Posts Tagged ‘tokoh sastra’

33 tokoh sastra_edited oleh Katrin Bandel*

 

Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh“ sedang heboh dibicarakan. Buku tersebut sudah sangat banyak dikritik, terutama dengan fokus pada pilihan “tokoh sastra” yang dimasukkan ke buku tersebut, dan saya rasa memang pantas dan perlu dikritik. Tapi bagi saya masih ada hal lebih mendasar yang juga pantas disorot secara kritis. Yang saya maksudkan adalah konsep buku tersebut, seperti yang tercermin dari judulnya. Apa yang dimaksudkan dengan “tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh”, dan mengapa perlu dipilih dan dibukukan?

Pertama, “pengaruh” adalah hal yang sangat abstrak dan tidak mudah diukur. Satu hal mendasar yang bisa dikatakan mengenainya adalah bahwa penilaian kita terhadap pengaruh sesuatu atau seseorang akan tergantung pada jangka waktu terjadinya pengaruh tersebut. Misalnya, bagaimana cara kita membandingkan pengaruh dua peristiwa terhadap kehidupan seseorang, apabila peristiwa pertama terjadi 10 tahun lalu, sedangkan yang kedua terjadi minggu lalu? Apakah peristiwa kedua sudah bisa diukur pengaruhnya? Dan apakah mungkin dibandingkan dengan peristiwa pertama? Dengan kata lain, bagaimana pengaruh STA bisa dibandingkan dengan pengaruh Denny JA atau Ayu Utami? Bukankah sangat mungkin bahwa 5 atau 10 tahun lagi tidak akan ada yang mengingat nama mereka? Dan bukankah sudah pasti ada sekian tokoh yang sempat sangat berpengaruh untuk masa tertentu, namun namanya kini kehilangan gaungnya?

Kedua, secara sekilas “pengaruh” mungkin akan kita hubungkan dengan “mutu”. Namun pada dasarnya, kedua hal itu terpisah satu sama lain. Misalnya, novel-novel Balai Pustaka dari zaman kolonial jelas sekali punya pengaruh besar sampai saat ini karena diajarkan sebagai tonggak-tonggak awal sastra Indonesia yang pantas dibanggakan. Padahal kita tahu bahwa Balai Pustaka pada masa itu merupakan institusi kolonial yang didirikan antara lain untuk menandingi dan memarjinalkan karya-karya lain yang dipandang membahayakan kekuasaan kolonial (karya Melayu Lingua Franca). Kalau kini pengaruh tersebut dirayakan ulang, bukankah dengan demikian kanon kolonial justru dikonsolidasi sekali lagi? STA mungkin memang lebih berpengaruh daripada, misalnya, Kwee Tek Hoay, tapi apakah karyanya juga lebih bermutu? Belum tentu.

Masalah serupa juga terjadi dalam kasus-kasus yang lebih kontemporer. Misalnya, karya Ayu Utami memang berpengaruh sebab namanya sangat heboh dibicarakan di media, dan dia memenangkan beberapa penghargaan bergengsi. Populernya topik seks dalam tulisan pengarang perempuan jelas sekali dipengaruhi oleh kehebohan seputar karya Ayu tersebut. Namun apakah itu menandakan mutu tinggi? Sama sekali belum tentu.

Kasus paling ekstrim adalah Denny JA yang menciptakan pengaruhnya sendiri lewat marketing cerdas dan sayembara yang diadakan atas inisiatif sendiri, dan, yang paling penting, dengan pendanaan yang sangat luar biasa. Apakah ”pengaruh” semacam itu masih ada hubungannya dengan mutu karya?

Ketiga, pantas dipertanyakan mengapa persoalan ”pengaruh” dibicarakan dengan fokus pada ”tokoh”. Bukankah di dunia sastra yang memiliki pengaruh itu terutama sekali adalah tulisan? Mengapa yang dibahas bukan ”33 karya yang paling berpengaruh”, atau ”33 media”, ”33 polemik sastra”, ”33 penerbit”, ”33 acara sastra”, dst? Apakah pengultusan individu tertentu sebagai ”berpengaruh” memang berguna bagi kita yang ingin mempelajari sejarah sastra Indonesia? Jangan-jangan pilihan judul tersebut mencerminkan konsep sejarah yang ketinggalan zaman, yaitu membayangkan sejarah digerakkan oleh ”orang-orang besar” tertentu, bukan oleh perkembangan wacana-wacana tertentu dan kondisi material yang mendasarinya.

Keempat, kata ”berpengaruh” tanpa ada lanjutannya, dalam arti tanpa ada keterangan tentang apa atau siapa yang dipengaruhi, terkesan sangat umum dan tanpa fokus yang jelas. Apakah yang dimaksudkan adalah pengaruh pada penulis lain atau pada karya lain? Pengaruh pada dunia seni atau intelektual secara lebih luas? Pengaruh terhadap masyarakat secara umum? Tidak adanya spesifikasi apa pun dalam judul tersebut membuatnya semakin abstrak dan sulit diukur.

Apa tujuan penerbitan buku dengan judul ”33 Tokoh Sastra Indonesia yang Paling Berpengaruh”? Saya menjadi curiga, jangan-jangan tidak ada niat serius untuk mempersoalkan permasalahan ”pengaruh” dalam buku tersebut. Studi yang serius mengenai pengaruh mesti berangkat dari usaha melacak intertekstualitas, dan tidak berkaitan secara langsung dengan penilaian mutu karya atau mutu pengarang. Seandainya itu tujuan buku tersebut, tentu perayaan 33 nama besar tidak akan dibutuhkan. Jadi apa makna kata ”berpengaruh” dalam judul tersebut? Jangan-jangan Tim 8 yang menjadi penyusun buku ini sendiri sebenarnya tak mengerti apa yang mereka maksud dengan “pengaruh” dalam judul sensasional buku mereka itu!***

 

*Katrin Bandel, kritikus sastra, tinggal di Jogjakarta