Cerpen Koran Indonesia

Posted: 07/06/2021 in Esei

Oleh: Saut Situmorang

          Anggaplah “cerpen koran Indonesia” itu ada. Yaitu cerpen-cerpen berbahasa Indonesia yang muncul di koran-koran edisi Minggu di seluruh Indonesia, yang panjangnya berkisar antara 6-8 halaman kuarto (spasi ganda), dan yang bercerita tentang “peristiwa aktual”, atau tentang “realitas koran”, dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Bukankah biasanya tiga hal di ataslah yang dijadikan alasan bagi relevannya pemakaian istilah “cerpen koran” dalam perbincangan tentang sastra (cerpen) kontemporer Indonesia? 

          Anggaplah juga ketiga karakteristik teks di atas memang merupakan representasi sosok sub-genre sastra “cerpen koran Indonesia”. Lantas, semua cerpen yang berbahasa Indonesia juga, yang muncul di koran-koran edisi Minggu di Indonesia juga, yang panjangnya antara 6-8 halaman kuarto (spasi ganda) juga, tapi tidak mengangkat cerita “peristiwa aktual” atau “realitas koran” kehidupan sehari-hari di Indonesia, apakah cerpen-cerpen seperti ini juga termasuk “sastra (cerpen) koran”? Kalau tidak, karena tidak semua kriteria karakteristik teks seperti saya sebutkan di awal esei ini terdapat padanya, misalnya, maka ke dalam kategori sub-genre cerpen apa cerpen-cerpen jenis terakhir itu mesti dimasukkan? Lalu apakah sebenarnya “cerpen koran Indonesia” itu? Apakah “cerpen koran Indonesia” itu, dalam arti sebuah sub-genre spesifik dari bentuk fiksi bernama cerpen,  memang benar-benar ada, seperti yang luas diyakini dalam dunia sastra kontemporer Indonesia?

          Seperti kebiasaan khas dalam budaya pop, dunia sastra modern Indonesia juga tidak luput dari euforia keterpesonaan pembuatan dan pemakaian istilah-istilah baru tapi yang terkesan jauh lebih asal-asalan, tidak bertanggung jawab, dibanding yang biasa terjadi di dunia budaya pop. Dalam budaya pop sebuah istilah baru memiliki rujukan objek yang jelas yang membedakannya dari objek-objek istilah lain. Ambil contoh “sinetron”. Penonton awam yang tidak mengerti bahwa sinetron itu adalah akronim dari “sinema elektronik” bisa membedakan sebuah sinetron dari sebuah film lepas. Pembagian naratif plot sinetron dalam episode merupakan ciri khas utama yang membedakannya dari film “bioskop”, misalnya. Dan ceritanya biasanya pasti tentang “kehidupan tragis orang-orang kaya raya yang tidak bahagia”. Tapi bagaimana dengan istilah “cerpen koran Indonesia”? Apakah memang terdapat karakteristik teks yang unik pada karya-karya yang disebut sebagai “cerpen koran Indonesia” yang segera akan membedakannya dari “cerpen bukan-koran Indonesia”, misalnya? Apakah ketiga faktor yang saya sebutkan di awal esei ini memang benar-benar sudah bisa menjelaskan apa itu yang dimaksud dengan “cerpen koran Indonesia”, kalau makhluk ini memang ada? Sayang, saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari para “kritikus” sastra Indonesia yang merayakan keberadaan apa yang mereka sebut sebagai “cerpen koran Indonesia” itu dalam tulisan-tulisan mereka, di koran-koran Indonesia, tentu saja.

          Problemalitas pengertian istilah seperti “cerpen koran Indonesia”, misalnya, kayaknya tidak dianggap terlalu penting untuk dibicarakan oleh para “pengamat/pemerhati/kritikus” sastra Indonesia. Ada terkesan semacam kemalasan untuk berusaha menerang-jelaskan maksud dari istilah-istilah yang kerap kali dipakai, padahal kejelasan definisi merupakan sebuah syarat awal bagi terjadinya pembicaraan yang kritis dan bertanggung jawab. Malah saya melihat ada kecenderungan akhir-akhir ini di kalangan penulis artikel tentang sastra di koran-koran Indonesia untuk saling berlomba menciptakan istilah-istilah “aneh” yang hanya menunjukkan betapa penulisnya ingin sekali dianggap “berisi” walau isi tulisan dan judulnya biasanya tidak punya relasi tekstual seperti yang diharapkan, mirip gejala “sajak-sajak gelap” di puisi kontemporer Indonesia. Ambisi besar untuk menulis ala kaum pascastrukturalis di Eropa dan Amerika Serikat ini ternyata hanya sebuah fenomena epigonisme Afrizalian lokal belaka!

          Yang pasti adalah bahwa istilah “cerpen koran Indonesia” selalu merujuk ke cerpen-cerpen yang memang dipublikasikan di koran-koran, khususnya edisi hari Minggu, di seluruh Indonesia. Medium tempat cerpen dipublikasikan merupakan faktor utama dalam pemberian istilah “cerpen koran” dimaksud. Tapi lantas kenapa cerpen-cerpen yang muncul di koran mesti disebut sebagai “cerpen koran”, yang secara konotatif seolah-olah ingin dibedakan dari cerpen-cerpen yang tidak muncul di koran? Apakah memang ada nilai khusus tertentu yang ingin dibuktikan dengan pemberian kategori pembeda seperti ini, sebuah “estetika koran” misalnya?

          Anggaplah apa yang disebut sebagai “realitas koran”, walaupun istilah ini sendiri masih juga sangat problematis pengertiannya, merupakan unsur tematis yang khas mewarnai “cerpen koran Indonesia”. Apakah cerpen-cerpen yang tidak muncul di koran Indonesia tidak memiliki tema-tema cerita yang juga diangkat dari “realitas koran” atau “peristiwa aktual” kehidupan sosial sehari-hari di Indonesia? Seandainya pun tema “realitas koran” adalah sah juga untuk diceritakan dalam cerpen-cerpen yang tidak muncul dalam koran Indonesia, dalam hal apakah terdapat keunikan yang khas hingga “cerpen koran Indonesia” memang bisa dibedakan sebagai sebuah sub-genre yang otonom dan istimewa? Juga, bukankah ukuran panjang-pendek sebuah cerpen yang 6-8 halaman kuarto (spasi ganda) itu merupakan ciri umum cerpen-cerpen Indonesia yang muncul di majalah, buku dan Internet, jadi bukan hak prerogatif “cerpen koran Indonesia”?

