33 tokoh sastra_editedoleh Saut Situmorang*

1. Sitor Situmorang tidak masuk dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Alasan Tim 8 penyusun buku (Jamal D Rahman dkk) karena Sitor “tinggal di luar negeri”. Lha, mayoritas dari nama-nama yang masuk buku tersebut bukan cumak tidak tinggal di dalam negeri Indonesia bahkan tinggal di luar planet Bumi tapi kok bisa masuk yaaa?! Ckckck…

2. Kritikus Sastra asal Belanda, A Teeuw, tidak masuk dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Alasan Tim 8 penyusun buku (Jamal D Rahman dkk) karena A Teeuw adalah “orang asing”, bukan warganegara Indonesia. Lha, salah satu dari Tim 8 penyusun buku yaitu Berthold Damshauser adalah orang asing asal Jerman, bukan warganegara Indonesia dan BUKAN Indonesianis apalagi Ahli Sastra Indonesia tapi kok bisa jadi salah satu penyusun buku yaaa?! Ckckck…

3. Taufiqk Ismail itu “pengaruh”nya di dunia Sastra Indonesia di mana sih?! Apa dia menghasilkan para epigon yang meniru gaya menulisnya? Bukankah majalah sastra HORISON justru jatuh reputasinya sejak berada dalam pimpinannya?!

4. Arief Budiman itu “pengaruh”nya di dunia Sastra Indonesia di mana sih?! Apa tulisan-tulisan prosanya tentang Sastra Indonesia memang termasuk genre Kritik Sastra? Apa tulisan-tulisan tersebut memang mempengaruhi cara penulisan Kritik Sastra di Indonesia? Apa skripsinya sendiri yang tentang Chairil Anwar itu memang bisa dikategorikan sebagai Kritik Sastra, bahkan sebagai sebuah studi sastra akademis?!

5. Abdul Hadi WM itu “pengaruh”nya di dunia Sastra Indonesia di mana sih?! Apa dia menghasilkan para epigon yang meniru gaya menulisnya? Apa tulisan-tulisan prosanya menyumbangkan pemikiran baru kepada diskursus Sastra Indonesia Kontemporer?

6. Sutardji Calzoum Bachri menghasilkan “jalan baru estetika puisi”?! Jalan baru macam apa itu? Apakah Mantra memang tidak ada sebelum Sutardji Calzoum Bachri menulis puisi? Bukannya Sutardji Calzoum Bachri yang melakukan plagiarisme atas estetika Mantra kalok kita mau mempercayai Kredo Puisinya itu?! Apa “puisi” Sutardji Calzoum Bachri bukan cumak sekedar variasi dari nonsens yang kita kenal sebagai “puisi mbeling” itu? Kalok Sutardji Calzoum Bachri memang benar menemukan “jalan baru estetika puisi”, dengan cara “melepaskan kata dari tirani makna”, kok sajak-sajak yang ditulisnya sejak tahun 1990an sampek sekarang justru merupakan sajak-sajak yang Memberhalakan Makna? Bahkan saking berlebihan pemberhalaannya, menjadi mirip pseudo-doa kaum koruptor waktu disumpah di pengadilan! Kenapa perubahan gaya menulis dari gaya menulisnya di tahun 1970-1980an tidak dibicarakan?! Benarkah sajak -sajak nonsens Sutardji Calzoum Bachri yang terkumpul dalam buku O Amuk Kapak adalah Puisi Sufi? Jangan-jangan cumak puisi “Suka Uang Freedom Institute” doang!

*Saut Situmorang, penyair dan eseis Indonesia yang dilaporkan telah melakukan “pencemaran nama baik” di Facebook ke Polres Jakarta Timur, Indonesia, karena berani menentang keras keberadaan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Comments
  1. […] ini diambil dari Jurnal ‘Underground‘ Boemipoetra versi daring yang terbit pada 22 Oktober 2014 dan telah mendapat ijin dari Saut Situmorang untuk […]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s