari panas
angin berhembus panas
bus tua meninggalkan kota
aspal jalanan melarikannya selamanya

”kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

kota berganti kampung
sawah berganti gunung
anak lelaki dekat jendela
lagu petualang jadi hidup di darahnya

”kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

kampung menjelma kota
gunung gunung kembali rumah rumah
begitulah berhari bermalam
makin jauh anak dalam perjalanan tenggelam

”kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

menyebrang laut menyebrang pulau
beribu gunung kota terlampau
di negeri sebrang di negeri baru
anak melangkah masuk hidup perantau

o jakarta metropolis pertama
dongeng yang jadi silau mata
makin sayup kini suara ibu
dalam hiruk pikuk karnaval aspal hitammu

jakarta membuatnya gelisah
jakarta bukan tujuan hidupnya
jogja yang jauh
tak sabar mimpinya menunggu

tak ada yang lebih romantis
dari sosok stasiun kereta tua yang manis
lengking kereta dan derit roda besinya
membuat sang anak tak ngantuk matanya

gambir, cirebon, kroya…
lalu jogja bersama pagi tiba
dingin semen lantai dan sapa tukang becak
tak mungkin terhapus dari kepala sang anak

di atas becak antara koper dan bapak
malioboro menyambutnya ramah dan kompak
jogja tua yang manis
cinta pertama memabukkan liris

medan yang jauh
terkubur bersama suara ibu
gamelan dari radio pinggir jalan
musik upacara ritual perantauan

o tembok benteng kraton yang kokoh
lindungi tidur sang anak perantau
alun alun tamansari
mercusuar di labirin gang gang malam hari

o turis turis manis berdada manis
keluar masuk lukisan batik dan parangtritis
sang anak mabuk sempoyongan tercengang
jiwanya bergetar sekalut goro goro wayang

o hidup bebas seorang petualang
siang sekolah malam di pasar kembang
suara ibu cuma wesel surat surat bulanan
sampai kartu natal bawa berita kematian

sang anak terpukul matanya kabur
lonceng gereja jadi koor tanah kubur
cerita kristus pembawa keselamatan
jadi cerita ibu andung andung petualangan

jogja kota manis romantis
di jantungmu seorang lelaki menangis
kematian pertama yang menggores wajah
suara ibu dicarinya kini dalam kelana tak sudah
 

1999

Saut Situmorang

 

*Andung-andung adalah sebuah nyanyian ratapan kematian di kalangan orang Batak Toba. Isinya biasanya kisah hidup yang meninggal dunia dan “dinyanyikan” dalam bentuk performance tunggal di hadapan jasadnya. Kebanyakan lagu pop Batak Toba kontemporer berangkat dari tradisi oral performance ini.

-disebabkan oleh Wiji Thukul

kau adalah kemarau panjang

yang hanya membawa kematian

kepada daun, bunga, dan

ikan ikan di sungai

kampung tercinta

 

karena kau adalah kemarau

maka airmata marah kami akan

menggenangi bumi

jadi embun

naik ke langit jadi awan awan

dan dengarlah gemuruh suara kami

sebagai hujan turun

 

mengusirmu dari sini!

 

maret 1998

Saut Situmorang