          Antologi pertanyaan seperti yang saya susun ini, saya pikir, sangat penting dilakukan kalau kita ingin bicara serius dan kritis tentang pemakaian istilah “cerpen koran Indonesia” bagi cerpen-cerpen yang muncul di koran-koran di Indonesia. Kejelasan makna definisi mesti diciptakan agar pembicaraan tidak berkesan tergantung pada kata hati masing-masing pembicara saja sedangkan isi pembicaraan sudah mengelantur ke sana ke mari. Pembicaraan atas cerpen Indonesia, bahkan cerpen yang muncul di koran sekalipun, adalah pembicaraan yang bersifat kritik sastra dan sebuah kritik sastra mesti dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah yang ilmiah dan universal. Kejelasan pengertian definisi sebuah istilah yang dipakai, seperti “cerpen koran Indonesia”, merupakan syarat awal yang utama agar pembicaraan bisa menukik ke dalam isu topikal yang dibicarakan dan menghasilkan solusi-solusi kritis yang selanjutnya bisa dikembangkan kepada persoalan-persoalan relevan lainnya hingga sebuah kritik sastra Indonesia tidak menjadi sebuah kemustahilan, sebuah mimpi di siang bolong.

***

          Dalam seri dua tulisan bersambung yang memiliki dua judul berbeda walau konon topik pembicaraannya satu, yaitu tentang “cerpen koran Indonesia” (Republika, 6 dan 13 Oktober 2002), Binhad Nurrohmad berusaha untuk “menggapai puncak kanon cerpen koran Indonesia” melalui usaha “menemukan generasi terbaru cerpen koran Indonesia”, tanpa terlebih dahulu menyatakan kepada kita apa sebenarnya yang dia maksudkan dengan “cerpen koran Indonesia” itu. Padahal kedua tulisannya itu “dimaksudkan untuk membuka (mengawali) diskusi (kecil) tentang fenomena cerpen koran (dalam pertumbuhan cerpen Indonesia)”, seperti yang dinyatakan dua catatan kecil dari Redaksi Sastra Republika pada kedua tulisannya tersebut. 

          Pada tulisan pertamanya, Binhad Nurrohmad bercerita panjang tentang “cerpen” tapi tidak tentang apa itu “cerpen koran Indonesia”, yang merupakan isu pokok dari kedua tulisannya itu. Apakah telah terjadi sebuah peristiwa amnesia tekstual dalam usaha penulisnya untuk “menggapai puncak kanon cerpen koran Indonesia”? Saya sebagai pembaca yang tertarik ingin tahu apa itu “cerpen koran Indonesia” dan cerpenis-cerpenis mana yang sudah “menggapai puncak kanon cerpen koran Indonesia” tidak menemukan pemuasan rasa tertarik saya itu setelah selesai membaca tulisannya. Keingintahuan saya atas apa yang sudah “dicapai” para cerpenis-yang-absen-dalam-tulisannya itu hingga mereka dikatakan sebagai “puncak kanon cerpen koran Indonesia” juga tidak mengalami satori-teks atau tekstasi oleh aktivitas pembacaan yang saya lakukan atas tulisan Binhad Nurrohmad tersebut. Mungkin minggu depan pada “bagian kedua dari dua tulisan”nya itu, harapan saya dalam hati, karena di akhir cerita panjangnya tentang “cerpen koran Indonesia” tersebut dia mulai menyinggung point entry/entry point (?!) dari diskusi tentang “fenomena cerpen koran dalam pertumbuhan cerpen Indonesia”, yaitu buku kumpulan cerpen Pembisik (Penerbit Republika, 2002) “yang kini sudah beredar di toko-toko buku seperti Gunung Agung dan Gramedia” itu.

          Dalam “bagian terakhir (kedua) dari dua tulisan” Binhad Nurrohmad tentang “fenomena cerpen koran dalam pertumbuhan cerpen Indonesia” saya segera mengerti bahwa apa yang dimaksudkan Binhad tentang “cerpen koran Indonesia” itu dianggapnya sudah saya mengerti dan dia tidak perlu lagi repot-repot untuk menjelaskannya dalam kedua tulisannya itu. Dia punya sesuatu yang jauh lebih penting untuk dibicarakan, yaitu tentang “generasi terbaru cerpen koran” Indonesia. Dan para cerpenis yang dianggap Binhad merupakan “generasi terbaru cerpen(is) koran” Indonesia ini adalah “kanon tersendiri” setelah “generasi lama seangkatan Umar Kayam… Budi Darma… Danarto… Seno Gumira Ajidarma”. Mereka disebut “kanon tersendiri” karena, menurut Binhad, mereka telah “melakoni praktik literer yang menempuh jalan lain, bahkan gigih ingin menyempal dari tradisi generasi cerpenis sebelumnya”. Sementara untuk pengertian definisi istilah “kanon sastra” itu sendiri Binhad “meminjam” pendapat seorang Dekonstruksionis Yale, Harold Bloom, yaitu bahwa “kanon sastra membuat kita terasing di tengah lingkungannya sendiri, atau sebaliknya, membuat kita kerasan dan intim di tengah keterasingan”.

          Apa yang saya mengerti dari antologi kutipan pernyataan Binhad Nurrohmad di atas adalah bahwa dia telah “menemukan generasi terbaru cerpen koran” Indonesia, tapi tidak menjelaskan apa maksudnya dengan istilah “cerpen koran” itu sendiri, dan “generasi terbaru cerpen koran” ini adalah “kanon tersendiri”, kanon terbaru dalam sejarah “cerpen koran Indonesia”. Dan mereka menjadi “kanon tersendiri” karena telah “membuat kita terasing di tengah lingkungannya sendiri, atau sebaliknya, membuat kita kerasan dan intim di tengah keterasingan” yang kita alami waktu bertemu muka dengan “generasi terbaru cerpen koran” Indonesia ini.

          Menurut Binhad Nurrohmad ada dua mainstream atau “tradisi cerpen (koran)” dari sub-genre cerpen Indonesia yang dia sebut sebagai “cerpen koran Indonesia” itu, yaitu tradisi “cerpen koran” Republika dan Kompas yang sosial-realis (dengan Seno Gumira Ajidarma, Joni Ariadinata dan Agus Noor sebagai “tokoh-tokoh atau tonggak-tonggak”nya) dan tradisi Media Indonesia dan Koran Tempo yang “alternatif” dalam “keliaran gagasan naratif” dan “segi penceritaan dan eksplorasi bahasa” cerpen-cerpen korannya (Hudan Hidayat dan Puthut EA adalah “generasi terbaru”nya di sini).

          Pertanyaan-pertanyaan yang timbul di kepala saya setelah membaca pernyataan Binhad Nurrohmad di atas adalah apakah “cerpen koran Indonesia” itu adalah cerpen-cerpen yang hanya muncul di “Republika, Kompas, Media Indonesia dan Koran Tempo” saja, karena keempatnya merupakan “medium utama dan representasi pertumbuhan cerpen Indonesia mutakhir dan (yang bahkan telah) melahirkan sebuah tradisi cerpen tersendiri”, katanya? Atas dasar apakah Binhad membuat kesimpulan bahwa di luar keempat koran Jakarta ini tidak ada apa-apa yang bisa dikatakan sebagai “medium utama dan representasi pertumbuhan cerpen Indonesia mutakhir”? Kalau memang keempat koran Jakarta ini telah “melahirkan sebuah tradisi cerpen tersendiri”, sebuah gaya penulisan yang mungkin bisa disebut sebagai sebuah “gerakan sastra”, di manakah saya bisa membaca karya-karya representatif yang pasti hebat-hebat itu? Dan apakah dengan pencantuman nama-nama pengarang tertentu sebagai representasi dari dua “mainstream” dalam “tradisi cerpen tersendiri” yang dilahirkan keempat koran terbitan Jakarta itu berarti bahwa “gaya penulisan” seperti yang dilakukan “generasi terbaru” tersebut yang mendominasi, yang merupakan ciri khas “gaya penulisan” para cerpenis lain di keempat koran tersebut?

          Begitu panjangnya antologi pertanyaan yang bisa dilontarkan kepada Binhad Nurrohmad karena dia lebih banyak membuat pernyataan-pernyataan asersif yang konklusif ketimbang menjelaskan persoalan. Kesimpulan-kesimpulan umum yang banyak sekali dibuatnya dalam kedua tulisannya itu telah membuat Binhad terjebak dalam labirin permainan istilah yang telah, paling tidak, membuatnya membicarakan “cerpen” secara umum padahal yang menjadi isu tulisannya adalah “cerpen koran” Indonesia. Dia juga tidak mampu membuktikan apa yang diklaimnya sebagai ciri-khas dari kedua gaya penulisan (estetika) dari dua “tradisi cerpen koran” yang direpresentasikan keempat koran Jakarta tersebut. Dan pemakaian istilah “kanon sastra” dalam kedua tulisannya itu, walau dia berpretensi mengerti apa maksud istilah tersebut dalam karya kritik seorang Harold Bloom, begitu tidak bertanggung jawab dan sama sekali tidak mampu dijelaskannya dengan contoh-contoh dari dunia “cerpen koran Indonesia” yang ingin dibaptisnya ada itu.

          Menurut kritikus sastra Amerika MH Abrams, istilah canon dalam dunia sastra selalu merujuk kepada pengertian: para pengarang yang karya-karyanya, melalui konsensus kumulatif dari kritikus-kritikus dan pakar-pakar penting, dan juga melalui pengaruh karya-karya tersebut yang luas dan nyata pada para pengarang sesudah mereka, memang diakui secara umum sebagai pengarang-pengarang “major”, pengarang-pengarang utama, serta yang sudah pasti akan selalu dibicarakan oleh para kritikus dan sejarawan sastra dan paling sering ikut dalam antologi-antologi dan mata kuliah penting seperti “Karya Besar Dunia”, “Sastrawan Utama Indonesia” atau yang semacamnya itu. Bisa dilihat bahwa ada dua hal penting yang mendasari kenapa seorang sastrawan itu disebut sebagai “kanon sastra”, yaitu pengakuan dari para “kritikus” dan “pakar” sastra melalui studi-studi yang disebut “kritik sastra” dan pengaruhnya atas karya-karya para sastrawan sesudahnya. Dari nama-nama cerpenis yang disebutkan oleh Binhad Nurrohmad sebagai “puncak kanon cerpen koran Indonesia” dan “generasi terbaru cerpen koran” itu, apakah kedua “pengakuan” ini memang sudah ada? Karya-karya “kritik sastra” manakah dan pengaruh atas sastrawan-sastrawan manakah yang bisa membuktikan asersinya bahwa nama-nama yang dikatakannya mewakili “mainstream” keempat koran Jakarta itu memang merupakan “kanon sastra” bahkan dalam apa yang disebut sebagai “cerpen koran Indonesia” itu?

          Kegenitan untuk menjadi seseorang yang “menemukan generasi terbaru”, sebuah angkatan penulis terbaru, dalam dunia kang-ouw sastra kontemporer Indonesia tanpa disertai dengan pembuktian yang bisa dipertanggungjawabkan kayaknya sudah menjadi kebiasaan dalam “pseudo-kritik-sastra” Indonesia. Saya katakan “pseudo-kritik-sastra” Indonesia karena banyak sekali penulis Indonesia ingin menjadi “kritikus sastra” tanpa melakukan apa-apa, kecuali membuat antologi-antologi pernyataan asersif yang konklusif tapi dangkal. Dan ketakmampuan untuk melakukan “kritik sastra” ini diusahakan untuk ditutup-tutupi dengan permainan istilah yang diharapkan bisa menimbulkan kesan “kecerdasan berbahasa” atau “keluasan bacaan” pada para pembacanya. Kecerdasan atau keluasaan bacaan yang superfisial dianggap lebih heboh ketimbang sebuah kesederhanaan pehamaman yang mendalam. Ini memang merupakan ciri umum tulisan tentang sastra yang muncul di koran-koran Indonesia. Mungkinkah ini disebabkan oleh keyakinan besar di kalangan sastrawan Indonesia bahwa sastra modern Indonesia itu identik dengan “sastra koran Indonesia” hingga isinya pun tak lebih dari sekedar “realitas koran” yang merupakan ideologi medium tempatnya disosialisasikan, aktual tapi sekali dibaca mati?

  1. Kartu Identitas

Catat!
Aku orang Arab
Dan nomor kartu identitasku limapuluh ribu
Aku punya delapan anak
Dan yang kesembilan akan lahir setelah musim panas
Apa kau akan marah?

Catat!
Aku orang Arab
Bekerja dengan sesamaku di sebuah tambang batu
Aku punya delapan anak
Aku beri mereka roti
Pakaian dan buku
dari batu…
Aku tidak mengemis bantuan dengan mengetuk pintu rumahmu
Atau merendahkan diriku di tangga kamarmu
Jadi apa kau akan marah?
Catat!
Aku orang Arab
Namaku tanpa gelar
Bersabar di negeri
Yang penuh orang-orang marah
Akarku
Tertanam di sini sebelum lahirnya waktu
Dan sebelum dimulainya zaman
Sebelum pohon-pohon pinus dan pohon-pohon zaitun
Dan sebelum rumput-rumput tumbuh.
Bapakku… keturunan keluarga pembajak tanah
Bukan dari kelas priyayi
Dan kakekku… seorang petani
Bukan orang kaya ataupun orang sekolahan!
Diajarkannya aku tentang harga diri matahari
Sebelum mengajariku membaca
Dan rumahku seperti gubuk penjaga malam
Terbuat dari ranting pohon dan tebu
Apa kau sudah puas dengan statusku sekarang?
Aku punya nama tanpa gelar!

Catat!
Aku orang Arab
Telah kau curi kebun-kebun buah nenek moyangku
Dan tanah yang kugarap
Bersama anak-anakku
Dan tak ada lagi sisa bagi kami
Kecuali batu-batu ini…
Apa Negara pun akan mengambilnya juga
Seperti kata orang?!

Jadi
Catat di bagian atas halaman pertama:
Aku tidak benci
Atau akan menyerang orang
Tapi kalau aku kelaparan
Daging penindasku akan jadi makananku
Hati-hatilah…
Hati-hatilah…
Dengan lapar
Dan marahku!

1964

  1. Aku Milik Tempat Itu

Aku milik tempat itu. Aku memiliki banyak kenangan. Aku dilahirkan seperti setiap orang dilahirkan.

Aku memiliki seorang ibu, sebuah rumah dengan banyak jendela, saudara-saudara laki-laki, kawan-kawan, dan sebuah sel penjara

dengan sebuah jendela yang dingin menggigilkan! Aku memiliki ombak yang direbut oleh burung-burung camar dan panorama milikku sendiri.

Aku memiliki padang rumput yang basah embun. Di horison kataku, aku memiliki sebuah bulan,

makanan untuk burung, dan sebuah pohon zaitun yang tak mati-mati.

Aku sudah tinggal di negeri itu lama sebelum pedang membuat manusia jadi mangsa.

Aku milik tempat itu. Waktu sorga meratapi ibunya, kukembalikan sorga

ke ibunya.

Dan aku menangis biar awan yang pulang ke sana akan membawa airmataku.

Untuk melanggar aturan, aku pelajari semua kata yang dibutuhkan bagi pengadilan darah.

Telah kupelajari dan bongkar semua kata agar bisa kudapatkan

satu kata tunggal: Rumah.

  1. Di Jerusalem

Di Jerusalem, dan maksudku di antara tembok-tembok tuanya,
aku berjalan dari zaman ke zaman tanpa ada ingatan
memanduku. Para nabi di sana memiliki
sejarah yang sama tentang yang suci . . . naik ke surga
dan kembali dengan lebih berani dan melankoli, karena cinta
dan damai adalah suci dan kembali ke kota.
Aku berjalan menuruni lereng bukit dan berpikir: Bagaimanakah
para tukang cerita bisa saling tidak akur tentang apa yang dikatakan cahaya kepada batu?
Apakah dari sebuah batu yang bersinar suram terpercik perang?
Aku berjalan dalam tidur. Aku memandang dalam tidur. Tak
ada orang di belakangku. Tak ada orang di depanku.
Semua cahaya ini untukku. Aku jalan. Aku menjadi ringan. Aku terbang
lalu menjadi orang lain. Berubah. Kata-kata
muncul seperti rumputan dari mulut
nabi Yesaya: “Kalau kau tidak percaya maka kau tidak akan percaya.”
Aku berjalan seolah aku ini orang lain. Dan lukaku
seperti bunga mawar biblikal. Dan kedua tanganku seperti dua ekor merpati
di salib melayang-layang dan membawa bumi.
Aku tidak berjalan, aku terbang, aku menjadi orang lain,
berubah. Tanpa tempat dan waktu. Jadi siapakah aku ini?
Aku bukan aku dalam peristiwa kenaikan ke surga. Tapi aku
berpikir: Sendiri, nabi Muhammad
bicara dalam bahasa Arab klasik. “Lalu apa?”
Lalu apa? Seorang serdadu perempuan berteriak:
Kau lagi? Bukankah aku telah membunuhmu?
Kataku: Kau membunuhku . . . dan seperti kau, aku lupa mati.

  1. Aku Tidak Minta Maaf Kepada Sumur Itu

Aku tidak minta maaf kepada sumur itu waktu aku melewatinya,
Aku pinjam dari pohon cemara tua itu sebuah awan
dan meremasnya seperti jeruk, lalu menunggu seekor gazel
putih dan legendaris. Dan kuperintahkan hatiku untuk bersabar:
Bersikap netrallah seolah kau bukan bagian diriku! Di sini
para penggembala baik itu berdiri dan mengeluarkan
suling mereka, lalu membujuk burung puyuh gunung masuk
ke dalam jerat. Dan di sini aku pasang pelana ke kuda untuk terbang menuju
planet-planetku, lalu terbang. Dan di sini para pendeta perempuan
mengingatkanku: Hati-hatilah dengan jalan aspal dan mobil
dan melangkahlah dalam hembusan nafasmu. Di sini
kusantaikan bayanganku dan menunggu, kuambil batu terkecil
dan berjaga sampai larut. Kupecahkan mitos dan kupecahkan.
Dan kukelilingi sumur itu sampai aku terbang dari diriku
ke sesuatu yang bukan bagian diriku. Sebuah suara rendah berteriak kepadaku:
Kuburan ini bukan kuburanmu. Jadi aku minta maaf.
Kubaca ayat-ayat dari kita suci yang bijaksana, dan kukatakan
kepada yang tak dikenal di dalam sumur itu: Salam bagimu di hari
kau terbunuh di negeri damai, dan di hari kau bangkit hidup
dari kegelapan sumur!

  1. Sebuah Kalimat Kata Benda

Sebuah kalimat kata benda, tanpa kata kerja:
bagi laut bau tempat tidur
setelah bercinta … parfum asin
atau masam. Sebuah kalimat kata benda: rasa riangku yang terluka
seperti matahari tenggelam di jendelamu yang aneh.
Bungaku hijau seperti burung phoenix. Hatiku melebihi
kebutuhanku, ragu-ragu antara dua pintu:
masuk lelucon, dan keluar
labirin. Di mana bayanganku–pemanduku di tengah
kerumunan di jalan menuju hari kiamat? Dan aku
seperti sebuah batu kuno dengan dua warna hitam di tembok kota,
coklat kemerahan dan hitam, sebuah tonjolan ketakpekaan
terhadap para pengunjungku dan tafsir bayang-bayang. Menginginkan
untuk kala sekarang sebuah pijakan kaki untuk berjalan di belakang
atau di depanku, telanjang kaki. Di mana
jalan keduaku menuju tangga luas itu? Di mana
kesia-siaan? Di mana jalan menuju jalan?
Dan di manakah kita, berjalan di jalan setapak kala
sekarang, di manakah kita? Percakapan kita adalah predikat
dan subjek di hadapan laut, dan buih
ujaran yang licin adalah titik-titik di huruf,
menginginkan sebuah pijakan kaki bagi kala sekarang
di trotoar …

  1. Soneta V

Aku menyentuhmu seperti sebuah biola yang kesepian menyentuh daerah suburbia kota tempat yang jauh itu
dengan sabar sungai meminta bagian gerimisnya
dan, sedikit demi sedikit, sebuah esok yang berlalu di puisi-puisiku mendekati
maka kubawa negeri yang jauh dan aku dibawanya di jalan perjalanan

Di atas kuda betina kebajikanmu, jiwaku menenun
langit alami dari bayang-bayangmu, satu kepompong demi satu kepompong.
Aku adalah anak laki-laki dari apa yang kau lakukan di bumi, anak laki-laki luka-lukaku
yang menerangi mekar delima di tamanmu yang tertutup

Dari melati darah malam mengalir putih. Parfummu,
kelemahanku dan rahasiamu, mengikutiku seperti sebuah gigitan ular. Dan rambutmu
adalah tenda angin musim gugur berwarna. Aku berjalan bersama ujaran
sampai ke kata terakhir yang diceritakan seorang beduin ke sepasang merpati

Aku membelaimu seperti sebuah biola membelai sutra dari waktu yang jauh itu
dan di sekitarku dan kau tumbuh rumput dari sebuah tempat kuno–baru

Catatan:
Keenam puisi di atas diterjemahkan dari berbagai sumber terjemahan bahasa Inggris

Mahmoud Darwish (1941–2008) adalah penyair terbesar Palestina. Darwish memakai Palestina sebagai metafor hilangnya Taman Firdaus, kelahiran dan kelahiran-kembali, dan derita kehilangan dan eksil. Dia digambarkan sebagai inkarnasi dan refleksi dari “tradisi penyair politik dalam Islam, manusia aksi yang memakai puisi sebagai aksinya”. Dia juga pernah jadi editor beberapa majalah sastra di Palestina.

Darwish menerbitkan kumpulan puisi pertamanya Daun-daun Zaitun pada 1964, waktu berusia 22 tahun. Sejak itu, dia telah menerbitkan tigapuluh buku puisi dan prosa yang telah diterjemahkan ke lebih daripada duapuluh dua bahasa. Buku-buku puisinya antara lain Beban Kupu-kupu (2006), Sayangnya, Sorga: Seleksi Puisi (2003), Pengepungan (2002), Adam dari Dua Firdaus (2001), Mural (2000), Tempat Tidur Orang Asing (1999), Kenapa Kau Biarkan Kuda Itu Sendiri? (1994), dan Musik Daging Manusia (1980).

Mahmoud Darwish juga penerima berbagai penghargaan internasional, antara lain Lannan Cultural Freedom Prize dari Lannan Foundation, Lenin Peace Prize, and the Knight of Arts and Belles Lettres Medal dari Prancis.

Judul: Kotbah Hari Minggu
Penulis: Saut Situmorang
Kategori: Cerpen
Ukuran: 13×19 cm
Tebal: 94.000
Penerbit: Penerbit JBS
Harga: 50.000
Harga PO: 42.500
Pemesanan: 0818-0271-7528 (WA)

Preorder berlangsung hingga 6 Maret 2021.

Kembali hadir kumpulan cerpen Kotbah Hari Minggu karya Saut Situmorang. Di dalamnya termuat 10 cerita yang membawa kita, pembaca, tertawa sekaligus merenung.

Sebagian besar cerita-cerita yang ditulis Saut Situmorang dalam buku ini adalah cerita-cerita dengan permainan alur cerita yang dramatis. Dramatisasi yang dibangun dalam cerita-cerita, baik lewat gaya detektif maupun lewat permainan psikologis tokoh-tokohnya, memang bukan sesuatu yang baru. Namun di luar ketidakbaruan secara teknis bercerita, cerpen-cerpen Saut Situmorang bisa menjadi cermin yang memantulkan posisi serta tanggapan pengarang di dalam dan terhadap masyarakat atau lingkungannya. Dengan penuh ketelitian Saut Situmorang mengekstrapolasikan petualangan-petualangan riil dan literernya selama hidup di tanah Batak, Selandia Baru, Bali, hingga Yogyakarta.

Membaca cerita-cerita yang terkompilasi dalam buku ini, pembaca bisa menemukan cara Saut Situmorang melontarkan kritik terhadap terorisme, feminisme, operasi kekuasaan yang culas, dan ketumpulan akalbudi masyarakat kita yang tidak memiliki kemampuan untuk mengontekstualisasikan ajaran-ajaran agama dalam praktek sosial mereka.

Amsal Merah Marah

Posted: 13/05/2020 in Puisi

        

         “berikanlah kepada kaisar

         apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar

         dan kepada Allah

         apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”

 

tapi bagaimana

kalau kaisar itu bukan kaisar

dan menganggap dirinya sama dengan Allah?

 

orang orang kurus

yang bayangannya juga kurus

menengadahkan tangan mereka

ke langit

dengan desah napas tertahan

 

doa doa melambung ke udara

bagai ribuan balon kosong menghambur ke cakrawala

mengetuk ngetuk pintu langit

menggetarkan awan awan yang kering hujan

 

“sampai kapankah kami

mesti terus memberi

kering tulang kami

susut perut kami

sementara bumi sudah lama tak akrab lagi?”

 

di laut

sebuah pedal sepeda

tersangkut di celah karang

bau keringat mengerubunginya

bagai lalat lalat di tumpukan sampah di kota

 

orang orang kurus

dengan bayangan kurus

masih mengangkat tangan mereka

wajah wajah suram tergores kering airmata

 

“berikanlah kepada kaisar…”

 

ya burung tak bernama

yang mengerti bahasa cakrawala

terdengarkah detak jantung kami yang lemah

dari atas sana? adakah…?

 

padi tumbuh tapi layu jadi debu

keringat mengalir kering jadi debu

angin musim cuma membawa hujan debu

dalam tidur pun mimpi kami

tak bisa lari dari debu, debu, debu…

tapi di kota kota

yang cuma penuh serdadu serdadu tak berwajah

suara asing itu tak henti henti menyiksa

         “berikanlah kepada kaisar…”

 

orang orang kurus

bernasib kurus, sekarang tak sabar lagi

dengan langit.

bagai kerbau luka napas mereka mendengus – kota kota membara

terbakar hangus

di mata mereka yang merah marah!

 

(Saut Situmorang)

 

 

Buku telah jadi produk fetish terbaru setelah smartphone. “Literasi” jadi slogan terbarunya. Penerbit muncul di mana-mana dan semua orang yang melek huruf tiba-tiba jadi penulis!

Tapi apa fetishisme (atas) buku ini memang menghasilkan buku-buku bermutu? Apa fetishisme atas literasi menghasilkan penulis dan pembaca bermutu? Atau semuanya itu cumak sekedar euforia komodifikasi kapitalistik atas literasi dan buku semata? Buku-buku macam apa yang laris dibeli hingga dicetak ulang, penulis kayak apa yang tiba-tiba jadi “seleb literasi”?

Tragisnya, kritik pun sekarang sudah distigma sebagai sebuah “book shaming” oleh para selebriti baru ini!

Tiba-tiba aku kangen dengan zaman Orde Baru! Zaman kediktatoran militer dan kekerasan fisik dan senjata itu, zaman anti kebebasan berpikir dan berekspresi/berpendapat itu. Kerna dengan segala kekerasan militeristik dan fascis tersebut, kebebasan berpikir dan berekspresi jadi sangat berarti, sangat bernilai. Dan buku sebagai salah satu bentuk kebebasan berpikir dan berekspresi jadi sangat subversif, sangat berbahaya bagi militerisme dan fascisme! Buku jadi jalan pembebasan, jalan pencerahan, BUKAN produk fetish kapitalistik kaum borjuis kecil urban yang cumak memburu status seleb literasi instan, sensasionalisme “15 minute fame”-nya Andy Warhol!

Jogja, 24 Januari 2020

Saut Situmorang

 

meme Bumi Manusia

 

Oleh: Saut Situmorang*

Setidaknya ada tiga hal yang sangat mengecewakan setelah menonton film Bumi Manusia Hanung Bramantyo. Pertama, betapa kagetnya saya waktu tokoh Minke dalam film dipanggil “Tirto” oleh tokoh lainnya. Dari mana nama “Tirto” ini datang?! Tidak pernah sekalipun dalam keseluruhan Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer atau Pram (di mana novel Bumi Manusia merupakan bagian pertamanya) ada disebutkan bahwa nama lain tokoh Minke adalah “Tirto”. Hanya nama “Minke” yang kita kenal sebagai nama protagonis tetralogi Pram tersebut. Jadi, sekali lagi, dari mana nama “Tirto” itu datang?!

Walaupun beredar rumor bahwa tokoh utama Tetralogi Pulau Buru Minke didasarkan atas kehidupan seorang tokoh sejarah bernama Tirto Adhy Soerjo tapi tetralogi tersebut BUKAN sebuah biografi dari Tirto Adhy Soerjo melainkan karya fiksi berbentuk novel, karya seni sastra yang dikarang-karang. Biografi berbeda dari novel, dari fiksi. Apakah Hanung Bramantyo benar-benar menganggap bahwa Tetralogi Pulau Buru adalah biografi dari Tirto Adhy Soerjo?! Kalau Hanung memang bertujuan memfilmkan biografi dari tokoh historis bernama Tirto Adhy Soerjo maka dia telah salah memilih teks-sumbernya. Dia harusnya memakai buku lain Pram yang memang sengaja ditulis Pram sebagai biografi Tirto Adhy Soerjo yaitu Sang Pemula.

Kedua, ada satu adegan dalam novel Bumi Manusia yang merupakan salah satu adegan paling penting dari keseluruhan alur-cerita novel tersebut. Adegan dimaksud adalah saat Minke merangkak, beringsut seperti keong lalu duduk bersimpuh menekuri lantai di pendopo kediaman bapaknya, Bupati Kota B itu. Adegan ini sangat penting karena di situlah, dalam solilokui dalam hatinya, Minke memaki-maki semua yang dianggapnya dekaden dan busuk dalam budaya feodal Jawa, yang direpresentasikan oleh bapaknya yang sedang dihadapinya itu. Secara tekstual, adegan tersebut merupakan representasi dari kritik Pram sendiri atas dekadensi dan kebusukan budaya feodal Jawa, seperti yang selalu dilontarkanya dalam karya-karya besarnya seperti di novelnya yang lain Gadis Pantai. Menghilangkan solilokui Minke ini dari alur-cerita film adalah pengkebirian tekstual yang tidak dapat dimaafkan karena merupakan penyensoran atas kritik novel terhadap kondisi budaya feodal Jawa di zaman kolonial yang merupakan salah satu tema penting novel!

Hal ketiga yang membuat peristiwa menonton film Bumi Manusia Hanung jadi derita berjam-jam yang tak tertahankan adalah ketidakpedulian Hanung pada akurasi historis dari setting filmnya sendiri yaitu pemakaian bahasa Melayu dalam film. Novel Bumi Manusia adalah sebuah novel sejarah, lebih tepatnya sebuah novel yang mengambil tempat terjadinya peristiwa yang diceritakannya di masa kolonial Belanda di akhir abad 19-awal abad 20. Kalau Hanung menganggap bahwa kostum dan arsitektur dalam filmnya harus sesuai dengan setting zaman yang jadi latar belakang film, kenapa hal tersebut tidak diterapkannya juga atas bahasa Melayu yang dipakai para tokoh filmnya? Bagaimana mungkin kita para penonton filmnya di abad 21 ini bisa diyakinkannya bahwa pada zaman kolonial Belanda dulu itu bahasa Melayu di Hindia Belanda sudah mengenal kata-kata seperti “anda” dan “sih”! Seperti yang telah dengan sangat baik dijelaskan oleh Holy Adib dalam artikelnya yang membahas topik yang sama:

“Cerita dalam film Bumi Manusia terjadi pada 1898—1918 di Surabaya pada masa Hindia Belanda. Namun, ada beberapa kata yang dipakai dalam film tersebut yang tidak sesuai dengan latar belakang zamannya. Kata-kata tersebut, antara lain, anda dan sih.

Kata anda digunakan tiga kali, yakni dua kali oleh Nyai Ontosoroh di pengadilan dan satu kali oleh seorang anggota marsose ketika menjemput Annelies di rumah Ontosoroh untuk dibawa ke Belanda. Padahal, kata anda baru muncul pada 28 Februari 1957 dalam koran Pedoman

Kedua, kata sih dalam film Bumi Manusia digunakan dua kali, yakni oleh Ontosoroh ketika bertanya kepada Annelies, “Kenapa sih, An?”, dan oleh Minke ketika mengobrol dengan Annelies, “Masa sih?” Partikel sih hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari yang lazim dipakai oleh penutur bahasa Indonesia di Jakarta dan sekitarnya.’ (Anakronisme bahasa dalam film Bumi Manusia, Beritagar.id, Sabtu 24 Agustus 2019)

Ironisnya, bahasa Belanda dan Jawa sampai ke detil mimik ekspresi dan logat para pemakainya justru dengan setia ditunjukkan Hanung dalam filmnya! Termasuk waktu para bule kolonial berbahasa Melayu ke kaum boemipoetra!

***

Film yang mengadaptasi novel, cerpen, drama, cerpen, biografi, bahkan reportase jurnalistik adalah fenomena biasa. Satu contoh yang sangat terkenal karena bukan saja mengadaptasi drama dari bahasa dan budaya yang berbeda dari asal si pembuat film tapi malah berhasil membuat adaptasinya tersebut jadi bagian dari budayanya sendiri adalah film Ran karya Akira Kurosawa (Jepang) atas drama King Lear William Shakespeare. Disamping Ran, Kurosawa juga mengadaptasi karya Shakespeare lain yaitu Macbeth jadi Throne of Blood. Kedua adaptasi Kurosawa ini dianggap masterpiece dari sinema dunia.

All the President’s Men adalah contoh film yang diadaptasi dari buku non-fiksi jurnalistik berjudul sama tentang Skandal Watergate di awal tahun 1970an yang melibatkan presiden Amerika Serikat saat itu, Richard Nixon.

Film yang mengadaptasi novel/fiksi malah sangat banyak. Kebanyakan film maestro Cina Zhang Yimou adalah contoh dari genre ini. Dia bahkan mengadaptasi sebuah cerita silat (cersil) Cina atau wuxia jadi film Hero yang merupakan standar untuk pembuatan film bergenre wuxia/cersil.

Mengadaptasi tentu saja tidak berarti membuat-ulang sumber asal seperti aslinya. Alasannya sederhana saja: kedua medianya berbeda. Film, misalnya, tidak akan mungkin bisa memuat semua detil yang ada dalam sebuah novel. Karena film bukan novel dan sebaliknya. Tapi ada sesuatu yang sangat penting yang harus diadaptasi yaitu apa yang membuat novel tersebut dianggap dahsyat, misalnya. Alur-cerita (plot) dan Karakter/Tokoh novel tentu saja merupakan unsur-unsur penting yang tidak bisa ditiadakan. Unsur lain bisa saja dilupakan atau dikurangi. Alur-cerita dan Karakterlah yang membuat Tema novel dan Tema ini yang jadi kiblat dari adaptasi yang akan dilakukan.

Gila Kekuasaan adalah tema dari kedua drama Shakespeare yang diadaptasi Kurosawa di atas dan Kurosawa berhasil mewujudkannya dalam versi Jepang, dengan semangat dan budaya Jepang di zaman kaum samurai. Zhang Yimou berhasil menggambarkan kondisi hidup kaum miskin Cina di awal abad 20 terutama kaum perempuannya seperti yang dilakukan novel-novel sumber adaptasinya itu.

Bagaimana dengan film Hanung Bramantyo yang konon merupakan “adaptasi” dari novel pertama Pramoedya Ananta Toer dari Tetralogi Pulau Buru-nya? Apakah tema novel Bumi Manusia Pram memang cuma soal cinta remaja seperti yang terus dikatakan Hanung Bramantyo dalam wawancara-wawancaranya sebelum pembuatan film? Kalau memang benar, lantas kenapa novel Pram tersebut dianggap sebuah masterpiece dalam sejarah Sastra Indonesia dan bahkan sampai dilarang oleh rezim Orde Baru? Apa rezim Orde Baru anti cinta remaja?! Kok novel-novel  cinta pop macam Cintaku Di Kampus Biru dan seri Ali Topan tidak dilarang? Kenapa Pram bahkan sampai dinominasi berkali-kali untuk Hadiah Nobel Sastra karena Tetralogi Pulau Buru-nya itu?! Bahkan di pertengahan tahun 1990an waktu saya mengambil mata kuliah “Politics and Literature” untuk gelar Master di Universitas Auckland, Selandia Baru, novel Bumi Manusia merupakan salah satu textbook yang harus dibaca disamping Uncle Tom’s Cabin, The Satanic Verses, dan Sketches from a Hunter’s Album padahal mata kuliah tersebut bukan diberikan departemen Asian Languages di mana saya jadi mahasiswanya tapi oleh departemen Comparative Literature.

Sebuah adaptasi film atas novel tentu saja, sekali lagi, tidak harus merupakan sebuah pengalihan keseluruhan novel tersebut ke dalam bentuk baru bernama film karena namanya juga film adaptasi. Tapi hal ini tidak serta merta lantas membuat sebuah adaptasi merupakan sebuah tafsir sesuka hatinya si pembuat film. Ada satu hal penting yang harus diingat dan dijadikan pedoman adaptasi yaitu apa yang membuat novel tersebut dianggap berhasil sebagai novel dan membuatnya terkenal hingga akhirnya bahkan dianggap penting untuk diadaptasi ke dalam bentuk genre baru, dalam hal ini film.

Novel Bumi Manusia adalah bagian dari sebuah seri-novel bernama Tetralogi Pulau Buru dan fakta ini membuatnya tak bisa dilepaskan dari keseluruhan tetralogi novel tersebut. Tafsir atas novel pertama dari Tetralogi Pulau Buru ini tak bisa dilakukan tanpa mengaitkannya dengan tema tetralogi. Makna dari keseluruhan tetralogi tersebut adalah konteks bagi interpretasi/tafsir yang (akan) dilakukan baik atas keseluruhan tetralogi maupun atas masing-masing novel yang membentuknya. Termasuk interpretasi dalam mengadaptasinya ke medium lain yang berbeda, film misalnya.

Impotensi Hanung Bramantyo dalam menafsir novel Bumi Manusia akhirnya berakibat fatal atas filmnya sendiri. Film tersebut gagal mengadaptasi novel Pram, gagal jadi film Bumi Manusia, walau diklaimnya sebagai berdasarkan novel tersebut! Seperti kita saksikan sendiri, film Hanung tersebut memang tak lebih dari kisah cinta remaja belaka, seperti yang dinyatakannya sendiri di media massa jauh sebelum pembuatan film dimulai. Sejarah kebangkitan rasa nasionalisme kaum boemipoetra yang terjajah dan kritik atas dekadensi budaya feodal Jawa gagal kita temukan dalam filmnya itu. Karenanya pula film Bumi Manusia Hanung gagal mengenalkan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer kepada Generasi Milenial yang tidak membaca novel tersebut sebelum menonton film, generasi yang justru dipropagandakan Hanung sebagai target utama dari pembuatan filmnya itu. Padahal dia sendiri pernah klaim bahwa novel Ayat-ayat Cinta “lebih berat” dibanding Bumi Manusia! Sekarang saya mengerti kenapa Pram menolak waktu Hanung minta izin untuk memfilmkan Nyai Ontosoroh, tokoh novel Bumi Manusia itu, sekitar duapuluhan tahun lalu.

*Saut Situmorang, penyair tinggal di Jogjakarta

Anatomi Penyiksaan

Posted: 08/09/2019 in Puisi

mata
jangan kau menangis
walau tak henti sepatu sepatu tentara itu
menghajar dada.

mulut
jangan kau mengeluh
walau terbakar kulit daging
disundut rokok rokok itu.

kaki
jangan kau goyah
walau berjam jam kau berdiri
menahanku terpaksa.

perut
bertahanlah.
rasa mual yang amis itu
cuma listrik menggigit darah.

ah, dada yang malang
jantungmu sudah tak tahan
hampir pecah.
tegarlah, tegarlah
jangan kau sampai berkhianat

itu yang diinginkan mereka!

(Saut Situmorang)

Inilah Aku

Posted: 08/09/2019 in Puisi

inilah wajahku
yang kau siarkan di media massamu.
tak perlu lagi kau memburuku.

inilah tanganku
yang kau tuduh menulis hasutan hasutan itu.
tak perlu lagi kau memburuku.

inilah kakiku
yang kau katakan lari dari tanggungjawabku.
tak perlu lagi kau memburuku.

dan inilah dadaku
yang kau fitnah penuh benci pada negeriku sendiri.
tembaklah dengan senapanmu

kalau kau berani melawan nuranimu!

(Saut Situmorang)

Matamu

Posted: 04/02/2019 in Puisi

Matamu adalah hutan hutan nenek moyang yang ditebang jadi perkebunan sawit dan pabrik pupuk kertas

Matamu adalah gunung gunung suci keramat yang dicincang jadi emas dan tembaga

Matamu adalah lahan lahan subur gembur yang dicuri jadi pabrik pabrik semen

Matamu adalah danau biru berkabut yang disulap jadi tempat pembuangan kotoran babi raksasa

Matamu adalah kampung kampung damai tenteram yang dikutuk jadi hotel hotel bernama asing

Matamu adalah banjir dan kemacetan lalulintas yang tak henti menghantui pagi dan malammu

Matamu adalah anak anak yang menangis kelaparan tak punya uang untuk beli beras dan garam impor

Matamu adalah tangki gas yang meledak di dapur waktu kau dan istrimu bersenggama

Matamu adalah harga BBM yang terus naik tiap kali kau kendarai sepedamotor kreditanmu ke tempat kerja

Matamu adalah acara acara televisi yang menayangkan gaya hidup orang orang kaya termasuk waktu mereka shopping ke luar negeri

Matamu adalah para anggota DPR yang mengeluh gaji mereka terlalu rendah sementara mereka mengendarai mercedes keluaran terbaru

Matamu adalah polisi yang menembaki para mahasiswa yang sedang demo sambil memaki mereka anarkis dan teroris

Matamu adalah preman preman berjubah memukuli mahasiswa yang sedang diskusi buku sambil memaki mereka Komunis

Matamu adalah sang Presiden yang tak henti bilang “Bukan Urusan Saya”

Matamu adalah media massa yang membuatmu memilih presiden itu

Matamu adalah sang Penyair yang dilaporkan ke polisi dengan tuduhan “pencemaran nama baik dan kekerasan seksual verbal” di Facebook

Matamu adalah nenek tua yang dipenjarakan karena mau memakai ranting kayu dari halaman rumahnya sendiri untuk kayu api

Matamu adalah pejabat negara yang tersenyum di televisi waktu ditangkap karena korupsi

Matamu adalah suku suku rimba nomaden yang dipaksa negara untuk tinggal di kampung dan jadi beradab

Matamu adalah supermall dan supermarket yang menjamur menggantikan pasar pasar tradisional di seluruh negerimu yang miskin

Matamu adalah orang miskin yang ditolak rumah sakit di seluruh negerimu

Matamu adalah mata jutaan orang miskin yang marah dan tak tahan lagi menanggung semua ini menunggu meledaknya revolusi berdarah seperti sebuah gunung api yang lama mati

Matamu ada di mana mana

 

Jogjakarta 2015

Saut Situmorang

Negeri Terluka

Posted: 04/02/2019 in Puisi

Bahkan sejak kanak kanak pun
kita kena dusta!

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku… 

Tanah tumpah darahku! Tanah di mana darahku
tumpah oleh sangkur senjata tentara
oleh pistol polisi!

Bagaimana mungkin tanah di mana darahku
ditumpahkan oleh kekuasaan

masih harus kusebut tanah airku!

Dan para pelawak ramai ramai
ikut menyanyikan dusta itu
untuk menutupi bau busuk dari luka luka kita:

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman… 

MARI KITA IRINGI NYANYI MEREKA ITU DENGAN KOOR INI:

Orang bilang tanah kita tanah surga
Politikus dan ulama benar benar menikmatinya

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tentara polisi kerjasama dengan preman bela pengusaha

Orang bilang tanah kita tanah surga
Buruh dan tani tak lebih berharga dibanding asap pabrik dan pestisida

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman karena tak ada lagi hutan dan sawah!

 

Jogja, Desember 2014

Saut Situmorang

 

Borneo_clearcut_2000c